Beranda / Romansa / Dirty Office / Bab 229 Rekaman CCTV

Share

Bab 229 Rekaman CCTV

Penulis: Cynta
last update Tanggal publikasi: 2026-02-28 15:27:09

​Tangan Aruna gemetar hebat saat merasakan dinginnya logam pistol dan tajamnya mata pisau yang diserahkan Keenan ke telapak tangannya. Ia menatap benda-benda mematikan itu, lalu beralih menatap mata Keenan yang merah dan basah. Di dalam ruangan itu, Aruna merasa oksigen di sekitarnya seolah menipis.

​"Bunuh aku, Aruna," bisik Keenan lagi, suaranya pecah. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa adil atas kepergian Rizal, lakukan. Aku tidak akan melawan. Aku sudah menyiapkan semuanya agar kamu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dirty Office   Bab 407 Kekacauan di Pagi Hari

    Kepercayaan diri Keenan di depan Aruna ternyata tidak sebanding dengan kelincahan Kenzo pagi itu. Begitu Aruna menghilang di balik pintu, Kenzo mulai beraksi. Ia merangkak kencang di atas karpet, menghindari tangan Keenan yang mencoba menangkapnya. ​"Kenzo, kemari! Pakai popoknya dulu, Jagoan!" seru Keenan. ​Keenan berhasil menangkap Kenzo, namun karena ia sambil mencoba menjawab pesan singkat dari Nando di ponselnya, konsentrasinya terpecah. Ia memasangkan popok dengan terburu-buru, lalu membiarkan Kenzo bermain dengan tumpukan berkas dan bantal yang berserakan di lantai. ​Sepuluh menit kemudian, Aruna keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Rambutnya basah dan wajahnya segar. Namun, matanya seketika membelalak melihat keadaan kamar. ​Bantal-bantal kursi berserakan di lantai, beberapa dokumen penting dari tas kerja Keenan sudah lecek karena ditarik-tarik Kenzo, dan yang paling parah, Kenzo sedang duduk di tengah karpet sambil tertawa, mengenakan popok yang je

  • Dirty Office   Bab 406 Ketukan yang Menegangkan

    ​Tok... Tok... Tok... ​"Keenan? Aruna? Apa kalian di dalam?" ​Itu suara Pak Alexander. Suaranya terdengar cemas. ​Keenan dan Aruna tersentak bangun bersamaan. Aruna langsung terduduk dengan napas memburu, mengira ada ancaman lain yang datang kembali. ​"Ada apa Keenan?! Siapa lagi kali ini?!" tanya Aruna panik, matanya liar menatap sekeliling. ​Keenan melihat jam dinding di kamar. Matanya membelalak. Pukul 09.30 pagi. ​"Sial, kita bangun kesiangan," umpat Keenan rendah. Ia segera bangkit dan meraih jubah mandinya. ​"Keenan! Ini Papa," suara Pak Alex kembali terdengar dari balik pintu. "Kalian tidak apa-apa? Pintu tidak dikunci dari dalam tapi Papa tidak enak mau masuk. Tim keamanan bilang kamu belum keluar kamar sejak semalam. Sopir sudah menunggu di bawah sejak dua jam lalu. Tidak biasanya kamu terlambat untuk rapat penting perusahaan, Keenan." ​Keenan dan Aruna saling pandang. Wajah Aruna merona merah padam saat menyadari bahwa seluruh orang di mansion, termasuk mertuanya, m

  • Dirty Office   Bab 405 Suara Yang Mengejutkan

    ​"Pa-pa! Pa-pa-pa!" ​Suara ocehan mungil itu terasa seperti siraman air es di tengah api gairah yang baru saja padam. Keenan dan Aruna membeku seketika. Mereka saling berpandangan dengan mata terbelalak. Rasa panik langsung menyerang keduanya. Dengan gerakan kilat seolah sedang tertangkap basah melakukan sesuatu, Keenan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, sementara Aruna berusaha mencari jubah mandinya yang terlempar ke lantai. ​"Dia bangun?" bisik Aruna panik, mencoba merapikan rambutnya yang berantakan. Tangannya meraba-raba lantai di pinggir ranjang, mencari jubah mandi sutranya yang tadi terlempar entah ke mana. ​"Papapa! Mamama!" suara Kenzo terdengar lebih keras sekarang, diikuti suara tawa kecil seolah dia tahu bahwa orang tuanya baru saja melakukan sesuatu yang rahasia di bawah selimut. Suara pagar boks bayi yang digoyang-goyangkan terdengar berisik di keheningan kamar. ​Keenan mengusap wajahnya dengan frustrasi, meski sebuah senyum geli tak bisa ia sembuny

