Home / Romansa / Dipaksa Jatuh Cinta / Making Out Kebablasan

Share

Making Out Kebablasan

last update Last Updated: 2025-10-29 12:09:03

Kencan makan malam yang dijalani oleh Aurel dan Reynold terasa asik karena gadis itu selalu bertingkah apa adanya tanpa berniat jaga image. Tanpa Reynold sadari dia mulai merasa nyaman berada di samping Aurel yang sebenarnya dia pacari hanya untuk iseng saja.

Dia hanya berpikir karena Aurel masih begitu belia, tidak akan ada pikiran yang mengarah ke pernikahan atau hal rumit sejenisnya yang telah ia jalani bersama Hesti. Dan memang benar, gadis remaja itu menjalani kencan malam ini dengan tanpa beban, tertawa serta bercanda tanpa merasa malu bersama Reynold.

"Wah, kamu makannya banyak, Rel! Apa nggak takut gendut?" ujar Reynold sambil menyendok lasagna yang masih tersisa setengah porsi di piring saji.

Dengan santai Aurel menjawab sembari menyendok puding mangga lalu mengunyahnya, " Bodo amat sih, gendut itu bukan karena makan banyak, tapi jarang gerak, Ayang Rey!"

Reynold pun terkekeh mendengar jawaban Aurel lalu dia melanjutkan, "Kamu emang suka olah raga apa? Senam aerobik?"

"Zumba, aeroBL, kadang fitness juga di Celebrity Gym tuh di Lippo Mall. Kalau kamu olah raga juga nggak?" jawab Aurel santai. Dia mengamati tubuh berotot padat Reynold dengan menebak-nebak dalam batinnya sepertinya pria di hadapannya itu juga sering ngegym.

"Iya kok sama sih, tapi kita nggak pernah papasan di Celebrity Gym, Rel! Kamu biasanya jadwal ke sana kapan?" sahut Reynold tertarik karena tempat dia memahat tubuh sama dengan langganan Aurel.

"Ohh ... pantes bodi kamu keren, Ayang. Aku 3 kali seminggu tiap Selasa, Kamis, Sabtu sore jam limaan gitu," balas Aurel. Sepertinya dia sudah terlalu kenyang untuk menghabiskan menu makan malam yang masih ada di meja makan restoran itu.

Namun, Reynold yang mengerti pikiran gadis itu pun berkata, "Udahan yuk, Rel. Kita cabut sekarang. Mau kemana lagi nih sudah jam 8 malam lebih?"

"Katanya mau ke apartment kamu tadi—" Aurel pun bangkit dari kursinya.

"Aku bayar bill makan malam kita ya, Cantik! Yuk gandeng aku ...," ujar Reynold menyodorkan lengannya kepada Aurel yang langsung mengaitkan tangannya di sana.

Selepas meninggalkan Portable Bistro, Reynold melajukan mobilnya menuju ke Jasmine Park. Lalu lintas kota Yogyakarta di malam hari tidak terlalu padat bila bukan weekend atau tanggal merah nasional. Sembari mendengarkan siaran radio Swaragama FM yang diputar di sound sistem mobil Reynold, gadis remaja itu bertanya, "Ayang, tumben nggak jalan sama Mbak Hesti? Apa dia nggak nanyain kamu lagi ngapain gitu?"

Mendengar pertanyaan kepo dari Aurel, Reynold pun tersenyum tipis. "Tadi aku bilang ada janji dinner sama temen ke Hesti. Dia bilang boleh tuh," jawabnya santai.

"Kalau Mbak Hesti tahu jalannya sama aku, kayaknya kamu bakal diomelin deh. Ini kita tuh mau backstreet dari dia? Nggak paham aku sama jalan pikiran kamu aslinya gimana—" Aurel menoleh memandangi Reynold yang sedang berkonsentrasi menyetir.

"Aku seneng sih jalan sama kamu, Rel. Lebih santai dan nyaman aja. Lagian daripada kamu ngegodain dan ngejar-ngejar Bang James, mendingan pacaran sama aku aja deh. Emang kamu mau dicap jadi pelakor?" ujar Reynold berkelit dari pertanyaan Aurel yang masih belum ia putuskan kemana arah hubungan mereka yang seumur jagung ini.

"Hmm ... dicoba deh. Cuma kamu lagi mendua hati, Ayang Rey! Kalau aku juga jalan sama yang lain boleh dong? Biar impas gitu," balas Aurel ringan. Dia merasa bahwa Reynold curang dengan menduakannya terang-terangan.

"Eitts ... jangan dong! Kamu nekad ya ngeduain dosen kamu, Non. Nyali kamu gede banget, mau kukasi nilai D di mata kuliah Parasitologi?" ancam Reynold main-main.

