Masuk“Bastian …” Arumi menutup mulutnya tanpa sadar. Di seberang, Bastian menatapnya penuh kerinduan. Suara klakson dan deru kendaraan seakan menjadi lagu latar pertemuan mereka yang saling terdiam di antara dua sisi jalan yang berseberangan.
Lampu di seberang Arumi berubah hijau. Bastian melangkah mendekat. Arumi menghitung dalam hati di antara harapan dan kecemasan akan masa depan yang akan ia hadapi.”
“Apakah dia takdir yang harus aku jalani?”
Bastian tiba di depan Arumi. Berdiri canggung. Ia ingin merangkul, namun belum merasa pantas untuk memeluk perempuan tersebut.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Bastian sungkan.
“Aku … hamil…,” ucap Arumi lirih. Bastian tercengang, namun hanya sejenak.
“A-aku akan bertanggung jawab, Arumi. Kita akan menikah.” Arumi merasakan sedikit kelegaan.
“Tadi aku habis menemui ibumu.” Bastian tercengang lagi.
“Apa yang ia katakan?” Arumi tersenyum sedih.
“Sepertinya ia tidak menyukai diriku.” Bastian menggeleng.
“Ini bukan tentang saling menyukai, Rumi. Ini tentang tanggung jawab.”
Sejenak Arumi tersentuh mendengar pernyataan Bastian. Ini memang bukan tentang perasaan lagi. Ada tanggung jawab yang harus mereka tunaikan.
“Ayo, kita temui orang tuaku.” Bastian menggenggam tangan Arumi. Mereka saling tatap lama, hingga akhirnya Bastian menuntun Arumi kembali ke rumahnya.
Lenny berusaha keras menahan emosinya saat melihat sang anak berjalan bergandengan tangan dengan gadis yang tadi telah diusirnya. Mereka berhenti tepat di hadapannya. Lenny melirik sinis genggaman tangan itu. Arumi yang risih melepaskan tangannya, namun Bastian menariknya kembali.
“Bun, ada yang harus aku bicarakan.”
“Tidak perlu!” tandas Lenny ketus.
“Arumi hamil anak aku, Bund. Aku harus bertanggung jawab.”
“Pokoknya tidak ada pernikahan antara kalian.” Lenny tetap pada pendiriannya. Ia menatap tajam pada Bastian.
“Bas, kamu itu anak lelaki keluarga Bahruddin. Lain kali jaga sikapmu saat berada di luar. Dan kamu …” Lenny ganti menatap Arumi yang sudah menunduk.
“Saya akan ganti rugi atas kerugian yang telah diperbuat anak saya. Tapi setelah itu jangan pernah muncul di hadapan saya lagi.
“Saya hanya ingin anak ini memiliki ayah …,” lirih Arumi sambil menyentuh perutnya.
“Tidak akan ada pernikahan dari hubungan kotor kalian!” tandas Lenny keras.
“Bunda restui atau tidak aku akan tetap menikahi, Arumi!” balas Bastian tidak kalah keras, membuat Lenny terperanjat.
“Lihat, sekarang bahkan kamu berani berteriak di depan ibumu!” Lenny menghela napas kesal.
“Maaf, Bund.” Suara bastian melunak.
“Bukannya Bunda yang selalu bilang jika Bastian harus menjadi lelaki yang bertanggung jawab.” Lenny menghela napas lagi. Enggan menatap wajah sang anak. Bastian menggenggam tangan ibunya.
“Selama ini Bastian selalu menuruti keinginan Bunda. Tolong untuk sekali ini, mengertilah keadaan aku, Bund. Tolong restui aku dan Arumi …” Bastian mengecup tangan sang bunda, lalu melepaskannya perlahan dan mendekat pada Arumi.
“Ayo, Rumi. Kita temui orang tuamu.” Arumi tertegun sejenak.
“Aku … Ngga punya orang tua, Bas … Hanya ada Bibi dan Paman.” Bastian tersenyum penuh simpati lalu merengkuh Arumi.
“Jangan khawatir, sekarang ada aku yang akan bersama kamu,” ujarnya sambil membawa Arumi pergi dari tempat itu.
Bastian membukakan pintu mobilnya untuk Arumi lalu duduk di belakang kemudi.
“Kita mau kemana?” tanya Arumi ketika mobil mereka yang mereka tumpangi mulai membelah jalanan.
“Ke rumah paman dan bibimu. Aku mau meminta restu mereka, lalu menikahimu.” Arumi tersenyum namun rautnya tampak sedih.
