Mag-log inPada hari aku menikah, teman masa kecilku datang untuk merebutku. Dia membawa sekelompok besar teman-temannya dan menendang pintu aula pernikahanku hingga terbuka. Teman masa kecilku itu mengaku ingin menikah denganku dan mengajakku kabur dari pesta pernikahan. Hanya saja tidak lama setelah kami keluar, dia melepaskan tanganku dan berbicara sambil tersenyum santai, "Semuanya, aku menang taruhan lagi. Ini yang ke-100 kalinya. Yang kalah, bayar sesuai janji awal ya." Kemudian, teman masa kecilku itu menoleh ke arahku. "Aku cuma bercanda doang. Kamu nggak benar-benar menganggapnya serius, 'kan? Kamu bisa masuk lagi dan melanjutkan pesta pernikahanmu." Mereka semua mentertawakanku yang sudah mengejar dan merendahkan diri demi Elbron Cahyadi selama sepuluh tahun. Bahkan, selama ini aku rela melakukan apa saja demi dia. Akan tetapi mereka, termasuk Elbron, tidak tahu bahwa adegan pengantin direbut itu hanyalah salah satu bagian dari acara pesta pernikahanku.
view more"Jamunya Mas," Suara merdu mendayu berjalan lenggak lenggok menawarkan Jamu yang Ia gendong setiap pagi.
"Halo Sayang, biasa ya! Buat Mas. Jamu Kuat!" "Eits, Mr, Abang juga dong! Udah ga sabar nih! Jamunya satu ya!" "Marni Sayang, jadi Istri Aa aja ya Neng! Ga usah jualan jamu lagi!" Marni hanya membalas dengan senyuman setiap ratuan dan gombalan para pelanggannya yang setiap hari tak pernah absen menunggu kedatangan dirinya. "Ini, jamunya Mas, Abang, Aa, diminum cepet! Selagi hangat!" Tak lupa senyuman manis Marni yang menggoda membuat setiap pelanggannya yang mayoritas kaum berjakun dibuat meriang atas bawah. Marni menerima gelas-gelas kosong menuangkan air jahe hangat sebagai penetral pahitnya jamu yang diminum oleh pelanggannya. "Jahenya Neng banget!" Sambil mengembalikan gelas kosong pada Marni. "Kenapa Aku toh Aa?" "Manis!" Tawa genit Asep salah satu member Jamu Marni yang tak pernah absen menunggu jamu Marni. "Sa Ae Lu pinggir koreng! Modus Lu! Modal Kardus!" Bang Urip yang juga pelanggan setia Marni mengeplak kepala Asep tanpa dosa. "Jangan dengerin Mereka Dek, pokonya sama Mas Joko aja, dijamin hidup tentram." Joko memasang senyum mesum malah membuatnya diamuk kedua rekan sesama kuli bangunan, Asep dan Urip. "Pale Lu Tentram! Noh Anak Bini urusin! Duda bapuk Lu!" Tawa Urip kembali meledek Joko. Sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi Marni melihat pelanggannya saling ribut dan berdebat saat menjkmati jamu buatannya. "Atang Marni mau kemana? Buru-buru amat. Abang kan masih kangen ini!" Urip membantu Marni mengijat bakul Jamu. Tentu saja Urip dan Joko tak mau kalah bahu membahu menolong Marni yang sudah siap akan kembali keliling. "Dah Aa, Abang, Mas, dilanjut lagi kerjanya. Besok tak mampir lagi. Jangan lupa beli lagi. Sekarang Aku mau keliling lagi. Nanti keburu siang. Permisi." Marni memberikan kiss bye buat ketiga pria yang kini sudah meneteskan liurnya melihat bongkahan bumper belakang milik Marni yang bergeal-geol. "Astaga Naga! Tuh bumper pulen amat ya! Bikin pikiran Gua ngeres aje!" Bang Urip sampai ternganga seolah Marni masih ada dipelupuk matanya. "Duh Gusti, tak kelonin bawaannya kalo lihat si Marni!" Joko mengusap dadanya namun entah apa yang dibayangkan