MasukGubrak!
Aku tidak sadar salah menginjak salah satu lubang sehingga tubuhku terpeleset.
Bodohnya, di depan sana ada lubang yang membuat Si Gatot masuk ke dalam sana, lalu dua telurnya sempat nyangkut. Aku ingin mengerang sakit, tapi harga diriku sebagai laki-laki macho dipertaruhkan di sini.
“Untung aja nggak pecah telur, kalau pecah satu tadi, barabe. Aku ga bisa tahan lama nanti!”
Saat aku membersihkan sisa-sisa debu yang menempel, Bastian kemudian maju mendekatiku. “Hei sopir miskin! Lu kira, lu udah menang lawan gue kemaren? Bro, di kampus gue ga bisa seenak ini ajak lu gelut. Kalau emang lu laki, buktiin, lawan gue tangan kosong!”
“Hah, ndiasmu iku tangan kosong! Udah jelas-jelas bawa tongkat
"Itu kejadiannya pas kita lagi inspeksi mendadak ke pabrik dua hari yang lalu. Ada demo buruh yang rusuh di gerbang depan pas kita mau keluar."Aku dan Nyonya Alika sama-sama mencondongkan badan untuk melihat layar ponsel itu, di sana terlihat jelas mobil sedan hitam Nona Shella sedang dikerubungi oleh puluhan orang yang berteriak-teriak sambil membawa spanduk.Terlihat juga momen di mana seorang demonstran yang terdorong oleh massa tidak sengaja menyerempet bagian belakang mobil dengan tongkat kayu bendera yang dia bawa, menciptakan goresan panjang yang sekarang menjadi masalah itu.Dalam video itu, terlihat juga bagaimana aku dengan sigap memutar setir dan melakukan manuver mundur yang presisi untuk menyelamatkan mobil dari kepungan massa tanpa melukai siapa pun."Tuh
Aku tersentak bangun dari tidurku dengan napas memburu dan jantung yang nyaris copot. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul delapan pagi, waktu di mana seharusnya aku sudah selesai mencuci mobil dan menyiram tanaman hias kesayangan Nyonya Alika."Bangun, Rafli, ngebo mulu ih dari tadi! Mentang-mentang semalam habis jadi pahlawan, sekarang kamu malah enak-enakan tidur sampai siang bolong. Iya sih, kemaren kamu begadang, tapi nggak sampai jam 8 pagi juga!"Teriakan cempreng yang sangat familiar itu terdengar dari balik pintu kamarku, diikuti dengan suara gedoran kaki yang tidak sabaran.Aku buru-buru melompat turun dari kasur, menyambar kaos oblong untuk menutupi tubuh atasku yang telanjang, lalu membuka pintu paviliun dengan tergesa-gesa.Di sana, berdiri Nona Shella d
Aku berlari kecil menghampiri mereka, merasakan kembali menjadi anak kecil yang tidak punya beban hidup selain bermain layangan di sawah.Aku duduk bersimpuh di kaki Emak, meletakkan kepalaku di pangkuannya yang hangat, membiarkan tangan kasar beliau mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang."Gimana kabarmu di kota, Le? Apa kamu betah kerja sama orang-orang kaya itu?" tanya Bapak sambil menghembuskan asap rokoknya yang berbau cengkeh wangi.Entah kenapa, aku merasakan ini begitu nyata, meski aku tahu ini hanyalah mimpi.Aku sadar ini mimpi ketika aku melihat diriku sendiri menjelma jadi anak kecil yang riang gembira, persis seperti aku yang masih berumur 8 tahun."Berat, Pak, apalagi di kota Rafli sendirian. Rafli bingung,
Kebahagiaan semu yang baru saja melambungkan hatiku setinggi langit, mendadak harus terhempas kembali ke dasar bumi saat mataku menangkap pergerakan mencurigakan di ujung lorong yang gelap gulita.Di sana, Nona Sora berdiri mematung dengan gaun peach pestanya yang sudah terlihat kusut, rambutnya yang biasa dikuncir dua kini tergerai berantakan menutupi sebagian wajahnya.Tangan kanan Nona Sora terlihat mencengkeram sebuah boneka beruang kecil yang entah dia dapat dari mana, mungkin sisa dekorasi pesta atau memang mainan lamanya.Jari-jemarinya yang mungil itu meremas leher boneka malang tersebut dengan kekuatan yang tidak wajar untuk ukuran gadis seusianya, seolah dia sedang membayangkan leher itu adalah leher kakaknya sendiri.
Aku menatap noda oranye yang melebar di dadaku, lalu menatap wajah Nona Sora yang penuh harap dan wajah Nona Claudia yang terlihat ingin mencekik adiknya sendiri.Trik murahan ini jelas sekali terbaca olehku.Nona Sora sengaja melakukan ini supaya bisa berduaan denganku di kamar hotel dan membalas aksi kakaknya tadi. Namun, aku tidak sebodoh itu untuk masuk ke dalam kandang macan kecil yang sedang birahi, apalagi ini acara besar di mana Nyonya Alika bisa muncul kapan saja.Aku menghela napas panjang, berusaha menahan emosi dan tetap bersikap profesional sebagai pelayan yang tahu batasan. "Terima kasih tawarannya, Non Sora, tapi saya tidak bisa meninggalkan pos penjagaan saya sekarang, apalagi masuk ke kamar hotel Nona berduaan.""Tapi kan basah, Mas! Nanti Mas masuk angi
“Heh, Sopir Jelek!Ini jas buat kamu, sama ada Surya Exclusive dua, aku udah siapin tadi siang. Anggap aja bonus karena kerjaan kamu hari ini perfecto (walaupun kamu nyebelin banget, sih, waktu di mobil tadi). Awas ya kalau jas ini kotor kena kuah soto atau kena abu rokok kamu itu, benci banget aku sama perokok tauu!Aku mau bilang ke kamu. Makasih ya, udah belain aku di depan Jordi tadi. Kamu kayaknya tipe aku banget, deh, mm tapi kayaknya jangan sekarang. Ntar aku dimarahin sama Sora sama Claudia kalau kamu malah klepek-klepek sama aku.Ps: Oh iya, jangan GR lho bacanya!- Shella”Aku membaca surat singkat itu berulang kali, dan tanpa sadar bibirku menyunggingkan senyum lebar yang tak bisa kutahan. Kata-katanya







