Share

Bab 5

Author: Raize
Geraldo pun menghabiskan jus buah di gelasnya.

Kemudian, pria itu membantuku naik ke dalam mobil.

Kepalaku terasa agak pusing.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba terjadi pengereman mendadak. Aku membuka mata dan melihat sebuah jip hitam melintang tepat di depan kami.

Sekilas aku langsung mengenalinya, itu mobil Elbron.

Melalui kaca jendela, aku melihat Shanice duduk di kursi penumpang depan.

Elbron turun dari mobil dengan beberapa langkah cepat, lalu menghampiri dan mengetuk pintu mobil kami.

Geraldo hanya menurunkan kaca jendela.

Pria itu mengenakan kacamata hitam. Saat ini, tatapannya beradu dengan tatapan Elbron di udara.

"Ada apa mencari istriku?"

Elbron menatapnya dari atas ke bawah.

Dengan satu tangan menopang tepi jendela, Elbron tersenyum nakal dan meremehkan.

"Carolla, aktor yang kamu cari ini perannya lumayan lengkap juga."

"Bisa menggelar pernikahan sampai selama itu, pasti butuh usaha besar ya?"

Aku menarik sudut bibirku dengan kaku.

Kalau saja aku membawa akta nikah, pasti sudah kulemparkan ke wajah Elbron.

Namun menghadapi Elbron, aku sudah tidak punya kesabaran bahkan untuk membuktikan apa pun.

"Jangan halangi jalan."

Aku merespons dengan nada dingin.

Ekspresi Elbron berubah samar sejenak.

Kemudian, raut wajahnya itu segera kembali seperti semula.

"Shanice lupa pakai mantel. Di luar dingin, berikan jaketmu padanya."

Pandangan Shanice melirik ke arahku.

Segera setelah itu, Shanice memalingkan wajahnya dengan tatapan meremehkan.

Aku benar-benar kehabisan kata-kata.

"Elbron, apa kamu sudah semiskin itu?"

Hal seperti ini sering Elbron lakukan.

Elbron suka melihatku cemburu dan terluka demi dirinya, lalu saat aku benar-benar marah, dia akan menenangkanku dengan beberapa kata manis.

Emosiku berulang kali naik turun dibuat oleh pria itu.

Di dalam hati, aku selalu menyisakan sedikit harapan bahwa mungkin Elbron memperlakukanku berbeda dari yang lain.

Namun sekarang, aku hanya dengan tenang mengambil mantel dari kursi belakang, lalu melemparkannya ke arah Elbron.

"Nggak apa-apa. Anggap saja ini hadiah dariku."

Mantel itu adalah baju pasangan yang dulu kami beli bersama saat masih kuliah. Memang sudah seharusnya dibuang.

Elbron mengenalinya dan seketika terdiam.

Tak lama kemudian, nada bicaranya dipenuhi amarah.

"Carolla, cukup. Jangan keterlaluan."

Geraldo sudah menginjak pedal gas dan melaju pergi. Dia berbelok melewati jip itu.

Tak lama kemudian, mobil berhenti. Baru saat itu aku menyadari bahwa ini bukan rumah Geraldo.

Melainkan sebuah butik pakaian mewah.

Geraldo turun lebih dulu dan membukakan pintu untukku.

"Ayo."

"Hmm? Hari ini? Aku sebenarnya nggak terlalu kekurangan baju."

Tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, Geraldo mengalihkan topik.

"Begitu ya? Tapi, aku justru cukup kekurangan."

"Terutama baju pasangan."

Geraldo melangkah masuk dengan langkah lebar, sementara aku terdiam cukup lama di tempat.

Bagaimana Geraldo bisa tahu bahwa mantel itu adalah baju pasangan?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 19

    Menjelang akhir musim dingin.Aku menerima telepon terakhir dari ElbronDalam ingatanku ....Kondisi mental Elbron sudah agak kacau. Kesadarannya pun tidak sepenuhnya jernih.Namun pada hari itu, bicaranya justru terdengar cukup jelas."Carolla ... ini Carolla ya?"Aku menghela napas."Elbron, kamu terlalu sering ganti nomor."Beberapa saat kemudian, terdengar tawa pahit dari seberang sana.Elbron tidak bisa berkata apa-apa.Hanya terdiam kaku dalam keheningan.Saat aku hendak menutup telepon. Dia tiba-tiba memberitahuku sesuatu."Carolla, dokter bilang aku kena kanker. Aku nggak punya banyak waktu lagi."Aku merespons dengan gumaman."Kalau begitu, manfaatkan sisa waktumu dengan baik."Saat berikutnya, Elbron tersedak dan menangis di dalam telepon.Elbron adalah orang yang sangat angkuh.Aku tidak pernah membayangkan ada hal yang bisa membuatnya menangis seperti itu.Pria itu lalu bertanya padaku, "Carolla, menurutmu kalau dulu aku nggak pergi ke luar negeri, apa kita sudah nikah seka

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 18

    Aku dan Geraldo keluar dari kantor polisi bersama."Aku benaran nggak menyangka kamu juga bisa main licik begini. Bilangnya mau melepaskan mereka, tapi pada akhirnya malah sampai datang ke kantor polisi."Geraldo memeriksa memar di pergelangan tanganku dengan saksama.Dengan nada sangat serius, Geraldo menanggapiku."Kalau lain kali bertemu dia lagi, kamu harus lebih hati-hati."Entah kapan akan ada lain kali.Begitu melihat Shanice barusan, aku langsung mulai merekam suara.Wanita itu mempunyai kekuasaan dan pengaruh sehingga bisa dengan mudah membuat dua pengawal itu menggantikannya untuk dihukum.Namun sekarang, bukti hasutan untuk melakukan kekerasan sudah jelas. Bagaimanapun, Shanice tetap harus ditahan setidaknya dua bulan.Belum berjalan jauh, aku dan Geraldo bertemu Elbron.Di punggung tangannya masih terlihat bekas jarum infus, bahkan masih berdarah.Elbron berlari tergesa-gesa ke arahku."Carolla, aku baru dengar Shanice bawa orang untuk memukulmu. Apa kamu baik-baik saja?"G

