Masuk"Aku tidak peduli," gumam Keenan. Ia membungkam bibir Aruna dengan ciuman yang sangat kasar dan menuntut. Lidahnya masuk dengan paksa, menjelajahi rongga mulut Aruna seolah sedang mengklaim wilayah kekuasaannya.Tangannya merayap masuk ke balik kemeja Keenan, merasakan otot-otot dada suaminya yang mengeras. Sentuhan mereka semakin liar. Tangan Keenan mulai membuka kancing jas lab Aruna, lalu dengan lihai ia menyelinap ke dalam kemeja sutra Aruna, meremas squishy kenyal istrinya itu dengan gemas. Aruna menahan desahan di balik ciuman mereka, kepalanya mendongak saat Keenan mulai menciumi lehernya dengan rakus, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang baru."Sshhh... Keenan... Nanti ada yang lihat," rintih Aruna kecil."Nando tahu apa yang harus dia lakukan. Dia akan menjaga area di sini," bisik Keenan serak. Ia membenamkan wajahnya di antara belahan squishy Aruna, menghirup aroma parfum mawar dan gairah yang menguar dari tubuh istrinya.Di sisi lain ruangan, Nando memang tampak san
"Mama!" Aruna segera melepaskan diri dari dekapan Keenan dan berlari menghampiri Stella.Stella menolak bantuan perawat untuk tetap duduk. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba berdiri dari kursi roda, tangannya yang gemetar mencari pegangan. Keenan dengan sigap melompat maju, menyambar tubuh Mamanya sebelum wanita itu jatuh karena lemas."Mama, kenapa ke sini? Dokter bilang Mama harus istirahat!" tegur Keenan, suaranya keras namun penuh kekhawatiran."Aku tidak bisa diam saja di sana, Keenan," kata Stella dengan suara parau. Ia menatap Alexander yang terbaring lemah dengan berbagai selang di tubuhnya. "Aku harus melihatnya... Aku harus memastikan pria ini tidak pergi sebelum menebus semua air mataku."Perawat yang menemani Stella tampak serba salah. "Maaf Tuan Keenan, Nyonya Stella memaksa. Beliau bahkan mengancam akan mencabut infus kalau tidak dibawa ke sini."“Baiklah, tidak apa-apa, suster tinggal saja..” Keenan menghela napas, ia membantu Stella duduk di kursi samping ranjang
Keenan menatap Papanya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada sisa amarah di sana, namun juga ada rasa ingin tahu yang sangat besar."Katakan padaku, Pa," suara Keenan terdengar rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. "Apalagi yang ingin Papa siapkan? Setelah semua kebenaran ini, setelah racun itu hampir merenggut nyawa Papa... Apalagi yang Papa sembunyikan di balik punggungku dan Aruna?"Alexander menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar berat dan menyakitkan. Masker oksigennya berembun setiap kali ia mencoba bicara. "Banyak... Keenan. Selama ini... aku membangun Arkana bukan hanya dengan keringat, tapi juga... dengan duri di sekelilingku. Aku harus memastikan... Kalau duri itu tidak menusukmu... atau Aruna."Aruna merasakan remasan tangan Keenan di pinggangnya semakin mengencang. Ia mendongak, menatap profil samping wajah suaminya yang terlihat sangat maskulin dan penuh otoritas. Aruna memberanikan diri untuk bersuara, suaranya lembut namun memiliki ketegas
Keenan langsung menghampiri Nando di tengah koridor saat mengantar Aruna keluar kamar menuju kamar sebelah, auranya yang dominan kembali memuncak. Ia mencengkeram bahu Nando dengan kuat. "Apa yang kamu temukan di kantor?" Nando mengatur napasnya. "Aku membawa rekaman CCTV rahasia dari ruang kerja Om Alexander, dan hasil penyelidikan tim IT bayangan Anda, Keenan." Keenan menarik Nando masuk ke dalam ruang ICU. Di depan ranjang Alexander yang kini sudah terjaga sepenuhnya, Keenan meminta Nando mengeluarkan bukti itu. "Buka sekarang. Papa juga ingin melihat siapa bajingan itu." Nando melirik Alexander, yang memberikan anggukan lemah tanda setuju. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan, Nando membuka laptopnya dan memutar sebuah rekaman video hitam putih dari sudut yang sangat tersembunyi, kamera yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanan gedung. Dalam rekaman itu, terlihat suasana ruang kerja Alexander yan
Keenan membeku. "Nando? Kenapa dengan dia?" Aruna baru saja akan mengeluarkan foto itu dari sakunya, namun suara dokter kembali menginterupsi, meminta mereka memberikan ruang karena Alexander harus menjalani tes motorik lanjutan. “Maaf Tuan Keenan dan Nyonya Aruna, saya akan memeriksa kondisi Pak Alexander secara berkala..” “Oh ya, silahkan dokter..” Keenan memberikan ruang pada dokter dan perawat untuk memeriksa Alexander, ia kemudian menarik Aruna ke sudut ruangan yang gelap, menjauh dari jangkauan pandangan perawat. Ia mengunci tubuh Aruna di antara dinding dan tubuh kekarnya, memberikan ciuman yang mendalam dan penuh tekanan di bibir istrinya, seolah ingin meyakinkan istrinya apapun yang dikatakan, semua akan baik-baik saja. . "Katakan padaku, Aruna," gumam Keenan di sela ciumannya yang panas. "Apa yang terjadi di mansion tadi? Ada apa dengan Nando" Aruna terengah-engah, tangannya menc
Aruna masih mematung di depan meja riasnya. Kenzo, yang baru saja tenang setelah menyusu, bersandar lemas di bahunya, sementara tangan kiri Aruna masih menggenggam erat amplop coklat yang baru saja ia buka. Ia menoleh ke arah Zakia, berpikir mungkin saja sahabatnya itu tahu sesuatu. "Zaskia!" panggil Aruna dengan suara yang ditekan, mencoba tidak mengejutkan bayinya. Zaskia, yang baru saja meletakkan botol susu kosong milik Kenzie di atas nakas, menoleh dengan wajah lelah yang seketika berubah waspada melihat ekspresi sahabatnya. "Ada apa, Aruna? Kenapa wajahmu seperti itu?" Aruna menyodorkan amplop dan isinya ke arah Zaskia. "Dari mana amplop ini berasal? Siapa yang meletakkannya di meja riasku?" Zaskia mengambil foto itu dengan dahi berkerut. Namun, sedetik kemudian, matanya melebar dan tangannya gemetar. "Ini... ini Nando? Dan pria ini... aku tidak mengenalnya. Aruna, aku bersumpah, aku tidak tahu ada amplop ini di
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







