LOGINKeenan menarik napas panjang, ia menatap Aruna dan merapikan helaian rambut wanita itu. "Ryan datang dikirim oleh Vania, wanita itu benar-benar tidak jera."
Keenan menatap laci dashboard yang masih terbuka, lalu menatap Aruna yang masih berada di bawah kungkungannya. Hasrat itu masih ada, namun peringatan Nando tidak bisa diabaikan. "Sepertinya kita harus menunda ronde di mobil ini, Aruna," gumam Keenan kecewa. "Sial! Ada apalagi ini?!" geram Keenan dengan napas memburu. Ia terpaksa menjauhkan wajahnya dari leher Aruna, meski tangannya masih betah meremas pinggang istrinya yang sensitif. Gairah yang hampir semakin memuncak itu menguap seketika, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan dada."Keenan, kita pulang sekarang! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Kenzo... Aku merindukannya, Keenan!" rengekan Aruna terdengar sangat pilu. Wajah pucatnya kini dipenuhi kecemasan yang luar biasa. Ia segera merapikan kancing pakaian rumah sakitnya dengan tangan gemetar.Keenan beranjak dari tempatnya. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, mencoba mengatur kembali emosinya yang berantakan. Ia merapikan kemejanya yang kusut dan memakai jasnya kembali, berusaha mengembalikan wibawa sang CEO Arkana meskipun hatinya sendiri sedang bergejolak.Tok.. Tok.. Tok..Ketukan di pintu semakin tidak sabar. Keenan melangkah lebar, membuka pintu Suite dengan sentakan kasar. "Na
Keenan melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk. ‘Aku tidak menyangka, otak Aruna bisa secerdas itu sampai menjadi target profesornya yang gila itu!’ Di satu sisi, Keenan sangat muak dengan kegilaan Profesor dan Adrian. Namun di sisi lain, ia merasa takjub sekaligus cemas. Ia tidak pernah menyangka bahwa kecerdasan Aruna begitu luar biasa hingga mampu menciptakan sesuatu yang ditakuti dan juga di incar oleh para ilmuwan sekaliber Profesor. Keenan berjalan dengan langkah lebar menuju lift, tujuannya hanya satu, Suite VIP di lantai atas. Ia harus melihat Aruna. Ia harus memastikan istrinya itu tahu bahwa ia tidak peduli seberapa berbahaya otaknya, baginya Aruna tetaplah wanita yang ia cintai. Setibanya di depan Suite VIP, penjagaan tampak sangat ketat. Empat pengawal berseragam hitam berdiri tegap di depan pintu. Begitu melihat Keenan, mereka serentak menunduk dan membuka pintu. Keenan masuk ke da
Keenan melangkah dengan penuh amarah menuruni tangga menuju ruang bawah tanah rumah sakit pusat Arkana yang telah di ubah menjadi ruang interogasi kedap suara. Mantelnya ia sampirkan di bahu, menutupi kemeja putihnya yang kusut dan bernoda debu dari gudang pelabuhan tadi. Di belakangnya, Nando berjalan dengan tablet di tangan, wajahnya kaku, menyadari bahwa ‘Singa Arkana’ sedang berada dalam mode berburu yang paling mengerikan. "Buka pintunya," perintah Keenan dingin. Nando menempelkan kartu aksesnya pada alat pemindai. Pintu baja itu berdesis dan terbuka, memperlihatkan pemandangan yang suram di dalam ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung temaram. Adrian dan Profesor diikat di kursi yang berbeda, dipisahkan oleh sebuah meja besi. Adrian tampak mengenaskan dengan wajah yang bengkak, sementara Profesor duduk diam dengan tatapan kosong namun menyimpan kilatan kegilaan di balik wajahnya yang penuh luka bakar. Keenan menarik seb