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 17

    Setelah itu, sudah cukup lama aku tidak melihat Elbron.Kalau dibilang pria itu tiba-tiba menjadi kalem dan tidak bikin masalah lagi, itu jelas tidak mungkin.Aku tahu, kemungkinan besar Geraldo yang bantu menahannya agar tidak mendekatiku.Suatu kali, saat aku sedang makan bersama seorang teman.Dengan penuh semangat, dia menceritakan gosip kepadaku."Elbron baru-baru ini dipukuli sampai masuk rumah sakit. Kamu tahu nggak?"Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.Aku jadi agak penasaran.Sejak kembali dari luar negeri, Elbron memang mengumpulkan cukup banyak sumber daya dan relasi.Hanya dari investasi saja, pria itu sudah mengumpulkan modal yang lumayan besar.Aku tidak menyangka ada orang yang berani memukulinya."Pelakunya adalah Shanice. Anak orang kaya itu nggak bisa menelan amarahnya."Aku menggoyangkan gelas minumanku pelan.Aku langsung mengerti.Wanita-wanita di sekitar Elbron sebenarnya tidak pernah benar-benar kukenal.Bagi Elbron, mereka semua hanyalah mainan.Tidak ada b

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 16

    Semua ini terasa terlalu kebetulan.Saat Geraldo turun ke bawah untuk membuang sampah, aku bertanya kepada orang itu, "Sudah berapa lama kamu kenal sama Geraldo?""Sejak kuliah. Dia nggak pernah cerita ke kamu ya?"Aku tertegun sejenak."Nggak pernah. Cerita apa?"Orang di depanku jelas ikut terkejut.Dia pun menepuk meja."Tunggu. Aku tahu Geraldo memang jago menyimpan sesuatu, tapi nggak disangka dia bisa menyimpannya begitu lama.""Sudah menikah pun masih canggung begitu. Buat apa sih?"Orang itu lalu bercerita kepadaku bahwa Geraldo satu kampus denganku.Bahkan, saat Elbron menyatakan perasaan kepadaku lewat permainan Jujur atau Tantangan ....Geraldo juga berada di sana."Kamu nggak tahu, waktu itu dia benar-benar kelihatan tersiksa.""Dia terus-terusan bertanya padaku, kenapa orang yang datang belakangan bisa menang padahal jelas-jelas dia yang lebih dulu mengenalmu."Aku mengenal Geraldo?Aku mencoba berpikir lagi dengan saksama.Namun, tidak ada ingatan apa pun tentang Geraldo.

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 15

    Aku terdiam menyaksikan semua itu.Yang kurasakan hanya betapa gilanya keadaan ini.Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tumit sepatuku dan menginjak kaki Elbron dengan keras.Saat Elbron terkejut dan menahan sakit, aku menarik tanganku, lalu mengibaskan pergelangan tanganku."Kamu ini mau bikin aku merasa jijik ya?""Dengan memberitahuku semua ini, kamu pikir dirimu jadi kelihatan tulus atau mungkin aku akan memaafkanmu?""Aku ....""Oh, apa aku bahkan nggak pantas mendengar kata maaf darimu? Lagian setelah kamu pulang dari luar negeri, kamu nggak pernah kekurangan wanita. Dibandingkan dengan mereka, aku ini cuma seorang mantan yang sama sekali nggak berarti. Di hatimu, mungkin aku bahkan nggak pernah dianggap sebagai manusia, cuma cocok jadi cadangan seumur hidupmu."Elbron buru-buru menyangkal."Bukan, aku nggak berpikir seperti itu.""Aku cuma nggak sadar bahwa aku masih mencintaimu."Aku tertawa sinis."Kalau begitu, silakan kamu sadari itu pelan-pelan. Aku bilang banyak

  • Dipermainkan 100 Kali, Kini Giliranku   Bab 14

    Aku benar-benar merasa bingung.Tatapan orang-orang yang berlalu-lalang di kafe itu tertuju ke arah kami. Semuanya terlihat sedikit heran.Kalau diperhatikan baik-baik ....Penampilan Elbron sama sekali tidak bisa dibilang pantas.Rambutnya berantakan, jelas sudah lama tidak dirapikan dengan sungguh-sungguh.Keletihan di wajah pria itu sama sekali tidak bisa disembunyikan.Aku mengernyit pelan."Ada urusan apa?"Begitu kata-kataku dillontarkan, mata Elbron langsung memerah."Carolla, akhir-akhir ini setiap kali melihat lokasi IP kamu, aku langsung mengejarmu. Tapi, kenapa kamu terus menghindar dariku?""Aku cuma ingin bicara baik-baik denganmu."Menghindari Elbron?Aku memikirkan kembali semua yang terjadi sebelumnya.Kemudian, aku mengerti.Seandainya aku bertemu dengan Elbron saat liburan kemarin, itu memang akan sangat mengganggu.Sekarang pun, rasanya tetap mengganggu.Aku segera berdiri."Elbron, aku nggak berniat menghindarimu. Tapi memang benar, aku juga nggak mau bertemu dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status