Beranda / Romansa / Dirty Office / Bab 7 Lihatlah Milikku ‘Berdiri’

Share

Bab 7 Lihatlah Milikku ‘Berdiri’

Penulis: Cynta
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 10:03:17

​Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Keenan keluar bersama beberapa manajer pria dan sekretarisnya. Suasana seketika hening. Aura dingin Keenan langsung membekukan keceriaan di pantry. Mata Keenan yang tajam langsung memperhatikan seisi ruangan, dan berhenti tepat pada sosok Aruna.

​Keenan menyadari apa yang dilakukan Aruna dalam sekejap. Wanita itu tidak menutupi tandanya. Aruna justru sedang memamerkan ‘hasil karyanya’ sebagai senjata untuk memicu kekacauan.

​"Semuanya kembali bekerja," suara Keenan rendah namun menggelegar.

​Para staf membubarkan diri dengan cepat, namun bisik-bisik sudah mulai terdengar samar. Keenan melangkah mendekati Aruna yang juga kembali kemejanya, sementara manajer lainnya terus berjalan menuju ruang rapat.

​"Ke ruanganku. Sekarang," desis Keenan saat ia melewati meja Aruna.

​"Maaf, Pak Keenan, saya sedang menyelesaikan revisi yang Bapak minta. Bukankah Bapak bilang harus selesai sebelum jam pulang?" jawab Aruna tanpa menatapnya, jarinya dengan lincah bergerak di atas keyboard.

​Keenan menghentikan langkahnya. Ia berbalik, membungkuk sedikit ke arah meja Aruna hingga wajah mereka sejajar. "Jangan memancing kemarahanku, Aruna Zevania Louisa. Apa kamu ingin aku menutupinya sendiri menggunakan caraku?"

​Aruna mendongak, menantang tatapan itu. "Cara anda? Seperti apa, Pak Keenan? Menciumnya lagi sampai berubah warna menjadi biru?"

​Keenan mencengkram pinggiran meja Aruna. Urat-urat di tangannya terlihat menonjol. "Ikut aku, sekarang!" perintahnya penuh otoritas.

Aruna mendengus kesal, ia terpaksa mengikuti langkah Keenan kembali ke arah ruangan pria itu.

​Begitu pintu jati itu tertutup dan terkunci kembali, Keenan tidak memberikan kesempatan bagi Aruna untuk bicara. Ia menarik lengan Aruna, mendorongnya hingga punggung wanita itu membentur pintu yang kokoh.

​"Kamu tidak mendengarkanku, Aruna?!" Keenan menggeram. Jemarinya mencengkram rahang Aruna, memaksanya menoleh untuk memperlihatkan tanda merah itu. "Kenapa kamu tidak menutupinya?"

​”Anda tidak bisa mengatur apa yang ingin saya pakai atau bagian tubuh mana yang ingin saya tutupi, Pak Keenan!"

​"Kamu sengaja melakukannya agar mereka berpikir aku menyentuhmu, kan?" Keenan mendekatkan wajahnya, napasnya terasa panas di kulit Aruna. "Kamu ingin menghancurkan imej profesional yang sudah aku bangun selama ini?"

​"Imej profesional anda sudah hancur sejak ada benda silikon di saku celana anda, Pak Keenan!" Aruna balas membentak. "Anda takut mereka tahu kalau anda mempunyai hasrat pada saya? Anda takut mereka tahu kalau CEO yang dingin ini sebenarnya sangat lapar akan sentuhan mantan ‘sahabatnya’ yang ia tinggalkan!"

​Mata Keenan menggelap. Itu bukan lagi sekadar amarah, itu adalah api hasrat yang selama ini ia tekan sekuat tenaga.

​"Kamu benar," bisik Keenan, suaranya serak dan berbahaya. "Aku lapar. Dan kamu terus-menerus menguji ku dengan godaan mu, Aruna!”

​Tanpa aba-aba, Keenan meraup bibir Aruna lagi. Kali ini lebih kasar, lebih menuntut, dan penuh dengan frustrasi yang memuncak. Aruna mengerang dalam ciuman itu, tangannya mencoba mendorong dada Keenan, namun pria itu justru menangkap kedua tangan Aruna dan menguncinya ke pintu di atas kepala Aruna dengan satu tangan.

​Ciuman itu turun ke leher, tepat di atas tanda merah yang Aruna pamerkan tadi. Keenan menggigit kecil di sana, membuat Aruna mendesah pasrah.

“Aahh.. Lepaskan!”

