LOGINShazia memegang bibirnya sebab tak nyaman, berkedut dan terasa sedikit lebih besar.
Shazia baru bangun. Tidurnya sangat nyenyak tapi entah kenapa bibirnya terasa kebas. "Bibirku kenapa yah?" gumam Shazia mendekat ke arah cermin untuk memeriksa bibirnya. Dia bertanya-tanya sendiri, namun karena pada akhirnya tetap tak menemukan jawabannya, Shazia memilih mengabaikan. Dia segera membersihkan diri. Setelah itu, Shazia buru-buru turun ke lantai satu untuk sarapan. Setelah selesai sarapan Shazia balik lagi ke lantai tiga, buru-buru ke kamar kakaknya. Dia sering menggunakan kamar mandi Rayden karena memiliki bath up yang luas. Namun, karena dia khawatir Rayden tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar pada siapapun, Shazia harus segera memindahkan perlengkapan mandinya yang sengaja ia tinggalkan di kamar mandi dalam kamar Rayden. Ceklek' Shazia membuka pintu kamar Rayden lalu masuk begitu saja ke dalam. Seseorang yang duduk di balkon, menoleh ke arah kamar–lebih tepatnya ke arah perempuan yang memasuki kamarnya tanpa permisi. Sosok itu tengah bersantai di balkon kamar, membaca majalah bisnis sambil menikmati secangkir kopi. Mata elangnya menghunus tajam pada seorang gadis nakal yang saat ini berada dalam kamarnya. Dia mengamati gadis itu dari balik tembok kaca transparan yang menjadi pembatas antara kamar dan balkon. Shazia melangkah cepat masuk ke kamar mandi kakaknya, mengambil segala perlengkapan mandinya yang tertinggal di sana, termasuk pasukan bebek kuning berbahan karet yang selalu menemaninya mandi. Selesai mengumpulkan barangnya, Shazia beranjak pergi. Akan tetapi, bebek karet mainnya terjatuh lalu dia tak sengaja menginjaknya–kakinya tergelincir dan dia berakhir terjatuh. Brak' "Agk." Shazia meringis sakit. Dia mengambil posisi duduk lalu memegang lutut yang lebih dulu terbentur keras ke lantai. "Sakit sekali," keluhnya pelan, memeriksa lututnya yang memar. Namun, tiba-tiba saja Shazia merasa kalau ada yang memperhatikannya. Bulu kuduk di tengkuk mendadak berdiri, dia merinding. Shazia buru-buru mendongak, menatap ke arah foto yang di panjang di dinding depannya. Foto tersebut adalah foto Rayden dan dirinya, diambil tujuh tahun lalu dan merupakan hadiah ulang tahun dari Shazia untuk Rayden. Pada foto tersebut, Rayden sedang duduk bossy pada sebuah sofa, lalu di sebelah pria itu ada Shazia yang duduk tegang. Niat Shazia memberikan hadiah berupa foto tersebut pada Rayden adalah agar hubungan kekeluargaan antara dia dan Rayden semakin erat. Selain itu agar semua orang tahu kalau dia adik kesayangan Rayden. Dia kira Rayden akan memajang foto tersebut di ruang utama, ternyata malah dipajang dalam kamar Rayden sendiri. "Apa lihat-lihat?!" kesal Shazia pada foto kakaknya yang terasa terus menatapnya secara tajam dan mengintimidasi, "kamu pikir aku takut padamu, Hah? Enggak yah!" galak Shazia kemudian, buru-buru berdiri lalu mengumpulkan semua barang-barang yang terjatuh. "Dulu dan sekarang itu beda. Sekarang aku sudah besar dan aku tidak takut padamu. Lihat saja, kalau suatu saat kamu pulang ke sini, aku bakalan menendang lututmu!" gerutu Shazia dengan nada marah-marah, berjalan keluar dari kamar kakaknya. Brak' Saat keluar dari kamar Rayden, dia sengaja menutup pintu dengan kuat–meluapkan rasa kesal karena terjatuh. Di sisi lain, sosok yang duduk tenang di balkon tersebut, menarik sudut bibir kanan–membentuk seringai tipis. Dia meraih cangkir kopi lalu menyeruput dengan khidmat. "Tidak takut, Heh?" gumamnya