LOGINMataku melebar. Dia, Fagan Zio Rafiandra. Suami yang beberapa saat lalu menamparku tanpa belas kasihan.
Tapi sekarang, dengan tak tahu malunya menciumiku. "Lepaskan!!" teriakku mendorongnya sekuat tenaga. Tapi tubuh kekar itu tak bergerak. Fagan kini menatapku dengan mata berkabut. "Maaf, sudah kasar padamu," bisiknya sembari membelai lembut pipiku yang tadi ditamparnya. Lalu, dengan penuh nafsu dia mencium pipi dan bibirku. Tangannya mulai bergerilya melepas kancing piyama yang aku pakai. Cih... Benar-benar tidak tahu malu. Cepat kutepis tangannya dan kudorong lebih keras sampai tubuh besar itu tersingkir dari atas tubuhku. "Jangan berani menyentuhku!!!" Aku membentaknya. Menudingnya dengan jari telunjuk. Seperti tak punya malu. Fagan tersenyum, menepis tanganku lembut. "Aku minta maaf. Tadi aku sudah keterlaluan. Aku janji tidak akan mengulanginya," ucapnya lembut. Tangan besarnya kembali menyentuhku. "Kubilang jangan menyentuhku. Aku jijik," tegasku kembali menepis tangannya. "Aku suamimu, Zura. Aku punya hak menyentuhmu." Aku terkekeh kecil. "Ya. Sekarang aku memang istrimu. Tapi, tunggu saja segera, aku akan mengajukan perceraian." Aku beranjak turun dari ranjang. Namun, baru satu kakiku mencapai lantai, dengan kasar Fagan menarikku kembali ke atas ranjang. "Kamu ingin bercerai?" tanyanya dengan suara bergetar. Fagan, kembali mengukung tubuhku dengan tubuhnya yang besar. "Jadi, kamu ingin kembali bersama Ardiaz? Iya?" "Kamu ingin menikah dan punya anak dengannya? Tidak akan kubiarkan!!" geramnya dengan rahang mengeras. Jadi, semua yang dikatakan Megan, benar. Fagan sudah menipuku? Memanfaatkan aku untuk membalas sakit hatinya pada Ardiaz. "Ardiaz itu plaboy. Dia tampan dan pintar merayu wanita. Apa kamu pikir sekarang dia tidak punya kekasih? Sebagai pria yang disukai banyak wanita, aku tidak yakin dia akan menerimamu dengan status janda." "Jadi, kamu mengakuinya?" kataku. Fagan terdiam, dahinya bekerut. Sedetik kemudian, rahangnya kembali mengeras dengan deru nafasnya memburu. "Ardiaz mau menerimaku atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Entah aku mau menjadi selingkuhan atau pacar Ardiaz juga tidak ada hubungannya dengan kamu. Yang pasti aku harus lepas dari bajingan sepetimu, Fagan Zio Ravelo." Mata suamiku itu melotot. Rahangnya semakin mengeras sampai terlihat otot-otot wajahnya menyembul keluar. Ekspresi kemarahannya sangat menakutkan. Dan sebelumnya aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Jujur, aku merasa takut. "Jika itu pilihanmu. Lebih baik kamu mati saja," geramnya penuh penekan di setiap kata. Mati? Jangan bilang dia ingin.... "Aku akan lihat segila apa nanti Ardiaz saat melihat gundukkan makammu?" Belum sempat aku menjawab, tangannya kini sudah mencekikku dengan kuat. Matanya menatapku tajam dan penuh kebencian. Aku berusaha meronta dan memukul lengan, juga dadanya. Tapi pukulanku tak berarti apa-apa untuk Fagan. Tubuhnya terlalu kuat dan besar untuk aku lawan. Perlahan nafasku mulai sesak, kepalaku terasa pening. Tangan dan kakiku mulai mati rasa. Inikah akhir hidupku? Mati di tangan suamiku sendiri? Perlahan, butiran bening merembes dari sudut mataku seiring dengan kelopak mata yang perlahan terasa berat. Masih bisa kulihat tatapan mata Mas Fagan yang menyiratkan rasa puas sebelum aku benar-benar menutup mata. Gelap, sesak dan ringan kini yang aku rasakan. Muncul bayangan nenek Rose sedang tersenyum lebar. 'Nenek, maafkan aku. Aku mencintaimu, Nek. Selamat tinggal.' Saat aku sudah pasrah menerima kematian, tiba-tiba cekikikan di leherku mengendur. Perlahan tangan yang mencekik leherku terlepas berganti tepukan di kedua pipiku, memaksaku membuka mata. Muncul wajah Fagan yang terlihat panik. "Zura buka matamu! Meizura Humayra kau dengar aku?" panggilnya sembari menepuk pipiku keras. "Aku membencimu," ucapku lirih begitu mendapatkan kembali kesadaranku. Fagan tersentak. Beranjak turun dari tempat tidur. "Kamu... Kamu tidak boleh membenciku! Kamu milikku!" katanya menggelengkan kepala sambil berjalan mundur. "Tapi aku sangat membencimu," ucapku lebih tegas. "Tidak!! Sampai mati aku tidak akan pernah melepaskanmu!" sumpahnya lalu berlari keluar. Brakkk...! Pintu kamar ditutup dengan kasar. Tak berapa lama di susul suara deru mobil. Pria itu sudah pergi. Aku menghela nafas panjang. "Kupikir hari ini aku akan mati," Aku memegangi leherku yang terasa sakit. Tak hanya nyeri tapi juga perih. Setelah kuperiksa, ternyata ada luka bekas kuku jari tangan Fagan. Aku beringsut mundur. Menyandarkan tubuhku yang masih terasa lemas. Kenyataan sudah menamparku dengan sangat keras. Memaksaku bangun dari mimpi indah. Ternyata aku bukan wanita paling beruntung di dunia. Tapi, wanita paling bodoh sedunia. Suami sempurna yang selalu aku banggakan, ternyata tak lebih dari seorang penipu. Sikap lembut dan perhatiannya selama ini hanya akting belaka. Fagan Zio Rafiandra adalah pengusaha muda yang kaya. Namanya sering dibicarakan, bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi juga karena ketampanannya yang memikat banyak wanita. Wajahnya tegas dengan sorot mata dingin. Rahangnya kokoh, hidungnya mancung, dan ekspresinya nyaris tak pernah menunjukkan emosi berlebihan. Tapi siapa sangka, di balik kesempurnaan itu bersembunyi pria berdarah dingin yang hampir saja membunuh istrinya sendiri. Mendadak rasa takut menyergapku. Bisakah aku menyakinkan keluargaku? Membongkar wajah asli Fagan yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan? Papa, pria itu sangat percaya pada Fagan. Akan sulit membuatnya berdiri di pihakku. Apalagi lagi kami tidak dekat. Papa selalu berpikir aku seperti almarhum mama. Suka berhalusinasi berlebihan. Tiba-tiba sebuah ide muncul di otak. Gegas aku nenelpon Adiba. Sekarang hanya gadis itu yang bisa menolongku. "Adiba ? Bisakah kamu datang? Aku butuh bantuanmu." "Ada apa dengan suaramu?" tanya Adiba. Suaranya terdengar khawatir. "Datanglah ke sini! Aku tidak bisa bercerita melalui telpon." "Aku akan segera datang," Dadaku sedikit lebih tenang. Adiba akan membantuku. Semoga gadis itu cepat datang. Entah berapa lama, tiba-tiba terdengar langkah kaki dibalik pintu kamar. "Zura!!" Suara Adiba terdengar dari balik pintu. "Boleh aku masuk?" "Masuklah," jawabku dengan suara yang sudah kuusahakan keras. Namun sayangnya, terdengar lirih. Tenggorokanku terasa sakit dan kepala pusing sekali. "Zura!" panggil Adiba lagi. Kali ini diikuti dengan ketukan di pintu. "Kamu di dalam kan?" Pintu terbuka. Kepala Adiba menyembul dari balik pintu. "Astaga Zura...." pekiknya terkejut. "Kamu kenapa?" Gadis itu berlari mendekat. "Wajahmu kenapa? Dan ini lehermu? Kamu dicekik?" Adiba memberondongku dengan pertanyaan. "Apa Kak Fagan yang melakukannya? Kita harus lapor polisi!"Tak terasa kehamilanku sudah menginjak tujuh bulan. Dan hari ini akan diadakan tasyakuran tujuh bulanan calon anak kami. Aku begitu bahagia juga berdebar-debar menunggu hari kelahiran anak kami yang tinggal dua bulan lagi. Bukan tanpa alasan aku merasakan kegelisahan ini, dua kehamilanku sebelumnya tidak pernah sampai menginjak bulan ke tujuh. Mas Fagan yang nampak tenang pun sempat takut dan overprotective begitu Kehamilanku menginjak bulan kelima. Bulan dimana dua calon anak kami gugur dan kembali ke pangkuan ilahi tanpa sempat kami dekap. "Hati-hati jalannya, Sayang, jangan buru-buru! Tamunya juga gak akan pergi kok," tegur Mas Fagan saat aku buru-buru ke depan saat mendengar kedatangan Zaskia. "Iya, Mas, ini jalanya sudah pelan kok." Aku Memperlambat jalanku. Disamping karena teguran Mas Fagan juga karena tanganku yang di pegangnya. Pelan tapi pasti hubungan Papa dengan Papa mertuaku pun membaik. Di hari yang kaya orang Jawa di sebut tingkepan ini, keluarga besar kami benar-b
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Perlahan zemuanya mulai membaik. Hari- hariku terasa penuh warna. Tidka lagi monoton dan penuh sandiwara.Hpir setiap pagi aku terbangun oleh suara Mas Fagan yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Suara cukup keras sampai membuat seisi rumah terbangun tepat jam tiga pagi Ya, diambil baiknya saja, mungkin calon anak kami ingin orang tuanya beribadah di sepertiga malam. Dan anehnya, mual Mas Fagan akan hilang setelah kami berdua mengambil air wudhu untuk sholat sunah.Dan mualnya akan kembali setelah selesai sholat shubuh. Bukanlah itu pertanda. Anak kami pasti akan jadi anak sholeh nantinya.Meski begitu tersiksa dengan mual dan nyidam yang tiba-tiba saja dirasakannya. Namun tak sekalipun suamiku itu mengeluh atau menyalahkan kehamilanku. Mas Fagan begitu sabar dan ikhlas menjalani perannya. Ia bahkan selalu mengunci kamar mandi setiap kali muntah, takut aku menyusul masuk ke dalam katanya. "Sudah di atas ranjang saja, jangan ikut masu
