Share

Bab 34

Penulis: Allina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 19:49:03

Aku menelan ludah kasar hingga rasanya ada batu kerikil yang tersangkut di tenggorokan saat mendengar bisikan ancaman Nona Claudia yang mematikan itu.

Namun, dasar mata keranjang yang tidak tahu diuntung, di tengah situasi genting yang mengancam karir dan nyawaku ini, bola mataku justru sempat-sempatnya mencuri pandang ke arah "pemandangan" terlarang di bawah meja.

Dari posisi jongkokku yang strategis ini, celah piyama sutra Nona Claudia yang tersingkap menampilkan sekilas segitiga pengaman berwarna hitam berbahan renda transparan yang membungkus rapi area pribadinya yang mulus dan menggoda iman.

"Gusti Agung, ini namanya disiksa di neraka bersama para bidadari. Tapi ya, sial, sial, udah diancam rahasia terbongkar, eh malah disuguhin pemandangan surga dunia. Jangan berdiri dulu ya, Tot, ntaran aja, masih rame ini!"<

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 116

    Tangan kiriku bergerak perlahan menyisir rambut hitam Shella yang sekarang terasa agak lembap karena keringat. Aku memainkan ujung rambutnya, memilin-milinnya pelan, lalu menyelipkannya ke belakang telinganya agar aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.Posisi kami masih sama, dia menyandarkan kepalanya di bahu kananku, menempelkan pipinya di dada telanjangku, sementara tangannya melingkar erat di pinggangku seolah takut aku akan lari.Aku menundukkan kepala sedikit, lalu mengecup ubun-ubun kepalanya dua kali, cukup lama."Kamu tuh cewek paling keras kepala yang pernah aku kenal, Shell. Tapi sekuat-kuatnya batu karang, kalau dihantam ombak terus ya pasti kegerus juga," bisikku tepat di telinganya. "Nggak usah sok kuat terus di depan aku. Sekarang cuma ada kita berdua, nggak ada mama kamu, nggak ada Bu Darmi, Mbak Inem, Pak Budi, sama dua adikmu. Kamu bebas mau ngeracau kayak gimana, aku bakal dengerin semua keluh kesahmu!"Shella diam saja, tapi aku bisa merasakan bahunya mulai berget

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 115

    Perlahan, Shella menarik wajahnya mundur untuk melepaskan ciuman panjang yang menguras napas itu, menyisakan benang saliva bening yang terputus di antara bibir kami yang basah dan bengkak kemerahan.Kelopak matanya terbuka perlahan, memperlihatkan bola mata cokelatnya yang kini terlihat sayu dan berkabut gairah, namun sorot matanya tetap tajam menatap lurus ke dalam mataku.Dia menatapku lekat-lekat selama beberapa detik, seolah sedang menilai apakah aku layak untuk melangkah ke tahap selanjutnya bersamanya malam ini.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Shella menganggukkan kepalanya satu kali, pelan sekali anggukannya, sampai aku tahu, tatapannya berharap kalau dia ingin melanjutkan siang romantis ini, dengan hanya kita berdua.Aku paham, anggukan itu ternyata sinyal bahwa dia menginginkan lebih dari sekadar ciuman di sofa.Kami kembali menyatukan bibir dalam ciuman kedua yang lebih dalam, tapi kali ini Shella melakukan pergerakan yang berbeda dengan kedua tangannya.Wanita itu melep

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 114

    "Aku kan udah bilang, badanku ini kuat karena biasa angkat karung beras. Nahan beban hidup kamu doang mah enteng, paling cuma butuh pijit dikit kalau malem," jawabku mantap sambil menepuk dadaku sendiri dengan gaya sok jagoan.Shella tertawa lagi, tapi kali ini air matanya menetes jatuh membasahi pipinya yang mulus. Dia tidak berusaha menghapusnya, membiarkan sisi rapuhnya terlihat jelas di hadapanku. "Kamu tuh, bener-bener ya... aku nggak ngerti kenapa aku bisa ngerasa senyaman ini sama kamu, padahal kamu baru tinggal di sini beberapa bulan aja, terus pas kamu jadi sopir itu aku ga mau kenal sama kamu. Eh taunya, kamu kayak gini.""Status itu cuma tulisan di kertas, Shell. Yang ngerasain nyaman atau enggak itu kan hati, bukan kartu keluarga atau slip gaji," ucapku sok bijak, mengutip kata-kata yang pernah aku baca di belakang truk pantura."Pinter banget sih ngomongnya sekarang. Belajar dari mana?" ledek Shella sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan."Belajar dari ngadepin

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 113

    "Hah? Ke kamar? Mau ngapain, Shell? Bukannya tadi kamu nyuruh aku lupa ingatan soal kejadian semalam?" tanyaku memastikan, takut aku salah tangkap maksud ajakannya yang ambigu ini.Shella tertawa kecil melihat reaksiku yang panik, dia bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja hingga berdiri tepat di sampingku. Tangannya menarik lenganku agar aku ikut berdiri, dan mau tidak mau aku menuruti tarikannya seperti kerbau dicucuk hidung."Justru itu, karena semalam aku mabuk dan kamu nolak aku, sekarang aku mau ngomong sesuatu sama kamu dalam keadaan sadar seratus persen. Aku nggak mau ada salah paham lagi di antara kita," bisiknya tepat di telingaku, aroma parfumnya yang wangi langsung membius otakku."Lagian, kamu nggak penasaran kenapa aku belain kamu mati-matian di depan Mama tadi?""Hmm, iya juga, agak aneh aja kamu yang biasanya kayak elegan banget di depan Mama, tiba-tiba berubah kayak gitu.""Makannya, ayo cepetan, aku mau jelasin sesuatu!" Tanpa menunggu jawabanku, Shella men

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 112

    "Itu kejadiannya pas kita lagi inspeksi mendadak ke pabrik dua hari yang lalu. Ada demo buruh yang rusuh di gerbang depan pas kita mau keluar."Aku dan Nyonya Alika sama-sama mencondongkan badan untuk melihat layar ponsel itu, di sana terlihat jelas mobil sedan hitam Nona Shella sedang dikerubungi oleh puluhan orang yang berteriak-teriak sambil membawa spanduk.Terlihat juga momen di mana seorang demonstran yang terdorong oleh massa tidak sengaja menyerempet bagian belakang mobil dengan tongkat kayu bendera yang dia bawa, menciptakan goresan panjang yang sekarang menjadi masalah itu.Dalam video itu, terlihat juga bagaimana aku dengan sigap memutar setir dan melakukan manuver mundur yang presisi untuk menyelamatkan mobil dari kepungan massa tanpa melukai siapa pun."Tuh

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 111

    Aku tersentak bangun dari tidurku dengan napas memburu dan jantung yang nyaris copot. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul delapan pagi, waktu di mana seharusnya aku sudah selesai mencuci mobil dan menyiram tanaman hias kesayangan Nyonya Alika."Bangun, Rafli, ngebo mulu ih dari tadi! Mentang-mentang semalam habis jadi pahlawan, sekarang kamu malah enak-enakan tidur sampai siang bolong. Iya sih, kemaren kamu begadang, tapi nggak sampai jam 8 pagi juga!"Teriakan cempreng yang sangat familiar itu terdengar dari balik pintu kamarku, diikuti dengan suara gedoran kaki yang tidak sabaran.Aku buru-buru melompat turun dari kasur, menyambar kaos oblong untuk menutupi tubuh atasku yang telanjang, lalu membuka pintu paviliun dengan tergesa-gesa.Di sana, berdiri Nona Shella d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status