Share

Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda
Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda
Penulis: Mami Lova

Pinjem Dulu Bayar Besok!

Penulis: Mami Lova
last update Tanggal publikasi: 2025-11-11 20:46:21

“Jangan main-main. Buka mulutnya, aaahh–”

“Teh Eva! Ada duit lima puluh enggak?” 

Aku terlonjak saat Yuli datang tergesa saat aku sedang menyuapi Hafsah, anak pertamaku yang berusia tiga tahun itu. Padahal adik iparku itu belum juga sampai di hadapan, tapi ia sudah mengatakan maksud dan tujuannya kemari dari kejauhan.

“Mi … lagi,” ucap Hafsah, membuatku menyuapinya lagi sembari menunggu Yuli sampai di hadapan.

“Ih, kenapa nggak jawab?” sungut Yuli dengan ekspresi tidak sabar. “Ada apa enggak?”

“Memang kenapa, Yul?”

“Jawab aja kenapa sih?” 

Aku menghela napas. Kuletakkan piring yang berisi nasi dan sayur sop di atas meja teras, lalu meraih dompet yang tergeletak di sebelah vas bunga.

Isinya hanya tinggal selembar uang dua puluh ribuan saja,

“Adanya cuma segini,” kataku, sambil menunjukkan sisa uang yang ada dalam dompet berwarna kuning itu.

Wajah Yuli langsung masam.

“Yang bener aja atuh, Teh! Masa cuma dua puluh? Orang butuhnya juga lima puluh!” Dia malah mengomel.

“Yaa kalo emang cuma ada dua puluh terus gimana? Masa aku harus maksain nyari sisanya?”

“Ckk, kok bisa sih Teh masih tanggung bulan begini duitnya tinggal dua puluh? Kang Helmi kan pegawai kecamatan, gajinya lumayan!”

Kembali kuhela napas mendengar omelan adik iparku itu. 

Memangnya dia pikir pegawai kecamatan berapa gajinya? Cuma dua juta setengah saja. Itu juga harus dibagi dengan biaya bulanan ibunya, alias mertuaku.

Jadi jatah keluarga hanya dua juta, itu sudah termasuk bayar air dan listrik, beli susu, biaya makan, dan juga bensin kang Helmi. Belum lagi jika Yuli tiba-tiba pinjam uang macam begini, jika tidak diberi maka dia akan mengomel habis-habisan.

“Makanya jangan boros dong, Teh. Aku tau dari tadi pagi si Hafsah makan terus, kan? Jajan terus. Makanya duit Kang Helmi cepet abis!”

Tanganku langsung terkepal mendengar tudingan Yuli, namun belum sempat aku menyahuti ucapannya dia keburu pergi tak tahu ke mana.

“Padahal anakku kan jajan pakai uang bapaknya sendiri. Kenapa dia yang marah?” gumamku pada diri sendiri.

“Mi.. lagi.”

“Ah iya sayang, nih ... sesuap lagi abis yaa?”

Kulanjutkan menyuapi Hafsah. Anakku ini baru sembuh, Alhamdulillah lagi doyan-doyannya makan. Sampai siang ini dia sudah tiga kali makan.

Walau lauknya hanya sayur sop dengan bakso, tetapi Hafsah lahap sekali dan itu membuatku senang.

Selang setengah jam kemudian, Kang Helmi pulang. Suara khas knalpot motor dua tax-nya sudah sangat kukenal, dan Hafsah bahkan dengan ceria menyambut abinya pulang.

“Abi!” panggilnya di pintu depan.

Lelaki yang sudah menikah empat tahun denganku itu melepas helmnya, lalu tersenyum ke arah anak kami satu-satunya.

“Aduhh, anak Abi udah sehat ya? Alhamdulillah.. sini Abi cium.”

Kang Helmi menggendong Hafsah, lalu menciumi kedua pipinya yang agak kurus karena sakit kemarin.

“Tumben pulangnya cepet, Kang?” tanyaku, sambil menyambut tangan kanannya dan mencium punggung tangan suamiku dengan khidmat.

“Iya, kerjaan udah pada beres ya mendingan pulang. Ketemu istri dan anak. Hehe.”

Aku tersenyum mendengar jawaban kang Helmi, lelaki baik yang usianya dua tahun lebih tua daripada aku. Kami satu sekolah saat SMA, dia kakak kelasku dan jatuh cinta padaku saat aku bekerja di kantin tempatnya kuliah dulu.

Lucu memang, seorang mahasiswa yang populer dan soleh malah jatuh cinta dengan pelayan kantin macam aku. Namanya jodoh, memang unik.

