ログインBelum sempat jantungku kembali ke posisi semula setelah dibuat senam aerobik oleh kelakuan liar Nona Claudia, tiba-tiba saja sosok Nona Shella kembali muncul di ambang pintu dapur bagaikan petugas sensus yang datang di waktu yang tidak tepat.
Wajah cantiknya yang biasanya galak dan glowing paripurna itu kini terlihat sangat kusut,
Gadis berwajah oriental ini, sama sekali mengabaikan perintah mutlakku. Dia malah melahap habis separuh kejantananku ke dalam mulutnya, menggunakan satu gerakan mulus yang mematikan.Rongga mulutnya yang sempit dan panas, langsung menyedot sisa kesadaranku sampai habis tidak bersisa. Pipinya kempot ke dalam, setiap kali dia memberikan hisapan kuat berulang-ulang dari bawah sana.Bunyi decakan basah, menggema amat kencang memenuhi setiap sudut ruang kerja eksklusif ini. Suara erotis itu, berpadu sempurna dengan detak jantungku yang berpacu gila-gilaan menabrak tulang rusuk.Tangan kananku refleks mendarat kasar, tepat di puncak kepalanya. Aku meremas helaian rambut hitam panjangnya yang tergerai berantakan, sengaja menutupi sebagian wajah cantiknya.Dominasiku sebagai pria, menuntut kendali penuh atas jalannya permainan berbahaya siang ini. Aku memaksanya diam di tempat, buat menerima setiap dorongan pelan dari pinggulku."Terusin di situ posisinya. Jilat bagian bawahnya juga, biar rat
Bunyi klik mekanis kecil akhirnya terdengar melegakan.Tali pengekang terakhir di bagian atas tubuhnya resmi terlepas bebas. Kain renda merah itu jatuh perlahan menuju lantai karpet.Dua gundukan kenyal miliknya kini terekspos tanpa penghalang sehelai benang pun. Ujungnya yang berwarna merah muda terlihat mengeras sempurna merespons suhu dingin ruangan.Aku memundurkan langkah kakiku sejengkal buat menikmati mahakarya murni di depanku ini. Pemandangan indah perpaduan kulit putihnya dengan latar belakang gemerlap lampu gedung ibu kota di luar kaca sana benar-benar terasa amat mahal."Ngapain mundur segala menjauh dari aku? Sini deketan lagi, aku masih butuh dihangatin badan kamu," keluh Shella menarik keras ujung kemejaku kembali merapat.Wanita anggun ini sama sekali tidak menutupi dadanya yang sudah terbuka lebar. Dia malah sengaja membusungkan dadanya menantang tatapan liarku. Sikap beraninya ini bikin urat-urat di leherku menegang sekeras batu menahan luapan nafsu liar.Telapak tan
"Aku cuma mau bikin kamu rileks, Sayang," ucapnya menatap lurus menembus bola mataku.Kedua tangannya lalu terangkat pelan menuju kerah kemeja sutra putih yang dia pakai. Matanya sama sekali tidak lepas dari pandanganku sedetik pun. Dia seakan sengaja mengunci fokusku agar tidak berani berpaling ke arah mana pun.Jari lentiknya mulai membuka kancing kemejanya satu per satu dari atas. Sangat amat pelan. Ritme gerakannya sengaja diperlambat sedemikian rupa khusus untuk menyiksa pertahananku.Kancing pertama akhirnya terlepas, mengekspos tulang selangkanya yang menonjol indah di bawah lampu ruangan. Pas kancing kedua terbuka, kulit dadanya yang putih mulus mulai mengintip malu-malu memancing rasa lapar.Aku cuma bisa menggeram tertahan menyaksikan eksekusi lambat ini. Napasku rasanya tercekat kaku di pangkal tenggorokan."Kamu emang niat nyiksa aku dari awal ya?" desisku mengepalkan telapak tangan di samping paha.Menariknya, Shella cuma membalas keluhanku dengan senyuman tipis penuh kem
