Share

Penolong

Penulis: iva dinata
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-05 23:35:00

"Kita harus lapor polisi," kata Adiba mengambil ponselnya.

Aku menggeleng. "Jangan," kataku.

"Kenapa? Dia sudah menyakitimu." Adiba menangis.

"Tolong ambilkan aku minum dulu, aku haus sekali."

"Iya." Adibamungusap air matanya. Beranjak turunnya ranjang dan berlari keluar kamar. Selang lima menit ia kembali dengan sebotol air mineral.

"Minum dulu," katanya menyerah botol minuman yang sudah dibuka tutupnya.

"Terima kasih," ucapku pelan.

"Kak Fagan yang menyakitimu sampai seperti ini?"

"Hemm.." gumamku mengangguk. "Dia menamparku dan mencekingku sampai aku hampir mati,"

Adiba menatapku iba. Air matanya kembali mengalir. "Ya Tuhan... Kenapa Kak Fagan tega sekali sama kamu? Dia benar-benar kejam,"

Aku memaksa bibirku tersenyum. "Tidak apa-apa. Sekarang aku punya alasan untuk mengajukan cerai. Dan jika dia menolak. Aku akan membuatnya masuk penjara dengan bukti luka-luka di tubuhku ini,"

Adiba mendesah berat. "Tubuhmu yang terluka, tapi hatimu yang paling hancur. Aku tahu, kamu sangat mencintai Kak Fagan. Kamu pasti sangat kecewa."

Adiba benar. Lebih dari luka di tubuhku, luka di hatiku jauh lebih menyakitkan. Karena dia tak berdarah, namun terus merobak perlahan. Lalu, meninggalkan trauma yang mungkin tidak akan sembuh.

"Adiba, aku harus punya bukti untuk melawan Fagan."

Gadis itu mengangguk. "Kamu harus visum."

"Iya. Tapi juga harus ada bukti lain," kataku menatapnya dalam.

"Apa itu?"

"Foto dan vidio."

"Aku mengerti." Adiba mengeluarkan ponselnya. Memintaku berbaring. Mengambil fotoku seluruh tubuh. Lalu memfoto setiap anggota tubuhku yang terdapat luka. Pipiku, leher, lengan, lutut dan terakhir telapak.

"Perlihatkan kamar dan foto pernikahanku." Aku kembali memberi arahan.

"Sudah. Sekarang bagaimana?" tanya Rachel.

“Aku harus pergi. Bantu aku berkemas," jawabku. "Tidak perlu banyak. Secukupnya saja,” pintaku.

Adiba langsung bergerak, menarik koper dari sudut kamar, tepat di samping lemari.

Dengan tubuh yang masih lemah, aku beringsut turun dari ranjang. Kupilih beberapa barang penting. Hanya yang benar-benar milikku, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Tanganku gemetar, bukan karena luka, tetapi karena ketakutan. Takut Fagan tiba-tiba kembali dan menggagalkan rencanaku untuk pergi.

Begitu semuanya selesai, Adiba berjalan lebih dulu, menyeret koporku menuruni tangga menuju lantai bawah.

Aku melangkah menyusul perlahan.

Saat tiba di ruang tamu, aku berhenti melangkah. Aku menoleh ke belakang, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya. Rumah yang dulu kupikir adalah surgaku, tempat aku menggantungkan seluruh harapan dan cinta.

“Selamat tinggal,” bisikku lirih.

Tatapanku jatuh pada foto pernikahan kami yang terpajang di dinding. Senyumku di sana terlihat begitu bahagia, begitu bodoh.

“Kuharap kita tak pernah bertemu lagi.”

“Zura, ayo!” suara Adiba memanggil dari dalam mobil. Mesin sudah menyala, hanya tinggal menungguku.

“Iya… aku datang.”

