MasukSetelah mengantar Sofia, Karem memutuskan pergi ke rumah ayahnya. Meski Sofia memintanya untuk tidak mempermasalahkan apa yang Ayahnya lakukan. Tapi kalau tidak dia bicarakan, maka ayahnya akan mengira rencananya berjalan lancar sehingga dia bisa melakukannya lagi di kemudian hari.Sekalian, dia ingin memberitahu ayahnya kalau Sofia adalah putri yang diasuh oleh sahabat baiknya sendiri. Entah ayahnya sudah tahu atau belum, tapi dia akan mengatakannya.Charles tidak menyangka putranya akan pulang. Dia mengira Karem tidak mau mengunjunginya lagi. Mungkin kali ini, Karem menyetujui perjodohannya karena aku terasa sahabatnya telah berhasil.Tanpa rasa curiga, Charles menghampiri Karem.“Katakan padaku, apakah kepulanganmu kali ini membawa kabar baik untukku?”“Tentu saja. Aku memang ingin memberikan kabar baik untukmu, Dad.”“Bagus,” pria tua itu duduk tidak jauh darinya, “Apa kau sudah mengambil keputusan, kapan kau akan melamar Maria?”“Dad, kau terlalu banyak berpikir. Siapa bilang ak
Andrew duduk di samping ibunya, memeluk lengannya dan tak mau berjauhan. Dia mengintip sesekali, melihat ke arah ayahnya yang duduk tidak jauh.Dexter sangat ingin mendekat, memeluk putranya dan mengajaknya berbincang tapi dia tidak mau menakuti putranya. Terlihat begitu jelas, Andrew menjaga jarak darinya.Rasanya menyakitkan, ganjaran yang dia terima itu tidak pernah dia duga sama sekali. Seandainya waktu itu dia berhasil menyingkirkan Sofia, bukankah dia akan semakin menyesal karena telah membunuh darah dagingnya sendiri?Kedua orang tuanya bisa berbincang dengan putranya dengan leluasa. Sedangkan dirinya, sendirian dan tampak menyedihkan.“Sini, Kenapa masih takut dengan nenek?” Marie kembali mendekati cucunya. Setelah mendapatkan permennya, Andrew justru menjauh lagi dan tak mau dekat dengan mereka.“Jangan takut,” kakeknya pun membujuk. Mereka tahu siapa yang paling ditakuti Andrew.“Andrew, kakek dan nenek begitu menyayangimu. Jangan takut dengan mereka.”“Mama, Andrew tidak t
Andrew tidak juga mau turun. Dia memeluk Karem dengan erat, tidak mau melepaskannya. Apa yang mereka bicarakan di rumah tadi seolah sia-sia karena anak itu masih berada dalam ketakutan.Kesan pertama saat bertemu dengan ayahnya meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan.“Andrew, kita sudah sampai. Kenapa kau tidak mau turun?” Sofia berusaha membujuknya.“Mama, di sini saja. Ketemunya di sini saja, Andrew tidak mau masuk.”“Tidak boleh begitu, sayang. Itu tidak sopan. Andrew lihat, kakek dan nenek datang menghampiri. Nanti kalau Andrew tidak mau turun, mereka akan menganggap Mama tidak bisa mengajari Andrew.”Andrew melihat ke arah kakek dan neneknya. Mereka berjalan cepat, begitu antusias untuk bertemu dengan cucu mereka.“Pergilah,” Karem mengusap kepala anak itu dengan lembut, “Tunjukkan kalau Andrew anak yang hebat, bisa melindungi Mama dan membuat Papa bangga.”“Papa peluk lagi,” Andrew memeluknya lama seolah-olah mendapatkan kekuatan dari pelukan itu.Karem menuruti, memeluk dan
Andrew menangis saat ibunya mengajaknya pergi untuk bertemu dengan ayahnya.Berkali-kali dia menolak, tapi Sofia berusaha membujuk. Kepulangannya kali ini tidak saja mempertemukan Andrew dengan keluarganya, tapi juga untuk berpamitan.Andrew bersembunyi di dalam kamar, mengunci pintu dan tak ingin keluar. Sofia sudah lelah membujuknya, tapi putranya tetap tak mau pergi.“Ayolah, Andrew. Kita hanya pergi sebentar.”“Tidak mau, Mama. Pokoknya Andrew tidak mau pergi ke mana-mana.”“Sayang, jangan begitu. Mama telah berjanji akan membawamu pulang, Nenek dan Kakek pun sudah menunggu.”“Tapi Andrew sudah punya papa, Andrew tidak mau bertemu dengan papa yang lain. Bisakah hanya bertemu dengan kakek dan nenek saja?”“Sayang, untuk itu Mama?”“Pokoknya Andrew tidak mau pergi!” putranya kembali berteriak.Sofia menghela nafas. Dia kehabisan kata-kata. Bagaimana dia harus membujuk putranya?Karem menghampirinya, memegangi bahunya dengan pelan. Sofia mendongak, dia terlihat putus asa.Karem terse
