LOGINItu Sora.
Sora duduk di sana, matanya yang bengkak dan merah menatap lurus ke arah kami.
Dia melihat semuanya.
Dia melihatku masuk jam dua pagi dengan pakaian berantakan.
Dia melihat kemejaku yang kancingnya terbuka separuh.
Dia melihat wajahku yang lebam sedikit di sudut bibir.
Dan yang paling parah, dia melihat kakaknya sekaligus rivalnya, Claudia, sedang berada dalam gendonganku, memeluk leherku erat dengan posisi yang sangat intim, dan kepalanya bersandar nyaman di dadaku.
Tatapan Sora bukan lagi tatapan sedih atau kecewa seperti tiga hari lalu.
"Sora," panggilku lirih, suaraku tercekat di tenggorokan.
Aku ingin menjelaskan dan ingin bilang kalau kakaknya mabuk dan aku cuma menolong. Aku ingin bilang kalau tidak terjadi apa-apa di antara kami. Tapi lidahku kelu. Posisiku saat ini sudah menjelaskan segalanya di mata Sora.
Aku telah memilih Claudia.
Dan di matanya, aku memilih musuhnya.
Sora perlah
Aku meletakkan linggis dan cetok semen di lantai, lalu berjalan mendekati sisi kiri lemari, sementara Shella mengambil posisi di sisi kanan."Kita dorong bareng-bareng dalam hitungan ketiga ya, geser ke depan dikit aja biar cukup buat kita gali tanah di bawahnya," instruksiku sambil memasang kuda-kuda dan menempelkan bahuku ke sisi lemari."Oke, siap. Satu... dua... tiga! Dorong!"Kami berdua mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong lemari raksasa itu. Urat-urat di leherku menonjol keluar karena menahan napas, kakiku menekan lantai tanah sekuat tenaga untuk mencari pijakan yang kokoh.Kreeeet...Suara kaki lemari yang bergesekan dengan tanah terdengar nyaring dan berat, tapi untungnya lemari itu berhasil bergerak maju sedikit demi sedikit. Kami terus mendorong sampai lemari itu bergeser sekitar setengah meter dari posisi aslinya, meninggalkan jejak persegi panjang di lantai tanah yang warnanya lebih gelap dari sekitarnya karena tidak pernah terkena cahaya selama puluhan tahun."Hah.
Shella menurunkan ponselnya dari telinga dengan gerakan lambat, bahunya merosot turun seolah beban berat baru saja diletakkan kembali di pundaknya. Dia menghela napas panjang, sangat panjang hingga terdengar seperti keluhan lelah, lalu menoleh menatapku dengan wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam."Maaf, Raf. Aku udah berusaha nahan Mama, tapi kamu denger sendiri kan tadi dia keras kepalanya kayak gimana kalau udah punya mau," ucap Shella lirih sambil meletakkan ponselnya kembali ke atas meja kayu dengan kasar. "Mama maksa datang besok pagi sama Claudia dan Sora, aku bener-bener nggak bisa bayangin gimana ributnya rumah ini kalau mereka bertiga ngumpul di sini."Aku hanya mengangguk lemah menanggapi kabar buruk itu, tidak punya energi lagi untuk melarang atau memikirkan keributan macam apa yang mungkin dibawa oleh Nyonya Alika dan kedua putri manjanya besok."Nggak apa-apa, Shell. Biarin aja mereka dateng kalau emang niatnya mau ngelayat, toh rumah ini juga lagi sepi
"Nggak usah, Ma! Mama nggak usah repot-repot ke sini!" tolak Shella cepat dengan nada panik. "Jaraknya jauh banget dari Jakarta, Ma. Bisa lima jam perjalanan kalau lancar. Mama pasti capek di jalan nanti.""Mama nggak peduli soal capek, Shella. Mama harus dateng," bantah Nyonya Alika keras kepala."Tapi Ma, jalanan di sini jelek banget, banyak lubang, becek lagi abis ujan," Shella mencari alasan lain yang masuk akal. "Mobil sedan Mama nggak bakal bisa masuk ke sini, nanti nyangkut di jalan tanah. Lagian di sini fasilitasnya nggak ada, toiletnya jorok, nggak ada AC. Mama nggak bakal betah."Aku mengangguk setuju di samping Shella.Membayangkan Nyonya Alika dengan sepatu hak tinggi dan baju mahalnya masuk ke rumahku yang berlantaikan tanah saja sudah membuatku pusing. Dia pasti akan jijik setengah mati dan mungkin malah bikin malu Shella di depan tetangga.Apalagi ketika dia nanti bertemu Paman Sudra atau orang-orang lain yang mengetahui sejarah kelamku dan bapakku dulu."Di sini juga u
