Share

Bab 3

Author: Raize
Dengan wajah tanpa ekspresi, aku kembali naik ke panggung pernikahan.

Kami pun melanjutkan rangkaian acara berikutnya.

Seseorang menutup pintu aula pernikahan. Elbron berdiri kaku di tempat. Dia tidak bergerak sama sekali, sementara tatapan matanya dipenuhi keterkejutan.

Prosesi pertukaran cincin pun berlangsung, lalu kedua belah pihak mengucapkan janji pernikahan.

Saat memasuki sesi bersulang anggur, aku mengambil ponselku dan melihat Elbron telah mengirim beberapa pesan secara berturut-turut.

[Apa maksud adegan barusan?]

[Carolla, kamu lagi mempermainkanku?]

Memang benar, semua itu kulakukan dengan sengaja.

Aku benar-benar sudah lelah dan tidak ingin lagi menjadi orang yang selalu siap dipanggil dan disuruh sesuka hati oleh Elbron.

Aku berharap Elbron tahu batas dan berhenti sampai di sini.

Aku tidak membalas pesan Elbron. Saat aku hendak memblokir nomornya, telepon dari pria itu masuk.

Aku menolak panggilan itu, tetapi dia menelepon lagi.

Berhubung tidak ada pilihan lain, aku mengangkat panggilan Elbron.

Suaranya terdengar dipenuhi amarah yang dalam.

"Carolla, aku kasih kamu waktu tiga menit. Keluar sekarang dan jelaskan semuanya dengan baik."

Aku menjawab dengan santai, "Elbron, taruhannya sudah selesai, 'kan? Bukannya kamu sendiri cukup puas dengan hasilnya?"

Di seberang sana, Elbron menarik napas dalam-dalam seolah sedang menahan sesuatu.

Aku hendak menutup telepon, tetapi pria itu tiba-tiba mengubah nada bicaranya.

"Demi membuatku kesal sekali saja, kamu sampai berani melakukan sejauh ini. Pernikahan palsu ini seru ya?"

"Pernikahan palsu?"

"Carolla, dengarkan baik-baik. Setelah hari ini, kamu nggak akan punya kesempatan lagi untuk menemuiku."

Elbron memang selalu sombong dan merasa paling hebat.

Hanya saja tidak peduli Elbron memercayainya atau tidak, aku sudah tidak peduli lagi.

Setelah terlibat dengan Elbron begitu lama, aku benar-benar merasa jenuh.

Aku mengusap pelipisku, lalu berkata terus terang, "Baguslah kalau begitu."

Aku pun menutup telepon. Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi tubuhku dari samping.

Aku menoleh dan berhadapan dengan wajah Geraldo Handoko yang tampan dan menonjol.

Pria itu bersandar di sisi dinding. Tubuhnya sedikit lebih tinggi daripada Elbron. Setelan jas hitam yang dikenakannya memancarkan tekanan yang sulit dijelaskan.

"Lagi telepon?"

Aku tertegun sejenak. Entah kenapa, aku merasa kalimat itu mengandung ketidaksenangan yang samar.

Akan tetapi, aku dan Geraldo belum lama saling mengenal. Keputusan untuk menikah juga dibuat secara mendadak.

Sebelum aku sempat berbicara, Geraldo tiba-tiba membungkuk ke arahku.

Napasnya terasa sangat dekat hingga aku tanpa sadar menahan napas.

Pertanyaan "bukankah ini sedikit terlalu cepat" belum sempat kuucapkan.

Namun, Geraldo sudah mengambil sebuah gelas dari meja di sampingku, lalu menatap telingaku yang memerah sambil tersenyum.

"Gimana kalau kita rayakan dengan minum satu gelas?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 19

    Menjelang akhir musim dingin.Aku menerima telepon terakhir dari ElbronDalam ingatanku ....Kondisi mental Elbron sudah agak kacau. Kesadarannya pun tidak sepenuhnya jernih.Namun pada hari itu, bicaranya justru terdengar cukup jelas."Carolla ... ini Carolla ya?"Aku menghela napas."Elbron, kamu terlalu sering ganti nomor."Beberapa saat kemudian, terdengar tawa pahit dari seberang sana.Elbron tidak bisa berkata apa-apa.Hanya terdiam kaku dalam keheningan.Saat aku hendak menutup telepon. Dia tiba-tiba memberitahuku sesuatu."Carolla, dokter bilang aku kena kanker. Aku nggak punya banyak waktu lagi."Aku merespons dengan gumaman."Kalau begitu, manfaatkan sisa waktumu dengan baik."Saat berikutnya, Elbron tersedak dan menangis di dalam telepon.Elbron adalah orang yang sangat angkuh.Aku tidak pernah membayangkan ada hal yang bisa membuatnya menangis seperti itu.Pria itu lalu bertanya padaku, "Carolla, menurutmu kalau dulu aku nggak pergi ke luar negeri, apa kita sudah nikah seka

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 18

    Aku dan Geraldo keluar dari kantor polisi bersama."Aku benaran nggak menyangka kamu juga bisa main licik begini. Bilangnya mau melepaskan mereka, tapi pada akhirnya malah sampai datang ke kantor polisi."Geraldo memeriksa memar di pergelangan tanganku dengan saksama.Dengan nada sangat serius, Geraldo menanggapiku."Kalau lain kali bertemu dia lagi, kamu harus lebih hati-hati."Entah kapan akan ada lain kali.Begitu melihat Shanice barusan, aku langsung mulai merekam suara.Wanita itu mempunyai kekuasaan dan pengaruh sehingga bisa dengan mudah membuat dua pengawal itu menggantikannya untuk dihukum.Namun sekarang, bukti hasutan untuk melakukan kekerasan sudah jelas. Bagaimanapun, Shanice tetap harus ditahan setidaknya dua bulan.Belum berjalan jauh, aku dan Geraldo bertemu Elbron.Di punggung tangannya masih terlihat bekas jarum infus, bahkan masih berdarah.Elbron berlari tergesa-gesa ke arahku."Carolla, aku baru dengar Shanice bawa orang untuk memukulmu. Apa kamu baik-baik saja?"G