  • Dirty Office   Bab 404 Perayaan di Atas Ranjang

    ​Keenan melangkah di koridor mansion dengan jantung yang berdebar kencang, bukan karena sisa adrenalin dari interogasinya pada Randi, melainkan karena bayangan wanita yang menunggunya di balik pintu kamar utama. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan, gerakannya begitu hati-hati hingga nyaris tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada boks bayi di sudut ruangan, Kenzo masih terlelap dalam posisi menungging yang lucu, nafasnya teratur dan tenang. ​Keenan menghela nafas lega. ‘Aman,’ pikirnya nakal. ​Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke ranjang king size di tengah ruangan. Di sana, Aruna tampak terlelap dengan posisi miring, jubah mandi sutranya sedikit tersingkap menampilkan lekuk bahu dan paha yang putih bersih di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Pemandangan itu seketika membangkitkan gairah Keenan yang sudah tertahan sejak tadi. ​Tanpa suara, Keenan melepaskan jas, jam tangan, dan kemejanya, membiarkan pakaian mahal itu jatuh begi

  • Dirty Office   Bab 403 Tunggu Aku di Ranjang

    ​Dengan satu gerakan terlatih, Keenan menerjang pria itu dari samping. Kekuatan fisik Keenan yang jauh di atas rata-rata membuat si penyusup terkapar di lantai dengan suara tulang yang berderak saat Keenan mengunci lengannya ke belakang. ​"Buka penutup kepalanya," perintah Keenan dingin. ​Nando menyentak hoodie pria itu. Aruna, yang ternyata nekat menyusul ke depan pintu karena rasa khawatir yang tak tertahankan, menutup mulutnya dengan tangan bebasnya. Matanya membelalak lebar. ​"R-Randi?" suara Aruna pecah karena tidak percaya. ​Pria itu adalah Randi, salah satu rekan satu angkatan Aruna saat di universitas dulu. Pria yang dikenal pendiam namun sangat cerdas di laboratorium. ​"Bajingan," desis Keenan. Ia menekan wajah Randi ke lantai dengan lututnya. "Jadi kamu orang keempat yang memiliki akses frekuensi ini? Bagaimana bisa?" ​Randi hanya meringis kesakitan, matanya menatap Aruna dengan kilatan kebencian yang dalam. "Aruna selalu menjadi emas, sementara kami hanya sampah di ma

  • Dirty Office   Bab 402 Apa yang Sebenarnya Terjadi

    ​Keenan ikut menoleh ke arah papanya, wajahnya kembali mengeras, menuntut jawaban. "Iya, Pa. Kenapa semua orang tidak bisa dihubungi setelah kalian menelpon? Kami sampai panik dan terburu-buru saat perjalanan, sekarang katakan apa yang terjadi Pa?" ​Pak Alex menghela napas panjang, ia melirik ke arah petugas polisi yang sedang berbicara dengan tim keamanan mansion di sudut ruangan. ​"Seseorang menyabotase gardu listrik utama mansion setengah jam yang lalu, Keenan. Bersamaan dengan itu, sinyal komunikasi di seluruh area ini tiba-tiba diputus dengan alat pelacak frekuensi tingkat tinggi. Polisi datang karena alarm darurat cadangan yang langsung terhubung ke markas besar berbunyi otomatis saat ada percobaan masuk paksa ke gerbang belakang," jelas Pak Alex dengan wajah serius. ​"Masuk paksa?" Keenan mengepalkan tangannya. "Siapa?" ​"Pria berbaju hitam, tapi mereka kabur begitu polisi sampai. Namun, di tengah kegelapan dan kepan

  • Dirty Office   Bab 170 Melahap Mangsa yang Tak Berdaya

    ​Aruna mengerjap pelan, matanya terlihat sayu dan sedikit berair. "Aku... Aku hanya sedikit gerah, Keenan. Lanjutkan saja..." Aruna mencoba menarik leher Keenan untuk kembali menciumnya, namun gerakannya terasa lemah. ​Keenan menggeleng. Ia kembali menyentuh leher dan pipi Aruna. "Tidak, ini buka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Dirty Office   Bab 166 Gairah Pagi yang Tertunda

    Disaat tangan Keenan mulai menjelajahi tubuh Aruna, ponselnya berdering. Tapi Keenan mengabaikannya, ia tetap melanjutkan aksinya, tangannya mulai menurunkan tali kacamata pelindung dari bahu Aruna. Namun ponselnya kembali berdering, membuat Aruna sedikit gelisah. “Keenan, ada telepon. Kamu terim

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Dirty Office   Bab 163 Masih Juga Merasa ‘Lapar’

    ​"Sabar, Sayang. Aku ingin menikmati setiap inci milikmu malam ini," bisik Keenan. ​Keenan memposisikan dirinya. Ia memegang naga miliknya yang sudah berdenyut hebat dan mengarahkannya tepat di depan mulut goa Aruna. Dengan satu hentakan yang kuat dan dalam, Keenan menerobos m

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Dirty Office   Bab 158 Siasat Licik Sang CEO

    ​Keenan melepaskan tangannya dari bahu Aruna. Ia duduk dengan tegak, memberikan jarak sekitar sepuluh senti dari Aruna. Aruna sendiri merasa tantangan ini lucu, namun ia tidak tahu bahwa Keenan sudah menyiapkan strategi lain. ​Makan siang dimulai. Awalnya semua berjalan normal. Nando terus mengaw

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status