hingga juniornya ikut upacara. "Rip! Ko! Lah Marninya udah ga ada! Da Kalian kenapa atuh masih mandangin jalan. Mana Lu Ko, itu Otong diamanin! Baperan amat! Gitu aja bangun!" Urip melirik kearah celana Joko yang memang sudah menonjol, "Buseng dah Ko! Lu Engas banget jadi laki! Ngeri dah!" "Loh! Ya Aku kok ditinggalin! Gawat ini! Telat bisa dipecat sama mandor!" Joko berlari menyusul kedua rekan sesama kuli kembali ke protek tempat Mereka mengaus rezeki. Sementara Marni melanjutkan keliling Kampung menjajakan Jamunya. Meski tak sedikit kaum hawa berlabel Ibu-Ibu memicingkan mata. Menatap waspada karena takut Suami-Suami Mereka malah melirik Marni, Si Penjual Jamu yang seksi dan bahenol. "Jamu, Jamu! Jamune Mas, Mbakyu! Jamu kuat! Jamu rapet! Jamu Galian Singset! Pokoke segala Jamu ada di Marni!" Marni mengusap keringat yang mengucur di dahinya. "Marni! Jamu!" "Siap Bue cantik!" Seorang wanita memanggil Marni. Tentu saja senyuman Marni merekah. Cuan datang senyumpun mengembang. "Mar ada Jamu apa?" Si Wanita melirik pada vakul jamu Marni yang berisi banyak botol-botol dengan beragam warna. "Yo macem-macem Mbakyu yang cantik. Mvakyunya mau jamu opo toh? Ada Jamu Galian Putri. Jamu Galian Singset, Jamu Sari Rapet, atau ini rahasia tapi wes tak kasih bocoran buat si Mbaknya, Ramuan Madura Asli, bikin rapet, keset dan greget!" Kalimat terakhir Marni bisikan meski terdengar juga. "Serius itu Mar. Khasiatnya Oke ga!" Penasaran dong si Wanita dibuat oleh Marni. "Ck, dijamin, manuk'e si Mas kalo masuk bisa kelojotan kalo Mbakyunya habis minim ini." Setelah membisikan kata-kata fantastis Marni mengedipkan mata pada si pelanggan. "Boleh deh. Cuba satu!" "Siap! Tak racikin dulu. Mbaknya sabar ya." Marni dengan piawai meracikan Jamu pelanggan sang Pelanggan. "langsung diminum selagi anget. Wes tunggu 1 jam kalo mau tempur. Kalau mau malem juga masih ada khasiatnya." Tanpa ragu sang pelanggan meneguk Jamu racikan Marni dengan perasaan dag dig dug. "Eee! Pahit Mar!" Ekspresi mencebik setelah menuntaskan segelas Jamu Pamungkas yang diberikan Marni. "Ini, minum dulu. Biar pahitnya ilang." Marni menuangkan air jahe kegelas dan langsung ditenggak hingga tandas oleh sang pelanggan. "Tambah lagi Mbakyu?" "Cukup Mar. Bisa kembung Saya." "Pokoknya. Nanti malam si Mas bakal nambah-nambah. Percaya deh sama Marni." "Bener ya!" "Dijamin!" "Berapa Mar?" "Khusus yang tadi karena Ramuan Khusus jadi sepuluh ribu saja Mbakyu." "Dua kali lipet ya Mar dari Jamu biasa." "Ya kan itu khasiatnya super Mbakyu. Rapopo toh, mahal sedikit tapi dijamin sesuk pasti bakal nyariin Marni." "Loh kok malah nyariin Kamu?" "Maksud Marni nyariin buat beli Jamu lagi toh!" "Kirain! Awas aja kalo Lu berani ngembat laki Gw!" "Wah, Mbakyu jangan kuatir, Marni begini-begini ga nafsu sama laki orang! Tapi kalo Lakinya yang nyosor ya jangan salahin Marni toh!" "Dah sana Mar, keliling lagi!" "Lah ini juga mau keliling. Makasi Mbakyu, semoga langganan terus yo!" Marni tak ambil pusing dengan semua ucapan apapun yang diucapkan para pelanggannya. Bagi Marni selama Jamu jualannya laris manis, pulang botol kosong bawa duit banyak sudah bikin Marni bahagia. Walaupun tak sedikit cemoohan dan stigma negatif yang disudutkan