Home / Romansa / Dirty Office / Bab 6 Jejak Tanda

Share

Bab 6 Jejak Tanda

Author: Cynta
last update Last Updated: 2026-01-09 10:03:11

​Tangan Keenan meraba saku blazer Aruna, tempat benda itu disimpan. Aruna mencoba menghalanginya, namun Keenan mengunci kedua tangan Aruna di atas kepala dengan satu tangan besarnya.

​"Kamu kalah, Aruna," bisik Keenan, suaranya kini lebih lembut namun tetap dominan. Ia mengambil kembali alat medisnya dari saku Aruna. "Tapi aku belum selesai membuat perhitungan denganmu."

​Keenan tidak melepaskan Aruna. Ia justru memeluk wanita itu erat-erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma vanila yang selalu menghantuinya setiap malam. Ada keheningan dramatis yang menyelimuti mereka, sebuah momen di mana kebencian beberapa tahun lalu seakan luruh karena kontak fisik yang begitu intim.

​"Kenapa kamu kembali, Aruna?" tanya Keenan pelan, ada nada emosional yang terselip di balik suara CEO yang dingin. "Kenapa kamu harus muncul lagi dan mengacaukan hidupku?"

​Aruna terdiam, merasakan detak jantung Keenan yang berpacu di dadanya. "Saya butuh pekerjaan, Pak Keenan. Hanya itu."

​"Bohong," Keenan menjauhkan sedikit wajahnya, menatap mata Aruna dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin menghilang. "Kamu kembali karena kamu tahu kita belum selesai. Luka itu... Cara kita berpisah... Kamu merindukan ku sama besarnya dengan kebencianmu padaku."

​Keenan meraih tangan Aruna yang gemetar, menempelkannya tepat di atas jantungnya. "Ini tidak berbohong. Dan rahasia yang kamu temukan? Itu adalah bukti bahwa sejak kamu pergi, tidak ada satu wanita pun yang bisa membuatku merasa hidup... Sampai kamu menyeret tubuhmu jatuh di atasku kemarin."

​Aruna terpaku. Kalimat itu lebih menghancurkan pertahanannya daripada ciuman panas tadi. Keenan, sang pria tanpa cela, baru saja mengakui bahwa ‘kelemahannya’ bermula sejak kepergiannya.

​"Aku akan menyimpan benda ini," Keenan memasukkan alat itu ke dalam laci mejanya yang terkunci. "Dan sebagai gantinya, kamu akan tetap berada di bawah pengawasanku. Setiap jam, setiap menit. Kamu akan melaporkan risetmu langsung di ruangan ini. Kita akan lebih sering bertemu."

​"Itu namanya penyalahgunaan wewenang, Pak Keenan," protes Aruna, mencoba mengembalikan kewarasannya meski bibirnya masih terasa bengkak akibat ciuman tadi.

​Keenan merapikan rambut Aruna yang berantakan, lalu menurunkannya dari meja dan kembali ke sikap profesionalnya yang dingin dalam sekejap, seolah transisi itu sangat mudah baginya. Ia membetulkan jasnya, kembali menjadi CEO yang tak tersentuh.

​”Katakan itu sesukamu. Tapi di perusahaan ini, aku adalah aturan mutlak. Dan kamu, Aruna Zevania Louisa, baru saja menandatangani kontrak rahasia yang tidak bisa kamu batalkan."

​Keenan berjalan kembali menuju kursinya, duduk dengan tenang, dan menunjuk pintu. "Sekarang keluar. Perbaiki laporanmu. Dan pastikan tanda merah di lehermu itu kamu tutupi dengan foundation, atau semua orang akan tahu apa yang sebenarnya kita lakukan saat 'membahas detail teknis'."

​Aruna memutar tubuhnya, kakinya masih sedikit lemas. Ia meraba lehernya, merasakan denyut di sana. Ia menatap Keenan dengan campuran benci, cinta, dan gairah yang belum tuntas.

​”Aku membencimu, Pak Keenan! Kamu menyebalkan!" ucap Aruna sebelum berbalik menuju pintu.

​Begitu pintu tertutup, Keenan bersandar pada kursinya, menghembuskan napas panjang yang ia tahan sejak tadi. Tangannya yang berada di bawah meja masih gemetar. Rahasianya kini aman, namun ia sadar, ia baru saja menyerahkan sesuatu yang jauh lebih berharga kepada Aruna, hatinya yang sudah lama mati, kini berdenyut kembali dengan cara yang sangat menyakitkan.

​Dan di luar sana, Aruna berdiri di koridor, menyentuh bibirnya sendiri. Ia tahu, mulai besok, hidupnya di kantor ini tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sekadar staf riset, tapi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Keenan, dan satu-satunya orang yang bisa merasakan aset Keenan ‘berdiri’ tegak, dengan atau tanpa alat bantu.

‘Keenan benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya dia.. Dia menciumku sesuka hati?!’ kesal Aruna, kakinya melangkah menjauh dari ruangan Keenan.

