Share

Bab 4

Penulis: Raize
Geraldo memilihkan jus buah untukku.

Kami berdua berdiri dengan tenang dan berdampingan di atas panggung pernikahan. Tiba-tiba, pria itu melontarkan pertanyaan.

"Kamu belum memberitahuku, kenapa hari itu kamu pergi ke Kantor Catatan Sipil?"

Aku tidak kuat minum. Saat ini, aku merasa wajahku perlahan mulai panas.

Aku menyipitkan mata. Setelah berpikir sejenak, aku pun menjawab, "Mungkin cuma kebetulan."

Padahal, hari itu sebenarnya hari ulang tahunku.

Sudah beberapa waktu aku tidak berhubungan dengan Elbron. Tiba-tiba dia mencariku dan mengatakan bahwa dia sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untukku.

Meskipun aku tidak percaya, meskipun aku sudah sering dipermainkan oleh Elbron ....

Aku tetap saja dengan bodohnya ingin pergi melihatnya.

Saat aku berjalan ke sekitar Kantor Catatan Sipil itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di atas kepalaku.

Sebuah helikopter yang menaburkan kelopak bunga melintas dengan Elbron duduk di dalamnya.

Jantungku sontak berdetak sangat kencang.

Kelopak bunganya dibuat khusus. Setiap helaiannya besar dan di atasnya tertulis kata-kata.

Aku memungut satu helai dan membukanya. Tanganku gemetar hebat.

[Jadilah pacarku ....]

Pada saat yang sama, ponselku berdering. Saat kuangkat, ternyata itu Elbron.

"Kubilang ini kejutan, 'kan?"

Sementara itu, aku benar-benar terpaku. Sebab, setelah membentangkan kertas itu sepenuhnya, aku melihat nama Shanice di bagian belakangnya.

Di tengah suara helikopter yang bising, Elbron tertawa terbahak-bahak.

"Carolla, dia sudah terima. Bukannya seharusnya kamu mengucapkan selamat padaku karena akhirnya aku nggak jomlo lagi!"

Di momen itu, seluruh tubuhku terasa sangat dingin.

Aku tidak lagi bisa mendengar dengan jelas apa yang Elbron katakan setelahnya.

Aku teringat masa kuliah ketika Elbron menyatakan perasaannya padaku.

Itu terjadi karena Elbron kalah dalam permainan Jujur atau Tantangan, lalu dia memilihku di antara sekelompok wanita.

Situasinya sama sekali tidak formal dan seharusnya cukup dianggap candaan saja.

Namun kala itu aku berpikir, mungkin Elbron hanya kurang waktu dan keberanian. Jadi, aku akhirnya menerimanya.

Setelah itu, kami berpacaran selama empat tahun dan berinteraksi layaknya pasangan pada umumnya.

Aku menatap langit yang dipenuhi kelopak bunga.

Baru saat itu aku tersadar bahwa di antara aku dan Elbron, bahkan satu kalimat tulus "aku menyukaimu" pun tidak pernah ada.

Tiba-tiba aku merasa sangat lelah.

Tidak peduli bagaimanapun aku mengejar dari belakang ....

Di antara aku dan Elbron, tidak akan pernah ada hasil.

Saat itulah, Geraldo berjalan menghampiriku dari area perjodohan di depan Kantor Catatan Sipil.

Wajahnya sangat tampan sampai-sampai dikerumuni banyak orang.

Geraldo memohon kepadaku.

"Tolong, aku benar-benar cuma lewat. Bantu aku dengan pura-pura jadi pacarku."

Hanya satu sore kemudian, kami langsung mendaftarkan pernikahan.

Rasanya sangat tidak nyata.

Geraldo berkata keluarganya mendesaknya untuk segera menikah.

Di sisi lain setelah mengejar Elbron begitu lama, usiaku juga sudah 28 tahun.

Semuanya terasa sangat pas, seolah-olah tidak ada yang salah dengan hal itu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 19

    Menjelang akhir musim dingin.Aku menerima telepon terakhir dari ElbronDalam ingatanku ....Kondisi mental Elbron sudah agak kacau. Kesadarannya pun tidak sepenuhnya jernih.Namun pada hari itu, bicaranya justru terdengar cukup jelas."Carolla ... ini Carolla ya?"Aku menghela napas."Elbron, kamu terlalu sering ganti nomor."Beberapa saat kemudian, terdengar tawa pahit dari seberang sana.Elbron tidak bisa berkata apa-apa.Hanya terdiam kaku dalam keheningan.Saat aku hendak menutup telepon. Dia tiba-tiba memberitahuku sesuatu."Carolla, dokter bilang aku kena kanker. Aku nggak punya banyak waktu lagi."Aku merespons dengan gumaman."Kalau begitu, manfaatkan sisa waktumu dengan baik."Saat berikutnya, Elbron tersedak dan menangis di dalam telepon.Elbron adalah orang yang sangat angkuh.Aku tidak pernah membayangkan ada hal yang bisa membuatnya menangis seperti itu.Pria itu lalu bertanya padaku, "Carolla, menurutmu kalau dulu aku nggak pergi ke luar negeri, apa kita sudah nikah seka

