LOGINTiiiiinnn!!! Suara klakson yang begitu panjang memekakan telinga. Arumi jatuh terduduk. telapak tangannya terasa perih tergores aspal. Orang-orang berlari menolong. Menanyakan keadaannya.
“Mbak, kamu ngga apa-apa?” tanya seorang perempuan muda seumuran dirinya. Ia segera turun dari motor lalu membantu Arumi berdiri dan memapahnya ke pinggir jalan.
“Mau saya antar ke Rumah Sakit?” tanyanya khawatir.
“Ngga apa-apa, Mbak. Tadi hanya kesenggol dikit.” Orang-orang tampak lega.
“Mbak mau kemana?” tanya seorang Bapak yang tadi ikut membantunya.
“Saya mau ke …” Arumi mencari kartu nama yang tadi digenggamnya namun ia tampak tertegun. Kartu nama itu terlepas dari tangannya. Arumi melihat berkeliling, namun tak melihat benda kecil itu lagi. Ia segera memeriksa ponselnya, namun hanya tampak layar hitam.
“Handphonenya rusak? Mbak perlu menghubungi seseorang?” Lelaki setengah baya itu kembali bertanya.
“Iya, Pak,” jawab Arumi lemah.
“Mbak hapal nomornya? Pakai saja hape saya.” Arumi menghela napas.
“Saya tidak hapal nomornya.” Dua orang di hadapan Arumi saling pandang.
“Rumah Mbak dimana? Saya antarkan pulang ya?” Arumi terdiam sejenak, kemudian ia teringat sesuatu.
“Burhanuddin Foundation,” ucap Arumi tiba-tiba.
“Burhanuddin Foundation?” Dua orang di hadapan Arumi membeo.
“Iya. Bapak bisa antar saya ke sana?”
“Sebaiknya Mbak ke Klinik atau Rumah Sakit dulu. Lutut Mbak berdarah.” balas gadis yang tadi menolong Arumi.
“Ngga apa-apa. Ngga sakit kok,” ucap Arumi berbohong.
“Tentu saja bisa.” Lelaki itu segera membawa motornya ke hadapan Arumi. Dengan tertatih ia menaiki boncengan motor dan bersama lelaki setengah baya itu membelah jalan raya hingga berhenti di sebuah bangunan megah dan asri. Arumi membaca plang yang tertempel di pintu gerbang.
Burhanuddin Foundation
“Ini tempatnya, Mbak.” Arumi turun dan motor dan berdiri di depan bangunan tersebut.
“Mbak mau saya temani ke dalam?”
“Ngga usah, Pak. terima kasih sudah merepotkan.” Lelaki itu pamit bertepatan dengan sebuah mobil yang berhenti di depan Arumi. Seorang perempuan setengah baya dengan dandanan elegan keluar dari kursi penumpang.
“Belanjaan di belakang tolong segera diangkut ya. Saya ngga mau ada yang kurang saat pemberian donasi nanti. Itu kan diliput TV Nasional. Oh ya, gaun untuk acara penggalangan dana sebaiknya yang warna putih saja biar terkesan sederhana. Lalu yang untuk acara penghargaan perempuan berpestasi, carikan kebaya warna merah muda.” Perempuan itu dan beberapa asistennya berjalan melewati Arumi. Tiba-tiba ia terdiam seakan menyadari sesuatu. Ia segera berbalik menghampiri Arumi dan tersenyum penuh simpati. Senyum yang biasa ia bagikan di layar kaca. Seseorang menyalakan kamera, merekam pertemuan mereka.
“Cantik sekali” Ia tersenyum ramah. Namun keramahan itu membuat Arumi tidak nyaman.
“Siapa nama kamu?”
“A-Arumi,” jawabnya tergagap.
“Oke. Ada yang bisa Bunda bantu, Arumi?”
“Saya dari kampus … kampus saya pernah mengadakan bakti sosial dengan klinik Bastian.” Lenny tertawa pelan.
“Anak itu … Jiwa sosialnya memang tinggi. Seperti Bunda. Lalu apa yang bisa Bunda bantu sekarang?” Arumi menatap orang-orang di sekeliling mereka yang telah siap dengan kamera di tangan.
“Saya mau bicara tentang Bastian, Bunda.” Lenny Burhanuddin Melirik para asistennya. Tanpa kode apapun mereka paham apa yang diinginkan nyonya besar. Kamera segera dimatikan.