“Akang mau makan sekarang? Apa mau mandi dulu?”

“Makan dulu deh, enggak tahan udah lapar nih. Hafsah udah makan?”

Hafsah mengangguk, lalu berceloteh bahwa tadi dia sudah makan dengan sop di depan rumah. Tak lama kudengar mereka sudah bercanda, Hafsah tertawa riang saat main dengan abinya, dan aku menyiapkan makan untuk kang Helmi.

Sop kuhangatkan lagi, kusiapkan sambel cabe rawit dan kerupuk juga untuk makan suamiku. Setelah semuanya siap, kuhidangkan ke depan. Kang Helmi pun makan dengan lahap, aku dan Hafsah menemaninya makan sambil nonton kartun.

“Kang, uang belanjaku tinggal dua puluh. Akang masih ada pegangan enggak?” tanyaku hati-hati, setelah suamiku selesai makan.

Ekspresi suamiku langsung berubah tak enak,

“Aduh, Va.. uangku tadi dikasih ke si Yuli. Dia pinjam dulu seratus katanya besok diganti.”

“Apa Kang? Dikasih ke Yuli?!”

Tanpa sadar aku bicara dengan nada suara yang cukup tinggi, aku buru-buru minta maaf karena tak sengaja. Bukannya apa-apa tapi tadi Yuli pinjam uang padaku nominalnya 50, lalu karena tak ada padaku dia mendatangi kakaknya dan minta lebih banyak.

Yang benar saja!?

“Seratus? Akang kasih semua?”

“Iya, soalnya kasian. Katanya dia pesan barang COD, barangnya datang sekarang dan dia belum pegang uang. Dia kira datangnya besok kan, pas sama suaminya dapet persenan dari jual tanah itu.”

Kang Helmi menceritakan detailnya tanpa rasa bersalah, seolah-olah yang baru saja dia lakukan itu bukan hal yang fatal.

Aku mulai kesal, tapi aku tak pernah bisa marah.

“Padahal tadi dia ke rumah, Kang. Minjem sama aku 50 tapi kan aku enggak ada.. eh malah minjem ke Akang, lebih gede lagi!”

“Ya gimana lagi? Emangnya Akang tau kalo Yuli cuma butuh lima puluh?”

Aku menghela napas sesak,

“Terus Akang enggak punya pegangan lagi, sama sekali?”

Suamiku menggeleng, dia menenggak air teh dalam gelasnya sampai habis. Dia mulai terlihat malas dengan percakapan kami.

“Kenapa enggak dikasih setengahnya aja sih, Kang? Udah tau uangnya tinggal seratus, malah dikasih semua!” gerutuku.

Brak!

Kang Helmi meletakkan gelas cukup keras di atas meja kecil tempat kami makan lesehan, aku sampai terperanjat kaget. Hafsah yang duduk di pangkuanku juga kaget, untung dia tak menangis.

“Terus mau gimana? Mau aku ambil lagi duitnya, iya? Kan aku kasih juga karena si Yuli bilang, besok si Edi cair. Dia dapat bayaran dari orang yang dijualin sawahnya!”

Kalau sudah begini, aku tak bisa mengatakan apapun lagi. Kang Helmi memang tipe lelaki penyayang keluarga, khususnya ibu dan adik semata wayangnya.

Aku tak bilang jika dia tak menyayangi aku dan Hafsah, dia juga bersikap sangat baik pada kami. Tapi entahlah, kadang kasih sayangnya pada ibu dan adiknya mengalahkan kasih sayangnya padaku dan anak kami.

Seperti sekarang, uang tinggal seratus langsung diberikan semua pada adiknya. Padahal dia tak punya pegangan lagi, dan tanggal gajian masih sangat lama. Mau makan apa kami besok?

“Masalahnya, Yuli itu hampir enggak pernah bayar hutangnya sama kita, Kang. Apa mungkin dia besok tepat janji?”

Kang Helmi mendelik, dia tak suka mendengar adiknya dijelekkan seperti itu walaupun yang kukatakan adalah kenyataan.

Aku mengatakan hal itu bukan karena kejadian ini saja, melainkan karena sudah berkali-kali, bahkan mungkin sudah puluhan atau ratusan kali. Yuli meminjam uang, nominalnya berbeda-beda dari hanya dua ribu untuk jajan cilok anaknya, sampai ratusan ribu.

Dari semua yang dia pinjam, mungkin hanya sekitar beberapa pinjaman saja yang dikembalikan. Itu pun setelah ditagih berkali-kali dan aku didiamkan oleh kang Helmi gara-gara menagih.