“Terima kasih, Bas. Aku pikir kamu tidak akan mau bertanggung jawab.” Bastian tersenyum sambil menepuk punggung tangan Arumi.
“Oh ya, bisa perkenalkan dirimu, Arumi.” Arumi menatap bingung.
“Kita akan menikah, tentu harus saling mengenal lebih dalam.” Bastian tertawa, diikuti Arumi.
“Namaku Arumi Maharani.” Bastian tersenyum geli.
“Aku sudah tahu hal itu. Ceritakan yang lebih pribadi.”
“Aku tinggal bersama paman dan bibiku sejak kecil. Ayahku sudah meninggal, dan ibuku …” Arumi terdiam. Meneguk ludah sebelum melanjutkan, “ ibuku pergi entah kemana …”
“Maksudmu, ibumu pergi meninggalkanmu dan ayahmu?” tanya Bastian tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.
“Ya.”
“O–Oke. Lalu bagaimana dengan sekolahmu?” Bastian berusaha mengenyahkan rasa tidak nyaman yang tercipta di antara mereka.
“Aku sekolah seperti pada umumnya. Namun setelah lulus SMA, aku bekerja di toko bunga. Mengumpulkan uang untuk masuk kuliah keperawatan.
“Kamu pekerja keras.”
“Bagaimana dengan kamu?”
“Tidak ada yang istimewa. Aku bukan murid pintar. Malah agak berandalan.” Arumi tertawa kecil mendengarnya.
“Rumahmu yang pagar cokelat itu bukan?” tanya Bastian memastikan. Ia mematikan mesin mobilnya di depan rumah bercat putih itu. Timah yang sedang menyiram tanaman tampak terkejut melihat kedatangan Arumi bersama seorang lelaki. Ia segera berlari ke dalam memanggil suaminya.
“Pak! Bangun, Pak!”
“Opo to, Bu? Keliyengan Bapak dibangunin mendadak gini.”
“Di luar ada Arumi, Pak. Dia datang sama lelaki.” Pranoto tampak terkejut.
“Cepat, Bu. Ambilkan baju koko dan peci Bapak.” Pranoto tergopoh-gopoh ke kamar mandi. Mencuci muka dan segera memakai bajunya lalu bergegas ke ruangan depan. Di sana sudah ada Arumi dan Bastian duduk melingkar di atas karpet.
Saat melihat Pranoto, Bastian segera sigap mencium tangan Pranoto dan Timah, lalu duduk kembali di sebelah Arumi.
“Paman, Bibi, perkenalkan, ini Bastian,” ucap Arumi memperkenalkan lelaki di sebelahnya.
“Saya ayah dari anak yang dikandung oleh Arumi. Saya kemari berniat untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya. Jika Paman dan Bibi mengizinkan, saya bemaksud untuk menikah dengan Arumi,” ucap Bastian dengan tenang dan runut. Pranoto dan Timah saling pandang sejenak. Wajah Timah tampak diliputi kelegaan.
“Saya minta maaf baru datang sekarang. Saya janji akan memperbaiki kesalahan saya dan menjaga Arumi dengan baik.”
“Kami percaya pada kamu, Bastian. Jadi kapan kalian mau melangsungkan pernikahan?”
“Secepatnya, Paman. Saya tidak mau Arumi jadi omongan tetangga.” Pranoto mengangguk mengerti.
“Oh ya, bagaimana dengan orangtuamu?” Bastian dan Arumi saling terdiam.
“Bunda saya masih belum bisa menerima Arumi sekarang … Tapi saya akan meyakinkannya pelan-pelan.” Pranoto dan Timah menghela napas.
“Jadi mungkin saya tidak bisa memberikan mahar yang besar untuk Arumi … dan kami juga tidak bisa mengadakan acara pernikahan yang mewah.”
“Ngga usah, Bas. Jujur saja, aku juga tidak menginginkan acara pernikahan yang meriah. Aku hanya ingin acara akad nikah saja. Cukup mengundang keluarga dekat. Bagaimana, Paman dan Bibi?
“Tentu saja. Kami akan selalu mendukung kalian.” Timah ikut angkat bicara.
“Kamu bisa menikah dengan lelaki yang baik, buat kami itu sudah cukup, Arumi.” Arumi menggangguk sambil tersenyum bahagia.
Tiga hari kemudian Bastian sudah berhadapan di depan penghulu, di dalam ruang tamu rumah Pranoto yang sempit. Arumi masih berada di dalam kamar ditemani oleh Timah.
