LOGINSelama dua belas tahun, Damar Wijaya mencari wanita masa lalunya, gadis kecil yang dahulu pernah menyelamatkan hidupnya, tak ia temukan keberadaannya dimana pun, sampai pada akhirnya ia dipaksa menikah oleh sang kakek dengan wanita yang tidak dicintainya. Dan suatu hal mengejutkan jika sebenarnya wanita itu adalah ....
View MoreLydia's POV
Hatred. A word that never existed in my vocabulary until I met Cornelius Powers.
You probably must be wondering how a woman such as myself, a classy and successful reporter would loathe a billionaire such as him. I've always gone to church, gave tithes and helped the needy but what did I get in return? A knuckle sandwich aimed right in my face. Now imagine this cause it's real! It's a beautiful Monday morning, your boss who has seen you work your ass for years gives you a promotion and a brand-new car. What could go wrong right?
Getting home, you call your boyfriend but all you get to hear is funny noises coming from the bedroom. Your stupid head tells you that it is your boyfriend jerking off but when you check it out, what you see makes your jaw drop and I mean it quite literally. On your bed is your boyfriend sucking another man's cock and behind him is a whore pulling a dildo in and out his ass. Now this is where Cornelius Powers came in.
Before you go jumping in the wrong way, no he was not my ex boyfriend! On the contrary he was the guy getting a blowjob from my ex with a stupid smug on his face directed at a shocked me. From then on, everywhere I kept going he was there. Every news report I got was about him! Every time I needed to get some scoop of a shady drug cartel somehow it would always lead me to him.
It was like I was stuck in a time loop where me seeing him was a regular jam. Calming my nerves and doodling with my pen, I looked over the papers that lay in front of me. Working for The Daily Politan was no easy job and that's why I liked it. It made me forget of how lonely my life was. Still at the age of twenty nine with no man in my life except the douche I left two years ago.
"I do not pay you to sit around Hayden," Jack scolded and I rolled my eyes.
Still the grumpy old bastard he was then.
The smell of latte headed in my direction tingled my nose hairs. Only Jessica my co worker knew how much I loved latte.
"Lemme guess, you drifted off again," she asked handing me the cup of latte.
"What can I do but dream of a perfect life where that stinking scumbag doesn't exist," I joked.
Jessica's lips quivered slightly almost like a frown was setting up on her pale face. This was weird because she knew how much I hated Cornelius Powers and how I'd rant about his disgusting behaviors all day to my heart's content.
"I'm guessing you haven't heard the news"
"What news?" I sipped my latte my eyes still darting on her.
"Dia, his father died. Benson Flores Powers was murdered last night in a bar fight"
She said and I somehow felt bad. Suddenly the latte didn't taste that good. Was I actually pitying him? I mean I don't know what I would do if my old man died. Heck even thinking about it made my lungs collapse. Ooh well, we all lose people now and then as unfortunate as it maybe.
Just between me and you, the hatred I still had for Cornelius was still fresh and raw. Sure he might be grieving but after that he'd go back to his old ways. His playboy acts, wrecking other people's relationships just like he did with mine and Justin's and on top of all; go on with his life as if he was the world's most innocent saint!
*****
This is my next project, a love hate relationship between Lydia Hayden, a nosy but down to earth reporter and Cornelius Powers, rebellious and a major playboy.
Cepat ia merogoh saku mengambil gawai pintarnya. Menghubungi pihak berwajib. Terlihat Delia duduk berjongkok memegangi kaki Damar. "Tolong jangan penjarakan aku," pintanya dengan memasang wajah menyedihkan. Ia sudah tidak dapat melanjutkan drama itu karena Damar sudah membuka kedoknya. Dengan satu kakinya ia menendang tubuh Delia hingga tersungkur. Ia meraih gelang hitam ditangannya, menariknya paksa. "Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mulutmu!! Kau sudah menunjukkan betapa dirimu sangat menjijikkan!!""Cukup Damar, cukup!!" serunya masih tidak terima atas umpatan Damar padanya. Tubuhnya gemetaran karena ia tak siap untuk dipenjarakan."Ternyata selama ini, kalian bersekongkol untuk menipuku!! Lian telah menyuruhmu menjadi Hanna. Dan kau membuat sandiwara yang sangat hebat, wanita penipu!! Aku sangat bodoh telah mempercayaimu. Malah aku sudah menyia-nyiakannya cinta tulus Anna untukku, harusnya aku dari awal percaya pada Anna. Saat ini aku sadar, jika Lian berusaha membunvh