Aku menatap Shella dengan perasaan waswas yang luar biasa, takut kalau keputusan kami untuk mengabaikan Nyonya Alika selama dua puluh empat jam terakhir ini akan menjadi bumerang yang menghancurkan segalanya.Shella menempelkan benda pipih itu ke telinganya dengan gerakan perlahan, wajahnya terlihat tenang namun matanya memancarkan keseriusan yang tidak bisa disembunyikan.Aku duduk tegak di sebelahnya, menahan napas sambil memiringkan kepalaku sedikit agar bisa ikut mendengar suara apa pun yang keluar dari speaker ponsel itu meski tidak di-loudspeaker."Halo, Ma," sapa Shella dengan nada datar dan terkontrol, berusaha meredam potensi ledakan di seberang sana."Shella! Demi Tuhan, kamu ada di mana sekarang?! Kenapa seharian ini kamu hilang kabar sama sekali hah?"Suara teriakan Nyonya Alika langsung menyembur keluar dengan volume yang sangat keras, begitu kerasnya sampai aku yang duduk berjarak setengah meter pun bisa mendengarnya dengan jelas tanpa perlu menempelkan telinga. Nada sua
"Bukan gitu, Sayang. Aku cuma nggak enak ati sama kamu," bantahku cepat, tanganku meraih tangannya yang ada di atas meja. "Kamu udah berkorban banyak banget buat aku dua hari ini. Kamu sopiri aku, kamu bayarin ambulans, kamu ikut kotor-kotoran. Aku ngerasa nggak pantes nahan kamu di sini lebih lama lagi.""Dengerin aku ya, Rafli," Shella membalas genggamanku erat. "Aku ngelakuin semua ini karena aku mau, bukan karena terpaksa atau kasihan sama kamu. Aku pacar kamu, calon istri kamu kalau kata tetangga tadi, jadi wajar dong kalau aku nemenin kamu pas lagi susah begini?""Tapi kerjaan kamu gimana? Sekretaris kamu pasti nyariin bosnya yang ilang tanpa kabar," tanyaku khawatir, teringat posisi pentingnya di perusahaan."Sekretaris aku pinter, dia bisa handle semuanya sementara waktu. Lagian aku ini pemilik perusahaan, suka-suka aku mau libur kapan aja," jawabnya dengan nada sombong yang dibuat-buat, mencoba menghiburku. "Udah ah, jangan bahas kerjaan. Mending kita masuk yuk, di luar udah
Shella langsung meletakkan gelasnya, dia hendak menjawab bahwa dia tidak keberatan, tapi aku memotongnya lebih dulu. Aku meletakkan gelasku di meja dengan pelan, lalu menatap halaman rumah yang kosong tempat kemarin tenda terpal berdiri.Aku menggelengkan kepala pelan."Nggak, Paman. Rafli nggak mau balik sekarang. Rafli mau di sini dulu beberapa hari," jawabku dengan nada mantap, mataku menerawang jauh mengingat pesan terakhir Emak."Lho, terus kerjaanmu gimana, Le? Nanti bosmu marah kalau kamu bolos kelamaan," tanya Paman Sudra khawatir."Bosnya ada di sebelah Rafli, Paman, jadi aman," jawabku sambil melirik Shella sekilas, mencoba bercanda sedikit untuk mencairkan suasana. "Lagian, Rafli masih mau nemenin Emak dulu di sini, rasanya belum rela ninggalin rumah ini cepet-cepet.""Iya, Paman ngerti, namanya juga masih berduka," Paman Sudra mengangguk maklum."Selain itu, ada satu hal lagi yang harus Rafli kerjain, Paman," tambahku dengan nada serius, suaraku merendah. "Rafli harus bere







