INICIAR SESIÓN"Lakukan sesuai rencana, jangan kasih mereka ampun." Ucapan Kael begitu tegas dan mengancam. Sang asisten dengan cepat dan sigap menjawab siap. Rencana yang telah mereka persiapkan sejak lama akhirnya akan dieksekusi. Setelah semua susunan rencana rapi, Kael memutuskan sambungan telepon. Dia masih berdiri menatap keluar jendela, memandang ketidakpastian masa depan yang akan mereka lalui. Hati Kael terasa hampa dan pedih. Tawa sang putri, wajah cerianya, dan rasa ingin tahunya yang besar benar-benar membuat Kael rindu setengah mati. Dia lalu menoleh ke arah pintu, berharap wanita yang dicintainya muncul di sana, namun itu semua hanya angan-angan belaka. Saat Kael tengah memikirkan siasat untuk menghancurkan mereka yang berani mengusik, Eveline justru sedang menangis sesenggukan di dalam kamar. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung. Kreeek! Suara pintu yang terbuka seolah tak terdengar oleh Eveline. Ia seakan mendadak tuli dan buta, sama sekali tak menghiraukan lingkunga
"Sienna enggak mau sama Om yang suka bikin Mama marah, Pa!" Gadis kecil dalam pelukan Kael terus meronta enggan ikut Alvaro. Kael berusaha menenangkannya, namun Sienna tetap menolak. Hati Kael semakin tak rela. Namun, Alvaro tetap mengulurkan tangan. "Om enggak jahat, kok. Sienna salah sangka aja." Saat tangan itu meraih tangan mungil Sienna, gadis itu langsung menolak dengan memalingkan tubuhnya. Melihat penolakan yang begitu nyata, ego Alvaro merasa tersentil. Dia tetap mengambil Sienna dibantu Valencia. "Jangan paksa putriku!" sentak Kael. Namun, Alvaro tak merasa takut. Dia justru terlihat semakin menantang. "Jangan berani halangi saya, Pak Kael. Dia anak saya, saya berhak bawa dia." Kedua tangan Kael mengepal kuat, menahan amarah yang siap meledak. Namun, dia hanya bisa pasrah saat Sienna diambil paksa. Melihat anaknya yang terus menangis di pelukan Alvaro, Eveline tak bisa tinggal diam. Ia mendorong dekapan sang ibu lalu berlari ke arah Alvaro. Namun, Kael langsu
"Aku bilang berhenti!" Suara Kael menggema keras. Suasana seketika hening. Melihat tatapan Kael yang tajam dan menusuk, nyali mereka langsung ciut. Kael membentangkan kedua tangannya. Tubuhnya yang tegap seolah memblokir penuh jalan masuk. "Tunggu di sini! Kalian cuma boleh sampai di sini. Kalau berani masuk, aku bakal bikin kalian semua yang ada di sini bener-bener menyesal!" Setelah melontarkan ancaman yang memaksa mereka menunggu, Kael kembali menatap sang istri, memastikan Eveline tenang. "Tunggu di sini, Sayang. Aku pastikan Sienna bakal kembali ke kita. Tapi untuk sekarang, aku minta kamu sabar dulu," ucap Kael, berusaha membuat istrinya mengerti. Eveline tetap menggeleng. Namun, Kael tak punya pilihan. Jika mereka menolak atau menghalangi pihak pengadilan dan menentang putusan Mahkamah Agung, penjara sudah menanti mereka. Dia dan Eveline hanya bisa mengalah untuk menang. Dengan langkah berat, Kael mulai melangkah masuk untuk menghampiri Sienna di kamarnya. Tangisan Eveli
"Nggak, nggak boleh! Mereka nggak boleh bawa Sienna." Tangis Eveline kembali pecah saat mendengar suara beberapa mobil mendekat. Tatapannya mendadak gelap, seolah dunianya tak lagi memiliki cahaya. Kedua tangannya mencengkeram lengan Kael dengan kuat hingga ujung kukunya memutih. "Tahan mereka. Mereka nggak boleh bawa Sienna, nggak boleh!" Mata Eveline tertuju jauh ke arah pintu. Ia begitu takut jika tiba-tiba mereka datang untuk membawa pergi putrinya. Kael yang melihat sang istri makin hilang kendali langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Dia memeluknya erat demi membatasi gerak Eveline. "Lepas, Kael! Aku harus bawa Sienna pergi, kita harus pergi sekarang juga!" Kael mengendurkan pelukannya, lalu menatap sang istri. "Eve, lihat aku. Kamu harus tenang. Aku bakal keluar buat hadapi mereka. Kamu di dalam aja, temani Sienna, ya?" Mendengar ucapan yang menenangkan itu, Eveline mengangguk patuh. Perlahan ia bangkit dibimbing Kael. Dengan langkah gemetar dan terus-menerus menengok
Eveline dan Kael memutuskan untuk langsung kembali ke rumah. Pikiran mereka benar-benar kacau, nasib anak mereka tengah dipertaruhkan. Begitu mobil berhenti di area parkir, Eveline langsung melompat keluar dan berlari ke dalam rumah. Ia mencari sosok mungil yang sangat disayanginya—gadis kecil yang dulu selalu ia nantikan sejak masih dalam kandungan. Air matanya sudah bercucuran. Langkah kakinya yang tergesa-gesa tak lagi menghiraukan halangan di depannya. "Sienna!" teriaknya histeris hingga suaranya pecah. Matilda yang tengah menemani cucunya di kamar sontak terkejut mendengar teriakan itu. Tanpa berpikir panjang, dia refleks menggendong Sienna keluar menghampiri sumber suara. "Kamu di mana, Sayang!" Kael ikut kalang kabut menyusul dari belakang. Dia menyejajarkan langkah, memastikan istrinya tidak tersandung atau jatuh. Kedua tangan Kael siap siaga menadah tubuh sang istri. "Eve, pelan-pelan!" Namun, Eveline tak mengindahkannya sama sekali. Ia terus melangkah menelus
"Aku nggak terima sama keputusan ini, kalian iblis!" Eveline benar-benar murka. Amarahnya tak lagi dapat ia bendung. Begitu para hakim dan jaksa meninggalkan ruangan, Eveline langsung mengamuk. Dengan emosi yang memuncak, ia berlari ke arah Alvaro lalu mencengkeram kuat kerah bajunya. "Kamu benar-benar licik, Al! Kamu manfaatin kelemahanku cuma buat ambil Sienna dariku. Tega kamu, ya!" Alvaro menarik paksa tangan rapuh yang mencoba mengancamnya itu. "Eve, aku kan udah kasih kamu penawaran, tapi kamu tolak mentah-mentah. Tapi tenang aja, belum terlambat kok kalau kamu mau balik sama aku." "Apa kamu bilang? Balik?" potong Valencia dengan nada sangsi. Alvaro seketika bungkam dan mendadak panik—hal yang justru membuat Eveline merasa makin jijik. Pria plin-plan sepertinya memang tak layak untuk dicintai. Eveline segera mundur beberapa langkah, seolah takut tertular penyakit mematikan dari mereka. Ia hanya menatap dingin ke arah Alvaro dan Valencia yang justru malah asyik berdeb







