LOGINSinta menatap keluar jendela dengan tatapan kosong dan hampa. Samar-samar dia mendengar obrolan Neneknya dengan sang dokter. Ia baru saja siuman setelah mengalami koma selama seminggu akibat pendarahan hebat yang dialaminya.
“Kami masih harus melakukan observasi lebih lanjut, untuk sementara ini, kondisi Nyonya Sinta bisa dikatakan sudah stabil, tapi untuk bisa di perbolehkan pulang, masih harus menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya,” “Baik, dokter, terima kasih,” ucap Nenek Gayatri sambil menghela napas lega. “Jangan terlalu khawatir, pastikan saja Nyonya Sinta makan dengan baik dan minum obatnya secara teratur.” Nenek Sinta mengangguk paham, setelah berbincang sebentar, dokter itu pun pergi. Dari neneknya, Sinta mengetahui bahwa bayinya telah tiada. Dan selama ia koma, tidak ada satu orang pun dari keluarganya yang datang menjenguk. Tentu saja, ayahnya sudah lama mengabaikannya semenjak direbut pelakor. Jadi, Sinta sudah lama tidak mengharapkan kepedulian dari ayahnya yang kini sudah memiliki keluarga baru. Sementara Abimanyu dan keluarga mertuanya? Neneknya bilang, Abimanyu dan orang tuanya memang datang menjenguk, hanya sekali, karena mereka juga harus merawat Rashta. “Lagi-lagi kamu melamun.” Suara serak khas orang tua membuat Sinta secara refleks menoleh. “Cuma bosan saja, Nek,” ucap Sinta lirih. Ekspresinya yang datar dan kosong membuat Nenek Gayatri khawatir. Cucunya yang selalu ceria dan bersinar seperti cahaya matahari kini redup dan lesu seperti bunga yang layu. Nenek Gayatri merasa sangat sedih untuk cucunya. Saat ia diberitahu bahwa Sinta mengalami kecelakaan, ia langsung berlari menuju ke rumah sakit diantarkan oleh adiknya. Saat tengah menunggui Sinta di ruang operasi, Nenek Gayatri melihat Abimanyu dan keluarga Djaja berdiri di depan ruang rawat seseorang. Dari perawat, Nenek Gayatri tahu bahwa pasien dalam ruangan itu adalah Rashta, anak angkat kesayangan keluarga Djaja. Melihat bagaimana cucunya dibiarkan sendirian saat berjuang melawan maut, padahal tengah mengandung keturunan keluarga Djaja, hati Nenek Gayatri terasa hancur. Dia bisa menebak bagaimana keluarga itu memperlakukan cucunya. Saat itu juga, rasa hormatnya pada keluarga besannya itu langsung memudar. “Nenek? Kenapa melamun?” Nenek Gayatri terkesiap, dengan cepat ia menyingkirkan kesedihan di hatinya, kemudian berkata dengan lembut, “apa kamu lapar? Nenek Sawitri baru saja mengantarkan bubur untukmu.” Sinta tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya. Nenek Gayatri meletakkan kantong plastik berisi bubur buatan adiknya dan susu kedelai hangat di atas meja, kemudian membukanya satu persatu. “Nenek suapi,” ucap Nenek Gayatri sembari mengaduk bubur di dalam mangkuk. Baru saja Sinta membuka mulutnya untuk menerima sesuap bubur dari neneknya, pintu ruang rawat terbuka lebar, menampilkan sosok tinggi rupawan yang hampir dilupakan Sinta dari ingatannya. Abimanyu Djaja, suaminya. Akhirnya Sinta melihat wajah ini lagi. Tapi, kali ini hanya kebencian yang tersisa di dalam hatinya. Untuk sesaat, pasangan suami istri itu hanya saling menatap dengan sorot yang sama-sama dingin, sebelum akhirnya Nenek Gayatri berkata dengan bahasa yang begitu formal, “Selamat datang. Silakan masuk.” Abimanyu tampak tertegun sesaat mendengar sambutan dari nenek mertuanya itu. Biasanya, wanita tua itu akan menyambutnya dengan ramah tamah dan penuh perhatian. Selama seminggu ini, bahkan meliriknya pun tidak. Abimanyu sampai kehilangan kata-kata untuk menjawab sambutan itu. Sinta menatap map berwarna cokelat di tangan suaminya. Sepertinya ada hal yang ingin pria itu sampaikan. “Nenek, sepertinya beliau datang untuk menyampaikan sesuatu. Bisakah Nenek tunggu di luar dulu?” pinta Sinta. Nenek Gayatri mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya melewati Abimanyu begitu saja dan meninggalkan ruangan itu. Abimanyu tampak sedikit mengerutkan keningnya saat melihat Sinta menatapnya dengan kosong. Ia menduga