Jangan lupa dukung buku ini dan follow akun author, terima kasih🫶🏻🌸 Info visual tokoh Daryan dan Savana di IG: @langit_parama
Setelah makan malam yang canggung dengan ibunya, Savana merasa ada yang mengganjal di hatinya. Kebenaran tentang Daryan yang melaporkan Ajeng ke polisi masih menggerogoti pikirannya. Ia mengangkat ponselnya, menggenggamnya erat, namun tidak segera menekan tombol panggilan. Keinginannya untuk berbicara dengan Daryan datang begitu kuat, namun ada kebingungan yang membuatnya ragu. Apa yang akan ia katakan? Apa yang harus ia katakan? Rasanya begitu banyak emosi yang berkecamuk dalam dirinya—kecewa, malu, dan bahkan takut. Akhirnya, setelah beberapa detik, Savana memutuskan untuk menekan tombol panggilan. Matanya menatap layar ponsel, melihat nama Daryan muncul di sana. Jantungnya berdebar cepat, perasaan cemas menyelimuti dirinya. Di sisi lain, Daryan sedang sibuk mempersiapkan diri untuk rapat penting dengan kolega-koleganya di restoran. Ia masih duduk santai di ruang kerjanya mengenakan jas hitam rapi. Pintu ruang kerjanya terbuka, Revanza masuk dengan santai. "Ayo, berangkat
Savana baru saja memasuki apartemennya setelah lama menghabiskan waktu di luar. Badan terasa lelah, namun pikirannya justru semakin kacau seiring dengan langkahnya menuju ruang tamu. Saat melewati dapur, suara percakapan yang tak sengaja ia dengar membuat kakinya terhenti. Di dapur, Hana sedang berdiri di samping Minah yang sedang memotong bahan makanan untuk makan malam mereka. Tangan Savana langsung membeku di tempatnya ketika kata-kata mereka mulai jelas terdengar. “Gimana, Bu, sidangnya hari ini bagaimana? Mbak Bella dan Nyonya Ajeng sudah diputuskan hukuman berapa tahun penjara?” tanya Minah di sela-sela tugasnya. Savana tertegun, jantungnya berdetak lebih cepat. Bella dan Ajeng dipenjara? Kenapa dia baru tahu sekarang? Tapi kalau dipikir-pikir, wajar saja dia tak tahu karena tidak pernah bermain media sosial—fokusnya selama ini hanya pada kesembuhannya. “Kalau Bella, dia dapat hukuman delapan tahun penjara. Sedangkan Bu Ajeng lima tahun. Sebenarnya bisa dikurangi, karena
Savana duduk di kursi penumpang mobil Arfan, matanya menatap ke luar jendela, melihat jalanan yang semakin ramai. Ia pikir Arfan hanya butuh waktu sedikit, tapi pria itu malah mengajaknya pergi meninggalkan area kampus. Terpaksa Savana ikut dan meninggalkan Rinka. Arfan tampak fokus mengemudi, pandangannya tak lepas dari jalanan yang terus melaju. Tiba-tiba, suara Savana memecah keheningan di antara mereka. "Ada apa, dok?" Suaranya tenang, meskipun di dalam hatinya penuh pertanyaan. Arfan menoleh sekilas ke arah Savana, masih menjaga konsentrasi di jalan. "Bagaimana dengan kondisi kamu? Sudah benar-benar sembuh? Sudah tidak kesulitan tidur lagi dan terbayang Arkana?" Arfan mengeluarkan pertanyaan itu dengan suara yang sedikit lebih serius, seakan ingin memastikan bahwa terapi yang dia lakukan memang berdampak. Wanita itu mengangguk pelan, bibirnya bergetar tapi mencoba tersenyum, "Udah gak lagi, Dok. Makasih, ya." Arfan menatap Savana dengan tatapan yang sulit dibaca, men
Pagi itu, udara kampus terasa lebih dingin dari biasanya. Savana berjalan perlahan memasuki gerbang Fakultas Kedokteran, tempat yang sudah lama tidak ia singgahi selama satu semester. Pikirannya berserabut, seolah ada ribuan hal yang saling bertabrakan dalam kepalanya. Banyak hal yang harus dikejar: pelajaran yang tertinggal, tugas-tugas yang menumpuk, dan terlebih lagi bagaimana dirinya harus kembali menghadapi dunia yang tahu betul tentang kisah kelamnya. Rinka sudah menunggu di depan gedung fakultas. Senyumnya lebar, meskipun Savana bisa melihat ada sedikit kecemasan di mata sahabatnya itu. Rinka tahu betul apa yang baru saja dilalui oleh Savana, dan meskipun tidak ada kata yang perlu diucapkan, Rinka bisa merasakan beban yang dipikul oleh temannya itu. “Savana!” seru Rinka dengan suara ceria yang terdengar begitu kontras dengan suasana hati Savana. “Akhirnya, kamu kuliah lagi! Aku khawatir kamu gak bakal berani masuk lagi.” Savana tersenyum tipis. “Aku harus masuk lagi, Ri
Arfan baru saja menyelesaikan sesi konseling dengan salah satu pasiennya. Udara di ruang praktik terasa hening, hanya ada suara jam dinding yang berdetak perlahan. Ia menarik napas panjang, merasa lega bisa membantu pasiennya yang cukup sulit. Namun, belum sempat ia duduk untuk bersantai, pintu ruangannya terbuka perlahan, dan Revanza masuk tanpa mengetuk. Dahi Arfan langsung mengernyit, “Revanza? Ada apa?” Arfan bertanya, sedikit terkejut namun tetap tenang, mencocokkan sikap profesionalnya. Revanza menatapnya dengan senyum tipis, yang lebih terasa seperti sebuah intimidasi. Tanpa banyak bicara, pria itu meletakkan sebuah cek ke atas meja Arfan. “Apa ini?” Arfan bertanya, mencoba menebak. “Cek senilai lima ratus juta,” jawab Revanza tanpa ekspresi, suaranya tenang namun cukup berat untuk didengar. Arfan memandangnya dengan alis terangkat, bingung. “Lima ratus juta? Untuk apa?” Revanza duduk di kursi depan meja Arfan tanpa dipersilakan, tangannya mengedarkan cek itu ke a
“Dokter Arfan baik lho, Mas. Dia bahkan luangin waktunya buat aku bahkan tengah malem sekalipun!” kata Savana dengan nada tajam. “Tengah malem?” sebelah alis Daryan terangkat sinis. “Jadi, selama ini—“ ia menggigit bibirnya pelan, hampir saja keceplosan kalau dia setiap hari selalu memantau istrinya lewat CCTV di apartemen. “Selama ini apa?” ulang Savana ketus, “Selama ini aku komunikasi sama dokter Arfan bahkan di luar konsul? Iya, Mas, emang bener kayak gitu!” Tatapan Daryan langsung tajam, tak menyangka Savana akan mengaku secara terang-terangan seperti itu. “Di mana aku bisa nemuin psikolog sebaik dokter Arfan?” Suara Savana bergetar tapi tegas, dagunya terangkat tinggi menatap sang suami. “Gak ada. Cuma dokter Arfan yang bisa seperti itu. Dia kerja profesional, Mas. Aku yang selama ini susah tidur, gak perlu obat, gak perlu pelukan, gak perlu distraksi. Cukup ngobrol sama dokter Arfan lewat telepon, aku bisa tenang. Aku bisa tidur.” Daryan melangkah pelan, mendekatinya.