Jangan lupa dukung buku ini dan follow akun author, terima kasih🫶🏻🌸 Info visual tokoh Daryan dan Savana di IG: @langit_parama
Pagi itu, udara kampus terasa lebih dingin dari biasanya. Savana berjalan perlahan memasuki gerbang Fakultas Kedokteran, tempat yang sudah lama tidak ia singgahi selama satu semester. Pikirannya berserabut, seolah ada ribuan hal yang saling bertabrakan dalam kepalanya. Banyak hal yang harus dikejar: pelajaran yang tertinggal, tugas-tugas yang menumpuk, dan terlebih lagi bagaimana dirinya harus kembali menghadapi dunia yang tahu betul tentang kisah kelamnya. Rinka sudah menunggu di depan gedung fakultas. Senyumnya lebar, meskipun Savana bisa melihat ada sedikit kecemasan di mata sahabatnya itu. Rinka tahu betul apa yang baru saja dilalui oleh Savana, dan meskipun tidak ada kata yang perlu diucapkan, Rinka bisa merasakan beban yang dipikul oleh temannya itu. “Savana!” seru Rinka dengan suara ceria yang terdengar begitu kontras dengan suasana hati Savana. “Akhirnya, kamu kuliah lagi! Aku khawatir kamu gak bakal berani masuk lagi.” Savana tersenyum tipis. “Aku harus masuk lagi, Ri
Arfan baru saja menyelesaikan sesi konseling dengan salah satu pasiennya. Udara di ruang praktik terasa hening, hanya ada suara jam dinding yang berdetak perlahan. Ia menarik napas panjang, merasa lega bisa membantu pasiennya yang cukup sulit. Namun, belum sempat ia duduk untuk bersantai, pintu ruangannya terbuka perlahan, dan Revanza masuk tanpa mengetuk. Dahi Arfan langsung mengernyit, “Revanza? Ada apa?” Arfan bertanya, sedikit terkejut namun tetap tenang, mencocokkan sikap profesionalnya. Revanza menatapnya dengan senyum tipis, yang lebih terasa seperti sebuah intimidasi. Tanpa banyak bicara, pria itu meletakkan sebuah cek ke atas meja Arfan. “Apa ini?” Arfan bertanya, mencoba menebak. “Cek senilai lima ratus juta,” jawab Revanza tanpa ekspresi, suaranya tenang namun cukup berat untuk didengar. Arfan memandangnya dengan alis terangkat, bingung. “Lima ratus juta? Untuk apa?” Revanza duduk di kursi depan meja Arfan tanpa dipersilakan, tangannya mengedarkan cek itu ke a
“Dokter Arfan baik lho, Mas. Dia bahkan luangin waktunya buat aku bahkan tengah malem sekalipun!” kata Savana dengan nada tajam. “Tengah malem?” sebelah alis Daryan terangkat sinis. “Jadi, selama ini—“ ia menggigit bibirnya pelan, hampir saja keceplosan kalau dia setiap hari selalu memantau istrinya lewat CCTV di apartemen. “Selama ini apa?” ulang Savana ketus, “Selama ini aku komunikasi sama dokter Arfan bahkan di luar konsul? Iya, Mas, emang bener kayak gitu!” Tatapan Daryan langsung tajam, tak menyangka Savana akan mengaku secara terang-terangan seperti itu. “Di mana aku bisa nemuin psikolog sebaik dokter Arfan?” Suara Savana bergetar tapi tegas, dagunya terangkat tinggi menatap sang suami. “Gak ada. Cuma dokter Arfan yang bisa seperti itu. Dia kerja profesional, Mas. Aku yang selama ini susah tidur, gak perlu obat, gak perlu pelukan, gak perlu distraksi. Cukup ngobrol sama dokter Arfan lewat telepon, aku bisa tenang. Aku bisa tidur.” Daryan melangkah pelan, mendekatinya.
“Apa yang kamu lakukan?” desis Daryan dengan nada tajam. Matanya menghunus ke mata Arfan yang berdiri di hadapannya. “Kenapa kamu mengajak istriku bertemu di cafe?” Arfan hendak membuka suara, tapi Daryan belum selesai. “Tidak usah mengelak, ini bukan pertama kalinya aku melihat ini, Arfan! Taman, cafe, dan ...,” suaranya merendah, penuh intimidasi. “Kamu ini dokter atau pacar sewaan, huh?!” Alis tebal Arfan langsung bertaut, bukannya tersinggung dengan ucapan Daryan dia hanya mengulas senyum tipis. “Mari kita bicara sebagai teman saja, supaya lebih enak,” katanya dengan nada angkuh. “Aku dokter, dan kamu CEO. Apa yang kamu ketahui tentang bisnis, belum tentu aku ketahui ... begitu pula sebaliknya.” Daryan menyeringai tipis, penuh sindiran. “Kamu pintar bicara, ya? Sayangnya, kamu terlalu sering muncul di tempat yang bukan seharusnya. Kalau konseling, lakukan di ruang praktik. Bukan di taman. Bukan di cafe. Atau kamu memang sengaja pakai jas putih itu buat kedok?” Arfan tida
“Tahanan nomor 415, dapat kunjungan,” teriak petugas penjara, suaranya keras hingga terdengar oleh Bella yang tengah duduk bersandar di dinding dengan tatapan kosong usai membersihkan halaman belakang kantor. Tapi wanita itu sama sekali tidak bergerak, ia tak sadar kalau nomor tahanan yang dipanggil oleh petugas adalah miliknya. “Tahanan nomor 415 atas nama Bellastia Cardenza mendapatkan kunjungan,” petugas berteriak lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Begitu mendengar namanya, Bella terlonjak kaget. Ia buru-buru bangkit, sapu dan sekop di tangannya terjatuh ke lantai. “Saya dapat kunjungan?” tanya Bella pada petugas wanita yang menatapnya dingin. “Hm,” sahutnya singkat, “Ayo ikut saya.” Bella dengan cepat mengekori langkah petugas, “Ini pasti kak Dewa, dia pasti berubah pikiran dan bakal bawa aku keluar dari sini. Semoga.” Ia mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, berdoa dan penuh harap. Sebelum masuk ke ruang kunjungan, petugas tadi memakaikan borgolnya kem
Saat ini Daryan baru saja tiba di basement apartemen istrinya. Ia tak langsung turun untuk naik ke lantai atas, melainkan memeriksa apakah sang istri sudah tiba di apartemen. Daryan mengeluarkan iPadnya, dan terlihat sang istri sudah pulang. Ia mengangkat alis saat Savana terlihat duduk di tepi ranjang dengan jumper bayi biru muda yang dipeluk erat. Wajahnya yang biasanya penuh kelabu kini terlihat hangat. Bahagia. Savana menciumi pakaian mungil itu, seolah sedang memeluk bayi. Daryan mengerutkan kening, hatinya mendadak bergetar aneh. Ia tak tahu pasti apakah itu kelegaan, haru, atau justru kecurigaan. Segera, ia meraih ponselnya dari saku jasnya dan menekan nama istrinya di layar ponsel. Savana mengangkat setelah beberapa detik, suaranya terdengar agak parau, mungkin karena tangis yang sempat reda. “Halo?” “Aku di basement,” ujar Daryan singkat. “Aku di jalan mau ke apartemen kamu. Aku pengen ketemu sama kamu sayang, boleh kan? Kamu udah pulang kan dari konseling?” Sav