Home / Romansa / Dinikahi tapi Tak Dicintai / Pulang [Author POV]

Share

Pulang [Author POV]

Author: iva dinata
last update Last Updated: 2023-04-13 17:22:02

Dua hari sudah Meizura tinggal di rumah Zaskia. Selama itu pula, ponselnya tak berhenti berdering. Seperti teror, Fagan terus menelpon dan mengirim pesan.

Pria itu seperti penjahat yang terus meneror Zura. Dia menelpon dan mengirim pesan berisi ancaman agar Zura segera pulang.

Dari semua pesan yang Fagan kirim, sepertinya pria itu mengira Meizura akan pergi menyusul Ardiaz ke luar negeri.

[Pulang, Zura! Kamu istriku, patuhlah pada suamimu!]

[Pulang!! Atau kamu akan menyesal!] Pesan dikirim dengan foto sebuah paspor dibakar.

[Cepat pulang! Jangan menguji kesabaranku!]

[Nara aku serius! Kamu pasti tahu apa yang bisa aku lakukan untuk memaksamu pulang!]

Puluhan pesan berisi ancaman Fagan kirim ke nomor telpon Meizura, namun tak satu pun Meizura balas. Wanita itu fokus untuk menenangkan diri.

"Pria itu gak capek apa telponin kamu mulu?"

Zaskia mengambil duduk di sebelah Meizura. Sejak selesai sarapan, wanita itu duduk termenung di baikon kamar.

"Dendam sudah menutup matanya. Jangankan lelah, hatinya nuraninya saja sudah hilang."

Meizura mendesah, tatapannya meneraaang jauh.

"Apa kamu sudah punya rencana?"

"Hemm..." Zura mengangguk. "Kali ini aku tidak akan membuat perhitungan. Asalkan dia mau bercerai secara baik-baik. Aku tidak akan melaporkannya ke polisi."

"Kamu yakin Fagan bersedia cerai secara baik-baik? Mendengar ceritamu, aku yakin pria sombong itu akan menolak bercerai denganmu."

Meizura menarik nafas panjang. "Mungkin kamu benar. Sepertinya Mas Fagan berpikir aku akan menemui Ardiaz,"

Zaskia menoleh. "Mungkinkah, sebenarnya dia mencintaimu?"

'Mencintaiku?' batin Meizura. Lalu terkekeh miris. "Itu tidak mungkin," katanya membuang jauh-jaih pikiran yang sangat mustahil itu.

"Mas Fagan tidak ingin aku bersama Ardiaz karena sangat membenci Ardiaz. Dia tidak mau adiknya itu bahagia."

Zaskia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kurasa kamu benar. Dia hanya tidak ingin kamu bersama Ardiaz. Terlepas dari dia cinta sama atau tidak sama kamu, asalkan kamu tidak mencintainya, aku bisa tenang."

"Aku tidak mencintainya," jawab Meizura datar.

"Baguslah." Zaskia tersenyum lebar.

Bibir Meizura berkata tidak. Tapi hatinya siapa yang tahu. Dua tahun hidup bersama mungkinkah tak ada cinta?

Drrtttt!

Ponsel Meizura kembali berdering. Berbeda dari sebelumnya, kali ini bukan Fagan yang menelpon.

"Mbak Zahra?" gumam Meizura. Buru-buru ia mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.

"Zura? Kamu dimana?" Suara dari seberang sana.

"Iya Mbak. Ada apa?"

"Harusnya aku yang tanya ada apa?" Suara Zahra terdengar khawatir. "Kenapa kamu kabur? Kamu bertengkar dengan Fagan?" tanyanya beruntun.

"Mbak tahu dari mana aku kabur?"

"Sekarang Fagan ada di rumah. Pulanglah! Jelaskan baik-baik! Jangan sampai masalah ini sampai ke Eyang."

Tangan kanan Meizura mengepal kuat. Fagan menemui papanya untuk menekan Meizura.

Kali ini Fagan berhasil memancing amarah Meizura.

"Ada apa?" tanya Zaskia saat melihat raut wajah Meizura berubah tegang.

Wajah wanita itu memerah. Tatapan matanya dingin penuh kebencian. Ekspresi marah yang jarang sekali Meizura perlihatkan.

"Suruh dia pulang sendiri atau aku sendiri yang akan menyeretnya!" Terdengar suara papanya Meizura.

"Kamu dengar? Papa marah besar." Kali ini suara Zahra terdengar lirih. "Pulanglah, bicarakan baik-baik. Aku percaya kamu pasti punya alasan. Tapi pulanglah. Jangan sampai Fagan menemui Eyang,"

"Dua jam lagi aku akan sampai," ucap Meizura dingin.

Telpon berakhir.

"Yakin mau pulang?" Zaskia terlihat khawatir.

"Iya,"

"Aku antar."

Meizura menoleh. "Kapan kamu libur kuliahmu berakhir?" tanyanya.

Zaskia mengerutkan dahinya. Agak bingung, tapi tetap menjawab. "Tiga hari lagi."

Meizura mendesah berat. "Antar aku hanya sampai gerbang pintu masuk perumahan."

"Kenapa?" Zaskia tambah bingung.

"Sepertinya ini tidak akan mudah,"

"Ok." Zaskia mengangguk. Tidak lagi bertanya. Meizura orang yang keras kepala, tapi penuh perhitungan.

Dengan mengendarai mobil Zaskia, mereka berangkat menuju rumah Furqon, papanya Meizura. Sepanjang jalan, Meizura sibuk dengan ponselnya. Terlihat sibuk mengirim pesan.

"Kamu sedang apa?" tanya Zaskia melirik Meizura penasaran. Wanita itu menulis angka-angka di balik kemeja bajunya.

"Fokus menyetir! Jangan sampai kita mati konyol karena rasa penasaranmu," tegur Meizura yang masoh sibuk dengan bolpoinn di tanganya.

"Kamu menulis nomor telpon?" Zaskia masih sesekali menoleh.

Meizura mendengus kasar. "Aku sedang mempersiapkan kemungkinan terburuk."

Zaskia tersenyum kagum. "Kamu memang pintar dan penuh perhitungan," pujinya. "Jangan lupa, tulis nomorku dengan jelas!" puji Zaskia.

"Pasti."

🍂🍂🍂

Jalanan sedikit macet membuat kedatangan Meizura mundur dari perkiraan. Sepanjang perjalanan sudah tiga kali Zahra menelpon. Kakak kandung Meizura itu takut jika adiknya itu tidak jadi datang. Sedangkan di rumah papanya sudah mengamuk, karena Fagan memaksa untuk menelpon Eyang Farida untuk memaksa Meizura pulang.

"Iya Mbak sebentar. Sejak tadi jalanan macet. Lima menit lagi aku sampai," pungkas Meizura sebelum menutup telpon.

"Astaga... kenapa mereka tidak saba, sih?" gerutu Zaskia kesal.

"Berhenti di depan!" Meizura memberi perintah ketika mereka sampai di depan gerbang komplek perumahan.

Patuh, Zaski menghentikan mobilnya sesuai perintah Meizura.

"Setelah aku kekuar dari mobil, kamu langsung pergi. Jangan sampai ada yang melihatmu. Tidak ada yang boleh tahu kita masih berhubungan," katanya seraya memakai syal untuk menutupi bekas luka di lehernya.

Sebelum turun Meizura merapalkan doa. Memohon pada Tuhan untuk menenangkan hatinya.

"Zura tunggu!" Zaskia menahan lengan sahabatnya itu. "Ingat kalau ada apa-apa, aku harus jadi orang pertama yang kamu hubungi."

"Pasti. Terima kasih," jawab Meizura tersenyum tipis. Lalu dengan tenang, ia membuka pintu mobil.

Mobil langsung bergerak pergi begitu Meizura turun. Wanita cantik itu berjalan tenang menuju rumah orang tuanya.

Langkah kakinya berhenti tepat di depan rumah mewah milik keluarganya. Meizura tersenyum pada penjaga.

"Non, Zura." Seorang pria berbaju security langsung membukakan pintu gerbang. "Silahkan masuk," ucap pria itu sopan.

"Terima kasih," ucap Meizura kembali melangkah. Di depan pintu rumah, berhenti sejenak lalu berbisik. "Rumah mewah yang menyedihkan."

Pintu dibuka, Meizura melano masuk. Langkahnya tenang begitu juga ekspresi wajahnya.

Di ruang tamu mewah itu, sudah duduk empat orang yang menunggunya dengan wajah tegang. Furqon, Sarah, Zahra dan Fagan.