wanita itu akan langsung berlari memeluknya sambil menangis dan meluapkan kesedihannya. “Jadi... apa yang membuat Pak Abimanyu yang terhormat repot-repot datang ke sini?” Mendengar itu, Abimanyu menyunggingkan senyum sinis. Ia menganggap sikap Sinta hanyalah sandiwara untuk menarik perhatiannya. Abimanyu adalah orang yang tidak sabaran. Mendengar ucapan dari Sinta, ia pun segera melemparkan map cokelat di tangan ke atas ranjang pasien, tepat di atas kaki Sinta. “Tandatangani surat pernyataan itu.” “Apa isinya?” “Surat pernyataan bahwa malam itu adalah kecelakaan. Kamulah yang memulai keributan hingga kalian terjatuh bersama dari atas tangga itu. Sinta, tidakkah kamu merasa bersalah? Karena kecemburuanmu yang tidak masuk akal itu, anak itu... akhirnya meninggal dunia.” ‘Anak itu’—bahkan hingga saat ini, Abimanyu tidak menyebutnya sebagai anakku ataupun anak kita. Ternyata ucapan Rashta benar adanya; bayinya yang malang itu tidak berarti apa-apa bagi Abimanyu. Sinta mendongak, menatap netra biru suaminya itu dengan tatapan dingin. Entah apa yang ada di otaknya dulu hingga bisa mengagumi pria berhati kejam tanpa perasaan ini. “Baiklah, aku akan menandatanganinya, tapi dengan satu syarat.” Abimanyu mendengus. “Syarat? Kamu berani mengajukan syarat padaku?” “Tentu saja. Untuk membebaskan para pembunuh anakku, kenapa aku harus bermurah hati?” balas Sinta tajam. Ia tidak lagi berhati-hati dalam ucapannya, tidak peduli jika itu menyinggung ego pria itu. “Sinta, jaga ucapanmu. Semua ini terjadi karena kesalahanmu sendiri,” ucap Abimanyu dengan tajam. “Aku tidak peduli apa pendapatmu. Mau menerima syaratnya atau tidak?” potong Sinta dengan cepat. Abimanyu kemudian berkata dengan suara rendah, “Syarat apa?” “Ceraikan aku,” jawab Sinta tegas. “Aku akan menandatangani surat pernyataan ini dengan sukarela setelah kamu membawa surat perjanjian perceraian yang sudah kamu tanda tangani padaku. Kalau tidak, aku akan menyeret wanita kesayanganmu itu ke penjara.”Sinta memandangi foto anak laki-laki berwajah rupawan namun memiliki sorot mata sendu itu dengan lekat. Ada getaran aneh di dalam dadanya—sebuah perasaan familiar yang sangat samar, seolah memanggil memori lamanya dari balik kabut masa lalu yang pekat. Jemarinya yang memegang pinggiran kertas perlahan membalik lembaran berikutnya. Mata Sinta membelalak saat membaca data pribadi di berkas medis lama dari sebuah rumah sakit luar negeri. Nama anak laki-laki itu tertulis jelas: Arjuna Pandawa, dengan catatan medis mengenai trauma fisik akibat kecelakaan lalu lintas belasan tahun lalu. Sinta membelalak sempurna saat melihat catatan kecelakaan itu menyebutkan nama sang ibu, Utari Saraswati. Trauma psikis? Arjuna mengalami trauma psikis karena kecelakaan yang dialami oleh ibunya? Apa maksud dari semua ini? Apa saat kejadian itu, Arjuna juga ada di tempat? Sinta kembali membuka halaman-halaman berikutnya dimana di sana terdapat rekam jejak Arjuna yang mencari tahu tentang Sint
Sinta tertegun mendengar pernyataan Abimanyu. Membongkar rahasia Arjuna? "Apa maksudmu, Mas? Kalau kedatanganmu hanya untuk merusak kebahagiaanku, sebaiknya kamu pergi." "Sinta, aku melakukan semua ini untuk kebaikanmu." "Untuk kebaikanku?" Sinta menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menekan amarahnya yang mulai bergejolak. "Mas, kamu bahkan tidak pernah memikirkan kebaikanku saat masih menjadi istrimu. Sekarang kamu tiba-tiba datang dan mengatakan hal aneh tentang calon suamiku, padahal aku akan menikah dengannya beberapa hari lagi." Abimanyu tampak menegang, rahangnya mengeras. Pria itu membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya hanya menyodorkan sebuah map berwarna merah kepada Sinta. "Aku tahu kamu membenciku karena kematian anak kita, tapi—" "Tidak, Mas, kamu salah paham. Aku sudah berhenti mencintaimu jauh sebelum kecelakaan itu terjadi." Abimanyu terperangah. "Apa maksudmu?" "Kamu mungkin lupa, jadi aku akan mencoba mengingatkanmu. Kamu ingat
