Se connecterTangan Keenan meraba saku blazer Aruna, tempat benda itu disimpan. Aruna mencoba menghalanginya, namun Keenan mengunci kedua tangan Aruna di atas kepala dengan satu tangan besarnya.
"Kamu kalah, Aruna," bisik Keenan, suaranya kini lebih lembut namun tetap dominan. Ia mengambil kembali alat medisnya dari saku Aruna. "Tapi aku belum selesai membuat perhitungan denganmu." Keenan tidak melepaskan Aruna. Ia justru memeluk wanita itu erat-erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma vanila yang selalu menghantuinya setiap malam. Ada keheningan dramatis yang menyelimuti mereka, sebuah momen di mana kebencian beberapa tahun lalu seakan luruh karena kontak fisik yang begitu intim. "Kenapa kamu kembali, Aruna?" tanya Keenan pelan, ada nada emosional yang terselip di balik suara CEO yang dingin. "Kenapa kamu harus muncul lagi dan mengacaukan hidupku?" Aruna terdiam, merasakan detak jantung Keenan yang berpacu di dadanya. "Saya butuh pekerjaan, Pak Keenan. Hanya itu." "Bohong," Keenan menjauhkan sedikit wajahnya, menatap mata Aruna dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin menghilang. "Kamu kembali karena kamu tahu kita belum selesai. Luka itu... Cara kita berpisah... Kamu merindukan ku sama besarnya dengan kebencianmu padaku." Keenan meraih tangan Aruna yang gemetar, menempelkannya tepat di atas jantungnya. "Ini tidak berbohong. Dan rahasia yang kamu temukan? Itu adalah bukti bahwa sejak kamu pergi, tidak ada satu wanita pun yang bisa membuatku merasa hidup... Sampai kamu menyeret tubuhmu jatuh di atasku kemarin." Aruna terpaku. Kalimat itu lebih menghancurkan pertahanannya daripada ciuman panas tadi. Keenan, sang pria tanpa cela, baru saja mengakui bahwa ‘kelemahannya’ bermula sejak kepergiannya. "Aku akan menyimpan benda ini," Keenan memasukkan alat itu ke dalam laci mejanya yang terkunci. "Dan sebagai gantinya, kamu akan tetap berada di bawah pengawasanku. Setiap jam, setiap menit. Kamu akan melaporkan risetmu langsung di ruangan ini. Kita akan lebih sering bertemu." "Itu namanya penyalahgunaan wewenang, Pak Keenan," protes Aruna, mencoba mengembalikan kewarasannya meski bibirnya masih terasa bengkak akibat ciuman tadi. Keenan merapikan rambut Aruna yang berantakan, lalu menurunkannya dari meja dan kembali ke sikap profesionalnya yang dingin dalam sekejap, seolah transisi itu sangat mudah baginya. Ia membetulkan jasnya, kembali menjadi CEO yang tak tersentuh. ”Katakan itu sesukamu. Tapi di perusahaan ini, aku adalah aturan mutlak. Dan kamu, Aruna Zevania Louisa, baru saja menandatangani kontrak rahasia yang tidak bisa kamu batalkan." Keenan berjalan kembali menuju kursinya, duduk dengan tenang, dan menunjuk pintu. "Sekarang keluar. Perbaiki laporanmu. Dan pastikan tanda merah di lehermu itu kamu tutupi dengan foundation, atau semua orang akan tahu apa yang sebenarnya kita lakukan saat 'membahas detail teknis'." Aruna memutar tubuhnya, kakinya masih sedikit lemas. Ia meraba lehernya, merasakan denyut di sana. Ia menatap Keenan dengan campuran benci, cinta, dan gairah yang belum tuntas. ”Aku membencimu, Pak Keenan! Kamu menyebalkan!" ucap Aruna sebelum berbalik menuju pintu. Begitu pintu tertutup, Keenan bersandar pada kursinya, menghembuskan napas panjang yang ia tahan sejak tadi. Tangannya yang berada di bawah meja masih gemetar. Rahasianya kini aman, namun ia sadar, ia baru saja menyerahkan sesuatu yang jauh lebih berharga kepada Aruna, hatinya yang sudah lama mati, kini berdenyut kembali dengan cara yang sangat menyakitkan. Dan di luar sana, Aruna berdiri di koridor, menyentuh bibirnya sendiri. Ia tahu, mulai besok, hidupnya di kantor ini tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sekadar staf riset, tapi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Keenan, dan satu-satunya orang yang bisa merasakan aset Keenan ‘berdiri’ tegak, dengan atau tanpa alat bantu. ‘Keenan benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya dia.. Dia menciumku sesuka hati?!’ kesal Aruna, kakinya melangkah menjauh dari ruangan Keenan. ** Aruna berdiri di depan cermin toilet kantor yang dingin, menatap pantulan dirinya dengan nafas yang masih memburu. Di lehernya, tepat di bawah garis rahang, sebuah tanda kemerahan yang mencolok, kissmark yang dibuat Keenan dengan begitu rakus seolah mengejeknya. "Dasar pria gila," umpat Aruna kesal. Ia membuka tas make-up-nya, mengeluarkan concealer dan foundation paling tebal yang ia miliki. Namun, saat jemarinya menyentuh tanda itu, ingatan Aruna tentang bagaimana bibir Keenan menghisap kulitnya dengan penuh tuntutan kembali berputar dipikirannya. Tangan Aruna terhenti. Sebuah ide nakal justru muncul di kepalanya. ‘Keenan ingin aku menutupinya? Keenan ingin rahasia ini tetap aman di bawah kendalinya? Tidak akan!’ "Tidak semudah itu, Pak CEO," gumam Aruna. Ia justru menyisir rambutnya ke samping, mengekspos tanda itu, tanpa ingin menutupinya dengan sempurna. Aruna hanya memolesnya dengan sedikit bedak, tipis. Ia membuatnya terlihat seperti bekas luka atau ruam kulit yang samar. Tapi bagi siapapun orang dewasa yang pernah melakukannya, mereka akan tahu persis jejak apa itu. Aruna kembali ke ruangannya dengan langkah yang sengaja dibuat santai. Di area staf, beberapa rekan kerjanya termasuk Maya, si ratu gosip kantor sedang berkumpul di dekat dispenser. "Aruna! Kamu lama sekali di ruangan Pak Keenan. Bagaimana? Laporannya diterima?" tanya Maya dengan mata menyelidik. Aruna tersenyum manis, sengaja menyugar rambutnya ke belakang telinga hingga tanda merah di lehernya terpampang nyata di bawah lampu neon kantor yang terang. "Yah, begitulah. Pak Keenan sangat... Teliti. Kami membahas banyak hal secara mendalam dan masih harus sedikit revisi.." Mata Maya membelalak. Ia menatap leher Aruna seolah melihat hantu. "Aruna... itu di lehermu... Apa itu?" Aruna berpura-pura terkejut, menutupi lehernya dengan tangan yang sedikit terlambat. "Oh, ini? Hanya alergi. Tadi di ruangan Pak Keenan suhunya terlalu panas, mungkin debu?" "Debu tidak meninggalkan bekas seperti itu, Aruna," bisik Maya dengan nada menggoda yang keras. "Itu terlihat seperti serangan dari predator." ***Suara pelatuk yang ditarik menggema di tengah kesunyian itu. Aruna memejamkan mata, membenamkan wajahnya di dada Keenan yang keras. Keenan memeluk Aruna dengan sangat posesif, siap melindungi istrinya dari pemandangan berdarah yang mungkin terjadi sedetik lagi.Namun, tidak ada ledakan peluru. Hanya kesunyian mencekam yang mengikuti suara gesekan logam kosong itu. Pistol di tangan Stella ternyata tidak berisi peluru, kosong, sama seperti kehampaan yang selama puluhan tahun menyiksa batinnya.Tubuh Stella seketika lemas. Pistol itu terjatuh ke tanah berbatu, menimbulkan suara denting yang menyakitkan. Stella jatuh berlutut, kedua tangannya menutupi wajahnya yang kini basah oleh air mata yang meledak hebat."Kenapa..." rintih Stella parau di sela isakannya. "Kenapa bahkan untuk mati pun kamu tidak memberiku kesempatan untuk membalas semuanya, Alex?!"Alexander membuka matanya perlahan. Napasnya yang tadi tertahan kini keluar dalam satu embusan
Asap hitam pekat membumbung tinggi dari SUV yang meledak, menciptakan tirai maut yang memisahkan Keenan dari dua wanita yang paling dicintainya. Telinga Keenan berdenging hebat, namun insting predatornya tidak mati. Melalui sela-sela asap, ia melihat tali penjerat dari helikopter mulai melilit tubuh Stella yang membeku ketakutan. "Tidak akan kubiarkan!" raung Keenan. Tepat saat pria bertato serigala itu hendak menarik pelatuk ke arah Aruna yang merayap di tanah, rentetan tembakan presisi menggema dari arah perbukitan. Door.. Door.. Door.. Peluru-peluru itu bukan berasal dari Keenan, melainkan dari tim taktis yang dipimpin oleh Nando yang muncul dari balik bunker alam. Penumpang di pintu helikopter yang memegang tali penjerat langsung terhempas jatuh dengan dada bolong. Helikopter itu limbung, mencoba menjauh saat rentetan peluru menghujam bodinya. "A
