LOGINKeenan melangkah di koridor mansion dengan jantung yang berdebar kencang, bukan karena sisa adrenalin dari interogasinya pada Randi, melainkan karena bayangan wanita yang menunggunya di balik pintu kamar utama. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan, gerakannya begitu hati-hati hingga nyaris tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada boks bayi di sudut ruangan, Kenzo masih terlelap dalam posisi menungging yang lucu, nafasnya teratur dan tenang. Keenan menghela nafas lega. ‘Aman,’ pikirnya nakal. Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke ranjang king size di tengah ruangan. Di sana, Aruna tampak terlelap dengan posisi miring, jubah mandi sutranya sedikit tersingkap menampilkan lekuk bahu dan paha yang putih bersih di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Pemandangan itu seketika membangkitkan gairah Keenan yang sudah tertahan sejak tadi. Tanpa suara, Keenan melepaskan jas, jam tangan, dan kemejanya, membiarkan pakaian mahal itu jatuh begi
Dengan satu gerakan terlatih, Keenan menerjang pria itu dari samping. Kekuatan fisik Keenan yang jauh di atas rata-rata membuat si penyusup terkapar di lantai dengan suara tulang yang berderak saat Keenan mengunci lengannya ke belakang. "Buka penutup kepalanya," perintah Keenan dingin. Nando menyentak hoodie pria itu. Aruna, yang ternyata nekat menyusul ke depan pintu karena rasa khawatir yang tak tertahankan, menutup mulutnya dengan tangan bebasnya. Matanya membelalak lebar. "R-Randi?" suara Aruna pecah karena tidak percaya. Pria itu adalah Randi, salah satu rekan satu angkatan Aruna saat di universitas dulu. Pria yang dikenal pendiam namun sangat cerdas di laboratorium. "Bajingan," desis Keenan. Ia menekan wajah Randi ke lantai dengan lututnya. "Jadi kamu orang keempat yang memiliki akses frekuensi ini? Bagaimana bisa?" Randi hanya meringis kesakitan, matanya menatap Aruna dengan kilatan kebencian yang dalam. "Aruna selalu menjadi emas, sementara kami hanya sampah di ma
Keenan ikut menoleh ke arah papanya, wajahnya kembali mengeras, menuntut jawaban. "Iya, Pa. Kenapa semua orang tidak bisa dihubungi setelah kalian menelpon? Kami sampai panik dan terburu-buru saat perjalanan, sekarang katakan apa yang terjadi Pa?" Pak Alex menghela napas panjang, ia melirik ke arah petugas polisi yang sedang berbicara dengan tim keamanan mansion di sudut ruangan. "Seseorang menyabotase gardu listrik utama mansion setengah jam yang lalu, Keenan. Bersamaan dengan itu, sinyal komunikasi di seluruh area ini tiba-tiba diputus dengan alat pelacak frekuensi tingkat tinggi. Polisi datang karena alarm darurat cadangan yang langsung terhubung ke markas besar berbunyi otomatis saat ada percobaan masuk paksa ke gerbang belakang," jelas Pak Alex dengan wajah serius. "Masuk paksa?" Keenan mengepalkan tangannya. "Siapa?" "Pria berbaju hitam, tapi mereka kabur begitu polisi sampai. Namun, di tengah kegelapan dan kepan
"Kenzo! Kenzo!" teriakan Aruna seakan menggema di dalam ruangan, suaranya terdengar parau yang pecah karena tangisnya. Keenan menyusul di belakangnya, wajahnya tampak sangat mengerikan. Ia segera merangkul pinggang Aruna agar istrinya tidak jatuh tersungkur. Di depan pintu utama, Pak Alexander dan beberapa perawat rumah tangga berdiri dengan wajah yang sulit diartikan. "Papa! Ada apa dengan Kenzo? Kenapa banyak polisi?!" Keenan tanpa sadar membentak, suaranya menggelegar di tengah kegelapan malam. Pak Alex tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah ruang tengah yang kini diterangi oleh beberapa lilin besar dan lampu darurat. Aruna berlari masuk, napasnya tersengal-sengal. Namun, langkahnya mendadak melambat, lalu berhenti total tepat di ambang pintu ruang keluarga. Di tengah karpet bulu yang tebal, di bawah cahaya temaram, terlihat sosok bayi mungil yang sangat mereka rindukan. Kenzo sedang duduk di sana, dikelilingi ol