Aku menarik napas panjang, lalu menutup pintu rumah itu. Bukan hanya pintunya, tetapi juga bab hidup yang penuh kebohongan. Tanpa menoleh lagi, aku melangkah cepat dan masuk ke dalam mobil, meninggalkan masa lalu yang hampir merenggut nyawaku.

Sampai di rumah sakit. Mobil berhenti di area parkiran. Untuk sejenak aku diam. Menyakinkan diri untuk melakukan visum.

“Emm… sebenarnya…” Tiba-tiba Adiba membuka suara. Namun wajahnya tampak ragu. Tatapannya sesekali melirik ke arahku, lalu kembali memandang lurus ke depan.

“Ada apa?” Aku menoleh, menatapnya lekat. “Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?”

Adiba menarik napas pelan. Ia menoleh, menatapku dengan sorot mata sendu. "Iya," jawabnya lirih.

Aku memejamkan mata. Dada terasa perih. Berapa banyak lagi kebohongan yang disembuhkan dariku?

“Tentang Kak Ardiaz yang mencintaimu, sejujurnya aku sudah tahu dari lama."

"Kapan?"

"Saat kamu mengalami keguguran."

"Sebenarnya, Kak Ardiaz pergi keluar negeri demi kamu."

"Maksudmu?" Aku kembali menatapnya, kali ini memiringkan tubuh menghadapnya.

“Sebenarnya Kak Fagan yang memintanya pergi,” jawab Rachel dengan suara pelan. Nada suaranya terdengar takut, seolah mengucapkan kebenaran adalah dosa besar.

Hening sejenak menyelimuti mobil.

“Waktu itu… saat kamu mengalami pendarahan,” Adiba mulai bicara lagi, suaranya makin lirih. “Di rumah sakit, aku tidak sengaja melihat Kak Fagan dan Kak Ardiaz bertengkar. Kak Ardiaz sempat marah-marah karena Kak Fagan menolak untuk menandatangani surat persetujuan operasi."

Degh....

Apa?

"Tapi pada akhirnya Kak Ardiaz mengalah. Dia berlutut di depan Kak Fagan. Dia berjanji akan menetap di luar negeri sesuai permintaan Kak Fagan.”

Dadaku serasa diremas kuat. "Kamu yakin tidak salah dengar?” tanyaku lirih. Hatiku masih menolak percaya. Fagan tidak mungkin setega itu. Dan Ardiaz tidak mungkin mencintaiku. Kami berteman.

“Yakin,” jawab Adiba mantap. “Aku tidak sendirian. Mamaku juga mendengarnya. Tapi Mama melarangku memberitahumu.”

Tubuhku lunglai. Aku menghela nafas panjang. Kenangan itu kembali menyeruak. Hari paling kelam dalam hidupku.

Hari ketika aku kehilangan calon bayiku. Tujuh bulan yang lalu.

Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Satu jam setelah meminum vitamin yang dibelikan Fagan, perutku tiba-tiba terasa nyeri. Saat aku mengeluh, Fagan hanya memintaku beristirahat. Katanya, hari itu ia memiliki rapat penting di kantor. Tapi ia berjanji akan pulang saat jam makan siang untuk mengantarku memeriksakan diri ke rumah sakit.

Janji itu tak pernah terwujud.

Sebelum waktu makan siang tiba, darah mengalir deras, dan bersama darah itu, harapan kecilku ikut pergi untuk selamanya.

“Mbak… sebenarnya Kak Ardiaz itu orang baik,” suara Adiba menarikku kembali dari lamunan. “Hanya saja, dia sering dibanding-bandingkan dengan Kak Fagan. Itu yang membuatnya jadi pemberontak dan sering bikin masalah.”

Aku mengembuskan napas berat.

“Itu sudah tidak penting lagi,” kataku lirih namun tegas. “Semuanya sudah terlambat. Tak bisa diperbaiki lagi,"

Aku menatap lurus ke depan.