​"Kamu ingin mereka tahu, kan?" Keenan berbisik tepat di telinga Aruna, bibirnya menyapu hangat. "Bagaimana kalau aku buat tanda yang lebih banyak? Agar kamu tidak punya alasan lagi untuk menyebutnya alergi debu."

​"Pak Keenan... Kita di kantor…!" Aruna merintih, tubuhnya mulai melemah. Hasrat yang dipicu karena dominasi Keenan merambat ke seluruh sarafnya.

​Keenan melepaskan tangannya yang mengunci tangan Aruna, namun tangannya kini merayap turun ke pinggang Aruna, menarik pinggul wanita itu agar menempel erat pada miliknya. Aruna bisa merasakan ketegangan yang nyata di balik celana kain Keenan, sesuatu yang keras, tegak sempurna, dan sangat nyata.

​"Lihatlah milikku berdiri," bisik Keenan di telinga Aruna, napasnya memburu. "Kamu bilang aku butuh alat bantu? Kamu bilang aku tidak berfungsi? Rasakan ini, Aruna. Katakan padaku, apakah ini terasa seperti butuh bantuan medis bagimu?"

​Aruna memejamkan mata, tangannya meremas bahu jas Keenan. "Kamu... Kamu hanya—”

​"Aku sedang menginginkanmu sampai aku hampir gila!" Keenan memutar tubuh Aruna, membuatnya menghadap cermin besar yang ada di sudut ruangan. Ia memeluk Aruna dari belakang, menempelkan wajahnya di bahu Aruna sementara tangannya merayap masuk ke dalam kemeja Aruna, membelai kulit perutnya yang halus.

​"Lihat dirimu di cermin, Aruna," perintah Keenan. "Lihat betapa berantakannya kamu karena ulahku. Kamu menyukai ini, bukan? Kamu menyukai fakta bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku kehilangan kendali."

​Aruna menatap pantulannya di cermin. Rambutnya berantakan, bibirnya bengkak dan merah, dan mata yang sayu karena gairah. Di belakangnya, Keenan tampak seperti predator yang sedang menandai wilayahnya.

​"Kenapa kita tidak bisa berhenti saling menyakiti?" bisik Aruna emosional, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dirty Office   Bab 230 Antara Hidup dan Mati

    Keenan menggeleng lemah. Ia mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mendekap pinggang Aruna dengan posesif. "Aku tidak tahu pasti isinya, Sayang. Tapi sepertinya itu dokumen yang bisa menghancurkan jaringan bisnis gelap musuh papa kamu. Rizal tidak pernah bicara detail padaku di luar negeri, dia hanya bilang punya 'asuransi' untuk melindungimu kalau terjadi sesuatu padanya." ​Aruna menghela napas panjang. Ia merasa seolah seluruh energinya telah terkuras habis. "Aku ingin pulang, Keenan. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Terlalu banyak masalah yang kita lalui hari ini, aku lelah..." ​Keenan menatap Aruna dengan tatapan penuh permohonan. "Ayo kita pulang ke penthouse. Kita selesaikan ini bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini." ​"Tidak," tolak Aruna tegas sambil melepaskan pelukan Keenan. "Aku butuh waktu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu, tidak ingin melihat Tante Sofia, atau siapa pun. Aku hanya ingin pul

  • Dirty Office   Bab 229 Rekaman CCTV

    ​Tangan Aruna gemetar hebat saat merasakan dinginnya logam pistol dan tajamnya mata pisau yang diserahkan Keenan ke telapak tangannya. Ia menatap benda-benda mematikan itu, lalu beralih menatap mata Keenan yang merah dan basah. Di dalam ruangan itu, Aruna merasa oksigen di sekitarnya seolah menipis. ​"Bunuh aku, Aruna," bisik Keenan lagi, suaranya pecah. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa adil atas kepergian Rizal, lakukan. Aku tidak akan melawan. Aku sudah menyiapkan semuanya agar kamu tetap aman." ​Aruna menatapnya dengan pandangan hancur. "Kamu pikir dengan mati, semuanya selesai? Kamu pikir rasa sakitku akan hilang kalau kamu jadi mayat di depanku?" ​"Aku tidak punya cara lain untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu!" Keenan berteriak frustrasi. Ia menarik tangan Aruna yang memegang pisau, menempelkan ujung tajamnya tepat di atas jantungnya sendiri. "Tekan, Aruna! Tekan sedikit saja, dan semua penderitaan ini berakhir!" ​"Keenan, hentikan!" Aruna menarik tangan