Zahra langsung berdiri, berjalan mendekat Meizura.

"Astaga... Kenapa dengan wajahmu?" tanyanya saat melihat bekas memar di wajah sang adik. "Apa ini perbuatan---.?

"Zahra kembali duduk di tempatmu!" Suara tegas Furgon terdengar.

"Pa, wajah Nara memar. Dia dipukul," adu Zahra sambil memegangi wajah Meizura.

"Adikmu itu memang pantas dipukul!"

Duar.......

Meizura terkesiap. Tubuhnya seketika membeku di tempat. Tanpa bertanya, bagaimana bisa seorang berkata seperti itu?

"Dari dulu di tidak bisa diatur! Sduah seharusnya Fahan memukulnya," tambah Furqon.

Satu sudut bibir Meizura tertarik, sebuah senyum sinis menghiasi wajah dinginnya. "Papa benar. Aku tidak suka diatur. Jadi jangan ada yang mengaturku," katanya. "Dan kali ini, aku ingin bercerai!"

🍂🍂🍂

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Cilon Kecil
bapaknya gila kayak bukan sama anak kandungnya aja
goodnovel comment avatar
Diar Pagar alam
kok sekarang susah ya buat dapat koin
goodnovel comment avatar
En Ti
aku GK punya koin ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Tujuh bulanan.

    Tak terasa kehamilanku sudah menginjak tujuh bulan. Dan hari ini akan diadakan tasyakuran tujuh bulanan calon anak kami. Aku begitu bahagia juga berdebar-debar menunggu hari kelahiran anak kami yang tinggal dua bulan lagi. Bukan tanpa alasan aku merasakan kegelisahan ini, dua kehamilanku sebelumnya tidak pernah sampai menginjak bulan ke tujuh. Mas Fagan yang nampak tenang pun sempat takut dan overprotective begitu Kehamilanku menginjak bulan kelima. Bulan dimana dua calon anak kami gugur dan kembali ke pangkuan ilahi tanpa sempat kami dekap. "Hati-hati jalannya, Sayang, jangan buru-buru! Tamunya juga gak akan pergi kok," tegur Mas Fagan saat aku buru-buru ke depan saat mendengar kedatangan Zaskia. "Iya, Mas, ini jalanya sudah pelan kok." Aku Memperlambat jalanku. Disamping karena teguran Mas Fagan juga karena tanganku yang di pegangnya. Pelan tapi pasti hubungan Papa dengan Papa mertuaku pun membaik. Di hari yang kaya orang Jawa di sebut tingkepan ini, keluarga besar kami benar-b

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Hidup yang penuh warna.

    Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Perlahan zemuanya mulai membaik. Hari- hariku terasa penuh warna. Tidka lagi monoton dan penuh sandiwara.Hpir setiap pagi aku terbangun oleh suara Mas Fagan yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Suara cukup keras sampai membuat seisi rumah terbangun tepat jam tiga pagi Ya, diambil baiknya saja, mungkin calon anak kami ingin orang tuanya beribadah di sepertiga malam. Dan anehnya, mual Mas Fagan akan hilang setelah kami berdua mengambil air wudhu untuk sholat sunah.Dan mualnya akan kembali setelah selesai sholat shubuh. Bukanlah itu pertanda. Anak kami pasti akan jadi anak sholeh nantinya.Meski begitu tersiksa dengan mual dan nyidam yang tiba-tiba saja dirasakannya. Namun tak sekalipun suamiku itu mengeluh atau menyalahkan kehamilanku. Mas Fagan begitu sabar dan ikhlas menjalani perannya. Ia bahkan selalu mengunci kamar mandi setiap kali muntah, takut aku menyusul masuk ke dalam katanya. "Sudah di atas ranjang saja, jangan ikut masu

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Ternyata sudah 4 minggu.