Lenny berjalan ke dalam gedung, para asisten berjalan menjauh. Arumi mengikuti dengan tertatih. Ia duduk di sebuah sofa abu-abu dengan canggung. Sekilas perempuan itu memandang ruangan dengan interior yang sangat estetik tersebut.
“Katakan apa tujuan kamu ke sini?” Arumi sudah melupakan nada ramah dan hangat dari perempuan di hadapannya.
Arumi menunduk, ragu-ragu untuk memberitahukan Lenny. Namun akhirnya ia meneguhkan hati.
“Saya hamil, Bunda … Anak Bastian …” Suara Arumi bergetar, namun cukup jelas untuk sampai ke cuping telinga Lenny.
Tatapan Lenny perlahan turun dari ujung kepala hingga ujung kaki perempuan di hadapannya. Menilai harga barang yang melekat di tubuh Arumi. Kemudian ia tertawa sinis.
“Lucu,” komentarnya singkat.
“Seorang gadis sederhana tiba-tiba datang dan mengaku hamil anakku,” ucapnya lagi dengan dingin.
“kamu tahu kan siapa Bastian itu? Lelucon konyol ini tidak mempan untuk saya.” Lenny melipat tangannya ke dada sambil bersandar pada sofa.
“Pemilihan kepala daerah akan dimulai. Siapa yang mengutusmu? Apakah paslon saingan saya? Saya bisa memberikanmu lebih banyak dari mereka, asal kamu mengikuti arahan saya.” Arumi menggeleng kikuk.
“Tidak ada, Bunda. Ini hanya permasalahan kami. Bastian bersedia bertanggung jawab. Tapi hape saya rusak, dan saya kehilangan kontaknya.” Lenny berdiri. Matanya berkilat marah.
“Dengar, Arumi! Jangan coba-coba menghancurkan nama baik keluarga saya. Saya bisa bawa kamu ke penjara atas dugaan tuduhan palsu.” Arumi tercekat. Tidak menyangka respon yang akan ia terima.
“Bunda, saya tidak bohong … Saya –”
“Cukup!” Lenny menepiskan tangan Arumi dengan kasar.
“Pak Yanto!” Seorang sekuriti datang menghampiri. Lenny tersenyum pada sekuriti tersebut.
“Urusan kami sudah selesai. Tolong antar Mbak Arumi keluar,” ucapnya lembut. Dalam sekejap sikapnya langsung berubah.
“Berikan paket sembako buat keluarga Mbak Arumi di rumah,” perintahnya lagi, lalu ia berkata kepada Arumi sambil tersenyum hangat.
“Hati-hati di jalan. Maaf ya, Bunda tidak bisa mengantar.” ia segera berlalu dan sekuriti segera menunjukkan jalan kepada Arumi untuk pergi dari sana. Perempuan itu berjalan dengar tertatih. Ia berjalan keluar dengan lunglai. Sekuriti tadi menyerahkan sebuah kotak.
“Ini dari Bunda. Jangan lupa untuk pilih Bunda di pilkada nanti ya, Mbak. Biar Bunda Lenny selalu membersamai orang-orang kecil seperti kita,” ujar sekuriti itu tanpa henti.
“Hati-hati ya, Mbak, di jalan.” Arumi menerima kotak besar tersebut tanpa bicara. Tampaknya ia sudah terlalu lelah menghadapi Lenny Burhanuddin. Sekuriti menatap punggung Arumi yang perlahan menjauh.
“Minta orang untuk menyelidiki gadis itu,” perintah Lenny yang ternyata sudah berdiri di sebelah lelaki tersebut.
“Tapi dia sepertinya baik, Bun.” Lenny melirik dengan ekor matanya.
“”Tugas kamu hanya mengikuti perintah saya. Bukan berargumen.” Lelaki paruh baya itu menunduk hormat.
“Siap, Bunda!”
“Lenny menatap lagi punggung Arumi yang semakin mengecil di kejauhan.
“Aku tidak mau menyimpan duri dalam daging. sebaiknya dihilangkan sekalian.” Lenny menatap lagi punggung Arumi yang semakin mengecil di kejauhan. Firasatnya mengatakan jika gadis itu akan menjadi ancaman besar untuk keluarga dan karir politik yang sedang dibangunnya.
