Share

Bab 7 : Ceraikan Aku

Author: Maufy Izha
last update publish date: 2026-07-17 17:59:30

Sinta menatap keluar jendela dengan tatapan kosong dan hampa. Samar-samar dia mendengar obrolan Neneknya dengan sang dokter. Ia baru saja siuman setelah mengalami koma selama seminggu akibat pendarahan hebat yang dialaminya.

“Kami masih harus melakukan observasi lebih lanjut, untuk sementara ini, kondisi Nyonya Sinta bisa dikatakan sudah stabil, tapi untuk bisa di perbolehkan pulang, masih harus menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya,”

“Baik, dokter, terima kasih,” ucap Nenek Gayatri sambil menghela napas lega.

“Jangan terlalu khawatir, pastikan saja Nyonya Sinta makan dengan baik dan minum obatnya secara teratur.”

Nenek Sinta mengangguk paham, setelah berbincang sebentar, dokter itu pun pergi.

Dari neneknya, Sinta mengetahui bahwa bayinya telah tiada. Dan selama ia koma, tidak ada satu orang pun dari keluarganya yang datang menjenguk.

Tentu saja, ayahnya sudah lama mengabaikannya semenjak direbut pelakor. Jadi, Sinta sudah lama tidak mengharapkan kepedulian dari ayahnya yang kini sudah memiliki keluarga baru.

Sementara Abimanyu dan keluarga mertuanya? Neneknya bilang, Abimanyu dan orang tuanya memang datang menjenguk, hanya sekali, karena mereka juga harus merawat Rashta.

“Lagi-lagi kamu melamun.” Suara serak khas orang tua membuat Sinta secara refleks menoleh.

“Cuma bosan saja, Nek,” ucap Sinta lirih.

Ekspresinya yang datar dan kosong membuat Nenek Gayatri khawatir. Cucunya yang selalu ceria dan bersinar seperti cahaya matahari kini redup dan lesu seperti bunga yang layu.

Nenek Gayatri merasa sangat sedih untuk cucunya. Saat ia diberitahu bahwa Sinta mengalami kecelakaan, ia langsung berlari menuju ke rumah sakit diantarkan oleh adiknya.

Saat tengah menunggui Sinta di ruang operasi, Nenek Gayatri melihat Abimanyu dan keluarga Djaja berdiri di depan ruang rawat seseorang. Dari perawat, Nenek Gayatri tahu bahwa pasien dalam ruangan itu adalah Rashta, anak angkat kesayangan keluarga Djaja.

Melihat bagaimana cucunya dibiarkan sendirian saat berjuang melawan maut, padahal tengah mengandung keturunan keluarga Djaja, hati Nenek Gayatri terasa hancur. Dia bisa menebak bagaimana keluarga itu memperlakukan cucunya. Saat itu juga, rasa hormatnya pada keluarga besannya itu langsung memudar.

“Nenek? Kenapa melamun?”

Nenek Gayatri terkesiap, dengan cepat ia menyingkirkan kesedihan di hatinya, kemudian berkata dengan lembut, “apa kamu lapar? Nenek Sawitri baru saja mengantarkan bubur untukmu.”

Sinta tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya. Nenek Gayatri meletakkan kantong plastik berisi bubur buatan adiknya dan susu kedelai hangat di atas meja, kemudian membukanya satu persatu.

“Nenek suapi,” ucap Nenek Gayatri sembari mengaduk bubur di dalam mangkuk.

Baru saja Sinta membuka mulutnya untuk menerima sesuap bubur dari neneknya, pintu ruang rawat terbuka lebar, menampilkan sosok tinggi rupawan yang hampir dilupakan Sinta dari ingatannya.

Abimanyu Djaja, suaminya. Akhirnya Sinta melihat wajah ini lagi. Tapi, kali ini hanya kebencian yang tersisa di dalam hatinya.

Untuk sesaat, pasangan suami istri itu hanya saling menatap dengan sorot yang sama-sama dingin, sebelum akhirnya Nenek Gayatri berkata dengan bahasa yang begitu formal, “Selamat datang. Silakan masuk.”

Abimanyu tampak tertegun sesaat mendengar sambutan dari nenek mertuanya itu. Biasanya, wanita tua itu akan menyambutnya dengan ramah tamah dan penuh perhatian. Selama seminggu ini, bahkan meliriknya pun tidak. Abimanyu sampai kehilangan kata-kata untuk menjawab sambutan itu.

Sinta menatap map berwarna cokelat di tangan suaminya. Sepertinya ada hal yang ingin pria itu sampaikan.

“Nenek, sepertinya beliau datang untuk menyampaikan sesuatu. Bisakah Nenek tunggu di luar dulu?” pinta Sinta.

Nenek Gayatri mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya melewati Abimanyu begitu saja dan meninggalkan ruangan itu.

Abimanyu tampak sedikit mengerutkan keningnya saat melihat Sinta menatapnya dengan kosong. Ia menduga wanita itu akan langsung berlari memeluknya sambil menangis dan meluapkan kesedihannya.