“Maaf ya, Rumi. Kita bahkan ngga sempat memesan tenda untuk hajatan.
“Ngga apa-apa, Bi. Ini sudah cukup buat Rumi.” Timah tersenyum. tangannya menyentuh wajah Arumi yang dirias tipis.
“Ayo kita keluar. Penghulunya sudah datang.” Arumi berjalan keluar kamar diiringi oleh Timah. Beberapa kerabat yang duduk melingkar di atas karpet memberikan jalan. Bastian terpana sejenak saat melihat Arumi, kemudian tersenyum saat arumi duduk di sebelahnya. Penghulu
“Baiklah, kita akan segera memulai akad nikah antara saudara Bastian Burhanuddin dengan saudari Arumi Maharani,” ucap penghulu di balik meja.
“Mas Bastian sudah siap?”
“Siap, Pak,” jawab bastian mantap. Penghulu mengulurkan tangan ke arah bastian, bersiap memulai akad.
“Saudara Bastian–”
“Tunggu!” teriak seseorang lantang memecah kesakralan acara.
Lampu di lorong Rumah Sakit yang melintas begitu cepat di atas kepalanya. Arumi memejamkan mata hingga roda brankar itu berdecit pelan dan berhenti. Perempuan itu membuka mata. Tampak perawat sedang menutup tirai pembatas. Di seberangnya bednya, tampak seorang perempuan terbaring lemah, ditemani seorang lelaki yang sibuk dengan gadgetnya.Bastian membelai lembut rambut Arumi. Perawat yang tadi mengantar mereka telah menghilang.“Maaf ya, Arumi. Kamar VIP ataupun VVIPnya sedang full. Kamu ngga apa-apa kan dirawat bersama orang lain. Nanti kalau sudah ada kamar VIP yang kosong, aku sudah minta biar kamu dipindahkan.” Arumi menggeleng lemah. Ia tidak menyangka harapannya untuk ke Rumah Sakit dikabulkan meskipun dengan cara yang tidak wajar. Ia tidak peduli jika harus berbaring di parkiran Rumah Sakit sekalipun asal janinnya dapat diselamatkan.“Masih mulas?” Arumi menggeleng lagi.“Pendarahannya sudah berhenti. Sekarang kamu istirahat saja ya.” Arumi memejamkan mata. Bastian menutup tira
Arumi duduk di ruang periksa dengan raut khawatir. Tangannya meremas ujung baju untuk meredakan kegelisahan. Bidan Rahayu yang duduk di hadapannya tampak memeriksa buku KIA Arumi dengan dahi berkerut.“Ibu jarang kontrol kandungan ya?”“I-iya, Bu Bidan,” jawab Arumi lirih.“Ibu ada keluhan apalagi selain pusing dan sakit kepala?”“Kadang saya merasa mual dan nyeri ulu hati. Juga …” Arumi ragu-ragu meneruskan kalimatnya. Takut bidan tersebut menghakimi dirinya karena jarang kontrol kandungan.“Kenapa? Ibu harus jujur dalam pemeriksaan agar mudah terdeteksi jika ada kelainan pada janin?”“Sepertinya bayinya tidak bergerak lincah, Bu Bidan,” ucap Arumi akhirnya. Perempuan setengah baya itu tidak menjawab. Ia menulis sesuatu di buku KIA dan kartu status pasien.“Saya buatkan rujukan ke rumah sakit ya, Bu.” Arumi tertegun.“Apa ngga bisa disembuhkan di sini, saja, Bu?” Bidan Rahayu Menggeleng.Tensi Ibu tinggi. Itu bisa berbahaya untuk janin jika dibiarkan terlalu lama. Alat-alat di sini j
“Ma-Maaf …,” ucap Arumi gugup sambil menunduk hendak memungut sendok tersebut., namun Maika menahannya.“Oh, No! No, Sayang!” Ia berkata kepada para followernya.“Ingat ya, Gais, alat makan yang sudah terjatuh jangan dipungut kembali.” Maika tertawa, namun terdengar bagai ejekan bagi Arumi.“Masa gitu ajah ngga ngerti.”“Money can't buy class.”“Bastian salah pilih istri.”“Memalukan.”“Semoga Bastian cerain dia dan jadian sama Maika.”“Tegakkan tubuh kamu, Arumi. Ayo, kita mulai makan.” Arumi menegakkan tubuhnya dengan kaku.Bastian mendatangi mereka. Maika melihat lewat ekor matanya dan tersenyum licik. Ia sengaja mengarahkan Arumi untuk mengambil garpu dan pisau yang salah.“Kita mulai dengan bruschetta ya untuk appetizernya.”“Halo, Mai.” sapa Bastian “Hai, Bas. Gimana kabar kamu?” Maika menyapanya hangat seakan ingin menunjukkan kedekatan mereka pada Arumi.“Aku lagi ajarin Arumi table manner nih. Arumi kan sudah jadi bagian keluarga Burhanuddin. Harus belajar sedikit-sedikit.”