Setelah meninggalkan kantor polisi, Sinta tidak kembali ke kantornya. Karena pernikahannya dengan Arjuna hanya tinggal hitungan hari, Sinta melakukan tradisi keluarga, yaitu dipingit. Itu sebabnya selama beberapa hari ke depan sebelum hari akad tiba, Sinta akan tinggal di rumah neneknya.Mobil Arjuna sudah terparkir dengan rapi di halaman rumah Nenek Gayatri.Mulai besok, Sinta akan tinggal di sini, jadi Arjuna sudah tidak diperbolehkan untuk bertemu atau keluar bersama Sinta."Bagaimana kalau aku tinggal di rumah pamanmu?""Juna, hentikan..." Sinta terkekeh.Sudah dua hari Arjuna terus merengek gara-gara tidak boleh bertemu dengan Sinta selama seminggu ke depan sampai hari pernikahan."Bagaimana aku akan menjalani hari-hariku nanti?""Lebay. Kan kita bisa video call?"Arjuna tetap cemberut, wajahnya jadi sangat lucu kalau sudah begitu karena sangat berlawanan dengan tubuhnya yang tinggi besar."Kamu benar-benar mau menikah denganku tidak sih?""Mau, dong!""Kalau begitu, yang patuh,
Apa lagi yang direncanakan Mas Bima? batin Sinta gelisah. Arjuna yang menyadari perubahan ekspresi Sinta langsung mengusap lembut punggung tangan wanita itu. "Ada apa, Queen? Kamu lelah?" Sinta menggeleng pelan, menepis bayangan Abimanyu dari pikirannya. "Tidak apa-apa, Juna. Hanya merasa... semuanya berjalan begitu cepat." "Tenanglah, semuanya sudah berakhir untuk mereka," ucap Arjuna menenangkan, meski jauh di lubuk hatinya, Arjuna tahu bahwa ancaman sebenarnya justru belum dimulai. Sementara itu, di dalam mobil mewah yang melaju kencang membelah malam kota Jakarta, Abimanyu duduk di kursi belakang dengan tangan mengepal erat di atas lututnya. Ia baru saja menerima pesan masuk dari Detektif Arya Gunadi di ponselnya, lengkap dengan foto-foto lama Arjuna dan beberapa catatan yang menjadi fakta baru bagi Abimanyu. "Arjuna..." desis Abimanyu penuh dendam dengan mata menyala-nyala di balik temaram lampu jalanan. "Kau pikir kau bisa menyembunyikan kebenaran itu selamanya dari Sinta?
Melihat dokumen yang familiar di tangan Sinta, wajah Ruslan seketika menjadi pucat. Pupil matanya tampak bergetar saat memindai akta kepemilikan saham dan aset berwarna biru tua itu. "T-tidak mungkin... Bagaimana bisa dokumen itu ada padamu? Jelas-jelas aku..." Ruslan menelan ludahnya dengan susah payah. Sinta tahu betul bahwa pria itu tidak mungkin mengatakan bahwa dia telah mencuri dokumen itu dari kantor Saraswati Corp. "Jelas-jelas apa, Pak Ruslan? Kenapa Anda tidak melanjutkan ucapan Anda?" tanya Sinta sembari tersenyum. Di sampingnya, Lula melipat kedua tangannya di dada, tampak menikmati pertunjukan yang dimainkan oleh sahabatnya itu. Apalagi melihat wajah Ambar yang berubah hijau, Lula hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Gadis itu pun berbisik di telinga Sinta, "Luar biasa, Sin. Aku tidak menyangka kamu punya sisi yang kejam begini, tapi aku suka, hihi." "Karena mereka berani mengincar keluarga ibuku, terutama Nenek. Jadi, aku memutuskan unt
Melihat suasana yang mulai gaduh, pembawa acara itu pun menegur Krisna, Ambar, serta Ruslan. Ketiga orang itu pun kembali duduk. Pembawa acara kemudian mengumumkan nama-nama pelanggan prioritas yang berhasil mendapatkan slot pembelian set terbaru yang hanya diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas. Namun saat mendengar namanya tidak disebut, Ambar pun berdiri kembali dan langsung memprotes. "Tunggu! Kenapa namaku tidak masuk dalam daftar? Aku jelas-jelas sudah menghubungi pihak kalian dan mengatakan bahwa aku akan membelinya secara tunai!" Mendengar ucapan Ambar, suasana pun kembali gaduh karena para tamu saling berbisik, bahkan ada yang terang-terangan menyindir. "Nyonya Jayadi, maaf jika Anda tersinggung, tapi saya dengar kondisi keuangan keluarga Jayadi sedang buruk, jadi sebaiknya Anda..." "Diam! Apa hakmu untuk mengaturku?" bentak Ambar sambil menunjuk ke arah wanita itu. Kali ini Krisna pun ikut menimpali, "Ambar, beliau benar. Kondisi keuangan kita sedang tid