**

​Aruna berdiri di depan cermin toilet kantor yang dingin, menatap pantulan dirinya dengan nafas yang masih memburu. Di lehernya, tepat di bawah garis rahang, sebuah tanda kemerahan yang mencolok, kissmark yang dibuat Keenan dengan begitu rakus seolah mengejeknya.

​"Dasar pria gila," umpat Aruna kesal. Ia membuka tas make-up-nya, mengeluarkan concealer dan foundation paling tebal yang ia miliki. Namun, saat jemarinya menyentuh tanda itu, ingatan Aruna tentang bagaimana bibir Keenan menghisap kulitnya dengan penuh tuntutan kembali berputar dipikirannya.

Tangan ​Aruna terhenti. Sebuah ide nakal justru muncul di kepalanya. ‘Keenan ingin aku menutupinya? Keenan ingin rahasia ini tetap aman di bawah kendalinya? Tidak akan!’

​"Tidak semudah itu, Pak CEO," gumam Aruna. Ia justru menyisir rambutnya ke samping, mengekspos tanda itu, tanpa ingin menutupinya dengan sempurna.

Aruna hanya memolesnya dengan sedikit bedak, tipis. Ia membuatnya terlihat seperti bekas luka atau ruam kulit yang samar. Tapi bagi siapapun orang dewasa yang pernah melakukannya, mereka akan tahu persis jejak apa itu.

​Aruna kembali ke ruangannya dengan langkah yang sengaja dibuat santai. Di area staf, beberapa rekan kerjanya termasuk Maya, si ratu gosip kantor sedang berkumpul di dekat dispenser.

​"Aruna! Kamu lama sekali di ruangan Pak Keenan. Bagaimana? Laporannya diterima?" tanya Maya dengan mata menyelidik.

​Aruna tersenyum manis, sengaja menyugar rambutnya ke belakang telinga hingga tanda merah di lehernya terpampang nyata di bawah lampu neon kantor yang terang. "Yah, begitulah. Pak Keenan sangat... Teliti. Kami membahas banyak hal secara mendalam dan masih harus sedikit revisi.."

​Mata Maya membelalak. Ia menatap leher Aruna seolah melihat hantu. "Aruna... itu di lehermu... Apa itu?"

​Aruna berpura-pura terkejut, menutupi lehernya dengan tangan yang sedikit terlambat. "Oh, ini? Hanya alergi. Tadi di ruangan Pak Keenan suhunya terlalu panas, mungkin debu?"

​"Debu tidak meninggalkan bekas seperti itu, Aruna," bisik Maya dengan nada menggoda yang keras. "Itu terlihat seperti serangan dari predator."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dirty Office   Bab 230 Antara Hidup dan Mati

    Keenan menggeleng lemah. Ia mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mendekap pinggang Aruna dengan posesif. "Aku tidak tahu pasti isinya, Sayang. Tapi sepertinya itu dokumen yang bisa menghancurkan jaringan bisnis gelap musuh papa kamu. Rizal tidak pernah bicara detail padaku di luar negeri, dia hanya bilang punya 'asuransi' untuk melindungimu kalau terjadi sesuatu padanya." ​Aruna menghela napas panjang. Ia merasa seolah seluruh energinya telah terkuras habis. "Aku ingin pulang, Keenan. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Terlalu banyak masalah yang kita lalui hari ini, aku lelah..." ​Keenan menatap Aruna dengan tatapan penuh permohonan. "Ayo kita pulang ke penthouse. Kita selesaikan ini bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini." ​"Tidak," tolak Aruna tegas sambil melepaskan pelukan Keenan. "Aku butuh waktu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu, tidak ingin melihat Tante Sofia, atau siapa pun. Aku hanya ingin pul

  • Dirty Office   Bab 229 Rekaman CCTV

    ​Tangan Aruna gemetar hebat saat merasakan dinginnya logam pistol dan tajamnya mata pisau yang diserahkan Keenan ke telapak tangannya. Ia menatap benda-benda mematikan itu, lalu beralih menatap mata Keenan yang merah dan basah. Di dalam ruangan itu, Aruna merasa oksigen di sekitarnya seolah menipis. ​"Bunuh aku, Aruna," bisik Keenan lagi, suaranya pecah. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa adil atas kepergian Rizal, lakukan. Aku tidak akan melawan. Aku sudah menyiapkan semuanya agar kamu tetap aman." ​Aruna menatapnya dengan pandangan hancur. "Kamu pikir dengan mati, semuanya selesai? Kamu pikir rasa sakitku akan hilang kalau kamu jadi mayat di depanku?" ​"Aku tidak punya cara lain untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu!" Keenan berteriak frustrasi. Ia menarik tangan Aruna yang memegang pisau, menempelkan ujung tajamnya tepat di atas jantungnya sendiri. "Tekan, Aruna! Tekan sedikit saja, dan semua penderitaan ini berakhir!" ​"Keenan, hentikan!" Aruna menarik tangan

