LOGINTerima kasih udah baca, semoga suka di bab ini😘 Masukin ke daftar baca biar dapet info update-nya ya🤩
Siang itu, Victor duduk di dalam mobilnya yang terparkir di bawah pohon rindang, menatap layar ponsel yang menyala. Lampu hijau pada obrolan pribadinya baru saja bertambah setelah Siti mengirimkan pesan singkat lima menit lalu. Siti ||| "Gue udah izin sama Febi. Dia bilang gak apa-apa kalau lu mau nge-chat. Good luck, Calon Doktor!”Jari-jari Victor bergetar tipis. Cowok jangkung yang biasanya tenang menghadapi ujian kualifikasi S3 itu kini merasa detak jantungnya berpacu jauh lebih kencang. Setelah menghembuskan napas panjang, ia menekan kolom obrolan dan mengetik pesan pertama.Victor ||| "Hai, Feb. Ini Victor. Sory kalau tiba-tiba, gue dapet nomor lu dari Siti."Tidak butuh waktu lama, tanda dua centang biru langsung terlihat. Jantung Victor rasanya mau melompat keluar.Febi ||| "Hai, Vic. Gak apa-apa kok, Mbak Siti udah cerita tadi."Victor ||| "Lu apa kabar, Feb? Lagi sibuk apa sekarang?"Febi ||| "Kabar baik, Vic. Sekarang sibuk kerja aja di studio desain kawasan Selatan. Lu se
Mendengar nama itu terucap dari bibir Siti, tubuh Victor mendadak kaku. Matanya terpejak sejenak sebelum akhirnya menghembuskan napas pasrah yang sangat panjang."Tuh kan, bener!" tebak Siti mantap."Gak usah keras-keras ngomongnya, Siti..." bisik Victor panik, melirik cemas ke arah pintu kaca rumah takut terdengar orang lain."Ya elah, sepian ini tamannya," balas Siti santai. "Jadi gimana? Lu jujur aja deh sama gue. Udah mau beres S3 begini, lu masih belum bisa move on dari Febi?"Victor menyandarkan kepalanya ke sandaran kayu bangku taman, menatap langit biru di atas mereka. Raut wajah galau yang ia sembunyikan rapat-rapat akhirnya runtuh sepenuhnya di hadapan Siti."Gimana bisa gampang lupa, Ti..." ujar Victor pelan, suaranya terdengar emosional. "Gue tahu dulu awal hubungan kita rumit. Dia memang pernah ada di pihak Dexter, tapi selama kerja sama gue, dia tulus. Dia tanggung jawab, dia gak pernah manfaatin gue kayak cewek la
Pagi hari pasca-acara resepsi megah Keiron dan Salsa, suasana ruang makan utama mansion keluarga Kingsley masih dibumbui kehebohan sisa semalam. Matahari yang menerobos masuk melalui jendela kaca raksasa menyinari meja makan panjang yang penuh dengan beragam hidangan sarapan mewah. Di salah satu sudut meja, Edric duduk dengan posisi kepala menyandar pasrah di atas permukaan meja. Sementara di sekelilingnya, 'aksi pembullyan ala keluarga' sedang berlangsung dengan sangat meriah. "Lagian kamu tuh nekat banget sih, Ed," ledek Salsa yang sedang mengoleskan selai pada rotinya sambil tertawa geli. "Gaya-gayaan ngancem mau cium anak orang di tempat umum, ujung-ujungnya malah disumpal mulutnya sama Victor terus kena semprot Om Ronald." "Dua ratus persen mami setuju sama Salsa!" timpal Siti yang duduk di ujung meja, memangku Baby Maya yang sibuk mengoceh gembira sambil memukul-mukul sendok plastik kecilnya ke atas piring bayi. "Mami pas denger ceritanya dari Victor semalam hampir tersedak
Langkah cepat Keiron Kingsley dengan setelan jas pengantinnya yang elegan langsung memotong ketegangan di lorong pilar marmer tersebut. Sebagai tuan rumah sekaligus sosok yang mengadakan hajat malam itu, Keiron dengan cepat menguasai keadaan sebelum keributan antara Kieran dan Ronald meluas ke area tengah ballroom. "Tuan Wijaya, Nyonya Wijaya, saya atas nama keluarga besar Kingsley menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini," ujar Keiron dengan suara tenang, lugas, dan penuh karisma. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda penghormatan formal. "Adik saya memang masih perlu banyak belajar dalam hal etika bersosialisasi. Tolong biarkan malam ini tetap menjadi malam yang membahagiakan untuk kita semua." Ronald Wijaya menghembuskan napas berat, mencoba menekan amarah yang memuncak di dadanya. Kehadiran Keiron yang dewasa dan bersikap profesional membuat Ronald tidak punya alasan lagi untuk memperpanjang keributan di tengah pesta orang lain.
"Kalau lu nolak ikut gue malam ini... gue bakal cium lu di sini sekarang juga. Dan gue gak main-main." Ancaman Edric yang dilayangkan tepat di depan bibirnya membuat Vega membeku sepenuhnya. Deru napas cowok itu terasa begitu dekat, dan tatapan matanya yang tajam tidak memperlihatkan sedikit pun keraguan. Vega tahu persis, anak bungsu keluarga Kingsley ini nekat dan sama sekali tidak peduli pada aturan perjamuan formal seperti ini. Terang-terangan ia menyeret anak gadis orang dan merayunya di depan banyak orang. "Kamu... bener-bener gila, Edric," bisik Vega dengan nada tertahan, napasnya naik turun menahan debar jantungnya yang tak karuan. "Gue emang gila. Jadi mending lu nurut kalau gak mau perjamuan ini makin heboh," balas Edric rendah, makin mengikis jarak di antara mereka. Namun, sebelum bibir Edric benar-benar mendekat atau Vega sempat membalas, sebuah suara berat penuh wibawa dan sarat akan amarah yang dingin menggelegar dari ujung lorong pilar marmer. "Lepaskan tan
Suara gemericik air dari pancuran bilik mandi baru saja terhenti ketika Keiron keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Rambut hitamnya yang setengah basah dibiarkan berantakan, meneteskan sisa air ke atas bahu tegapnya. Ia melangkah mendekati tempat tidur king size di mana Salsa sedang duduk bersandar sambil melipat pakaian hangat hasil perjalanan mereka kemarin. Keiron mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menatap istrinya lekat-lekat sebelum meraih jemari manis Salsa. "Sal," panggil Keiron dengan suara berat dan serak khasnya. Salsa menghentikan tangannya, lalu mendongak menatap suaminya. "Kenapa, Mas?" Keiron menghela napas pendek, mengusap punggung tangan Salsa dengan ibu jarinya. "Aku mikirin soal pernikahan kita. Selama ini kita jalan keluar selalu kucing-kucingan. Waktu bulan madu kemarin aja kita harus pakai kacamata hitam, topi, sampai nyari rute sepi cuma demi terhindar dari kamera wartawan. Aku ngerasa gak bebas banget ngajak kamu jalan." Salsa tersenyum tipis,