kepadanya. Tapi Marni tetap cuek saja. Karena baginya yang penting jamunya laris dan cuan. Di otak Marni hanya ada Cuan, Cuan dan Cuan. "Alhamdulillah. Laris manis tanjung kimpul. Jamune laris, duite kumpul! Ah senengnya Aku. Wes pulang sekalian belanja bahan bikin Jamu." Marni yang duduk dibawah pohon sambil membuat air bilasan gelas yang sudah bersih. Botol-botol kosong yang ada dalam bakul gendongan kembali ringan tak seberat saat baru keluar karena penuh terisi Jamu. Berganti dompet kain batik milik Marni yang kini penuh hasil berjualan Jamunya dari pagi hingga tengah hari. "Alhamdulillah. Setiap hari begini. Tapi kok yo Marni ga kaya-kaya ya. Lah mau beli motor second aja belum keturutan." "Wes lah. Sing penting buat bayar kontrakan ada, makan yang lumayanlah walau ikan asin lagi-ikan asin lagi. Cuma ini kenapa Tabung Gas Melon pake acara langka. Marni bingung gimana kalo susah beli Gas nanti godog Jamunya mesti cari Kayu bakar." "Lagi Pemerintah yo Ada aja, tabung Gas Melon pake acara distop. Yo Marni mana mampu beli yang tabung gede. Apalagi yang warna pink. Muahal! Nanti kalo Jamunya naik ya langganan Marni kabur! Mestinya Bapak Presiden ngundang Marni biar denger keluhan penjual Jamu kayak Marni."Menjelang akhir musim dingin.Aku menerima telepon terakhir dari ElbronDalam ingatanku ....Kondisi mental Elbron sudah agak kacau. Kesadarannya pun tidak sepenuhnya jernih.Namun pada hari itu, bicaranya justru terdengar cukup jelas."Carolla ... ini Carolla ya?"Aku menghela napas."Elbron, kamu terlalu sering ganti nomor."Beberapa saat kemudian, terdengar tawa pahit dari seberang sana.Elbron tidak bisa berkata apa-apa.Hanya terdiam kaku dalam keheningan.Saat aku hendak menutup telepon. Dia tiba-tiba memberitahuku sesuatu."Carolla, dokter bilang aku kena kanker. Aku nggak punya banyak waktu lagi."Aku merespons dengan gumaman."Kalau begitu, manfaatkan sisa waktumu dengan baik."Saat berikutnya, Elbron tersedak dan menangis di dalam telepon.Elbron adalah orang yang sangat angkuh.Aku tidak pernah membayangkan ada hal yang bisa membuatnya menangis seperti itu.Pria itu lalu bertanya padaku, "Carolla, menurutmu kalau dulu aku nggak pergi ke luar negeri, apa kita sudah nikah seka
Aku dan Geraldo keluar dari kantor polisi bersama."Aku benaran nggak menyangka kamu juga bisa main licik begini. Bilangnya mau melepaskan mereka, tapi pada akhirnya malah sampai datang ke kantor polisi."Geraldo memeriksa memar di pergelangan tanganku dengan saksama.Dengan nada sangat serius, Geraldo menanggapiku."Kalau lain kali bertemu dia lagi, kamu harus lebih hati-hati."Entah kapan akan ada lain kali.Begitu melihat Shanice barusan, aku langsung mulai merekam suara.Wanita itu mempunyai kekuasaan dan pengaruh sehingga bisa dengan mudah membuat dua pengawal itu menggantikannya untuk dihukum.Namun sekarang, bukti hasutan untuk melakukan kekerasan sudah jelas. Bagaimanapun, Shanice tetap harus ditahan setidaknya dua bulan.Belum berjalan jauh, aku dan Geraldo bertemu Elbron.Di punggung tangannya masih terlihat bekas jarum infus, bahkan masih berdarah.Elbron berlari tergesa-gesa ke arahku."Carolla, aku baru dengar Shanice bawa orang untuk memukulmu. Apa kamu baik-baik saja?"G