pelan. *** "Hah?! Teman kakakmu tidak jadi datang?!" ucap Shazia, di mana saat ini dia sedang dalam kamar, sedang bersantai sambil berbicara dengan sahabatnya lewat panggilan telepon. Jantung Shazia berdebar kencang karena sahabatnya mengatakan kalau pria yang Shazia sewa untuk pura-pura tidur dengannya ternyata tak bisa datang ke hotel. Lalu pria yang semalam bersamanya siapa? Tok' tok' tok' Tiba-tiba pintu kamar Shazia diketuk, Shazia menjauhkan handphone dari daun telinga lalu segera menghampiri pintu. Ceklek' "Ada apa, Ibu?" tanya Shazia sopan. "Nona, Tuan besar–Tuan Alexander Malik dan Tuan Georgie Malik telah datang bersama Tuan Sandi, calon suami Nona. Mohon agar Nona Shazia segera ke bawah," lapor kepala maid dengan nada khawatir dan iba. "Oh, oke, Bu," jawab Shazia lesu, segera masuk dalam kamar. Dia meraih HP lalu memilih mengakhiri pembicaraan dengan sang sahabat, "sudah dulu yah. Kakek, Paman, dan pria itu sudah datang," ucap Shazia, setelah itu memutuskan sambungan telepon. Shazia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum turun ke bawah untuk menemui kakek, paman, dan pria yang dijodohkan dengannya. Alexander adalah kakek Rayden, kakeknya juga karena dia anak angkat di keluarga ini. Alexander sangat baik dan sangat memanjakannya. Namun, Georgie-- paman-nya tersebut tak menyukainya, dan perjodohan ini Georgie lah yang mengatur. Meskipun Alexander pemimpin keluarga Malik, akan tetapi Georgie sangat keras dan sulit dibantah. Shazia segera ke bawah, di mana setelah di sana dia segera menyalam kakek dan pamannya. Lalu dia duduk di sebuah sofa single, wajahnya kaku dan jantung berdebar kencang. "Pak Sandi, dia adalah Shazia Adena Malik. Dia cantik bukan?" ucap pamannya pada pria yang akan dijodohkan dengan Shazia. Pria itu senyum mesum pada Shazia, mengamati Shazia dari atas hingga bawah. "Masih sangat muda, tapi aku suka karena dia cantik." "Hahaha … meskipun muda, saya pastikan Shazia ini perempuan berbakat dan banyak talenta," ujar pamannya sambil tertawa, "Shazia memang hanya anak angkat keluarga Malik, tapi dia dibesarkan sendiri oleh Rayden. Jadi kualitas Shazia tak perlu diragukan lagi, pastinya dia gadis yang menjaga diri." "Wah, ini menarik." Pria yang dijodohkan dengan Shazia kembali memperlihatkan senyuman penuh arti pada Shazia, "tapi … apa Tuan muda Rayden tak marah bila adik kesayangannya kunikahi?" "Tentu tidak!" jawab Georgie–pamannya dengan nada santai. Shazia begitu gugup, tak bisa berkata-kata dan tak berani bersuara. Rasanya dia seperti dilecehkan oleh pria ini di sini, dan yang membuatnya sedih adalah pamannya sama sekali tak memperdulikan seperti apa cara pria ini menatap Shazia. "Shazia sayang, jika kamu menolak perjodohan ini, Kakek tidak akan meneruskan. Perjodohan ini bisa dibatalkan. Semua ada di tanganmu," ucap Alexander tiba-tiba, kakek Rayden dan Shazia. "Tidak bisa, Ayah! Shazia sudah seharusnya menikah. Mau sampai kapan Ayah membebani Rayden dengan terus menjaga Shazia. Suatu saat Rayden juga akan punya kehidupan sendiri, dan Shazia bisa menjadi penghalang!" dingin Georgie, langsung melayangkan tatapan penuh intimidasi ke arah Shazia. Alexander ingin bersuara, akan tetapi tiba-tiba saja seorang maid datang. Maid tersebut membawa sebuah amplop besar berwarna coklat. "Mohon maaf, Tuan Besar dan Tuan Georgie." Maid tersebut membungkuk pada Georgi dan Alexander, "ada kiriman untuk Nona Shazia." "Sini, biar kuperiksa," dingin Georgie, merampas kasar map tersebut dari maid. Dia mengusir maid supaya pergi dari sana lalu membuka amplop untuk melihat isinya. Shazia menggigit bibir atas, menundukkan kepala dengan jantung berdebar kencang dan punggung yang sudah terasa panas. 'Pasti itu foto kiriman … ta-tapi siapa pria yang berpura-pura denganku?' batin Shazia, gugup setengah mati. Brak' Georgie tiba-tiba saja menggebrak meja dengan sangat kuat, membuat Shazia terlonjak kaget dan semakin takut. Ah, tak apa-apa jika semua keluarga Malik marah padanya, terpenting dia lepas dari perjodohan mengerikan ini. Sekalipun keluarga Malik melepas hubungan dengannya, itu tak masalah. Yah, daripada dia harus terikat pada pernikahan yang mengerikan. "Apa-apaan ini, Shazia?!" amuk Georgie dengan suara menggelegar, dia berdiri dengan tangan terkepal. Foto-foto yang ia dapat dari amplop, telah bercecer di lantai. Alexander meraih salah satu foto, di mana dalam foto tersebut Shazia tengah berbaring sambil memeluk seorang pria. "Shazia, kamu tidur dengan Kakakmu sendiri?" ucap Alexander dengan suara pelan dan bergetar.--Beberapa bulan kemudian-- Zaiden tertawa jahat saat melihat seorang pria paruh baya yang duduk di lantai. Pria itu menangis, setelah menonton sebuah video yang memperlihatkan sosok wanita pujaan hatinya yang ternyata ada di negara ini. Hati Nicolas sangat hancur, istri pertamanya sudah menikah dengan pria lain dan Stella terlihat sangat mencintai suaminya tersebut. Kehancuran Nicolas lebih dalam lagi ketika melihat putrinya–Kiara, memanggil 'ayah pada suami Stella. Bahkan Kiara akrab dengan suami Stella tersebut, mereka bercanda bersama dan bahkan ada video yang memperlihatkan keduanya sedang memasak bersama-sama sambil mengobrol santai. Hatinya seperti tertusuk duri ketika melihat video tersebut. Dia tidak rela dan tidak terima Kiara memanggil Ken sebagai ayah. Hatinya sakit! "Senang bisa melihat penderitaanmu, Pak Tua." Zaiden berkata santai, menyuruh Marcus–dengan isyarat untuk memperlihatkan video baru. Itu video putri kesayangannya yang saat ini tinggal di kolom jemba
Kiara kembali menundukkan kepala. Ucapan mamanya sungguh enak didengar olehnya. Hanya saja dia tetap ragu. "Sayang, Tuan Zaiden memang melakukan kesalahan. Namun, dia baru sekali melakukan kesalahan. Apakah kesalahannya yang satu ini bisa membuat kebaikannya padamu hangus?" Kiara masih diam karena tak tahu harus merespon apa. "Begini saja, coba ceritakan pada Mama sebuah moment yang membuat kamu kagum atau berasa beruntung punya suami seperti Tuan Zaiden." "Banyak, Mah," jawab Kiara pelan, "Ketika dia tahu Pak Nikolas jahat padaku, Mas Zaiden langsung berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak kami kelak. Padahal waktu itu, kami menikah saja belum." Kiara berkata pelan sambil menatap malu pada mamanya. Mengenai Nicolas yang jahat padanya, mamanya sudah tahu. Mamanya mengetahui itu dari mertua Kiara. "Dia juga rutin belajar mengepang rambutku dengan model yang berbeda di setiap harinya. Katanya … jika kami punya putri kelak, Mas Zaiden ingin mengepang rambut putri k
