Share

Kembali

Fallen berdiri mematung sembari menundukkan kepalanya. Ia terlihat begitu takut, terlebih lagi karena Arjun mendengar apa yang ia katakan tentang ketenangan ketika tidak ada Arjun.

"Kau tadi mengatakan apa? Aku ingin mendengarnya lagi." Arjun berjalan mendekati Fallen dan yang kini bergetar ketakutan.

Saat sudah berada di hadapan Fallen, Arjun langsung mencengkram tangan Fallen lalu menarik gadis itu mendekatinya. Ia pun berbisik di telinga Fallen. "Apa aku harus mengulangi pertanyaan ku? Karena jika aku mengulanginya, maka kau akan kehilangan satu telingamu." Menghembuskan nafas ke telinga Fallen hingga membuatnya semakin ketakutan.

"Ketika tidak ada Tuan, saya merasa tenang. Ma-maafkan saya, Tuan." Fallen berusaha menahan air matanya.

"Oh, jadi kau menginginkan aku tetap berada di luar agar kau selalu tenang? Kau mengusirku dari rumahku sendiri? Baiklah, aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga."

Arjun berjalan menuju ke lemari pakaiannya, lalu mengambil koper. Fallen mengikutinya.

Saat Arjun akan mengemasi pakaiannya, ia langsung menahan tangan pria itu hingga kini matanya melirik tajam.

"Saya mohon jangan lakukan ini, Tuan." Fallen berusaha menutupi rasa takutnya.

"Kenapa aku harus menuruti perkataan mu?"

"Ka-karena, karena Tuan suami saya. Suami dan istri tidak boleh tinggal terpisah."

"Apa alasannya?"

"Karena di dalam agama tidak diperbolehkan, Tuan."

"Lalu apa yang harusnya suami istri lakukan?"

"Tinggal dalam satu rumah."

"Lalu."

"Saling me-menyayangi dan me-mengasihi."

"Hahaha, kau mengatakan seolah aku menganggap mu sebagai istri. Bagiku, kau adalah sampah kecil. Lihat dirimu. Bertubuh pendek dan kurus, berwajah bulat, kau pikir kau itu seleraku? Kau itu hanya sampah kecil yang tidak pernah aku anggap ada." Arjun memandang rendah Fallen.

"Tuan, meskipun Tuan tidak mengaggap saya istri, tetapi saya harus tetap menghormati Tuan sebagai suami dan kita tidak boleh tinggal terpisah."

"Katakan kenapa kau takut aku pergi."

"Ini rumah Tuan. Jika,,,,Tuan pergi,,,,,Sa,,,saya tidak akan sanggup menggaji semua pelayan dan pengawal." Fallen menundukkan wajahnya. Itu adalah pemikiran yang paling bodoh. Namun, tidak mungkin jika ia mengatakan kalau jika Arjun pergi, ia takut kalau sang CEO akan kembali dengan membawa buldoser, menghancurkan rumah dengan ia di dalamnya.

"Hahaha! Dasar gadis bodoh!" Arjun tergelak mendengar ucapan bodoh Fallen. Mau bagaimana lagi? Kebodohan adalah hal yang bisa Fallen lakukan untuk mencegah tindakan berbahaya yang mungkin dilakukan Arjun.

Setelah tertawa dengan puas, Arjun kembali menatap Fallen dengan tatapan devilnya.

"Sekarang katakan kenapa kau tidur di lantai dan membuat aku harus mengobati mu agar kau tidak mati di sini!"

"Saya masih ingin rambut saya tetap utuh, Tuan." Fallen memejamkan matanya. Kalimat yang keluar dari mulutnya benar-benar keluar begitu saja karena rasa takut yang telah menguasainya.

"Oh, jadi kau sengaja sakit agar aku tidak jadi menghukum mu?"

"Tidak, bukan begitu, Tuan. Saya hanya merasa lelah sehingga ketiduran di lantai."

"Berarti kau orang yang sangat payah, lemah, dan penyakitan." Arjun mendorong kening Fallen dengan jari telunjuknya hingga membuat Fallen mundur ke belakang.

"Maafkan saya yang penyakitan ini, Tuan."

"Hahaha, kau sangat bodoh dan payah. Sudahlah, sekarang pergilah ke kamar sebelah, aku ingin menggunakan kamar ini."