Arumi dan Mbok Ngah duduk di bangku kayu di halaman depan. Mbok Ngah tampak mengolesi tangan dan jemari Arumi dengan salep luka bakar. “Seharusnya segera diobati pas kena kemarin. Kalau kelamaan nanti jadi bertanda.” Ucap Mbok Ngah sambil mengolesi obat tersebut dengan telaten. Arumi hanya terdiam melamun. Tidak lagi dapat merasakan nyeri dan panas di tangannya.“Sepertinya aku telah membuat kesalahan besar, Mbok …” gumam Arumi sambil menatap Mbok Ngah yang telaten mengobati tangannya. Perempuan tua itu mengalihkan tatapannya dan tersenyum.“Sabar, Nduk.” Suaranya terdengar lembut.“Kesabaran akan membuahkan hasil. Meskipun memakan waktu. Seperti batu yang terkikis air.”“Berapa lama air mengikis sebuah batu besar, Mbok?” tanya Arumi sambil menyandarkan kepalanya ke tembok di belakang.Suara deru mobil menyadarkan mereka. Sebuah mobil berhenti diikuti mobil lainnya dari dalamnya keluar seorang gadis cantik dan modis yang sedang live di akun sosmednya dengan kamera ponselnya.“Hello,
“Kalian sedang apa?” Bastian menatap bingung -orang.“Oh kamu sudah pulang, Bastian.” Lenny memecahkan suasana canggung yang tercipta.“Kami balik dulu ya, Bas.” ujar Nita sambil mengajak kedua temannya pergi.“Lho kok sudah mau pulang, Tante? Tumben.”“Kamu tanya aja sama dia.” tunjuk Nita ke arah Arumi yang masih bergeming di tempatnya. Setelah itu ketiga perempuan tersebut meninggalkan tempat itu.“Ada apa sih, Rum?” tanya Bastian setelah hanya tinggal mereka bertiga di sana. Arumi masih membisu.“Bund?” Bastian mencari jawaban lain.“Apa yang terjadi?” Lenny pura-pura menebah dadanya.“Aduh, Bunda bingung harus jelasin bagaimana. Ini lho, Arumi …”“Kenapa dengan Arumi?” Bastian tampak khawatir.“Tadi dia hampir menyakiti teman-teman Bunda. Arumi … “ Lenny menjeda kalimatnya seakan menambah kesan dramatis.“ … Menyiramkan air panas ke Tante Nita dan dan Tante Ratih.” “Apa?” Bastian menatap tak percaya. Wajah Arumi semakin pucat.“Ngga, Bas. Bukan begitu kejadiannya.” Arumi menatap
Nampan di tangan Arumi terjatuh menimpa meja kaca. Menimbulkan bunyi berisik yang mengganggu. Teko dan cangkir saling tumpang tindih. Sebagian jatuh ke bawah meja. Menimbulkan suara yang keras dan nyaring saat beradu dengan lantai marmer dan kemudian pecah berserakan..Dengan terburu-buru dan panik Arumi segera merapikan teko dan cangkir yang terjungkal. ia tidak mempedulikan tangannya yang tersiram air panas, atau jarinya yang tergores pecahan cangkir.“Apa-apaan kamu, Arumi!” Lenny bangkit dan tampak marah besar. Ia menarik lengan Arumi dan mendorongnya dengan kasar“Kamu bisa kerja ngga sih?! kalau teman-teman saya terluka gimana?! kamu mau tanggung jawab?!” cecar Lenny.“Bu- Bukan aku, Bund …” Arumi menggoyangkan telapak tangannya ke depan dada.“Bukan aku yang melakukannya ...”“Duh, tanganku kena air panas nih. Melepuh.” Seorang teman Lenny sengaja menyiramkan bensin dalam kobaran api.“Aku juga kecipratan air panas.” Yang lain ikut membawakan kompor“Kamu dapat pembantu dari