Aurel pun berdecak kesal dengan wajah mendung membalas tatapan Reynold. Dia tidak suka diancam begitu. "Ngerasa nggak kalau ngancamnya gak adil, Prof?" tukasnya.

"Biarin aja ... suka-suka aku dong! Pokoknya kamu selama kita pacaran nggak boleh jalan sama cowok lain siapapun itu. Paham?" tegas Reynold dengan otoriter. Kemudian ia pun memarkir mobilnya di parkiran mobil lantai basement sebelum mengajak Aurel turun dari mobil.

Mereka berdua berjalan bersisian menuju ke lift, lengan Reynold merangkul bahu gadis itu. Kemudian mereka naik ke lantai 8 tempat unit Reynold berada.

"Silakan masuk, Baby A! Anggap aja seperti rumah sendiri, oke?" sambut Reynold dengan ramah. Dia melepas alas kakinya lalu mengajak Aurel duduk di sofa ruang tengah sambil menghidupkan TV. Jam dinding menunjukkan pukul 21.15 WIB.

"Kost kamu ada jam malam nggak, Non?" tanya Reynold sambil memeluk tubuh ramping Aurel yang bersandar di sisinya.

"Seharusnya jam 10 malam sudah harus pulang sih. Cuma emang kalau ada perlu kayak ngerjain tugas apa kerjaan gitu bisa hubungi mbak kostnya buat dibukain pintu gerbang," jawab Aurel apa adanya. Dia sedikit menyukai cara Reynold memeluknya, pria itu sopan dan tangannya tidak menggerayangi tubuhnya dengan sembarangan.

Tangan kanan Reynold memegang dagu Aurel hingga gadis itu mendongak menghadapnya. Perlahan bibirnya menyapa bibir merah muda kenyal itu, memberikan pagutan yang dalam dan intens. Lidahnya menelusup masuk membelai lidah Aurel hingga gadis itu memejamkan matanya terbawa kemesraan mereka berdua.

Ketika Reynold melepaskan belitan lidahnya dan juga pagutannya di bibir Aurel yang bengkak, dia mulai menyusuri leher mulus beraroma bunga lembut itu dengan bibir dan hidung mancungnya.

Desahan pelan meluncur dari mulut gadis itu merasakan sentuhan Reynold di tubuhnya.

Resleting punggung gaun off shoulder itu diam-diam diturunkan oleh Reynold. Bagian dada gaun itu pun melorot dengan sepasang bulatan kembar yang terekspos di hadapan Reynold. Bibir pria itu melumat puncaknya sembari membelainya dengan jemari tangannya.

Bagi Aurel sentuhan intim dari lawan jenis baru ia rasakan sekali ini. Dia penasaran dan juga merasa keenakan, maka ia pun membiarkan Reynold melakukan apa yang diinginkan dengan tubuhnya.

"Aurel Sayang ... kita cukup sampai setengah badan atas kamu aja ya?" ujar Reynold menatap wajah gadis itu yang merona karena terbakar gairah.

"Iya, jangan diterusin, Ayang. Aku serem ntar keterusan jadi hamil, bisa diamuk bokap nyokap akunya!" jawab Aurel masih waras pikirannya.

Tangan Reynold masih memain-mainkan bulatan kembar yang menggoda indera penglihatannya. "Bagus loh bentuknya ... montok sekalipun badan kamu kurus kering begini. Makanannya nyalurnya ke bagian dada kayaknya," seloroh Reynold yang sontak mendapat cubitan di pinggang dari tangan Aurel.

"Jago bener kalau beginian, Prof. Dulu sering praktik sama cewek bule di Amrik ya?" ujar Aurel kepo maksimal.

"Iya, tiap malam sambil mabok miras. Aku nggak ingat nama mereka dan wajah mereka. Pokoknya puas, itu aja yang kutahu!" jawab Reynold sambil menyosor lagi lehernya dan meninggalkan kiss mark yang banyak di kulit seputih susu itu.

"Ehh, Ayang kamu bikin cupang sih. Besok kan aku kuliah, nanti dilihatin teman-teman jadi malu lho!" tegur Aurel menangkap wajah Reynold yang tadinya menyosornya tiada henti.

"Pake syal aja atau kemeja yang kerahnya tinggi. Jangan lupa kasi bedak!" Usai menjawab keluhan Aurel, dia menelentangkan tubuh gadis itu dan membenamkan wajahnya di lembah yang ada di antara bukit berpuncak merah muda kecoklatan itu.

"Aku dipulangin ke kost jam berapa, Ayang Rey?" tanya Aurel sembari mengacak-acak rambut di kepala Reynold yang masih sibuk mencumbu dirinya.