Keenan menggenggam erat ponselnya, melampiaskan rasa takut dan khawatirnya hingga urat tangannya tampak menonjol. [Katakan, Nando!] [Aruna.. Dia.. Baik-baik saja, hanya..] [Cukup! Jaga dia aku akan segera sampai!] Keenan tidak ingin mendengar kata-kata selanjutnya, dia hanya ingin memastikan Aruna baik-baik saja. Untuk saat ini, itulah yang terpenting. Mobil Keenan melaju semakin kencang, kecepatannya nyaris mencapai titik maksimal pada speedometernya. Dia mengemudi seperti orang kerasukan tanpa menginjak rem sedikitpun, menyalip kanan kiri mengabaikannya rambu di jalanan. Begitu sampai di rumah sakit, Keenan tidak memarkir mobilnya dengan benar. Ia menghentikan kendaraannya tepat di depan pintu lobi, lalu meloncat keluar begitu saja sebelum akhirnya berlari menuju lift khusus. Pintu lift terbuka di lantai perawatan intensif. Keenan berlari menyusuri lorong, mengabaikan tatapan
Layar monitor di dinding gudang itu mendadak mati. Hitam pekat. Suara tawa Adrian dan bisikan mengerikan Profesor pun lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Namun, bagi Keenan, kesunyian itu jauh lebih menyiksa daripada raungan alarm sekalipun. Bayangan jarum suntik berisi cairan biru yang mengarah ke perut buncit Aruna terus berputar-putar di kepalanya seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. "TIDAAKKK! ARUNAAA!" Keenan meraung, suaranya pecah memenuhi ruang gudang yang lembap. Ia menerjang pintu besi yang terkunci otomatis itu, menghantamnya dengan bahu hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser. Rasa perih di punggungnya akibat zat asam tadi pagi seolah tak ada artinya dibanding rasa sakit yang menghujam jantungnya saat ini. Ia kembali menendang pintu itu dengan kalap. "ADRIAN! JANGAN SENTUH ISTRIDU! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Napas Keenan memburu, keringat dingin membanjiri kemeja putihnya yang sudah berantaka
Keenan mulai menciumi leher Aruna, menghisap kulit halusnya dengan intensitas yang membuat Aruna meremang. Tangan Keenan masuk ke bawah baju rumah sakit yang dikenakan Aruna, mengusap punggungnya yang mulus dengan telapak tangan yang panas. "Ahhh... Keenan..." Aruna mendesah, kepalanya terkulai ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi Keenan. Meskipun dalam kondisi emosional yang kacau, gairah di antara mereka selalu menjadi pelarian paling nyata. Keenan melumat bibir Aruna dengan lapar, seolah-olah sedang menyerap semua keraguan istrinya ke dalam dirinya. Sentuhan-sentuhan itu menjadi bahasa bisu bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, Aruna tetap miliknya sekarang. "Kamu hanya milikku, Aruna. Masa lalumu, rahasiamu, bahkan luka-lukamu... Semuanya tanggung jawabku," gumam Keenan di sela ciumannya. Keenan melepaskan ciumannya saat ponselnya bergetar di saku celana. Ia melihat nama Nando di layar. [Y
Keenan membantu Aruna masuk ke dalam bathtub, lalu ia sendiri ikut menenggelamkan tubuhnya di belakang Aruna. Wanita itu menyandarkan punggungnya di dada bidang Keenan, membiarkan air hangat meredakan ketegangan di otot-otot pahanya. "Nyaman?" tanya Keenan sambil mulai menyeka bahu Aruna dengan
Keenan berjalan ke ruangannya, ia jatuh terduduk di kursi kerjanya, menyangga kepalanya kedua tangannya. Ia merasa dunianya sedang runtuh dari segala sisi. Ancaman Mamanya, kedatangan Vania, dan sekarang Nando yang mengkhianatinya. “Kenapa bisa seperti ini?!” gumamnya lirih.
Sofia tersenyum tipis, menyesap anggurnya. "Keenan itu keras kepala seperti Papanya. Dia butuh guncangan besar untuk menyadari siapa yang sebenarnya berkuasa. Aku tidak sudi Arkana Global jatuh ke tangan wanita tanpa asal usul seperti Aruna. Kamu, Vania, satu-satunya menantu yang pantas untuk kelu
Tangan Keenan langsung menyambar resleting di punggung Aruna, menariknya turun dengan satu hentakan cepat hingga dress merah marun itu meluncur jatuh ke lantai, menyisakan Aruna yang hanya mengenakan pakaian dalam renda yang sangat minim. Keenan terperangah melihat pemandangan di depannya. Tanpa