Marcus buru-buru menghampiri mertua sang tuan, menyalamnya dengan sopan sambil senyum ramah. Disusul oleh 20 bodyguard yang mereka bawa ke sana. Stella dan Ken hanya bisa senyum kaku, menyalam para pasukan yang Zaiden bawa. Ah ya Tuhan! Situasi mendadak berubah. **** Kiara akhirnya kembali ke kediaman Malik. Sejujurnya dia masih belum siap untuk kembali pada Zaiden, akan tetapi pria itu memaksanya pulang. Bahkan Zaiden membawa orang tua dan adik Kiara ke rumah ini. Saat ini Kiara sedang makan disuap oleh Zaiden, di halaman samping rumah. Sedangkan orang tuanya tengah mengobrol dengan mertuanya. "Sejak kejadian itu, Kiara trauma melihat seseorang berdiri di belakangnya saat dia makan. Untungnya sekarang traumanya sudah berkurang," ucap Rayden pada orang tua Kiara, di mana sebelumnya dia menceritakan masalah Kiara yang spontan menjatuhkan wajah ke piring saat dia muncul. Ketika mengetahui Ken adalah ayah baru Kiara, suami ke-dua dari ibu kandung Kiara, Rayden merasa sedikit w
"Tuan Zaiden Haitham Malik?" panik Stella dan Ken secara bersamaan saat sang kepercayaan dari sosok berbahaya itu memperkenalkan diri Zaiden. Mata Stella hampir keluar dari tempat, begitupun dengan Ken yang pucat dan tegang. Saat ini mereka sedang khawatir karena Kiara dan Karina tidak ada di rumah. Kiara masih menjadi incaran Nicolas, oleh sebab itu selama seminggu di sini mereka tidak membiarkan Kiara ke mana-mana. Namun, rasa panik mereka semakin bertambah karena sang tuan muda Haitham Malik ada di rumah mereka. Mimpi apa Stella dan Ken sehingga sosok ini ada di sini?! "To the point saja, kembalikan istriku dan kalian tidak akan kenapa-napa," ucap Zaiden dengan nada dingin, menatap angkuh pada sosok orang tua di depannya. "Hah?" Stella terlihat bingung, mengerutkan kening sambil menatap aneh pada sosok berbahaya tersebut. Setelah itu dia bersitatap dengan suaminya yang juga terlihat sama bingungnya dengannya. "Nyonya dan Tuan Moris, Tuan Zaiden bisa marah jika kalian b
Plak' Razia langsung menampar punggung telanjang Zaiden, membuat kembarannya tersebut langsung membalik tubuh lalu melayangkan tatapan tajam padanya. "Makan tuh goreng pisang biar kenyang," ucap Razia, menyebut tamparannya di punggung Zaiden adalah goreng pisang. "Keluar!" dingin Zaiden, memilih duduk sambil menatap membunuh pada kembarannya. "Kelewer!" nyinyir Razia, memutar bola mata jengah sambil bersedekap di dada. Percayalah, dia di sini karena dihubungi oleh mamanya. Zaiden mogok makan selama tiga hari, mama dan papanya sudah membujuk, akan tetapi Zaiden bersikeras tidak mau makan sebelum papanya mempertemukannya dengan Kiara. Razia sudah tahu apa yang terjadi pada Zaiden dan Kiara. Dia sendiri dipihak Kiara. Yah, siapa suruh Zaiden kasar pada Kiara. Ditinggal kan?! "Pria itu diberi tenaga lebih dan dijadikan pemimpin, itu supaya bisa melindungi perempuan. Tapi kamu malah … mentang-mentang lebih kuat, malah bersikap kasar pada Kiara. Mampus! Kamu ditinggal kan?!"
Ken senyum cerah, semakin terharu saat Kiara memanggilnya dengan sebutan ayah. "Halo, Nak. Sangat senang rasanya bertemu denganmu," ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Kiara. "Senang bertemu dengan Ayah juga," ucap Kiara sambil senyum manis, "ouh, tidak apa-apa kan aku manggil Ayah Ken dengan sebutan Ayah?" "Tentu tidak apa-apa. Kau putriku dan Ayah sangat senang bila dipanggil demikian olehmu, Nak." Ken senyum tulus pada Kiara. Hati Kiara sangat terharu mendengarnya. Setelah itu, dia menghampiri Karina, gadis yang ada saat dia terbangun tadi. Karina terlihat gugup, berdiri tepat di sebelah ayahnya. "Hai," sapa Kiara, di mana dia dan Karina sama-sama bersalam, "aku Kiara Khansa." "Karina Moris," jawab Karina gugup, "senang bertemu dengan Kakak," lanjutnya. Kiara senyum tipis, efek gugup dan canggung. Lagi-lagi dia harus katakan, dia punya saudara tiri yang jahat dan arogan. Jadi Kiara sedikit parno! Gadis 15 tahun ini sepertinya terlihat gadis yang baik. Hanya saja, Kia