Begitu mendengar apa yang terjadi pada putranya, Marie dan David langsung pergi ke rumah sakit.Mereka sudah tahu apa yang telah terjadi. Tadinya mereka marah pada Sofia yang telah menyebabkan kejadian itu, tapi setelah mendengar apa yang dilakukan oleh Dexter, mereka pun tak bersuara.Tak menyangka Dexter akan menculik Sofia, ingin melakukan perbuatan keji padanya. Rasa kecewa mereka semakin besar saja.Dexter sedang berbaring, tangan dan kakinya di gips. Dia langsung dibawa ke rumah sakit setelah Karem dan Sofia pergi.Dia terlihat murung, tatapannya pun kosong. Melihat keadaannya itu, membuat kedua orang tuanya yang ingin marah tidak jadi melakukannya.Ibunya menghampiri, duduk di sampingnya tapi Dexter tidak menoleh sama sekali. Dia menghela nafas sebentar melihat keadaan putranya. Ada rasa kecewa, rasa sedih dari ekspresi wajahnya.“Lihat keadaanmu sekarang!” ayahnya angkat bicara, “Kau sudah seperti pecundang saja!”“Dad, kalau kau datang untuk memarahiku, sebaiknya jangan laku
Dexter merintih, rasa sakit di tangan dan kakinya membuatnya tidak bisa bergerak sedikit pun. Dia memandangi Sofia, berharap wanita itu membantunya tapi Sofia tidak peduli.Apa yang dilakukan oleh pria itu selama ini sudah cukup menyakiti hatinya. Dia tidak akan mencegah Karem melakukan apapun asalkan Karem tidak membunuhnya.Suara teriakan Karen pun masih terdengar di luar. Dia memohon dan memanggil nama Sofia agar memaafkannya dan tidak mengirimnya ke Kamboja.Saat itu Karem mendapatkan sebuah ide, kalau bisa diselesaikan saat itu juga, itu jauh lebih baik agar Sofia tidak lPerlu lagi bertemu dengan Dexter.“Wanita itu, bawa dia kembali!” perintahnya.“Buat apa, Karem. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi.”“Tenanglah. Sudah aku bilang kita selesaikan saat ini juga,” Karem mengambil kursi untuknya, “Duduklah terlebih dahulu, aku akan menghubungi pengacara ku sekarang.”Dahinya mengernyit, tapi akhirnya Sofia mengangguk. Dia akan mempercayakan semuanya pada Karem.“So-Sofia,” Dexter
“Selamat pagi,” Sofia tersenyum, menyapa suaminya saat pria itu membuka mata. Dexter terkejut. Tapi tatapannya dingin. Sikap Sofia yang tak seperti biasanya terasa aneh baginya. Sofia tidak memperdulikan tatapan matanya. Dia melangkah menuju jendela, menyingkap tirai hingga terbuka. “Sudah pagi.
Saat pulang, Sofia mendapati kedua orang tuanya berberes-beres, bersiap untuk pergi. Mereka memang tidak berniat lama-lama, mereka hanya ingin memastikan bagaimana Dexter memperlakukan Sofia setelah menikah. Mereka juga ingin memastikan apakah Dexter masih bersama dengan kekasihnya atau tidak. Dan
Sofia terkejut, mendapati Dexter sedang duduk di depan jendela dan menatapnya dengan tajam. Entah sudah berapa lama pria itu duduk di sana. Tidurnya begitu pulas sampai tidak menyadari kepulangannya. Dengan perlahan Sofia menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya. Tak ada kata yang perlu dia ucapk
Sofia pulang ke rumah, ayah dan ibunya terkejut karena dia pulang lebih cepat. Wajahnya terlihat lesu, kedua matanya memerah seperti habis menangis.Sofia pergi ke dapur, mengambil segelas air hangat. Dia meneguknya dengan cepat, sambil menahan air mata.Ibunya memperhatikan, lalu menghampirinya de