"Sebelah mana, Tuan?"

"Kau harus menebaknya." Arjun mendorong Fallen keluar pintu lalu menutup pintu setelah menunjukkan senyuman devilnya.

Fallen terlihat bingung. Ia tidak tahu harus kemana. Jika diingat, sepertinya Arjun lebih sering menghabiskan waktu di kamar yang ada di sebelah barat, yaitu kamar kerjanya. Itu artinya? Kamar satunya, yang ada di sebelah timur adalah kamar yang dimaksud Arjun.

Fallen melangkahkan kakinya ke kamar tersebut. Ia masuk setelah menggeser pintu. Ia heran melihat bentuk dan tatanan kamar yang sama persis dengan kamar yang ditempati Arjun saat ini. Bentuk ranjang, denah ruangan, isi meja rias, jenis dan warna sprei, gorden jendela, bentuk dan ukiran lemari, serta isi kamar mandi, semua sama persis.

"Aneh, kenapa dua kamar ini bentuk dan isinya sama. Apa Tuan Arjun menyukai tatanan yang seperti ini di setiap kamar?" gumam Fallen.

Ia pun segera menuju ruang ganti untuk melihat pakaiannya. Dan ternyata, pakaiannya juga sama persis dengan yang ada di kamar sebelah. Bahkan untuk dalaman pun sama. Fallen semakin heran dengan hal yang ia rasa janggal di rumah itu.

Fallen kembali ke ranjang lalu mendudukinya. Ia tiba-tiba teringat dengan foto ibunya. Ia pun menangis sesenggukan mengingat satu-satunya hal yang mengingatkannya pada ibunya telah hilang.

"Jika saja ingatanku tidak hilang, pasti saat ini, aku tengah berbahagia, aku akan tersenyum mengingat kenangan indah saat aku kecil bersama ibu. Kenapa aku harus kehilangan ibu beserta ingatanku? Dan kenapa ayah begitu membenciku?"

Fallen berbaring di atas ranjang dengan air mata yang terus menetes.

Hingga beberapa jam kemudian, ia pun terbangun karena Maghrib sudah tiba. Ia pun melakukan sholat Maghrib di kamar tersebut dengan kain panjang yang ia balut seperti mukena. Karena mukena miliknya, ada di kamar yang ditempati Arjun. Ia mendapatkan mukena itu dari Asti saat pertama kali menjejaki rumah itu.

Setelah selesai sholat, ia pun kembali ke ranjang untuk sekadar merapikan sprei yang kusut. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat ada sebuah foto terselip di sebuah bantal. Ia segera mengambil foto tersebut, lalu menangis sembari mencium foto yang merupakan foto ibunya.

"Ya Allah, terimakasih, karena Engkau telah mengembalikan foto ibuku." Fallen mengusap air matanya yang menetes di foto ibunya. Ia tidak ingin foto tersebut rusak karena air mata kebahagiaannya.

Lama ia menangis, akhirnya ia menyadari sesuatu.

"Siapa yang meletakkan foto ini di sini?" gumamnya sambil melihat ke sembarang arah.

Namun, keheranannya terjawab saat Asti datang, mengajaknya untuk turun dan makan malam. Asti tersenyum padanya saat ia sedang memegangi foto ibunya. Ya, ia yakin pasti Asti lah yang meletakkan foto tersebut.

"Asti, terimakasih, ya," ucap Fallen saat mereka sedang menuruni lift menuju ruang makan.

Asti hanya mengangguk dan tersenyum. Fallen duduk di kursi saat ia sudah sampai. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan untuk melihat keberadaan Arjun.

"Tuan sedang ada pekerjaan penting sehingga beliau makan di kamarnya, Nona. Nona makanlah, tetapi harus dihabiskan, jangan ada yang tersisa di piring."

Fallen hanya mengangguk, lalu menunduk malu karena ketahuan sedang mencari keberadaan Arjun.

Fallen pun akhirnya dapat memakan makan malamnya dengan perasaan yang tenang. Selain ia bahagia karena Asti telah mengembalikan foto ibunya, ia juga senang karena tidak perlu menelan makanan dengan perasaan takut sebab tidak ada Arjun di sana yang akan memelototi atau meneriakinya sepanjang makan. Aneh memang, untuk makan saja rasanya sulit menelan karena seseorang yang sangat membuatnya takut.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status