  • Dirty Office   Bab 228 Penjelasan yang Tak Terduga

    Gedung perusahaan itu tampak gelap, hanya lantai teratas yang lampunya menyala. Aruna masuk menggunakan kartu akses pemberian Keenan. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, ia melihat Keenan sedang duduk di lantai, bersandar pada meja kerjanya. ​Ada beberapa botol alkohol di sampingnya. Kemeja putihnya sudah berantakan, kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak teratur. ​"Kamu datang..." suara Keenan terdengar serak, ia mendongak dengan mata merah. ​Aruna berdiri di ambang pintu, masih dengan gaun putih yang kotor dan basah. "Aku kesini tidak untuk memaafkan mu, Keenan. Aku ke sini untuk mendengar penjelasan apalagi yang akan kamu katakan atau mungkin kebohongan mu.." ​Keenan berdiri dengan susah payah. Ia melangkah mendekati Aruna, setiap langkahnya terasa berat. Saat jarak mereka hanya tinggal satu jengkal, Aruna bisa mencium aroma alkohol yang kuat bercampur dengan parfum maskulin yang selalu membuatnya kehilangan kendali. ​"Aku tidak

  • Dirty Office   Bab 227 Surat Apa Ini?!

    Tangan Aruna menggenggam kalung berlian pemberian Sofia begitu kuat hingga permata itu seolah menusuk telapak tangannya. ​Ia menatap kosong ke arah aspal jalanan, tempat mobil sport hitam Keenan baru saja melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan suara decitan ban yang menyayat hati. Kalimat terakhir Keenan terus terngiang di tengah suara petir yang menggelegar di sekitarnya. ​’Aku akan membayar nyawa kakakmu dengan nyawaku kalau itu bisa membuatmu memaafkan aku…’ ​"Brengsek kamu, Keenan..." bisik Aruna dengan suara serak. Air matanya mengalir, menyatu dengan air hujan yang membasahi di pipinya. "Kenapa kamu harus melakukan ini padaku, Keenan?" ​Dada Aruna terasa sesak. Kebenaran yang dilemparkan Felicia terasa seperti belati yang tidak hanya menusuk jantungnya, tapi juga mengoyak semua kenangan manis yang baru saja ia bangun dengan Keenan. Mandi bersama yang hangat di penthouse, sentuhan posesif Keenan di ruang ganti, hingga janji-janji manis tentang masa depan, semuanya kini te

  • Dirty Office   Bab 226 Kekacauan di Tengah Janji Nikah

    ​Keenan terdiam. Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik Aruna masuk ke dalam mobil. "Kita harus ke pergi sekarang, Aruna.. Kita sudah ditunggu untuk gladi bersih untuk pernikahan. Kita akan bicara nanti, aku janji." ​Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin meski AC menyala rendah. Keenan mencoba meraih tangan Aruna, namun Aruna menariknya perlahan. Ia berpura-pura melihat keluar jendela, sementara di dalam tasnya, tangannya mencengkeram foto rumah sakit itu. ​Gladi bersih itu berlangsung dengan sangat khidmat, namun penuh dengan ketegangan yang tak terlihat. Alexander dan Sofia duduk di barisan depan, memperhatikan setiap langkah Keenan dan Aruna menuju altar. ​Saat mereka berdiri di depan altar dan diminta untuk saling berpegangan tangan dan mengucapkan sepintas janji sebagai latihan. ​Keenan menatap mata Aruna. "Aku, Keenan Ignazio Arkana, bersumpah untuk melindungimu, mencintaimu, dan memberikan segalanya untukmu... Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri

  • Dirty Office   Bab 225 Restu yang Tiba-tiba

    Keenan tiba-tiba merasa gelisah setelah membaca kertas yang diberikan papanya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Aruna. “Kenapa ponselnya mati?!” gamenya cemas. Keenan mencoba menelpon Nando dan Zaskia tapi tidak ada satupun jeng menjawab. “Sial! Kenapa ponsel mereka semua?! Tidak mungkin aku diam-diam pergi lagi ke penthouse, kan?!”gumamnya. Ia pun mengirim pesan pada Aruna. [Aruna : Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa ponselnya mati?! Hubungi aku secepatnya kalau sudah baca pesan ku.] pesan itu terkirim tapi hanya centang satu. “Hhhh.. Ini benar-benar menyiksaku!” gerutu Keenan sambil mondar mandir di samping ranjangnya. Sementara itu, setelah Alexander meninggalkan kamar Keenan dengan ancaman, ia tidak langsung tidur. Ia menuju ruang kerja pribadinya, di mana Sofia, istrinya, sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata sembab. ​”Pa, aku tidak tahan lagi," isak Sofia saat pintu tertutup. "Felicia terus menerorku. Dia meminta bagian saham lebih banyak, atau dia akan b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status