INICIAR SESIÓNBelum sempat jantungku kembali ke posisi semula setelah dibuat senam aerobik oleh kelakuan liar Nona Claudia, tiba-tiba saja sosok Nona Shella kembali muncul di ambang pintu dapur bagaikan petugas sensus yang datang di waktu yang tidak tepat.
Wajah cantiknya yang biasanya galak dan glowing paripurna itu kini terlihat sangat kusut,
Jalanan ibu kota sore ini lumayan lancar membawa kami ke kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Mobil kami berhenti tepat di depan pagar besi tinggi berwarna hitam. Penjaga keamanan langsung membukakan gerbang setelah mengenali wajahku dari kaca jendela yang terbuka.Pak Sanjaya rupanya sudah menunggu di ruang tamu utama rumah mewahnya. Pria berkacamata itu duduk santai menyeduh teh hangat di atas meja kaca."Selamat sore, Rafli, Shella. Silakan duduk. Saya sudah menyiapkan teh hangat untuk kalian berdua," sapa Pak Sanjaya mempersilakan kami duduk di sofa empuk."Terima kasih atas waktunya sore ini, Pak Sanjaya. Kami datang untuk melanjutkan obrolan penting dari telepon siang tadi," balasku langsung membuka inti permasalahan."Kasus penggelapan dana melalui transaksi suku cadang fiktif itu memang sangat merugikan. Linda, Dimas, dan Siska pasti sudah memaparkan hipotesis awal mereka di kantormu tadi kan?" tanya pria senior itu meletakkan cangkirnya."Benar, Pak. Dimas dan Siska men
Aku saling berpandangan dengan Shella melihat adegan romantis anak muda tersebut. Senyuman amat lega terukir jelas di wajah calon istriku sore ini.Dinamika percintaan remaja memang selalu dipenuhi oleh letupan emosi sesaat. Kehadiran Arka di sini membuktikan bahwa dia memiliki rasa tanggung jawab yang amat besar sebagai seorang laki-laki."Ya sudah, semua masalah ini kita anggap selesai hari ini juga. Kalian berdua harus belajar saling jujur agar kejadian saling curiga begini tidak terulang lagi," nasihatku bersandar nyaman ke sandaran kursi."Siap, Kak Rafli. Saya janji akan lebih terbuka soal kegiatan kampus harian kepada Sora mulai besok," jawab Arka mengangguk amat sopan menatapku."Sebagai hukumannya, kamu yang harus traktir semua minuman kita di meja ini ya, Ar," goda Shella memecah ketegangan secara total."Tentu saja boleh, Kak Shella. Hitung-hitung ini sebagai uang damai dari saya untuk keluarga Hermawan," tawa pemuda itu melambaikan tangan memanggil pelayan.Pesanan minuman
"Wah, ini sih udah nggak bisa dibiarin. Tindakan dia main kasar pakai emosi pas ditanya baik-baik itu menandakan ada sesuatu yang disembunyikan," ucapku refleks mengepalkan tangan di atas meja."Jangan langsung main tuduh gitu dong, Raf. Sangat mungkin cewek itu emang murni teman sekelompok yang kebetulan numpang searah pulang," lerai Shella berusaha tetap objektif menenangkan suasana."Numpang searah kok pegangannya kencang banget kayak perangko? Arka juga sekarang jadi pelit banget kalau aku pinjam HP-nya buat sekadar lihat galeri foto."Gadis manis yang terbiasa berpikir pakai logika matematika ini kini harus pusing menghadapi ruwetnya perasaan cemburu. Rasa tidak aman jelas tergambar dari matanya yang mulai berkaca-kaca menahan tangis. Perasaan cemburu ini memang sangat lumrah dialami oleh perempuan seumurannya."Nanti Kak Shella coba cari tahu latar belakang cewek katingnya itu lewat koneksi anak kampus. Kamu jangan gegabah minta putus dulu sebelum kita punya bukti yang kuat," sa