"Sial! Ada apalagi ini?!" geram Keenan dengan napas memburu. Ia terpaksa menjauhkan wajahnya dari leher Aruna, meski tangannya masih betah meremas pinggang istrinya yang sensitif. Gairah yang hampir semakin memuncak itu menguap seketika, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan dada."Keenan, kita pulang sekarang! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Kenzo... Aku merindukannya, Keenan!" rengekan Aruna terdengar sangat pilu. Wajah pucatnya kini dipenuhi kecemasan yang luar biasa. Ia segera merapikan kancing pakaian rumah sakitnya dengan tangan gemetar.Keenan beranjak dari tempatnya. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, mencoba mengatur kembali emosinya yang berantakan. Ia merapikan kemejanya yang kusut dan memakai jasnya kembali, berusaha mengembalikan wibawa sang CEO Arkana meskipun hatinya sendiri sedang bergejolak.Tok.. Tok.. Tok..Ketukan di pintu semakin tidak sabar. Keenan melangkah lebar, membuka pintu Suite dengan sentakan kasar. "Na
Keenan melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk. ‘Aku tidak menyangka, otak Aruna bisa secerdas itu sampai menjadi target profesornya yang gila itu!’ Di satu sisi, Keenan sangat muak dengan kegilaan Profesor dan Adrian. Namun di sisi lain, ia merasa takjub sekaligus cemas. Ia tidak pernah menyangka bahwa kecerdasan Aruna begitu luar biasa hingga mampu menciptakan sesuatu yang ditakuti dan juga di incar oleh para ilmuwan sekaliber Profesor. Keenan berjalan dengan langkah lebar menuju lift, tujuannya hanya satu, Suite VIP di lantai atas. Ia harus melihat Aruna. Ia harus memastikan istrinya itu tahu bahwa ia tidak peduli seberapa berbahaya otaknya, baginya Aruna tetaplah wanita yang ia cintai. Setibanya di depan Suite VIP, penjagaan tampak sangat ketat. Empat pengawal berseragam hitam berdiri tegap di depan pintu. Begitu melihat Keenan, mereka serentak menunduk dan membuka pintu. Keenan masuk ke da
Keenan segera menghampiri Aruna dan memegang kedua bahunya. "Tenanglah. Aku pasti menemukannya. Sekarang, kamu naik ke meja makan lagi. Berbaring.""Di meja makan lagi?" tanya Aruna ragu."Hanya meja ini yang tingginya pas untuk aku memeriksa. Cepat, Aruna. Jangan buang waktu
Keenan masih mematung di ambang pintu, tangannya mencengkeram gagang pintu dengan sangat kuat hingga kuku jarinya memutih. Di depannya, wanita itu, hanya terkekeh ringan, seolah reaksi Keenan kemenangan baginya. "Kenapa wajahmu begitu, Sayang? Seperti melihat hantu saja," wanita
Aruna merasakan gairahnya kembali terpancing. Sentuhan tangan Keenan yang hangat dan tatapan matanya yang penuh keinginan membuat Aruna melupakan sejenak tentang Clarissa dan Sofia.Keenan kembali melumat bibir Aruna dengan penuh gairah, jauh lebih menuntut dari sebelumnya, seolah ingi
Aruna mengerjap pelan, matanya terlihat sayu dan sedikit berair. "Aku... Aku hanya sedikit gerah, Keenan. Lanjutkan saja..." Aruna mencoba menarik leher Keenan untuk kembali menciumnya, namun gerakannya terasa lemah. Keenan menggeleng. Ia kembali menyentuh leher dan pipi Aruna. "Tidak, ini buka