Keenan menghantamkan kepala pria itu ke batu hingga pingsan, lalu berlari sekuat tenaga kembali ke villa. Ia mengabaikan panggilan Nando di radio. Pikirannya hanya terisi oleh wajah Aruna yang tadi ia tinggalkan di ruang kerja. Saat ia sampai di depan pintu ruang kerja yang tadi ia kunci, ia melihat pemandangan yang menghancurkan jiwanya. Pintu itu sudah terbuka paksa. Bekas tembakan terlihat di sekitar gagang pintu. "ARUNA!" Keenan menerjang masuk ke dalam ruangan. Kosong. Meja kerja itu kosong. Pistol yang tadi ia berikan pada Aruna tergeletak di lantai, sudah ditembakkan sekali. Ada bercak darah segar di atas karpet beludru merah. "Tidak... Tidak mungkin..." Keenan jatuh berlutut. Ia meraih pistol itu, jemarinya bergetar. Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan video masuk. Keenan membukanya dengan tangan gemetar. Di layar ponsel, terlihat Ar
Suara dentuman vas bunga yang hancur berkeping-keping masih berdenging di telinga Keenan. Di bawah kungkungan tubuhnya, Aruna bernapas tersengal, sementara Stella tampak mematung dengan mata membelalak trauma. [Nando! Posisi!] teriak Keenan melalui jam tangan pintarnya yang terhubung langsung ke saluran komunikasi tim keamanan. [Keenan! Sniper berada di bukit arah jam dua! Tim kita sedang melakukan pengepungan!] Suara Nando terdengar di sela deru nafasnya yang memburu. Keenan mengertakkan gigi. Ia membantu Stella dan Aruna berdiri sambil tetap merunduk. Dengan gerakan cepat dan protektif, ia menggiring mereka menuju area tengah bangunan yang tidak memiliki jendela. "Pa! Bawa Mama ke bunker bawah tanah villa ini sekarang! Cepat!" perintah Keenan pada Alexander yang wajahnya sudah pucat pasi. "Keenan, bagaimana denganmu dan Aruna?" Alexander tampak ragu. "Jangan khawatirkan kami, Pa! Selama
Keenan melepaskan ciumannya sejenak, hanya untuk memberikan gigitan kecil di leher Aruna, tepat di nadi yang berdenyut cepat. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan hal berbahaya seperti itu lagi tanpa aku di sampingmu. Kamu nyawaku, Aruna. Kalau kamu mati, aku akan menghancurkan dunia ini." Tangan Keenan yang besar mulai bergerak dengan berani. Ia mengangkat gaun tidur tipis Aruna, membiarkan tangannya merasakan kulit paha Aruna yang halus. Ia menarik Aruna lebih rapat, membiarkan Aruna merasakan 'naga' miliknya yang sudah menegang sempurna, menekan perut Aruna. "Keenan... Kita harus fokus pada Mama," bisik Aruna lemah, meski tubuhnya sendiri mulai mengkhianatinya dengan memberikan reaksi hangat di bagian bawah sana. "Aku sedang fokus," Keenan mengangkat Aruna, membuat Aruna harus melingkarkan kakinya di pinggang Keenan agar tidak terjatuh. Ia membawa Aruna menuju sofa besar di sudut kamar. "Fokus untuk memastikan bahwa setela
"Aruna, ini berbahaya. Mama sedang tidak sadar," Keenan menahan lengan Aruna, namun Aruna menggeleng. ”Mama Stella mengingat Mamaku. Kamu ingat kata dokter? Aku mungkin satu-satunya jembatan ke ingatannya sekarang," Aruna melepaskan kaitan tangan Keenan, namun sebelum melangkah, ia berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Keenan. "Percaya padaku, sekarang telepon Dokter Danis. Dan jangan lepaskan pandanganmu dariku. Aku butuh kamu menjagaku juga dari belakang." Aruna melangkah sangat perlahan ke arah Stella. Suara langkah kakinya di atas lantai kayu terdengar mendebarkan. Aruna memanggil dengan nada yang sangat rendah. “Mama Stella... Ini Aruna. Anak Mama Mona." Stella tersentak. Bahunya yang tegang perlahan mulai sedikit rileks saat mendengar nama itu. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Mona? Kamu bukan Mona... Tapi mata dan wajah kamu sangat mirip dengannya..."
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