Dadaku sesak, karena kecewa dan kesal. Tapi kang Helmi juga sama kesalnya padaku, karena merasa aku mengaturnya urusan uang dan keluarga.

Baru saja dia mau bicara, tiba-tiba terdengar salam dari luar.

“Asalamualaikum, Mi! Helmi! Kamu udah pulang?!”

Itu suara mertuaku, ada apa dia kemari?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Keputusan Camat

    Di sisi lain kota, di kantor kecamatan yang biasanya menjadi tempat kebanggaan Helmi, suasana justru terasa mencekam. Helmi duduk di mejanya dengan kepala tertunduk.Rekan-rekan kerjanya yang biasanya mengajaknya makan siang atau sekadar bercanda, kini sibuk dengan urusan masing-masing, seolah Helmi adalah wabah yang harus dihindari.Dering telepon di meja kerja Helmi berbunyi. Bukan dari warga, tapi dari sekretaris Pak Camat."Pak Helmi, silakan ke ruangan Pak Camat sekarang. Membawa buku catatan Anda."Langkah Helmi terasa berat. Di dalam ruangan yang dingin itu, Pak Camat duduk dengan ekspresi yang sangat keras.Di depannya, ada sebuah map biru dan beberapa lembar surat kaleng serta cetakan tangkapan layar (screenshot) dari media sosial."Duduk, Helmi," perintah Pak Camat dingin. "Kamu tahu ini apa?"Pak Camat menyodorkan surat teguran resmi. "Kantor ini adalah lembaga pelayanan publik. Tapi selama sebulan terakhir, nama kamu terus-menerus muncul dalam laporan yang tidak menyenangk

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Trauma

    Malam itu, rumah Eva yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang penuh dengan isak tangis yang tertahan.Di dalam kamar yang lampunya sudah dimatikan, Hafsah tidur dengan gelisah. Tubuh mungilnya berkali-kali tersentak, dan keringat dingin membasahi keningnya.Eva duduk di sampingnya, mengusap punggung anaknya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki setelah drama pencarian di pinggir jalan tadi sore."Jangan... Abi, buka pintunya... Hafsah laper..." igau Hafsah dalam tidurnya. Suaranya kecil, parau, dan penuh ketakutan.Eva memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Setiap igauan Hafsah adalah sembilu yang menyayat hatinya.Dia tidak pernah menyangka bahwa kerinduannya pada sosok ayah akan dibayar dengan trauma sedalam ini. Helmi tidak hanya meninggalkan luka pada Eva, tapi kini dia telah menghancurkan rasa aman di dunia kecil Hafsah.Keesokan paginya, kondisi Hafsah tidak membaik.Bocah itu menolak untuk keluar kamar. Bahkan ketika mendengar suara moto

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Hafsah Hilang

    Waktu seolah merayap dengan lambat, namun jarum jam dinding di rumah Eva terasa berdetak seperti genderang perang. Adzan Ashar sudah berkumandang lebih dari tiga puluh menit yang lalu, namun gerbang rumah yang kini terbuka lebar itu tak kunjung menampilkan sosok motor Helmi yang membawa Hafsah pulang.Eva berdiri di teras, jemarinya terus meremas ujung kerudungnya yang mulai lembap oleh keringat dingin. Perasaannya kacau. Sejak sepuluh menit yang lalu, dia mencoba menghubungi nomor Helmi. Eva sudah membuka blokir nomor itu demi bisa memantau anaknya, namun setiap kali dihubungi, operator hanya menjawab dengan nada yang sama: “Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”"Duh Ya Allah, Kang Helmi... jangan main-main sama anak," bisik Eva lirih.Dia mencoba mencari nomor Yuli di daftar kontaknya, namun dia baru ingat bahwa dia tidak pernah menyimpan nomor adik iparnya itu karena hubungan mereka yang selalu buruk. Kegelisahan Eva memuncak. Di saat itulah, Hamzah muncu