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 18

    Aku dan Geraldo keluar dari kantor polisi bersama."Aku benaran nggak menyangka kamu juga bisa main licik begini. Bilangnya mau melepaskan mereka, tapi pada akhirnya malah sampai datang ke kantor polisi."Geraldo memeriksa memar di pergelangan tanganku dengan saksama.Dengan nada sangat serius, Geraldo menanggapiku."Kalau lain kali bertemu dia lagi, kamu harus lebih hati-hati."Entah kapan akan ada lain kali.Begitu melihat Shanice barusan, aku langsung mulai merekam suara.Wanita itu mempunyai kekuasaan dan pengaruh sehingga bisa dengan mudah membuat dua pengawal itu menggantikannya untuk dihukum.Namun sekarang, bukti hasutan untuk melakukan kekerasan sudah jelas. Bagaimanapun, Shanice tetap harus ditahan setidaknya dua bulan.Belum berjalan jauh, aku dan Geraldo bertemu Elbron.Di punggung tangannya masih terlihat bekas jarum infus, bahkan masih berdarah.Elbron berlari tergesa-gesa ke arahku."Carolla, aku baru dengar Shanice bawa orang untuk memukulmu. Apa kamu baik-baik saja?"G

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 17

    Setelah itu, sudah cukup lama aku tidak melihat Elbron.Kalau dibilang pria itu tiba-tiba menjadi kalem dan tidak bikin masalah lagi, itu jelas tidak mungkin.Aku tahu, kemungkinan besar Geraldo yang bantu menahannya agar tidak mendekatiku.Suatu kali, saat aku sedang makan bersama seorang teman.Dengan penuh semangat, dia menceritakan gosip kepadaku."Elbron baru-baru ini dipukuli sampai masuk rumah sakit. Kamu tahu nggak?"Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.Aku jadi agak penasaran.Sejak kembali dari luar negeri, Elbron memang mengumpulkan cukup banyak sumber daya dan relasi.Hanya dari investasi saja, pria itu sudah mengumpulkan modal yang lumayan besar.Aku tidak menyangka ada orang yang berani memukulinya."Pelakunya adalah Shanice. Anak orang kaya itu nggak bisa menelan amarahnya."Aku menggoyangkan gelas minumanku pelan.Aku langsung mengerti.Wanita-wanita di sekitar Elbron sebenarnya tidak pernah benar-benar kukenal.Bagi Elbron, mereka semua hanyalah mainan.Tidak ada b

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 16

    Semua ini terasa terlalu kebetulan.Saat Geraldo turun ke bawah untuk membuang sampah, aku bertanya kepada orang itu, "Sudah berapa lama kamu kenal sama Geraldo?""Sejak kuliah. Dia nggak pernah cerita ke kamu ya?"Aku tertegun sejenak."Nggak pernah. Cerita apa?"Orang di depanku jelas ikut terkejut.Dia pun menepuk meja."Tunggu. Aku tahu Geraldo memang jago menyimpan sesuatu, tapi nggak disangka dia bisa menyimpannya begitu lama.""Sudah menikah pun masih canggung begitu. Buat apa sih?"Orang itu lalu bercerita kepadaku bahwa Geraldo satu kampus denganku.Bahkan, saat Elbron menyatakan perasaan kepadaku lewat permainan Jujur atau Tantangan ....Geraldo juga berada di sana."Kamu nggak tahu, waktu itu dia benar-benar kelihatan tersiksa.""Dia terus-terusan bertanya padaku, kenapa orang yang datang belakangan bisa menang padahal jelas-jelas dia yang lebih dulu mengenalmu."Aku mengenal Geraldo?Aku mencoba berpikir lagi dengan saksama.Namun, tidak ada ingatan apa pun tentang Geraldo.

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 15

    Aku terdiam menyaksikan semua itu.Yang kurasakan hanya betapa gilanya keadaan ini.Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tumit sepatuku dan menginjak kaki Elbron dengan keras.Saat Elbron terkejut dan menahan sakit, aku menarik tanganku, lalu mengibaskan pergelangan tanganku."Kamu ini mau bikin aku merasa jijik ya?""Dengan memberitahuku semua ini, kamu pikir dirimu jadi kelihatan tulus atau mungkin aku akan memaafkanmu?""Aku ....""Oh, apa aku bahkan nggak pantas mendengar kata maaf darimu? Lagian setelah kamu pulang dari luar negeri, kamu nggak pernah kekurangan wanita. Dibandingkan dengan mereka, aku ini cuma seorang mantan yang sama sekali nggak berarti. Di hatimu, mungkin aku bahkan nggak pernah dianggap sebagai manusia, cuma cocok jadi cadangan seumur hidupmu."Elbron buru-buru menyangkal."Bukan, aku nggak berpikir seperti itu.""Aku cuma nggak sadar bahwa aku masih mencintaimu."Aku tertawa sinis."Kalau begitu, silakan kamu sadari itu pelan-pelan. Aku bilang banyak

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 14

    Aku benar-benar merasa bingung.Tatapan orang-orang yang berlalu-lalang di kafe itu tertuju ke arah kami. Semuanya terlihat sedikit heran.Kalau diperhatikan baik-baik ....Penampilan Elbron sama sekali tidak bisa dibilang pantas.Rambutnya berantakan, jelas sudah lama tidak dirapikan dengan sungguh-sungguh.Keletihan di wajah pria itu sama sekali tidak bisa disembunyikan.Aku mengernyit pelan."Ada urusan apa?"Begitu kata-kataku dillontarkan, mata Elbron langsung memerah."Carolla, akhir-akhir ini setiap kali melihat lokasi IP kamu, aku langsung mengejarmu. Tapi, kenapa kamu terus menghindar dariku?""Aku cuma ingin bicara baik-baik denganmu."Menghindari Elbron?Aku memikirkan kembali semua yang terjadi sebelumnya.Kemudian, aku mengerti.Seandainya aku bertemu dengan Elbron saat liburan kemarin, itu memang akan sangat mengganggu.Sekarang pun, rasanya tetap mengganggu.Aku segera berdiri."Elbron, aku nggak berniat menghindarimu. Tapi memang benar, aku juga nggak mau bertemu dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status