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 17

    Setelah itu, sudah cukup lama aku tidak melihat Elbron.Kalau dibilang pria itu tiba-tiba menjadi kalem dan tidak bikin masalah lagi, itu jelas tidak mungkin.Aku tahu, kemungkinan besar Geraldo yang bantu menahannya agar tidak mendekatiku.Suatu kali, saat aku sedang makan bersama seorang teman.Dengan penuh semangat, dia menceritakan gosip kepadaku."Elbron baru-baru ini dipukuli sampai masuk rumah sakit. Kamu tahu nggak?"Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.Aku jadi agak penasaran.Sejak kembali dari luar negeri, Elbron memang mengumpulkan cukup banyak sumber daya dan relasi.Hanya dari investasi saja, pria itu sudah mengumpulkan modal yang lumayan besar.Aku tidak menyangka ada orang yang berani memukulinya."Pelakunya adalah Shanice. Anak orang kaya itu nggak bisa menelan amarahnya."Aku menggoyangkan gelas minumanku pelan.Aku langsung mengerti.Wanita-wanita di sekitar Elbron sebenarnya tidak pernah benar-benar kukenal.Bagi Elbron, mereka semua hanyalah mainan.Tidak ada b

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 16

    Semua ini terasa terlalu kebetulan.Saat Geraldo turun ke bawah untuk membuang sampah, aku bertanya kepada orang itu, "Sudah berapa lama kamu kenal sama Geraldo?""Sejak kuliah. Dia nggak pernah cerita ke kamu ya?"Aku tertegun sejenak."Nggak pernah. Cerita apa?"Orang di depanku jelas ikut terkejut.Dia pun menepuk meja."Tunggu. Aku tahu Geraldo memang jago menyimpan sesuatu, tapi nggak disangka dia bisa menyimpannya begitu lama.""Sudah menikah pun masih canggung begitu. Buat apa sih?"Orang itu lalu bercerita kepadaku bahwa Geraldo satu kampus denganku.Bahkan, saat Elbron menyatakan perasaan kepadaku lewat permainan Jujur atau Tantangan ....Geraldo juga berada di sana."Kamu nggak tahu, waktu itu dia benar-benar kelihatan tersiksa.""Dia terus-terusan bertanya padaku, kenapa orang yang datang belakangan bisa menang padahal jelas-jelas dia yang lebih dulu mengenalmu."Aku mengenal Geraldo?Aku mencoba berpikir lagi dengan saksama.Namun, tidak ada ingatan apa pun tentang Geraldo.

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 15

    Aku terdiam menyaksikan semua itu.Yang kurasakan hanya betapa gilanya keadaan ini.Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tumit sepatuku dan menginjak kaki Elbron dengan keras.Saat Elbron terkejut dan menahan sakit, aku menarik tanganku, lalu mengibaskan pergelangan tanganku."Kamu ini mau bikin aku merasa jijik ya?""Dengan memberitahuku semua ini, kamu pikir dirimu jadi kelihatan tulus atau mungkin aku akan memaafkanmu?""Aku ....""Oh, apa aku bahkan nggak pantas mendengar kata maaf darimu? Lagian setelah kamu pulang dari luar negeri, kamu nggak pernah kekurangan wanita. Dibandingkan dengan mereka, aku ini cuma seorang mantan yang sama sekali nggak berarti. Di hatimu, mungkin aku bahkan nggak pernah dianggap sebagai manusia, cuma cocok jadi cadangan seumur hidupmu."Elbron buru-buru menyangkal."Bukan, aku nggak berpikir seperti itu.""Aku cuma nggak sadar bahwa aku masih mencintaimu."Aku tertawa sinis."Kalau begitu, silakan kamu sadari itu pelan-pelan. Aku bilang banyak

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 14

    Aku benar-benar merasa bingung.Tatapan orang-orang yang berlalu-lalang di kafe itu tertuju ke arah kami. Semuanya terlihat sedikit heran.Kalau diperhatikan baik-baik ....Penampilan Elbron sama sekali tidak bisa dibilang pantas.Rambutnya berantakan, jelas sudah lama tidak dirapikan dengan sungguh-sungguh.Keletihan di wajah pria itu sama sekali tidak bisa disembunyikan.Aku mengernyit pelan."Ada urusan apa?"Begitu kata-kataku dillontarkan, mata Elbron langsung memerah."Carolla, akhir-akhir ini setiap kali melihat lokasi IP kamu, aku langsung mengejarmu. Tapi, kenapa kamu terus menghindar dariku?""Aku cuma ingin bicara baik-baik denganmu."Menghindari Elbron?Aku memikirkan kembali semua yang terjadi sebelumnya.Kemudian, aku mengerti.Seandainya aku bertemu dengan Elbron saat liburan kemarin, itu memang akan sangat mengganggu.Sekarang pun, rasanya tetap mengganggu.Aku segera berdiri."Elbron, aku nggak berniat menghindarimu. Tapi memang benar, aku juga nggak mau bertemu dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status