    Malamnya suster Erina langsung datang ke rumah bersama seorang bidan setelah siangnya mendapatkan telpon dari Mas Fagan. Perempuan berwajah tegas itu datang dengan membawa alat-alat medis yang tidak semuanya aku tahu namanya. Suster Erina dan dua orang perawat laki-laki menata alat-alat medis atas intruksi snag Bidan. Ya Alloh.... kenapa aku merasa akan menjadi pasien di rumahku sendiri. Aku hanya sedang hamil bukan habis kecelakaan dan sedang koma. Saat ini aku duduk bersandar di atas ranjang dengan Mas Fagan yang setia menemani sambil menggenggam satu tanganku. "Zenia, dengerin Sus, beliau ini teman Sus, namanya Bidan Hana. Dia akan memeriksa kondisimu. Jangan menolak!" Belum apa-apa Suster Erina sudah memberiku peringatan. Meski nadanya dibuat lembut tapi tatapannya itu tatapan tak ingin dibantah. Wanita ini bahkan lebih tegas dari Papa dan Mas Fagan. Aku mengangguk penuh kepasrahan. Sepatah kata penolakan dariku akan berbuntut panjang dan membuatku harus menjalani terapi len

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Kabar gembira

    Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan kami sudah sampai di pelataran sebuah klinik terdekat dari rumah. Dengan dipegangi pak sopir di sisi kanan Mas Fagan dan aku di sisi kirinya. Kami turun dan menuju kursi tunggu. Sedangkan Bi Sarti lebih dulu turun dan langsung mendaftar di tempat pendaftaran. Di siang hari yang terik seperti saat ini suasana klinik yang nampak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih datang di sore hari saat udara lebih sejuk. Hanya ada dua orang pasien yang menunggu antrian. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit akhirnya namaku di panggil. Aku sedikit bingung, yang sakit Mas Fagan kenapa Bibi mendaftarkan namaku. "Sayang.... ini klinik bersalin tentu saja nama kamu yang di daftarkan Bibi." ujar Mas Fagan merangkulku lalu mengelus lembut lenganku.Lama-lama Mas Fagan sudah seperti Suster Erina yang bisa membaca isi hatiku. Dan sikapnya lembutnya selalu sukses membuat hatiku bergetar dan semakin merasa bergantung padanya. Kami pun akhirnya masuk dengan

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   Sakit.

    Beberapa hari ini Mas Fagan kurang enak badan. Setiap pagi selepas sholat shubuh dia pasti akan muntah-muntah. padahal perutnya msih kosong. aku pikir itu asam lambung, aku mengajaknya ke dokter untuk periksa tapi bukan Mas Fagan jika tidak keras kepala. Laki-laki itu tegas menolak dan mengatakan akan segera membaik jika aku memanjakannya. Ada-ada saja suamiku ini. Memang ada penyakit yang sembuh hanya dengan dimanjakan? Pagi ini kondisinya semakin membuatku khawatir. Sejak pagi intensitas muntahnya makin sering sampai-sampai membuat tubuh kekarnya itu lemas.Dan sekarang hanya bisa berbaring di atas tempat tidur sambil memelukku. Tak sedetikpun aku di izinkan jauh darinya. Bahkan untuk sarapan aku sampai merepotkan Bi Sarti untuk mengantar ke kamar. Tak berhenti berdrama, sarapan pun aku harus membujuknya seperti anak kecil. Ya Alloh...... Mas. Melihatnya seperti ini membuatku teringat kondisiku ketika aku hamil anak pertama kami dulu. Saat itu aku begitu manja dan malas untuk

  • Dinikahi tapi Tak Dicintai   prioritas.

    Pov Meizura. Setelah hari ke tujuh kematian Ardiaz, aku dan Mas Fagan kembali pulang ke rumah Eyang. Jakarta kota yang panas dan sangat bising membuatku tidak betah berlama-lama di sana. Bunda dan Mbak Zahra sangat sedih ketika kami memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Eyang. Bunda berusaha membujukku untuk tetap tinggal namun aku menolak. Rasanya masih belum nyaman untuk bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa laluku dan Mas Fagan. Dua hari yang lalu kami pulang dengan diantar Bunda. Beliau menginap satu hari sebelum kembali pulang karena harus mengurus Azqiara yang masih sekolah. Adik sambungku itu masih butuh pengawasan di usia peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Bunda dan Papa tidak oleh teledor mengingat pergaulan sekarang yang yang begitu bebas. Malam ini kulihat Mas Fagan nampak gelisah. Sejak tadi dia banyak melamun. Sama seperti saat ini, dengan bertelanjang dada, duduk melamun dengan laptop di pangkuannya.Setelah satu jam yang lalu pria jangkung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status