"Hmm ... nemenin aku bobo di sini aja ya? Janji deh nggak kunaikin, kita pelukan aja sampai pagi. Mau ya?" balas Reynold membujuk Aurel.

"Oke, besok pagi anterin jam enam pulang ke kost ya?" sahut Aurel.

"Oke. Kugendong ke kamar ya? Bobo kamunya naked, aku tetap pakai celana boxer. Mau nggak?" tawar Reynold sembari merengkuh tubuh ramping yang setengah telanjang itu.

"Pokoknya jangan dimacem-macemin aja, Ayang!" Aurel membiarkan Reynold menggendongnya ke kamar tidurnya.

Namun, ketika Aurel melihat foto yang terpajang di dinding kamar Reynold, dia terkesiap. Sebuah foto pengantin dengan 2 orang pria dan seorang wanita cantik. Ketiganya adalah dosen Aurel di kampus.

"Foto yang menarik, Prof. Bisa kamu jelaskan apa artinya?" ucap Aurel dengan mata berkilat berbahaya menatap wajah Reynold yang galau.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Arkhan gultom
ihhh penasaran, foto pernikahan siapa ya
goodnovel comment avatar
Kania Putri
ya ampun Rey kamu ya koq ngeri aq takut kebablasan ini. nah di tanya itu loh sama aurel hati jawab
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dipaksa Jatuh Cinta   Cinta Sejati Tak Lekang oleh Waktu (THE END)

    Dari balik jendela kamar tidurnya di resort Pulau Cendawan, Aurel menikmati pemandangan pagi pesisir pantai. Matahari baru saja naik lebih tinggi setelah merekah di ufuk timur. Biyan berlari-lari bersama anak-anak mereka di tepi Pantai Cinta.Aurel tidak ikut karena dia bertugas mengepak pakaiannya dan juga suaminya ke koper besar. Rencananya mereka sekeluarga akan berkunjung ke Yogyakarta. Biyan dipanggil ke kampus Kedokteran Hewan sebagai narasumber acara seminar enterpreneurship berbasis ilmu kedokteran hewan untuk OSPEK mahasiswa tahun ajaran baru.Dua belas tahun telah berlalu diwarnai suka duka, kehadiran buah hati tercinta satu per satu sehingga pasangan suami istri itu telah dikaruniai total empat anak; dua laki-laki dan dua perempuan. Urutannya dari yang sulung Arjuna, disusul setahun kemudian ada Renata, berlanjut tiga tahun kemudian Purbaya, dan pada tahun kelima lahirlah Abigail.Kebahagiaan keluarga dengan empat anak itu terasa sempurna. Mereka tak pernah terlibat konflik

  • Dipaksa Jatuh Cinta   Pengakuan Biyan dan Bertemunya Dua Keluarga

    "Maa, sini!" panggil Pak Harris Jatikusuma kepada istrinya di rumah mereka di Jakarta.Nyonya Puspa Narestri bergegas menghampiri suaminya di sofa ruang tengah. "Ada apa sih, Pa?" sahutnya."Ini anak kita ngawur banget. Masa dia baru ngaku kalau sudah punya istri dan pagi tadi cucu pertama kita lahir ke dunia. Ckckck, Biyan ... Biyan!" ujar Pak Harris kesal dengan tingkah putra bungsunya."Ahh ... yang benar saja, Pa. Mana fotonya?" balas Nyonya Puspa seolah-olah tak percaya.Maka Pak Harris menyerahkan HP di tangannya ke istrinya. Dia pun berkata, "Ini foto anak dan istri Biyan. Terus katanya, kita boleh jenguk mereka di Pulau Cendawan. Pantesan dia betah banget tinggal di sana, ternyata sudah punya istri tho!" "Wah, cantik istrinya. Cucu kita juga ganteng mirip banget sama Biyan sewaktu bayi. Ayo, Pa. Kita ke Pulau Cendawan sekarang aja mumpung masih belum petang!" desak Nyonya Puspa. "Oke, Mama siap-siap gih. Packing beberapa baju punyaku juga ya untuk menginap di sana nanti. Ini