  • Dirty Office   Bab 228 Penjelasan yang Tak Terduga

    Gedung perusahaan itu tampak gelap, hanya lantai teratas yang lampunya menyala. Aruna masuk menggunakan kartu akses pemberian Keenan. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, ia melihat Keenan sedang duduk di lantai, bersandar pada meja kerjanya. ​Ada beberapa botol alkohol di sampingnya. Kemeja putihnya sudah berantakan, kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak teratur. ​"Kamu datang..." suara Keenan terdengar serak, ia mendongak dengan mata merah. ​Aruna berdiri di ambang pintu, masih dengan gaun putih yang kotor dan basah. "Aku kesini tidak untuk memaafkan mu, Keenan. Aku ke sini untuk mendengar penjelasan apalagi yang akan kamu katakan atau mungkin kebohongan mu.." ​Keenan berdiri dengan susah payah. Ia melangkah mendekati Aruna, setiap langkahnya terasa berat. Saat jarak mereka hanya tinggal satu jengkal, Aruna bisa mencium aroma alkohol yang kuat bercampur dengan parfum maskulin yang selalu membuatnya kehilangan kendali. ​"Aku tidak

  • Dirty Office   Bab 227 Surat Apa Ini?!

    Tangan Aruna menggenggam kalung berlian pemberian Sofia begitu kuat hingga permata itu seolah menusuk telapak tangannya. ​Ia menatap kosong ke arah aspal jalanan, tempat mobil sport hitam Keenan baru saja melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan suara decitan ban yang menyayat hati. Kalimat terakhir Keenan terus terngiang di tengah suara petir yang menggelegar di sekitarnya. ​’Aku akan membayar nyawa kakakmu dengan nyawaku kalau itu bisa membuatmu memaafkan aku…’ ​"Brengsek kamu, Keenan..." bisik Aruna dengan suara serak. Air matanya mengalir, menyatu dengan air hujan yang membasahi di pipinya. "Kenapa kamu harus melakukan ini padaku, Keenan?" ​Dada Aruna terasa sesak. Kebenaran yang dilemparkan Felicia terasa seperti belati yang tidak hanya menusuk jantungnya, tapi juga mengoyak semua kenangan manis yang baru saja ia bangun dengan Keenan. Mandi bersama yang hangat di penthouse, sentuhan posesif Keenan di ruang ganti, hingga janji-janji manis tentang masa depan, semuanya kini te

  • Dirty Office   Bab 226 Kekacauan di Tengah Janji Nikah

    ​Keenan terdiam. Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik Aruna masuk ke dalam mobil. "Kita harus ke pergi sekarang, Aruna.. Kita sudah ditunggu untuk gladi bersih untuk pernikahan. Kita akan bicara nanti, aku janji." ​Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin meski AC menyala rendah. Keenan mencoba meraih tangan Aruna, namun Aruna menariknya perlahan. Ia berpura-pura melihat keluar jendela, sementara di dalam tasnya, tangannya mencengkeram foto rumah sakit itu. ​Gladi bersih itu berlangsung dengan sangat khidmat, namun penuh dengan ketegangan yang tak terlihat. Alexander dan Sofia duduk di barisan depan, memperhatikan setiap langkah Keenan dan Aruna menuju altar. ​Saat mereka berdiri di depan altar dan diminta untuk saling berpegangan tangan dan mengucapkan sepintas janji sebagai latihan. ​Keenan menatap mata Aruna. "Aku, Keenan Ignazio Arkana, bersumpah untuk melindungimu, mencintaimu, dan memberikan segalanya untukmu... Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri

  • Dirty Office   Bab 225 Restu yang Tiba-tiba

    Keenan tiba-tiba merasa gelisah setelah membaca kertas yang diberikan papanya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Aruna. “Kenapa ponselnya mati?!” gamenya cemas. Keenan mencoba menelpon Nando dan Zaskia tapi tidak ada satupun jeng menjawab. “Sial! Kenapa ponsel mereka semua?! Tidak mungkin aku diam-diam pergi lagi ke penthouse, kan?!”gumamnya. Ia pun mengirim pesan pada Aruna. [Aruna : Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa ponselnya mati?! Hubungi aku secepatnya kalau sudah baca pesan ku.] pesan itu terkirim tapi hanya centang satu. “Hhhh.. Ini benar-benar menyiksaku!” gerutu Keenan sambil mondar mandir di samping ranjangnya. Sementara itu, setelah Alexander meninggalkan kamar Keenan dengan ancaman, ia tidak langsung tidur. Ia menuju ruang kerja pribadinya, di mana Sofia, istrinya, sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata sembab. ​”Pa, aku tidak tahan lagi," isak Sofia saat pintu tertutup. "Felicia terus menerorku. Dia meminta bagian saham lebih banyak, atau dia akan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status