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Main Yuk

    Siang itu, matahari seolah memanggang aspal di depan rumah Eva. Di teras, Eva sedang merapikan beberapa paket pesanan tetangganya saat sebuah motor yang sangat ia kenali berhenti di depan rumah.Helmi turun dengan membawa dua kantong plastik besar berisi berbagai macam jajanan, mulai dari ciki, susu kotak, hingga mainan plastik murah yang bungkusnya sudah agak kusam.Eva berdiri, wajahnya mendadak kaku. "Mau apa lagi, Kang? Bukannya urusan kita sudah jelas di pengadilan kemarin?"Helmi memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. "Va, tolong jangan begini. Akang ke sini bukan mau ribut. Akang kangen sama Hafsah. Sudah lama sekali Akang nggak ketemu dia, nggak main sama dia. Ini Akang bawakan jajanan banyak buat dia."Eva menarik napas panjang. Firasatnya buruk. Dia tahu betul bahwa Helmi jarang sekali melakukan sesuatu tanpa pamrih. Namun, sebelum Eva sempat menolak, Hafsah kecil sudah berlari keluar dari dalam rumah."Abi!" teriak bocah itu dengan mata berbinar.Hafsah, yang belum

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Membenci Mantan Suami

    Di siang yang sama, di tempat yang berbeda.Erin sedang duduk di teras rumah Bu Siti sambil mengikir kukunya, menunggu kurir paket yang biasanya datang seperti jadwal minum obat.Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Siska, temannya yang bekerja di sebuah toko fotokopi tepat di seberang Gedung Pengadilan Agama.[Halo, Rin! Kamu tahu nggak? Tadi aku lihat laki kamu, si Helmi!] suara Siska terdengar melengking penuh semangat gosip.[Ya emang dia ke sana, Sis. Kan sidang pertama sama mantan istrinya yang sok itu,] jawab Erin malas-malasan.[Iya, tapi kamu tahu nggak apa yang dia lakuin di parkiran tadi? Dia ngejar-ngejar mantan istrinya itu, Rin! Sampai mau pegang-pegang tangannya, mukanya melas banget kayak pengemis. Aku denger sendiri dia bilang 'Tolong jangan cerai, aku mau perbaiki semuanya'. Gila ya, Rin, itu suamimu kayak nggak punya harga diri banget di depan mantan istrinya!][Gimana sih, katanya udah nggak suka dan cuma sayang sama kamu, kamu yang dibangga-b

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Yang Mau Cerai

    Gedung Pengadilan Agama itu tampak kaku dan dingin, dengan pilar-pilar putih besar yang seolah menghimpit siapa saja yang datang membawa beban rumah tangga di pundaknya.Bagi Eva, ini adalah langkah besar untuk menjemput kembali kemerdekaannya. Namun bagi Helmi, gedung ini terasa seperti panggung eksekusi bagi harga dirinya yang sudah compang-camping.Eva duduk di kursi tunggu kayu yang keras, didampingi oleh pengacaranya dan Pak Wawan.Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang rapi dengan kerudung senada. Wajahnya terlihat santai, matanya menatap lurus ke depan. Itu adalah sebuah ketenangan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat.Tak lama kemudian, Helmi datang. Penampilannya sangat kontras dengan biasanya. Seragam PNS-nya tampak agak kusut dan warnanya memudar karena salah metode cuci, wajahnya kusam dengan kantung mata yang menghitam.Dia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai besar, dan memang begitulah kenyataannya. Hutang pinjol Yuli, teror di kantor, dan sik

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Cemburu Buta

    “Kenapa kamu chattingan sama lelaki lain, Eva?!”Suara Kang Helmi bergema keras di ruang tamu. Tangannya masih menggenggam ponselku erat, wajahnya merah padam, napasnya tersengal karena marah.Aku terpaku beberapa detik, mencoba mengatur napas, tapi sebelum sempat bicara, kata-katanya menghantamku

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Dusta Demi Dusta

    “Huekk!”Spontan kututup hidungku, perut yang kosong dan kelelahan, ditambah aroma busuk yang menguar membuatku nyaris tak mampu menahan muntah.“Bau Mi..” Hafsah pun mengeluh.Kuminta dia berdiri di teras, sementara aku masuk ke dalam rumah sambil menutupi hidung dengan ujung kerudung.“Astagfirul

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Duda Baru

    Sudah tiga malam berturut-turut Kang Helmi tak pulang.Awalnya aku gelisah, setiap kali terdengar suara motor di depan rumah, aku menengok cepat, berharap itu dia. Tapi lama-lama aku berhenti berharap.Bahkan Hafsah juga tak menanyakan abinya, seolah dia sudah paham apa yang terjadi. Mungkin meman

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Hilangnya Tabunganku

    Setelah selesai menelepon, Yuli bangkit dari karpet dan duduk di atas kursi. Dia duduk bertumpang kaki, sambil main HP.Sirna sudah ekspresi sedih dan kecewanya karena sang suami selingkuh, dia sekarang sudah haha-hihi lagi dengan benda pipih di tangannya itu.“Hadeh, kayak nggak terjadi apapun aja

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status