  • Dipaksa Jatuh Cinta   Kelahiran Anak Biyan dan Aurel

    Pagi itu seusai mandi, Aurel merasakan perutnya seperti diremas-remas. Dia melihat genangan air di lantai kamar mandi tepat di sekitar telapak kakinya berwarna merah muda."Ya Tuhan! Aku pecah ketuban ... mana Biyan?!" Aurel mendadak panik lalu berjalan tertatih-tatih ke luar kamar mandi. Dia mengedarkan pandangan ke seisi kamar tidur lalu berseru, "Biii! Aku sudah mau lahiran!" Sontak Biyan bangkit dari tempat tidur lalu segera membantu Aurel untuk berganti pakaian bepergian serta mengenakan pembalut khusus ibu hamil dan setelah melahirkan. Karena Biyan takut tak bisa fokus menyetir mobil, dia menyuruh sopir yang mengantarkan mereka ke rumah sakit satu-satunya di Pulau Cendawan.Sesampainya di rumah sakit, segera tim dokter dan perawat membantu memeriksa Aurel. Setelah itu diputuskan untuk Aurel melahirkan secara normal. Biyan terus menemani istrinya yang telah sah di mata hukum sejak dua bulan lalu. Dia menggenggam tangan Aurel yang berkeringat dingin. "Yang kuat ya, Sayang!" uca

  • Dipaksa Jatuh Cinta   Resmi Menjanda

    "Halo, Biyan. Hasil putusan sidang perceraian Aurel dan Reynold sudah keluar hari ini. Saya baru saja menghadiri persidangannya," ujar pengacara yang disewa Biyan untuk membereskan perceraian Aurel di Yogyakarta.Memang sudah lima bulan proses perceraian itu bergulir tanpa kehadiran dari kedua kubu yang berseteru. Mereka mempercayakan ke tim kuasa hukum masing-masing sejak awal sampai pernikahan yang sah di mata negara itu ketok palu dinyatakan cerai."Halo, Bang Tommy. Gimana hasil putusannya, benar bisa bercerai 'kan?" tanya Biyan penasaran. Dia sedang berada di kandang kuda pagi itu dan menunggu Shaddow dipasang pelananya oleh anak kandang."Iya, benar. Sudah dah bercerai. Mengenai akte pernikahan kamu dan Aurel akan saya proses nanti secepatnya kalau memang semua data di kartu identitas Aurel sudah berubah menjadi janda!" jawab Tommy Simangunsong, pengacara yang mewakili kubu Aurel.Biyan pun tersenyum bahagia bercampur lega. "Makasih banyak, Bang Tommy. Fee untuk tim lawyer seger

  • Dipaksa Jatuh Cinta   Kejutan Ulang Tahun Aurel

    Reynold yang mendapat panggilan dari bagian akademik karena ada surat penting dengan kop Pengadilan Negeri Kota Sleman, Yogyakarta sedang berdiri tegang memegang sepucuk surat di tangannya. Dia membaca isi surat yang merupakan gugatan perceraian atas nama Aurel melalui kuasa hukum Pengacara Hans Sebastian Wijaya. "Ini pasti karena hasutan Biyan! Mana mungkin tiba-tiba Aurel melayangkan gugatan perceraian?" gumam Reynold lirih. Belakangan ini pola tidurnya kacau karena insomnia. Lingkaran hitam di sekitar matanya menebal.Jadwal persidangan perdana akan digelar dua hari lagi di Pengadilan Negeri Sleman. Reynold bisa datang sendiri atau menunjuk pengacara untuk mewakilinya. Sekembalinya ke ruang kantornya, Reynold terpekur sembari duduk menatap ke luar jendela. Dia berencana terbang ke Perth untuk menemui Laura meskipun pesan-pesan darinya hanya dibalas singkat seperlunya oleh ibu dari putra kandungnya; Joshua.Dia sendiri yang salah karena meninggalkan Laura demi menikahi Aurel. Namu

  • Dipaksa Jatuh Cinta   Test Kehamilan Aurel

    "Aurel! Aurel, di mana loe?!" panggil Biyan saat memasuki bangunan induk resort satu-satunya di Pulau Cendawan.Wanita yang dicari oleh Biyan itu sedang mengobrol santai diselingi gelak tawa di dapur bersama dua ART dan Chef Arifin. Mereka menikmati berbagai camilan berbahan dasar tepung aci. Selain itu hasil panen Aurel di kebun belakang dapur diolah Chef Arifin menjadi lauk sayur dan juice buah."Biyan, aku di dapur!" jawab Aurel seraya melambaikan tangan ke pemuda yang masih mengenakan setelan jas abu-abu dengan kemeja putih tanpa dasi itu.Sepasang mata Biyan memancarkan kerinduan terhadap Aurel yang dia tutupi dengan pembawaan tenang terkendali di hadapan para bawahannya. "Ohh ... jadi ya dibikinin cilok dkk, Rel?" tukas Biyan santai."Iya, kenyang banget aku. Btw, kamu sudah makan apa belum dari Jakarta tadi, Bi?" tanya Aurel yang tumben lebih halus dan perhatian.Melihat perubahan sikap perempuan yang dicintainya, Biyan pun mencoba menanggapi dengan baik. Dia menjawab, "Sudah k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status