"Sudahlah Kakek ... Kakek terlalu mengkhawatirkan Anna. Damar yang menyuruh Anna memasak! Biar dia ada gunanya di rumah ini!"Kemarahan kakek yang sudah diambang batas akhirnya meledak. Ia melempar piring ke lantai hingga pecah berkeping-keping."Kamu sudah keterlaluan!! Dasar cucu bodoh!! Sampai kapan kau buta!! Kamu tak bisa melihat wanita didepan kau ini siapa??!" Kakek ingin membongkar rahasia Anna sekarang. Rasanya ia tak sanggup melihat penindasan Damar pada Anna. Anna yang mengerti jika Kakek akan membongkar rahasianya itu menggeleng kepala. Sebagai isyarat, 'Jangan katakan pada Damar sekarang.'Tanpa Damar tahu, Anna memohon untuk tidak mengatakannya. Kakek yang melihat wajah Anna penuh permohonan itu pun menggeleng. 'Maaf Nona Anna. Kali ini Kakek akan mengatakan semuanya pada Damar.' Seketika Anna menunduk lemas."Maksud Kakek apa?? Apa kakek juga ingin menjelaskan jika Anna adalah Hanna? Begitukah?" tanya Damar dengan emosi tersulut."Tuan Damar, alangkah baiknya jika na
Sebuah tamparan mendarat di pipi Damar. "Cucu kurang ajar!!" umpatnya. "Kakek tidak mendidik mu untuk melukai hati wanita yang baik seperti Nona Anna."Manik mata Damar sedikit melebar, sembari memegangi pipinya karena panas. "Bisa-bisanya kakek membela Anna!" bantah Damar."Ya karena kamu adalah cucu kurang ajar!! Kamu bicara seolah tak punya otak. Mudah sekali mengatakan perceraian! Memang kau pikir pernikahan adalah sebuah mainan?? Kakek sudah mempertemukan kau denhan Nona Anna. Wanita yang tulus." Rasanya Kakek geram melihat cucunya."Kakek telah diperdaya oleh wanita hina itu!!" ucap Damar dengan menunjuk ke arah Anna berdiri."Diam kau Damar!!"Kakek Wijaya menatap tajam ke arah Delia. Menumpahkan kemarahannya yang tertahan. "Dan kau!! Aku muak melihat wanita sepertimu! Lekas kau angkat kaki dari rumah ini!! Wanita penuh dengan kemunafikan!! Pembohong!!" cemooh kakek. Damar yang mendengarnya tak terima. "Cukup Kakek! Hentikan ucapan Kakek!! Dari dulu sampai sekarang kakek tida
Siang itu, matahari menggantung malas di langit yang sedikit berawan. Setelah melewati masa krisis dan perawatan intensif, Anna akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Meski tubuhnya masih lemah, senyum hangat tetap menghiasi wajahnya yang pucat. Di sisinya, Damar berjalan pelan, membawa tas kecil berisi obat dan perlengkapan pribadi Anna.Karena Damar pun harus kembali ke rutinitas kerjanya di kantor, beberapa hari ia terpaksa absen, demi menuruti perintah kakeknya menjaga Anna. Ada dokter juga yang akan memeriksanya, memantau perkembangan keadaan Anna setiap harinya.Damar tanpa Lian bekerja lebih berat, ia turun dari mobilnya membuka pintu untuk istrinya. Bukan tanpa alasan, ini atas dasar perintah sang kakek."Turun, tak usah manja!" celotehnya. Anna turun dengan perlahan-lahan. Mobil kakek yang menyusul dari belakang pun berhenti tepat disamping mobil Damar.Ia dengan bantuan supir segera turun, melihat perlakuan Damar pada Anna, ia pun berteriak. "Damar!! Papah istrimu! Kea
Mobil mewah Damar melesat cepat. Ia menaikkan beberapa kali tingkat kecepatan agar lekas sampai ditempat tujuan. Sudut bibir yang terangkat tak sedikit pun turun. Ia merasa hari ini, ia harus merayakannya. "Asisten Lian ... Aku akan berikan hadiah besar untukmu! Pekerjaanmu tidak pernah mengece
Jam menunjukkan pukul lima sore. Ia terpaksa menambah jam kerjanya karena pekerjaan itu belum selesai. Ia harus menyelesaikan pekerjaan ini. Anna menatap layar komputernya sampai matanya memerah. Ia berdiri sejenak, melepaskan otot yang sudah kaku seharian duduk di kursi putarnya. Berjalan menuju
Setelah keadaan Damar membaik, ia pergi ke Jakarta mencari Hanna. Tidak ada informasi yang jelas mengenai gadis itu, ada yang mengatakan ia di adopsi keluarga kaya dan mereka menyembunyikan identitasnya. Entahlah keluarga Amar tidak dapat menemukannya. Dan terpaksa Damar kecil di ajak tinggal di lu
Amar histeris melihat tubuh Hanna terpelanting setelah mobil itu menabrak tubuh kecilnya. Terlihat tubuh gadis itu bersimb4h d4r4h. Bibir kecil Amar ingin berteriak, namun ia juga merasakan sakit luar biasa dikepala. Saat tangannya mengusap kulit kepalanya, ia melihat cairan merah segar disana. "












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews