Mag-log inLangkah kaki Aruna terdengar seirama dengan detak jantungnya. Ia masuk ke ruangan CEO, dan detik itu juga suara kunci elektrik berbunyi.
KLIK!
Keenan berdiri membelakanginya di depan jendela kaca besar. Suasana begitu mencekam.
"Kamu terlambat dua menit, Aruna Zevania Louisa," suara Keenan memecah kesunyian, lebih dingin dari hembusan AC di ruangan itu.
"Saya sedang mengobati luka saya, Pak Keenan." balas Aruna sambil meletakkan map laporan di meja dengan suara keras.
Keenan berbalik dengan cepat. Langkahnya lebar seperti predator. Sebelum Aruna sempat menghindar, Keenan sudah berada di hadapannya, mencengkeram kedua sisi meja dan mengurung Aruna di antaranya.
"Kamu pikir saya tidak tahu?" desis Keenan. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Aruna. "Saya lihat bagaimana dia menyentuhmu. “
"Itu karena dia dokter—dan dia sopan! tidak kasar seperti bapak!" sahut Aruna dengan nada tegas.
"Sopan?" Keenan tertawa gelap. Ia meraih pinggang Aruna, menariknya kuat hingga tubuh mereka bertabrakan tanpa celah. "Mungkin aku memang kasar. Tapi kamu lupa kalau—-"
“Kalau apa?!” cecar Aruna membelakak.
Suaranya mulai merendah, “Kalau aku lebih tau cara menyentuhmu?”
Aruna terengah, tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Keenan. Ia bisa merasakan detak jantung Keenan yang liar. "Tapi kamu membiarkan tangan lain menyentuhmu, Pak Keenan.. Tapi, saya bukan hak milik siapapun saat ini! Dan sejak kamu memilih wanita lain saat itu! Satu lagi, jangan lupa... Saya tahu rahasia anda. Pria sempurna yang sekarang ternyata...."
Rahang Keenan mengeras. Tangannya menarik tubuh Aruna semakin dekat hingga tubuh mereka benar-benar tanpa celah.
“Ah..” Aruna memekik pelan, tangannya refleks mencengkram jas Keenan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci dengan tatapan mata saling mengunci.
"Kamu ingin tahu apa yang akan terjadi kalau aku kehilangan kendali?" Keenan membisikkan kata-kata itu tepat di depan bibir Aruna. "Kamu ingin tahu apakah aku benar-benar butuh benda silikon itu untuk membuatmu bertekuk lutut, Aruna?"
"Lepaskan, Pak Keenan…!"
"Kamu yang memulai permainan ini, Aruna. Kamu menggoda naga yang sedang tidur di ruang rapat tadi," satu tangan Keenan naik, jarinya yang panjang mengelus rahang Aruna dengan sentuhan yang kasar namun sensual. "Kamu menekankan kakimu ke betisku di bawah meja... Kamu pikir aku tidak merasakannya? Dan kamu.. Membuatku marah dua kali di hari yang sama!"
Keenan menekan tubuhnya lebih rapat, membuat Aruna bisa merasakan setiap lekukan keras tubuh pria itu. Ketegangan di antara mereka bukan lagi sekadar benci, itu merupakan hasrat menggila yang sudah terkubur selama beberapa tahun, kini meledak karena satu rahasia dan rasa yang masih tersisa.
"Berikan benda itu padaku. Sekarang!" perintah Keenan, matanya menatap bibir Aruna yang sedikit terbuka.
"Tidak akan. Itu sebagai jaminan saya agar anda tidak semena-mena lagi."
Keenan tertawa pelan. "Jaminan? Kamu menggunakannya untuk memeras pria yang tahu dimana titik sensitif mu?"
Tangan Keenan beralih ke tengkuk Aruna, menariknya sedikit hingga wanita itu terpaksa mendongak. Tanpa peringatan, Keenan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut, bukan ciuman lembut penuh cinta, melainkan ciuman yang penuh dengan dominasi, amarah, dan gairah yang tiba-tiba meledak.
Aruna terkejut, ia mencoba melawan dengan memukul bahu Keenan, namun pria itu justru memperdalam ciumannya. Lidah Keenan menjelajah dengan rakus, seakan ingin menghisap seluruh harga diri Aruna.
Perlahan, perlawanan Aruna melemah. Jemarinya yang tadi mengepal kini merayap naik, meremas rambut di tengkuk Keenan, membalas ciuman itu dengan rasa lapar yang sama besarnya.
Suara napas yang memburu memenuhi ruangan. Keenan mengangkat tubuh Aruna ke atas meja jati, menggeser dokumen-dokumen hingga berhamburan ke lantai. Ia masuk di antara dua kaki Aruna, tangannya merayap masuk ke balik blazer wanita itu, mencari kulit hangat yang sudah lama ingin ia sentuh.
"Masih ingin menyebutku tidak berfungsi, Aruna?" Keenan melepaskan ciumannya sejenak, menatap Aruna dengan tatapan lapar yang mendalam. Napasnya menerpa wajah Aruna yang kini merona hebat.
”Anda... Anda hanya sedang membuktikan ego anda," bisik Aruna parau, dadanya naik turun dengan cepat.
"Ego? Tidak," Keenan mencium leher Aruna, menghisap kulit sensitif di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok. "Ini adalah hukuman karena kamu terlalu nakal. Kamu mencuri sesuatu yang pribadi, jadi kamu harus membayarnya dengan sesuatu yang pribadi juga."
Aruna merasa dunianya berputar. Pelukan Keenan begitu protektif tapi terasa begitu menindasnya. Aruna bisa merasakan gairah pria ini begitu nyata, begitu kuat, sampai Aruna meragukan fungsi alat medis yang ia simpan.
'Apa-apaan ini?!' batin Aruna panik sekaligus bingung. 'Jika dia bisa se-agresif ini, untuk apa dia membawa alat medis itu?’
Keenan menyeringai tipis melihat kebingungan di mata Aruna. Ia menunduk, mencium leher Aruna dan memberikan tanda merah di sana. "Ini hukumanmu karena membuatku cemburu, Aruna. Dan menguji batasan ku yang selama ini aku tekan."
Keenan menggeleng lemah. Ia mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mendekap pinggang Aruna dengan posesif. "Aku tidak tahu pasti isinya, Sayang. Tapi sepertinya itu dokumen yang bisa menghancurkan jaringan bisnis gelap musuh papa kamu. Rizal tidak pernah bicara detail padaku di luar negeri, dia hanya bilang punya 'asuransi' untuk melindungimu kalau terjadi sesuatu padanya." Aruna menghela napas panjang. Ia merasa seolah seluruh energinya telah terkuras habis. "Aku ingin pulang, Keenan. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Terlalu banyak masalah yang kita lalui hari ini, aku lelah..." Keenan menatap Aruna dengan tatapan penuh permohonan. "Ayo kita pulang ke penthouse. Kita selesaikan ini bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini." "Tidak," tolak Aruna tegas sambil melepaskan pelukan Keenan. "Aku butuh waktu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu, tidak ingin melihat Tante Sofia, atau siapa pun. Aku hanya ingin pul
Tangan Aruna gemetar hebat saat merasakan dinginnya logam pistol dan tajamnya mata pisau yang diserahkan Keenan ke telapak tangannya. Ia menatap benda-benda mematikan itu, lalu beralih menatap mata Keenan yang merah dan basah. Di dalam ruangan itu, Aruna merasa oksigen di sekitarnya seolah menipis. "Bunuh aku, Aruna," bisik Keenan lagi, suaranya pecah. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa adil atas kepergian Rizal, lakukan. Aku tidak akan melawan. Aku sudah menyiapkan semuanya agar kamu tetap aman." Aruna menatapnya dengan pandangan hancur. "Kamu pikir dengan mati, semuanya selesai? Kamu pikir rasa sakitku akan hilang kalau kamu jadi mayat di depanku?" "Aku tidak punya cara lain untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu!" Keenan berteriak frustrasi. Ia menarik tangan Aruna yang memegang pisau, menempelkan ujung tajamnya tepat di atas jantungnya sendiri. "Tekan, Aruna! Tekan sedikit saja, dan semua penderitaan ini berakhir!" "Keenan, hentikan!" Aruna menarik tangan
Gedung perusahaan itu tampak gelap, hanya lantai teratas yang lampunya menyala. Aruna masuk menggunakan kartu akses pemberian Keenan. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, ia melihat Keenan sedang duduk di lantai, bersandar pada meja kerjanya. Ada beberapa botol alkohol di sampingnya. Kemeja putihnya sudah berantakan, kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak teratur. "Kamu datang..." suara Keenan terdengar serak, ia mendongak dengan mata merah. Aruna berdiri di ambang pintu, masih dengan gaun putih yang kotor dan basah. "Aku kesini tidak untuk memaafkan mu, Keenan. Aku ke sini untuk mendengar penjelasan apalagi yang akan kamu katakan atau mungkin kebohongan mu.." Keenan berdiri dengan susah payah. Ia melangkah mendekati Aruna, setiap langkahnya terasa berat. Saat jarak mereka hanya tinggal satu jengkal, Aruna bisa mencium aroma alkohol yang kuat bercampur dengan parfum maskulin yang selalu membuatnya kehilangan kendali. "Aku tidak
Tangan Aruna menggenggam kalung berlian pemberian Sofia begitu kuat hingga permata itu seolah menusuk telapak tangannya. Ia menatap kosong ke arah aspal jalanan, tempat mobil sport hitam Keenan baru saja melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan suara decitan ban yang menyayat hati. Kalimat terakhir Keenan terus terngiang di tengah suara petir yang menggelegar di sekitarnya. ’Aku akan membayar nyawa kakakmu dengan nyawaku kalau itu bisa membuatmu memaafkan aku…’ "Brengsek kamu, Keenan..." bisik Aruna dengan suara serak. Air matanya mengalir, menyatu dengan air hujan yang membasahi di pipinya. "Kenapa kamu harus melakukan ini padaku, Keenan?" Dada Aruna terasa sesak. Kebenaran yang dilemparkan Felicia terasa seperti belati yang tidak hanya menusuk jantungnya, tapi juga mengoyak semua kenangan manis yang baru saja ia bangun dengan Keenan. Mandi bersama yang hangat di penthouse, sentuhan posesif Keenan di ruang ganti, hingga janji-janji manis tentang masa depan, semuanya kini te
Keenan terdiam. Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik Aruna masuk ke dalam mobil. "Kita harus ke pergi sekarang, Aruna.. Kita sudah ditunggu untuk gladi bersih untuk pernikahan. Kita akan bicara nanti, aku janji." Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin meski AC menyala rendah. Keenan mencoba meraih tangan Aruna, namun Aruna menariknya perlahan. Ia berpura-pura melihat keluar jendela, sementara di dalam tasnya, tangannya mencengkeram foto rumah sakit itu. Gladi bersih itu berlangsung dengan sangat khidmat, namun penuh dengan ketegangan yang tak terlihat. Alexander dan Sofia duduk di barisan depan, memperhatikan setiap langkah Keenan dan Aruna menuju altar. Saat mereka berdiri di depan altar dan diminta untuk saling berpegangan tangan dan mengucapkan sepintas janji sebagai latihan. Keenan menatap mata Aruna. "Aku, Keenan Ignazio Arkana, bersumpah untuk melindungimu, mencintaimu, dan memberikan segalanya untukmu... Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri
Keenan tiba-tiba merasa gelisah setelah membaca kertas yang diberikan papanya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Aruna. “Kenapa ponselnya mati?!” gamenya cemas. Keenan mencoba menelpon Nando dan Zaskia tapi tidak ada satupun jeng menjawab. “Sial! Kenapa ponsel mereka semua?! Tidak mungkin aku diam-diam pergi lagi ke penthouse, kan?!”gumamnya. Ia pun mengirim pesan pada Aruna. [Aruna : Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa ponselnya mati?! Hubungi aku secepatnya kalau sudah baca pesan ku.] pesan itu terkirim tapi hanya centang satu. “Hhhh.. Ini benar-benar menyiksaku!” gerutu Keenan sambil mondar mandir di samping ranjangnya. Sementara itu, setelah Alexander meninggalkan kamar Keenan dengan ancaman, ia tidak langsung tidur. Ia menuju ruang kerja pribadinya, di mana Sofia, istrinya, sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata sembab. ”Pa, aku tidak tahan lagi," isak Sofia saat pintu tertutup. "Felicia terus menerorku. Dia meminta bagian saham lebih banyak, atau dia akan b