“Jadi... apa yang membuat Pak Abimanyu yang terhormat repot-repot datang ke sini?”

Mendengar itu, Abimanyu menyunggingkan senyum sinis. Ia menganggap sikap Sinta hanyalah sandiwara untuk menarik perhatiannya.

Abimanyu adalah orang yang tidak sabaran. Mendengar ucapan dari Sinta, ia pun segera melemparkan map cokelat di tangan ke atas ranjang pasien, tepat di atas kaki Sinta.

“Tandatangani surat pernyataan itu.”

“Apa isinya?”

“Surat pernyataan bahwa malam itu adalah kecelakaan. Kamulah yang memulai keributan hingga kalian terjatuh bersama dari atas tangga itu. Sinta, tidakkah kamu merasa bersalah? Karena kecemburuanmu yang tidak masuk akal itu, anak itu... akhirnya meninggal dunia.”

‘Anak itu’—bahkan hingga saat ini, Abimanyu tidak menyebutnya sebagai anakku ataupun anak kita. Ternyata ucapan Rashta benar adanya; bayinya yang malang itu tidak berarti apa-apa bagi Abimanyu.

Sinta mendongak, menatap netra biru suaminya itu dengan tatapan dingin. Entah apa yang ada di otaknya dulu hingga bisa mengagumi pria berhati kejam tanpa perasaan ini.

“Baiklah, aku akan menandatanganinya, tapi dengan satu syarat.”

Abimanyu mendengus. “Syarat? Kamu berani mengajukan syarat padaku?”

“Tentu saja. Untuk membebaskan para pembunuh anakku, kenapa aku harus bermurah hati?” balas Sinta tajam. Ia tidak lagi berhati-hati dalam ucapannya, tidak peduli jika itu menyinggung ego pria itu.

“Sinta, jaga ucapanmu. Semua ini terjadi karena kesalahanmu sendiri,” ucap Abimanyu dengan tajam.

“Aku tidak peduli apa pendapatmu. Mau menerima syaratnya atau tidak?” potong Sinta dengan cepat.

Abimanyu kemudian berkata dengan suara rendah, “Syarat apa?”

“Ceraikan aku,” jawab Sinta tegas. “Aku akan menandatangani surat pernyataan ini dengan sukarela setelah kamu membawa surat perjanjian perceraian yang sudah kamu tanda tangani padaku. Kalau tidak, aku akan menyeret wanita kesayanganmu itu ke penjara.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Novita024
bagus sinta, ceraiin aja suami tidak berguna itu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 157 : Modus Abimanyu

    Genggaman tangan Sinta pada ponselnya mengencang. Suara Abimanyu di seberang telepon terdengar begitu santai, seolah-olah telah melakukan hal yang sangat terpuji. "Sudah." Sinta menjawabnya dengan singkat dan dingin. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak kunjung ada respons dari Abimanyu, Sinta akhirnya bertanya, "Ada lagi? Kalau tidak, saya akan tutup teleponnya." "Apa kamu menyukainya?" "Tidak. Aku benci warna hijau." Tut. Tanpa menunggu respons Abimanyu, Sinta memutuskan panggilan itu. Sesaat kemudian, ponselnya tidak berhenti bergetar karena deretan pesan singkat yang masuk. Dan semuanya dari Abimanyu. Sinta memijat pelipisnya, tampak frustrasi. "Kenapa dia berisik banget, sih?" Sinta menggerutu, sebelum akhirnya membalikkan layar ponselnya menghadap ke meja lalu menyalakan mode pesawat. Kemudian, ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Meskipun hari ini adalah hari Sabtu, Sinta tetap masuk ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum har

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 156 : Hadiah Dariku Sudah Sampai?

    Senyum miring yang terukir di wajah Renata belum sempat memudar ketika derap langkah tergesa-gesa memecah ketegangan di pelataran apartemen. Dua orang petugas sekuriti berseragam lengkap berlari mendekat dengan raut wajah cemas, disusul oleh manajer operasional gedung yang tampak panik. "Bu Sinta! Anda tidak apa-apa?" tanya kepala sekuriti dengan napas terengah-engah begitu mengenali Sinta. "Wanita ini tiba-tiba datang menyerang Sinta sampai terluka," sahut Arjuna. Netra gelapnya menatap Renata dengan tajam, membuat gadis itu refleks mengambil satu langkah ke belakang. "Aku cuma mendorongnya sedikit. Dia sendiri yang lebay sampai jatuh!" seru Renata membela diri. "Renata, apa kamu benar-benar tidak punya rasa malu?" Ekspresi Arjuna menjadi lebih gelap, salah satu tangannya terkepal erat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol tajam. Renata tampak sedikit panik dan menelan ludahnya dengan gugup. Gadis itu sepertinya sudah tahu bahwa ia telah memancing amarah Arjuna. "Aku da

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 155 : Aku Akan Menghancurkanmu!