Shella langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan wajah sangat lelah. Calon istriku itu membuang napas berat melihat tumpukan dokumen di atas meja kerja."Jadi, apa rencana Pak Sanjaya sebenarnya sampai kamu menyuruh mereka membiarkan rekening itu tetap aktif tadi?" tanya Shella mengurut pelipisnya perlahan.Aku berjalan memutari meja kerja dan duduk di tepi meja menghadap wanita anggun itu."Pak Sanjaya menyadarkan aku tentang satu fakta fatal yang luput dari pengawasan kita berdua, Shell.""Fakta fatal apa maksud kamu? Semua bukti transaksi pembelian suku cadang fiktif tadi sudah sangat jelas mengarah ke peretasan akun manajer logistik kita siang ini.""Pencairan dana perusahaan sebesar itu tidak mungkin bisa lolos hanya bermodal akun manajer tingkat menengah saja. Pasti ada campur tangan orang dalam berpangkat jauh lebih tinggi di divisi keuangan yang sengaja menyetujui transaksi raksasa tersebut," ungkapku membongkar kecurigaan utama dari sambungan telepon tadi.Me
"Lalu, langkah antisipasi apa yang harus saya ambil sekarang, Pak? Saya berniat membekukan seluruh rekening operasional divisi logistik siang ini juga agar uangnya tidak mengalir lagi.""Jangan bertindak gegabah membekukan semua rekening. Langkah impulsif itu hanya akan membuat roda bisnis pelabuhanmu mati total dan mengundang kecurigaan pelaku," larang Pak Sanjaya dengan nada suara memperingatkan."Saya butuh bimbingan Bapak mencari solusi paling aman untuk menghentikan pendarahan kas ini secara diam-diam.""Kunci sementara semua akses persetujuan otomatis dari peladen pusat mulai jam ini. Tarik semua kewenangan pembayaran digital kembali ke mejamu secara manual. Jangan memecat atau menegur siapa pun dulu agar mereka merasa aman dan tidak buru-buru menghilangkan barang bukti," bimbing pengusaha sukses itu menyusun strategi jebakan yang sangat rapi."Saran yang sangat brilian, Pak Sanjaya. Saya akan membiarkan pelakunya merasa menang dulu sambil mengumpulkan bukti forensik siber di la
"Tepat sekali analisis Nyonya Shella. Sistem kita memproses pembayaran secara otomatis karena nominal per fakturnya dipecah menjadi sangat kecil. Pencurian ini dirancang agar tidak memicu alarm keamanan batas maksimal transfer," jelas Dimas membetulkan letak kacamatanya.Siska segera membalik halaman berikutnya untuk menunjukkan bukti tambahan. "Pemasok suku cadang ini sama sekali tidak terdaftar di buku mitra resmi kita. Alamat gudang mereka juga terbukti fiktif setelah saya coba melacaknya melalui peta satelit tadi pagi."Hipotesis dari dua akuntan senior ini benar-benar masuk akal sekaligus menakutkan. Mereka berdua mencurigai adanya manipulasi sistem pembayaran digital yang belum sempat diperbarui dari bulan lalu.Linda yang sedari tadi berdiri mematung akhirnya ikut membuka suara. Sekretaris pribadiku itu maju satu langkah merapat ke sisi meja kerja dengan dokumen terpisah di tangannya."Alasannya cukup janggal kalau ini murni kesalahan sistem komputer, Pak. Saya merasa curiga da
Aku tersentak bangun dari tidurku dengan napas memburu dan jantung yang nyaris copot. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul delapan pagi, waktu di mana seharusnya aku sudah selesai mencuci mobil dan menyiram tanaman hias kesayangan Nyonya Alika.
Sebelum aku, Shella, atau Jordi sempat bereaksi apa pun, tubuh gempal Isami sudah menabrakku dan memelukku erat-erat layaknya saudara kandung yang sudah terpisah puluhan tahun lamanya."Gila lu, Bro! Ke mana aja lu selama ini?! Gue cariin lu di pasar ikan muara baru udah nggak ada, gue tanya anak-a
Nona Shella sama sekali tidak menggubris peringatanku, dia justru menyunggingkan senyum miring yang penuh misteri dan terus mendesak tubuhku hingga dada kami nyaris bersentuhan.Tangan halusnya yang terawat perlahan ter
Shella terlihat sangat marah dan malu, wajahnya merah padam menahan tangis karena harga dirinya diinjak-injak di depan pasangan barunya.Aku perlahan berdiri dari kursiku, menatap Jordi dengan tatapan yang sudah tidak a