LOGINbagi lika 👇
Di mansion saat malam hari. Lily masuk ke dalam kamar Audrey setelah menidurkan Ace. Saat menginjakkan kaki di dalam kamar, tatapan Lily tertuju pada Audrey yang sedang duduk di belakang meja belajar bersama Arsen. Pensil ada di tangan Audrey, sedangkan buku terbuka lebar di atas meja. Arsen mengusap-usap kepala Audrey setelah putrinya bisa fokus mengerjakan apa yang dimintanya. “Audrey sudah mau masuk SD, harus lebih giat belajarnya, ya.” Audrey mengangguk pelan mendengar ucapan Arsen. “Audrey akan giat belajar, Papa,” katanya, “terus, kapan kita ke panti asuhan lagi?” tanyanya kemudian. “Nanti coba Papa lihat dulu jadwal Papa, ya.” Audrey mengangguk-angguk mendengar balasan Arsen. Arsen benar-benar mewujudkan impian Audrey. Satu tahun lalu dia membuat yayasan dan panti asuhan atas nama Audrey, sesuai dengan yang Audrey harapkan. Lily sendiri tak mengganggu percakapan antara ayah dan anak. Dia sibuk merapikan lemari pakaian Audrey, sambil sesekali melirik ke arah Arsen
Di rumah Dini. Dini kedatangan Diana di rumah yang membawakan banyak makanan. Bahkan Diana sekarang sangat perhatian dan sayang kepadanya. Walau Dini tahu, sikap Dini saat ini semata-mata karena kehamilannya, apalagi Diana juga sempat mendiamkannya saat program bayi tabungnya gagal, tapi Dini tidak mempermasalahkannya. Memperhatikan makanan yang dibawa Diana, Dini sampai ragu apakah bisa menghabiskan semua itu, sedangkan dia terus mual jika memasukkan makanan di mulut. “Mama kenapa bawa makanan banyak sekali?” tanya Dini. Diana tersenyum hangat saat pada Dini. “Tidak apa-apa. Makanan ini juga bisa dimakan besok-besok, nanti Mama bantu simpan di lemari pendingin.” Dini mengangguk mengiyakan saja. “Kamu jangan melakukan kegiatan yang berat-berat. Pokoknya semua pekerjaan rumah biar pelayan dari rumah Mama yang kerjakan. Kamu harus banyak istirahat, kalau masih mual, mending ke rumah sakit saja. Jangan sampai kondisi fisikmu menurun karena mual berlebihan.” Dini mengangg
Riuh langkah terdengar menggema di dalam mansion. Orang-orang sibuk sejak pagi menyiapkan segala sesuatu perintah Lily, karena Lily meminta fotografer datang untuk pengambilan foto keluarganya. Semua orang benar-benar sibuk, apalagi Lily ingin semua pelayan ikut berfoto, tanpa terkecuali. Hera menemui Lily di ruang keluarga dengan wajah panik, begitu berdiri di depan Lily, Hera segera berkata, “Nona, maaf. Harusnya baju baby Ace dipakai nanti saat mau foto, tapi malah saya pakaikan dulu tadi, dan sekarang bajunya terkena pipis pas dia ganti diapers.” Lily tenang mendengar ucapan Hera, meski pelayannya ini sudah sangat takut. “Sudah, tidak apa-apa, di lap-lap saja dulu menggunakan tisu basah, lalu dikeringkan,” kata Lily. “Baik, Nona. Akan segera saya lakukan,” kata Hera lalu segera berlalu untuk melaksanakan perintah Lily. Saat itu, fotografer dan timnya datang. Lily menyambut mereka dengan ramah. “Kalian bisa menggunakan tempat di sini, semuanya saya serahkan pada kal
Jepang, satu tahun kemudian. Arsen mengajak Lily dan kedua anaknya pergi ke makam sang mama. Mereka sudah ada di tempat pemakaman, berdiri menatap nama ibu Arsen yang tertulis di sana. “Ma, kami datang lagi. Tapi sekarang Audrey sudah punya adik.” Arsen menoleh pada Audrey yang langsung mengembangkan senyum ke Arsen. Ace sendiri sedang belajar berjalan, dia menepuk-nepuk makam sang nenek. “Ace, jangan mukul-mukul, nanti tanganmu kotor,” ucap Audrey. “Audrey.” Lily memberi isyarat telunjuk di depan mulut agar tidak bicara, lalu dia melakukan hal sama ke Ace saat putranya itu menoleh ke arahnya. Bukannya diam, Ace malah menangis keras. Lily mengembuskan napas kasar. Dia akhirnya mengajak Ace dan Audrey untuk keluar dari tempat pemakaman lebih dulu. Lily memutuskan menunggu Arsen di taman dekat pemakaman. Membiarkan Audrey dan Ace bermain, sedangkan dia duduk mengawasi. Saat masih memperhatikan kedua anaknya, tatapan Lily tertuju pada Arsen yang sedang melangkah mengha
Arsen dan yang lain kembali masuk ke dalam rumah sakit. Sepanjang jalan menuju kamar inap Lily, Audrey terus berceloteh dengan penuh semangat. “Audy senang sekali punya adik. Soalnya adik Ace kasih hadiah banyak sekali buat Audy,” celotehnya sambil sesekali makan es krim. Dini tersenyum kecil, lalu dia berkata, “Bibi juga bawa hadiah buat Audrey.” Dini memperlihatkan paper bag yang ada di tangannya. “Satu yang besar ini buat Audrey, satu buat adik Ace.” Mata Audrey berbinar-binar. “Wah .. asyik sekali, terima kasih tante Dini.” "Sama-sama Audrey yang manis." Arsen dan Anthony berjalan di belakang Dini dan Audrey, mereka mendengarkan percakapan dua wanita berbeda generasi ini. Anthony menyenggol lengan Arsen saat berucap, “Selamat, ya. Arsen sudah menjadi Papa. Dan, selamat juga karena kamu pasti sudah mendapat undangan yang spesial untuk acara penghargaan tahun ini.” “Aku tidak peduli dengan penghargaan. Itu juga hanya baru nominasi, belum tentu menang,” balas Arsen
Hari berikutnya. Audrey datang ke rumah sakit bersama Risha dan Adhitama. Begitu masuk ke dalam ruang inap Lily, Audrey langsung menghambur ke ranjang untuk memeluk Lily. “Mama, Audey kangen sekali sama Mama,” ucap Audrey ketika memeluk Lily. “Mama juga kangen Audrey.” Tak henti-hentinya Lily mencium kepala Audrey. Audrey sangat senang, tapi saat menoleh ke arah box bayi, wajah Audrey berubah tidak senang. Risha mendekat sambil menggendong bayi Lily. “Audrey, ini adiknya. Lihat, tampan sekali, lho.” Namun, bukannya senang melihat adiknya, Audrey malah memalingkan muka dan menyembunyikan wajahnya di pelukan Lily. Risha sampai bingung, Arsen yang melihat itu lantas menggendong Audrey. “Itu adiknya Audrey, lho. Adik juga sudah siapkan kado untuk Kak Audrey,” bisik Arsen. Audrey langsung menatap penuh antusias. Melihat putrinya tidak berwajah masam seperti tadi, Arsen lantas mendudukkan Audrey di sofa. Arsen memberikan kado-kado yang sudah sudah disiapkan untuk Audrey