“Sekarang yang kuinginkan hanya satu, bercerai dari Fagan. Apa pun caranya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Sri Wahyuni
fagan suami yg arogan
goodnovel comment avatar
Cilon Kecil
mungkin vitamin itu obat penggugur jandungan.. kalau benar begitu Fagan sungguh iblis berwujud manusia
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
kirain tau apa yg mau dilakukan setelah sekarat dihajar. ternyata msh tolol dan gede bacot aja. untung ada zahra. si zura cuma bisa menantang dan mengangkang tapi g cukup punya kecerdasan utk bertindak. lebih bodoh dari binatang
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Tujuh bulanan.

    Tak terasa kehamilanku sudah menginjak tujuh bulan. Dan hari ini akan diadakan tasyakuran tujuh bulanan calon anak kami. Aku begitu bahagia juga berdebar-debar menunggu hari kelahiran anak kami yang tinggal dua bulan lagi. Bukan tanpa alasan aku merasakan kegelisahan ini, dua kehamilanku sebelumnya tidak pernah sampai menginjak bulan ke tujuh. Mas Fagan yang nampak tenang pun sempat takut dan overprotective begitu Kehamilanku menginjak bulan kelima. Bulan dimana dua calon anak kami gugur dan kembali ke pangkuan ilahi tanpa sempat kami dekap. "Hati-hati jalannya, Sayang, jangan buru-buru! Tamunya juga gak akan pergi kok," tegur Mas Fagan saat aku buru-buru ke depan saat mendengar kedatangan Zaskia. "Iya, Mas, ini jalanya sudah pelan kok." Aku Memperlambat jalanku. Disamping karena teguran Mas Fagan juga karena tanganku yang di pegangnya. Pelan tapi pasti hubungan Papa dengan Papa mertuaku pun membaik. Di hari yang kaya orang Jawa di sebut tingkepan ini, keluarga besar kami benar-b

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Hidup yang penuh warna.

    Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Perlahan zemuanya mulai membaik. Hari- hariku terasa penuh warna. Tidka lagi monoton dan penuh sandiwara.Hpir setiap pagi aku terbangun oleh suara Mas Fagan yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Suara cukup keras sampai membuat seisi rumah terbangun tepat jam tiga pagi Ya, diambil baiknya saja, mungkin calon anak kami ingin orang tuanya beribadah di sepertiga malam. Dan anehnya, mual Mas Fagan akan hilang setelah kami berdua mengambil air wudhu untuk sholat sunah.Dan mualnya akan kembali setelah selesai sholat shubuh. Bukanlah itu pertanda. Anak kami pasti akan jadi anak sholeh nantinya.Meski begitu tersiksa dengan mual dan nyidam yang tiba-tiba saja dirasakannya. Namun tak sekalipun suamiku itu mengeluh atau menyalahkan kehamilanku. Mas Fagan begitu sabar dan ikhlas menjalani perannya. Ia bahkan selalu mengunci kamar mandi setiap kali muntah, takut aku menyusul masuk ke dalam katanya. "Sudah di atas ranjang saja, jangan ikut masu

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Ternyata sudah 4 minggu.

    Malamnya suster Erina langsung datang ke rumah bersama seorang bidan setelah siangnya mendapatkan telpon dari Mas Fagan. Perempuan berwajah tegas itu datang dengan membawa alat-alat medis yang tidak semuanya aku tahu namanya. Suster Erina dan dua orang perawat laki-laki menata alat-alat medis atas intruksi snag Bidan. Ya Alloh.... kenapa aku merasa akan menjadi pasien di rumahku sendiri. Aku hanya sedang hamil bukan habis kecelakaan dan sedang koma. Saat ini aku duduk bersandar di atas ranjang dengan Mas Fagan yang setia menemani sambil menggenggam satu tanganku. "Zenia, dengerin Sus, beliau ini teman Sus, namanya Bidan Hana. Dia akan memeriksa kondisimu. Jangan menolak!" Belum apa-apa Suster Erina sudah memberiku peringatan. Meski nadanya dibuat lembut tapi tatapannya itu tatapan tak ingin dibantah. Wanita ini bahkan lebih tegas dari Papa dan Mas Fagan. Aku mengangguk penuh kepasrahan. Sepatah kata penolakan dariku akan berbuntut panjang dan membuatku harus menjalani terapi len