Sementara itu Arumi berjalan tak tentu arah. Kotak sembako di tangan semakin menambah berat langkahnya
Ia berhenti di sebuah toko. Menatap bayangan dirinya yang memantul di balik kaca etalase. Wajahnya kini terasa asing. Tampak pasi dengan bibir kering dan kulit yang pucat.
“Siapa seseorang di balik sana? Bahkan aku tidak mengenali diriku lagi.”
Arumi menunduk. Tangannya terulur mengusap perutnya yang masih datar.
“Kamu ngga salah, tapi aku hanya bingung … Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Arumi menghela napas panjang. Mencoba menenangkan diri.
“Aku ngga bisa pulang sekarang. Sampai aku bisa membawa Bastian ke hadapan Paman dan Bibi untuk bertanggung jawab.”
Arumi menarik napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya kembali. menyusuri trotoar panjang yang sepi. Ia tiba di persimpangan dan menatap ke seberang jalan. Langkahnya terhenti.
Seseorang berdiri di sana. Di bawah lampu jalanan. Menatap Arumi lekat-lekat.
Lampu di lorong Rumah Sakit yang melintas begitu cepat di atas kepalanya. Arumi memejamkan mata hingga roda brankar itu berdecit pelan dan berhenti. Perempuan itu membuka mata. Tampak perawat sedang menutup tirai pembatas. Di seberangnya bednya, tampak seorang perempuan terbaring lemah, ditemani seorang lelaki yang sibuk dengan gadgetnya.Bastian membelai lembut rambut Arumi. Perawat yang tadi mengantar mereka telah menghilang.“Maaf ya, Arumi. Kamar VIP ataupun VVIPnya sedang full. Kamu ngga apa-apa kan dirawat bersama orang lain. Nanti kalau sudah ada kamar VIP yang kosong, aku sudah minta biar kamu dipindahkan.” Arumi menggeleng lemah. Ia tidak menyangka harapannya untuk ke Rumah Sakit dikabulkan meskipun dengan cara yang tidak wajar. Ia tidak peduli jika harus berbaring di parkiran Rumah Sakit sekalipun asal janinnya dapat diselamatkan.“Masih mulas?” Arumi menggeleng lagi.“Pendarahannya sudah berhenti. Sekarang kamu istirahat saja ya.” Arumi memejamkan mata. Bastian menutup tira
Arumi duduk di ruang periksa dengan raut khawatir. Tangannya meremas ujung baju untuk meredakan kegelisahan. Bidan Rahayu yang duduk di hadapannya tampak memeriksa buku KIA Arumi dengan dahi berkerut.“Ibu jarang kontrol kandungan ya?”“I-iya, Bu Bidan,” jawab Arumi lirih.“Ibu ada keluhan apalagi selain pusing dan sakit kepala?”“Kadang saya merasa mual dan nyeri ulu hati. Juga …” Arumi ragu-ragu meneruskan kalimatnya. Takut bidan tersebut menghakimi dirinya karena jarang kontrol kandungan.“Kenapa? Ibu harus jujur dalam pemeriksaan agar mudah terdeteksi jika ada kelainan pada janin?”“Sepertinya bayinya tidak bergerak lincah, Bu Bidan,” ucap Arumi akhirnya. Perempuan setengah baya itu tidak menjawab. Ia menulis sesuatu di buku KIA dan kartu status pasien.“Saya buatkan rujukan ke rumah sakit ya, Bu.” Arumi tertegun.“Apa ngga bisa disembuhkan di sini, saja, Bu?” Bidan Rahayu Menggeleng.Tensi Ibu tinggi. Itu bisa berbahaya untuk janin jika dibiarkan terlalu lama. Alat-alat di sini j
“Ma-Maaf …,” ucap Arumi gugup sambil menunduk hendak memungut sendok tersebut., namun Maika menahannya.“Oh, No! No, Sayang!” Ia berkata kepada para followernya.“Ingat ya, Gais, alat makan yang sudah terjatuh jangan dipungut kembali.” Maika tertawa, namun terdengar bagai ejekan bagi Arumi.“Masa gitu ajah ngga ngerti.”“Money can't buy class.”“Bastian salah pilih istri.”“Memalukan.”“Semoga Bastian cerain dia dan jadian sama Maika.”“Tegakkan tubuh kamu, Arumi. Ayo, kita mulai makan.” Arumi menegakkan tubuhnya dengan kaku.Bastian mendatangi mereka. Maika melihat lewat ekor matanya dan tersenyum licik. Ia sengaja mengarahkan Arumi untuk mengambil garpu dan pisau yang salah.“Kita mulai dengan bruschetta ya untuk appetizernya.”“Halo, Mai.” sapa Bastian “Hai, Bas. Gimana kabar kamu?” Maika menyapanya hangat seakan ingin menunjukkan kedekatan mereka pada Arumi.“Aku lagi ajarin Arumi table manner nih. Arumi kan sudah jadi bagian keluarga Burhanuddin. Harus belajar sedikit-sedikit.”