    Beberapa pengunjung restoran di sekitar mereka sempat menoleh ke arah meja akibat teriakan histeris Lula. Lula yang sadar jadi pusat perhatian cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu terkekeh canggung seraya membungkukkan badan sedikit untuk meminta maaf kepada pengunjung lain."Lula, pelankan suaramu..." bisik Sinta sambil menutup wajahnya yang makin merona karena malu."Bagaimana aku bisa tenang?!" seru Lula dengan suara tertahan, melotot girang. "Ini berita terbesar tahun ini! Sahabatku akhirnya dilamar oleh pria yang benar!"Tak lama kemudian, Mas Jay kembali ke meja setelah dari kamar mandi. Pria itu menatap bingung ke arah Lula yang masih berkedip-kedip heboh dan Sinta yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus."Ada apa ini? Suara jeritan Lula bahkan terdengar sampai ke lorong toilet," goda Jay seraya mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Lula."Babe, kamu tidak akan percaya ini!" Lula mengguncang-guncang lengan Jay tanpa ampun. "Tuan Muda kita baru saja

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 154 : Ya, Aku Bersedia

    Napas Sinta tercekat. Ia tidak menyangka bahwa Arjuna akan mengatakan hal itu padanya.Menikah?"J-Juna...""Sinta... aku tidak akan memaksa kalau kamu tidak bersedia. Tapi, menikah denganku juga merupakan cara yang paling ampuh untuk membuatnya menyerah."Sinta mengerti, "dia" yang dimaksud tidak lain adalah Abimanyu."Maksudmu, kamu mau menikah denganku hanya agar dia menyerah?" tanya Sinta. Meski hanya sedetik, wajahnya tampak kecewa.Mendengar pertanyaan itu, ekspresi Arjuna menjadi lebih serius. "Tentu saja tidak. Aku mau menikah denganmu karena aku..."Arjuna menggigit bibir bawahnya, tampak bimbang dan khawatir. Sementara itu, Sinta kini menatap pemuda itu lekat-lekat, tanpa sadar meremas ujung blazernya kuat-kuat."Kamu... kenapa?"Arjuna menelan ludahnya dengan cepat, wajahnya memerah hingga ke telinga. Tak lama kemudian, pemuda itu menatap Sinta dalam-dalam. Setelah mengambil napas sejenak, ia berkata, "Aku mencintaimu. Sangat. Sinta, aku sangat mencintaimu."Sinta tercengan

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 153 : Lakukan Sesuatu Untukku

    "Tuan Abimanyu berpikir terlalu jauh. Saya hanya sedikit mengingatkan, bukan berarti saya akan mengingkari janji." Sinta berusaha untuk tetap tenang, kemudian melanjutkan, "Lagi pula, perjanjian itu hanya menyatakan bahwa saya wajib mendampingi Anda sebagai partner bisnis setiap akhir pekan. Tidak ada klausul khusus yang menyatakan bahwa saya harus memakai gaun pemberian Anda."Abimanyu menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu melipat kedua tangannya di dada. Senyum tipis yang sarat akan dominasi kembali terukir di bibirnya."Memang tidak tertulis secara spesifik, Bu Sinta," ucap Abimanyu santai, namun terdengar begitu mengintimidasi. "Namun, saya punya standar sendiri, jadi sebaiknya Bu Sinta mengikuti standar saya. Bu Sinta tahu, kan, bahwa saya sangat menjaga martabat dan kehormatan keluarga Djaja?""Apa hubungannya gaun dengan kehormatan keluarga?""Tentu saja ada hubungannya, Bu Sinta. Jamuan makan yang saya hadiri merupakan acara bergengsi yang dihadiri oleh banyak pejabat, pengus

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 152 : Tamu Tak Diundang yang Menyebalkan

    Saat itu, terdengar suara ketukan pintu yang lembut. Sinta segera mengusap air matanya dengan cepat, kemudian menarik napas dalam-dalam. "Masuk..." Marilyn masuk ke dalam ruangan itu dengan ekspresi cerah. Sinta menyambutnya dengan ceria. "Kak Marilyn? Apa ada sesuatu?" Marilyn mengangguk, kemudian meletakkan sebuah map di atas meja kerja Sinta. Saat ini, Marilyn telah resmi dipindahtugaskan menjadi sekretaris pribadi Sinta atas permintaan langsung dari Arjuna. Jadi, untuk ke depannya, Marilyn yang akan mendampingi dan mengajari Sinta agar bisa menjadi pemimpin perusahaan yang mumpuni. "Nona Sinta, ini adalah perjanjian kerja sama dari klien Jayadi Group sebelumnya. Kerja sama itu belum terlaksana. Saya sudah menjadwalkan pertemuan dengan pimpinan perusahaan ini besok lusa. Agendanya adalah membahas tentang kelanjutan proses pembangunan sepuluh blok apartemen bersubsidi di kawasan Tanah Abang yang sempat tertunda akibat krisis manajemen dan keuangan dari Jayadi Group sebelumny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status