Malamnya suster Erina langsung datang ke rumah bersama seorang bidan setelah siangnya mendapatkan telpon dari Mas Fagan. Perempuan berwajah tegas itu datang dengan membawa alat-alat medis yang tidak semuanya aku tahu namanya. Suster Erina dan dua orang perawat laki-laki menata alat-alat medis atas intruksi snag Bidan. Ya Alloh.... kenapa aku merasa akan menjadi pasien di rumahku sendiri. Aku hanya sedang hamil bukan habis kecelakaan dan sedang koma. Saat ini aku duduk bersandar di atas ranjang dengan Mas Fagan yang setia menemani sambil menggenggam satu tanganku. "Zenia, dengerin Sus, beliau ini teman Sus, namanya Bidan Hana. Dia akan memeriksa kondisimu. Jangan menolak!" Belum apa-apa Suster Erina sudah memberiku peringatan. Meski nadanya dibuat lembut tapi tatapannya itu tatapan tak ingin dibantah. Wanita ini bahkan lebih tegas dari Papa dan Mas Fagan. Aku mengangguk penuh kepasrahan. Sepatah kata penolakan dariku akan berbuntut panjang dan membuatku harus menjalani terapi len
Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan kami sudah sampai di pelataran sebuah klinik terdekat dari rumah. Dengan dipegangi pak sopir di sisi kanan Mas Fagan dan aku di sisi kirinya. Kami turun dan menuju kursi tunggu. Sedangkan Bi Sarti lebih dulu turun dan langsung mendaftar di tempat pendaftaran. Di siang hari yang terik seperti saat ini suasana klinik yang nampak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih datang di sore hari saat udara lebih sejuk. Hanya ada dua orang pasien yang menunggu antrian. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit akhirnya namaku di panggil. Aku sedikit bingung, yang sakit Mas Fagan kenapa Bibi mendaftarkan namaku. "Sayang.... ini klinik bersalin tentu saja nama kamu yang di daftarkan Bibi." ujar Mas Fagan merangkulku lalu mengelus lembut lenganku.Lama-lama Mas Fagan sudah seperti Suster Erina yang bisa membaca isi hatiku. Dan sikapnya lembutnya selalu sukses membuat hatiku bergetar dan semakin merasa bergantung padanya. Kami pun akhirnya masuk dengan
Beberapa hari ini Mas Fagan kurang enak badan. Setiap pagi selepas sholat shubuh dia pasti akan muntah-muntah. padahal perutnya msih kosong. aku pikir itu asam lambung, aku mengajaknya ke dokter untuk periksa tapi bukan Mas Fagan jika tidak keras kepala. Laki-laki itu tegas menolak dan mengatakan akan segera membaik jika aku memanjakannya. Ada-ada saja suamiku ini. Memang ada penyakit yang sembuh hanya dengan dimanjakan? Pagi ini kondisinya semakin membuatku khawatir. Sejak pagi intensitas muntahnya makin sering sampai-sampai membuat tubuh kekarnya itu lemas.Dan sekarang hanya bisa berbaring di atas tempat tidur sambil memelukku. Tak sedetikpun aku di izinkan jauh darinya. Bahkan untuk sarapan aku sampai merepotkan Bi Sarti untuk mengantar ke kamar. Tak berhenti berdrama, sarapan pun aku harus membujuknya seperti anak kecil. Ya Alloh...... Mas. Melihatnya seperti ini membuatku teringat kondisiku ketika aku hamil anak pertama kami dulu. Saat itu aku begitu manja dan malas untuk
Pov Meizura. Setelah hari ke tujuh kematian Ardiaz, aku dan Mas Fagan kembali pulang ke rumah Eyang. Jakarta kota yang panas dan sangat bising membuatku tidak betah berlama-lama di sana. Bunda dan Mbak Zahra sangat sedih ketika kami memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Eyang. Bunda berusaha membujukku untuk tetap tinggal namun aku menolak. Rasanya masih belum nyaman untuk bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa laluku dan Mas Fagan. Dua hari yang lalu kami pulang dengan diantar Bunda. Beliau menginap satu hari sebelum kembali pulang karena harus mengurus Azqiara yang masih sekolah. Adik sambungku itu masih butuh pengawasan di usia peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Bunda dan Papa tidak oleh teledor mengingat pergaulan sekarang yang yang begitu bebas. Malam ini kulihat Mas Fagan nampak gelisah. Sejak tadi dia banyak melamun. Sama seperti saat ini, dengan bertelanjang dada, duduk melamun dengan laptop di pangkuannya.Setelah satu jam yang lalu pria jangkung