Setelah itu, sudah cukup lama aku tidak melihat Elbron.Kalau dibilang pria itu tiba-tiba menjadi kalem dan tidak bikin masalah lagi, itu jelas tidak mungkin.Aku tahu, kemungkinan besar Geraldo yang bantu menahannya agar tidak mendekatiku.Suatu kali, saat aku sedang makan bersama seorang teman.Dengan penuh semangat, dia menceritakan gosip kepadaku."Elbron baru-baru ini dipukuli sampai masuk rumah sakit. Kamu tahu nggak?"Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.Aku jadi agak penasaran.Sejak kembali dari luar negeri, Elbron memang mengumpulkan cukup banyak sumber daya dan relasi.Hanya dari investasi saja, pria itu sudah mengumpulkan modal yang lumayan besar.Aku tidak menyangka ada orang yang berani memukulinya."Pelakunya adalah Shanice. Anak orang kaya itu nggak bisa menelan amarahnya."Aku menggoyangkan gelas minumanku pelan.Aku langsung mengerti.Wanita-wanita di sekitar Elbron sebenarnya tidak pernah benar-benar kukenal.Bagi Elbron, mereka semua hanyalah mainan.Tidak ada b
Semua ini terasa terlalu kebetulan.Saat Geraldo turun ke bawah untuk membuang sampah, aku bertanya kepada orang itu, "Sudah berapa lama kamu kenal sama Geraldo?""Sejak kuliah. Dia nggak pernah cerita ke kamu ya?"Aku tertegun sejenak."Nggak pernah. Cerita apa?"Orang di depanku jelas ikut terkejut.Dia pun menepuk meja."Tunggu. Aku tahu Geraldo memang jago menyimpan sesuatu, tapi nggak disangka dia bisa menyimpannya begitu lama.""Sudah menikah pun masih canggung begitu. Buat apa sih?"Orang itu lalu bercerita kepadaku bahwa Geraldo satu kampus denganku.Bahkan, saat Elbron menyatakan perasaan kepadaku lewat permainan Jujur atau Tantangan ....Geraldo juga berada di sana."Kamu nggak tahu, waktu itu dia benar-benar kelihatan tersiksa.""Dia terus-terusan bertanya padaku, kenapa orang yang datang belakangan bisa menang padahal jelas-jelas dia yang lebih dulu mengenalmu."Aku mengenal Geraldo?Aku mencoba berpikir lagi dengan saksama.Namun, tidak ada ingatan apa pun tentang Geraldo.
Aku terdiam menyaksikan semua itu.Yang kurasakan hanya betapa gilanya keadaan ini.Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tumit sepatuku dan menginjak kaki Elbron dengan keras.Saat Elbron terkejut dan menahan sakit, aku menarik tanganku, lalu mengibaskan pergelangan tanganku."Kamu ini mau
Aku benar-benar merasa bingung.Tatapan orang-orang yang berlalu-lalang di kafe itu tertuju ke arah kami. Semuanya terlihat sedikit heran.Kalau diperhatikan baik-baik ....Penampilan Elbron sama sekali tidak bisa dibilang pantas.Rambutnya berantakan, jelas sudah lama tidak dirapikan dengan sungguh
Aku dan Geraldo sedang berada di sebuah pulau.Aku mengambil cuti tahunan.Dalam waktu dua minggu, Geraldo sudah mengatur beberapa destinasi wisata.Aku memakai kacamata hitam sambil berjemur. Suasana hatiku sangat baik.Hari-hari tanpa satu pun hal yang mengganggu pikiran seperti ini benar-benar la
Sejak dulu, aku tidak pernah takut untuk menyukai seseorang.Dalam hubunganku dengan Elbron, aku kalah telak.Hanya saja, aku tetap percaya ....Setiap ketulusan layak mendapatkan balasan yang setara.Sebelum tidur, aku membuka ponsel dan melihat bahwa Elbron membeli banyak berita utama tentang renc












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.