Arumi dan Mbok Ngah duduk di bangku kayu di halaman depan. Mbok Ngah tampak mengolesi tangan dan jemari Arumi dengan salep luka bakar. “Seharusnya segera diobati pas kena kemarin. Kalau kelamaan nanti jadi bertanda.” Ucap Mbok Ngah sambil mengolesi obat tersebut dengan telaten. Arumi hanya terdiam melamun. Tidak lagi dapat merasakan nyeri dan panas di tangannya.“Sepertinya aku telah membuat kesalahan besar, Mbok …” gumam Arumi sambil menatap Mbok Ngah yang telaten mengobati tangannya. Perempuan tua itu mengalihkan tatapannya dan tersenyum.“Sabar, Nduk.” Suaranya terdengar lembut.“Kesabaran akan membuahkan hasil. Meskipun memakan waktu. Seperti batu yang terkikis air.”“Berapa lama air mengikis sebuah batu besar, Mbok?” tanya Arumi sambil menyandarkan kepalanya ke tembok di belakang.Suara deru mobil menyadarkan mereka. Sebuah mobil berhenti diikuti mobil lainnya dari dalamnya keluar seorang gadis cantik dan modis yang sedang live di akun sosmednya dengan kamera ponselnya.“Hello,
“Kalian sedang apa?” Bastian menatap bingung -orang.“Oh kamu sudah pulang, Bastian.” Lenny memecahkan suasana canggung yang tercipta.“Kami balik dulu ya, Bas.” ujar Nita sambil mengajak kedua temannya pergi.“Lho kok sudah mau pulang, Tante? Tumben.”“Kamu tanya aja sama dia.” tunjuk Nita ke arah Arumi yang masih bergeming di tempatnya. Setelah itu ketiga perempuan tersebut meninggalkan tempat itu.“Ada apa sih, Rum?” tanya Bastian setelah hanya tinggal mereka bertiga di sana. Arumi masih membisu.“Bund?” Bastian mencari jawaban lain.“Apa yang terjadi?” Lenny pura-pura menebah dadanya.“Aduh, Bunda bingung harus jelasin bagaimana. Ini lho, Arumi …”“Kenapa dengan Arumi?” Bastian tampak khawatir.“Tadi dia hampir menyakiti teman-teman Bunda. Arumi … “ Lenny menjeda kalimatnya seakan menambah kesan dramatis.“ … Menyiramkan air panas ke Tante Nita dan dan Tante Ratih.” “Apa?” Bastian menatap tak percaya. Wajah Arumi semakin pucat.“Ngga, Bas. Bukan begitu kejadiannya.” Arumi menatap
Nampan di tangan Arumi terjatuh menimpa meja kaca. Menimbulkan bunyi berisik yang mengganggu. Teko dan cangkir saling tumpang tindih. Sebagian jatuh ke bawah meja. Menimbulkan suara yang keras dan nyaring saat beradu dengan lantai marmer dan kemudian pecah berserakan..Dengan terburu-buru dan panik Arumi segera merapikan teko dan cangkir yang terjungkal. ia tidak mempedulikan tangannya yang tersiram air panas, atau jarinya yang tergores pecahan cangkir.“Apa-apaan kamu, Arumi!” Lenny bangkit dan tampak marah besar. Ia menarik lengan Arumi dan mendorongnya dengan kasar“Kamu bisa kerja ngga sih?! kalau teman-teman saya terluka gimana?! kamu mau tanggung jawab?!” cecar Lenny.“Bu- Bukan aku, Bund …” Arumi menggoyangkan telapak tangannya ke depan dada.“Bukan aku yang melakukannya ...”“Duh, tanganku kena air panas nih. Melepuh.” Seorang teman Lenny sengaja menyiramkan bensin dalam kobaran api.“Aku juga kecipratan air panas.” Yang lain ikut membawakan kompor“Kamu dapat pembantu dari