Sodokan keras kuberikan dari bawah bertepatan persis dengan hempasan pinggulnya dari atas. Tabrakan bertenaga penuh ini bikin dinding kewanitaannya berkedut brutal meremas senjataku.Letupan pertamaku meledak amat kencang. Cairan panasku menyembur deras mengaliri seluruh dinding rahimnya di dalam sana. Shella memekik keras, melemparkan kepalanya ke belakang menerima tembakan bertubi-tubi itu.Menariknya, kedutan hebat dari rahimnya justru memancing sarafku bereaksi gila. Sisa pelepasan pekatku kembali menyembur deras untuk kedua kalinya tanpa memberikan jeda napas sedikit pun.Tembakan ganda ini benar-benar mengosongkan seluruh isi perut bawahku sampai habis total. Tubuhku mengejang kaku menahan rentetan orgasme panjang yang menyapu tulang belakang. Aku memompa pinggulku ke atas dua kali berturut-turut, murni buat menuntaskan sisa cairan terakhir tersebut.Kami berdua langsung ambruk berpelukan lemas menahan napas yang hancur berantakan. Dada kami saling menempel rapat meresapi detak
Tanpa aba-aba peringatan, Shella menggeser tubuh moleknya turun merosot dari dadaku. Posisi wajahnya sekarang bergeser tepat ke area pangkal pahaku. Dia menatap lurus ke arah kejantananku yang sudah terkulai lemas tanpa sisa tenaga.Wajar saja, pelepasan brutal barusan benar-benar menguras habis ketahanan fisikku."Kamu pikir servisku cuma berhenti sampai di sini doang, Raf?" bisiknya pelan, sengaja menyapu bagian paha dalamku pakai kuku-kuku lentiknya.Bibir merahnya yang masih sedikit bengkak itu langsung merunduk maju. Dia melahap senjataku yang sedang istirahat total tersebut tanpa ragu sedikit pun. Mulut hangatnya langsung memberikan isapan-isapan lembut yang super memanjakan saraf.Ujung lidahnya bermain sangat lincah mengitari kepala kejantananku berulang kali. Basah, hangat, terus luar biasa licin murni berkat sisa cairan kami yang masih menempel di sana.Servis mulut Shella ini benar-benar tidak masuk akal. Baru dikulum pelan beberapa menit, kejantananku refleks merespons ban
Shella terhuyung mundur jatuh terduduk di atas tumitnya, sambil memekik kaget. Bibir basahnya terlepas, pas di detik-detik krusial sebelum batas pertahanan terakhirku hancur tumpah berantakan.Napas kami berdua tersengal-sengal parah, memecah keheningan lantai eksklusif ini. Dada bidangku yang sengaja dibiarkan terekspos, bergerak naik turun memompa udara panas dengan tempo super cepat."Kenapa ditarik kasar sih kepalanya? Aku kan emang niat dari awal mau nelen semuanya," protesnya cemberut, menatapku kesal sembari mengusap ujung bibirnya yang basah."Aku nggak mau sesi kita selesai secepat ini, cuma berbekal mulut kamu doang. Main kita masih panjang durasinya hari ini," tegasku merapikan sisa napas yang masih putus-putus.Aku langsung mengulurkan kedua telapak tanganku, meraih ketiaknya dari bawah. Tenaga penuhku memaksa tubuh molek berbalut keringat mengkilap itu, buat kembali berdiri tegak lurus menantangku.Sekarang, posisi wajah kami kembali sejajar bertatapan saling mengunci. Ar
"Saya tahu saya nggak pantes ada di sini. Saya tahu saya anak dari wanita jahat yang udah ngerusak hidup Ibu. Selama ini saya hidup enak, makan enak, sekolah di luar negeri, pakai baju mahal, semuanya pakai uang yang harusnya jadi milik Ibu dan Rafli. Saya pencuri, Bu... Saya malu banget ketemu Ibu
Pengakuan itu membuatku melihat Claudia dengan cara pandang baru. Di balik sikap agresif dan liarnya, dia hanyalah gadis kesepian yang haus perhatian."Non Claudia nggak perlu jadi orang lain buat diperhatiin. Non punya kelebihan sendiri yang Non Shella nggak punya. Non Claudia itu berani, spontan,
Aku melangkah keluar lebih dulu untuk memastikan situasi aman, lalu diikuti oleh Claudia yang masih menempel ketat di belakang punggungku seolah takut ditinggal sendirian. Kami berjalan menuju unit nomor 2505 yang berada di ujung lorong, sesuai dengan instruksi yang tertera pada kartu akses pemberi
"Aku kan udah bilang, badanku ini kuat karena biasa angkat karung beras. Nahan beban hidup kamu doang mah enteng, paling cuma butuh pijit dikit kalau malem," jawabku mantap sambil menepuk dadaku sendiri dengan gaya sok jagoan.Shella tertawa lagi, tapi kali ini air matanya menetes jatuh membasahi p