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Kabar gembira

    Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan kami sudah sampai di pelataran sebuah klinik terdekat dari rumah. Dengan dipegangi pak sopir di sisi kanan Mas Fagan dan aku di sisi kirinya. Kami turun dan menuju kursi tunggu. Sedangkan Bi Sarti lebih dulu turun dan langsung mendaftar di tempat pendaftaran. Di siang hari yang terik seperti saat ini suasana klinik yang nampak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih datang di sore hari saat udara lebih sejuk. Hanya ada dua orang pasien yang menunggu antrian. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit akhirnya namaku di panggil. Aku sedikit bingung, yang sakit Mas Fagan kenapa Bibi mendaftarkan namaku. "Sayang.... ini klinik bersalin tentu saja nama kamu yang di daftarkan Bibi." ujar Mas Fagan merangkulku lalu mengelus lembut lenganku.Lama-lama Mas Fagan sudah seperti Suster Erina yang bisa membaca isi hatiku. Dan sikapnya lembutnya selalu sukses membuat hatiku bergetar dan semakin merasa bergantung padanya. Kami pun akhirnya masuk dengan

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Sakit.

    Beberapa hari ini Mas Fagan kurang enak badan. Setiap pagi selepas sholat shubuh dia pasti akan muntah-muntah. padahal perutnya msih kosong. aku pikir itu asam lambung, aku mengajaknya ke dokter untuk periksa tapi bukan Mas Fagan jika tidak keras kepala. Laki-laki itu tegas menolak dan mengatakan akan segera membaik jika aku memanjakannya. Ada-ada saja suamiku ini. Memang ada penyakit yang sembuh hanya dengan dimanjakan? Pagi ini kondisinya semakin membuatku khawatir. Sejak pagi intensitas muntahnya makin sering sampai-sampai membuat tubuh kekarnya itu lemas.Dan sekarang hanya bisa berbaring di atas tempat tidur sambil memelukku. Tak sedetikpun aku di izinkan jauh darinya. Bahkan untuk sarapan aku sampai merepotkan Bi Sarti untuk mengantar ke kamar. Tak berhenti berdrama, sarapan pun aku harus membujuknya seperti anak kecil. Ya Alloh...... Mas. Melihatnya seperti ini membuatku teringat kondisiku ketika aku hamil anak pertama kami dulu. Saat itu aku begitu manja dan malas untuk

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   prioritas.

    Pov Meizura. Setelah hari ke tujuh kematian Ardiaz, aku dan Mas Fagan kembali pulang ke rumah Eyang. Jakarta kota yang panas dan sangat bising membuatku tidak betah berlama-lama di sana. Bunda dan Mbak Zahra sangat sedih ketika kami memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Eyang. Bunda berusaha membujukku untuk tetap tinggal namun aku menolak. Rasanya masih belum nyaman untuk bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa laluku dan Mas Fagan. Dua hari yang lalu kami pulang dengan diantar Bunda. Beliau menginap satu hari sebelum kembali pulang karena harus mengurus Azqiara yang masih sekolah. Adik sambungku itu masih butuh pengawasan di usia peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Bunda dan Papa tidak oleh teledor mengingat pergaulan sekarang yang yang begitu bebas. Malam ini kulihat Mas Fagan nampak gelisah. Sejak tadi dia banyak melamun. Sama seperti saat ini, dengan bertelanjang dada, duduk melamun dengan laptop di pangkuannya.Setelah satu jam yang lalu pria jangkung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status