بيت / Romansa / Dituduh Mandul / Pinggul Goyang

مشاركة

Pinggul Goyang

last update تاريخ النشر: 2025-10-02 16:50:01

Semua seperti mimpi. Aku bahkan nggak menyangka, rumah tanggaku hanya dalam satu kali kedipan mata berakhir. Aku masih belum mempercayai itu.

“Yuk, makan, gue temenin Lo makan,” Donna berkata lagi dan membantuku turun dari ranjangnya. Kaki telanjangku menyapa lantai. Sedikit bergetar karena mungkin aku pingsan belum makan.

“Gue nggak sempet masak berat, nasi goreng sama telor ceplok nggak apa-apa kan, Mel!” ucap Donna menarik kursi dan membantu aku duduk. Aku hanya menatapnya saat Donna mengambil piring dan menaruh satu porsi nasi goreng ke piring tadi.

“Ini coklat panas, Lo angetin perut Lo dulu deh,” kata Donna lagi sambil meletakkan cangkir yang berisi coklat panas.

Sesaat aku menatap apa yang disiapkan Donna, meski sederhana, namun ada ketulusan dari apa yang dia hidangkan. Bahkan aku nggak sangka akan bertemu dengannya.

“Mel, Lo nggak akan ke ganggu kan, nanti ada teman gue yang datang. Kayaknya dia udah ada di depan pintu deh,” kata Donna tiba—tiba meraih ponselnya. Aku baru menyadari penampilan Donna, dia mengenakan tanktop dengan rok super mini.

“Elo tenang—tenang aja, Mel, gue nggak akan paksa Lo cerita sampe Lo mau cerita. Kalo Lo habis makan, saran gue Lo istirahat dulu aja. Ruangan depan soalnya mau gue pake,” kata Donna lagi, aku sebenarnya masih belum mengerti ucapannya, tapi dengan cepat aku mengangguk pelan.

Aku juga nggak mau bikin Donna kesulitan karena menunggu jawabanku apalagi dia udah baik banget bawa aku ke tempatnya. Tanpa aku minta, dia dengan senang hati membantu, padahal aku benar—benar ngerasa nggak terlalu dekat banget dengan dia.

Donna berlari ke arah pintu, terdengar suara bel beberapa kali seperti nggak sabar. Aku juga nggak mau mengganggu jadi aku putuskan segera menyantap makanan yang sudah disiapkan Donna.

Aku merasa perutku sudah terisi dan full. Tenagaku terasa sedikit pulih. Meskipun masih sedikit pusing, mungkin karena terkena air hujan kelamaan. Niatku ingin bertanya dimana kotak obat, jadinya aku berjalan ke ruang tengah.

“Ahh ahh enak banget sayang hisap lebih dalam sayang,” aku tersentak saat akan mendekat, kulihat Donna sedang di pangkuan seorang laki-laki dengan posisi tank topnya sudah di perut dan terlihat laki-laki itu sedang melakukan serangkaian serangan di dua benda kenyal milik Donna. Sedangkan pinggulnya bergoyang diatas benda panjang keras milik laki-laki itu.

Aku membekap mulutku, mencoba nggak mengeluarkan suara. Tapi, sepertinya si laki-laki yang sedang melakukan serangkaian serangan di dua benda kenyal milik Donna berhenti. Dia menyadari keberadaan ku.

“Siapa itu, sayang?” suaranya serak dan tertahan karena melihatku. Donna menolehkan kepala.

“Eh, Mel, so–sorry, ini cowok gue. Gue pikir, Lo langsung ke kamar dan tidur habis makan,” kata Donna ngerasa nggak enak sama aku dan dia buru–buru menarik tanktopnya supaya menutupi dua benda kenyal miliknya.

Donna menarik pinggulnya dari barang panjang milik laki-laki itu dan perlahan turun dari pangkuannya.

“Maaf ganggu, aku cuma mau tanya, apa ada obat sakit kepala?” ucapku, buru–buru berbalik badan karena jelas sekali barang laki—laki itu masih kokoh kuat berdiri.

“Eh, ada di kamar Mel, Lo cari aja, kotaknya ga jauh dari tempat tidur gue. Disana ga banyak obat sih, cuma kayaknya kalo obat sakit kepala ada deh,” Donna ingin mendekat, “I—iya, makasih, aku cari sendiri aja, kamu lanjut aja, Don,” aku nggak mau mengganggu, kabur secepatnya dari hadapan Donna biar nggak mengganggu kesenangan mereka.

“Siapa dia, sayang?” si laki-laki masih mengulangi perkataan dan mendekap tubuh Donna dari belakang.

“Temanku, sudah lupakan, ayo kita lanjutkan,” Donna menggeliat seperti ulat keket, berbalik dan merontok bibir laki–laki itu. Mereka melanjutkan adegan panasnya yang sempat tertunda.

“Bahaya banget, untung aja aku segera sadar,” kataku mengusap dada saat sudah berada di dalam kamar dan menutup pintunya, namun pintu ditutup pun suara meresahkan itu tetap masih ada.

Sesaat kepalaku terasa nyeri kembali, terlintas lagi bayangan dimana mas Yuda bersama dengan Rania. Adegan panas mereka nggak mungkin begitu aja aku lupakan. Mas Yuda begitu bergairah saat bersama dengan Rania, berbeda ketika dia melakukan itu bersama denganku.

Tanpa aku rasa, air mataku mengalir kembali. Semua penghianatan mereka tetap terngiang di telinga. Sepertinya momentum itu sudah lama direncanakan oleh mas Yuda.

“Kamu benar-benar nggak punya perasaan, Mas, kamu tega banget sama aku,” aku kembali terpuruk di lantai sambil memukuli dadaku. Begitu sesak dan sakit. Ini bukan hanya hadiah pernikahan, tapi merupakan gelapnya kehidupan rumah tanggaku.

Aku mencoba berdiri meski tubuhku bergetar. Aku harus menguatkan diri dan nggak boleh seperti ini. Aku nggak boleh menyerah dan kalah. Aku yakin, meski luka ini nggak akan cepat pulih, aku pasti bisa melewatinya.

Kulihat kotak obat yang dikatakan Donna berada nggak jauh dari ranjang, aku mendekati dan mencari obat sakit kepala. Tadinya aku ingin sekali meminum obat tidur kalau saja Donna memiliki. Setidaknya aku bisa sejenak melupakan kenangan buruk malam ini.

Aku mengambil dan meminumnya. Mencoba merebahkan tubuh dan menarik napas ku dalam—dalam. Memejamkan mata, mencoba untuk istirahat. Aku harus melakukannya karena esok aku harus bisa kembali lebih kuat.

***

“Anda sudah kembali, Tuan?” sapa seorang kepala pelayan saat melihat tuannya melenggang masuk dengan aura dingin yang menyeruak sehingga siapapun yang menatap membuatnya bergidik.

Dia hanya melirik tanpa berbicara, “Saya sudah menyuruh pelayan menyiapkan air hangat untuk anda mandi, Tuan dan anda bisa ke kamar biasanya untuk memeriksa apa yang ini sudah cocok dengan keinginan Anda,” ucapnya lagi, melihat kerut tuannya tanpa ekspresi, dia tahu kalau tuannya sudah nggak tidur beberapa hari.

“Aku harap malam ini aku bisa tidur, kalau masih saja belum bisa. Bawakan obatku seperti biasanya dan kau harus mencari lagi,” ucapnya, ketus dan tanpa basa-basi. Dia benar-benar sudah nggak memperdulikan apapun.

“Maafkan saya, Tuan, semoga yang ke 68 ini benar benar bisa membuat anda tidur nyenyak dan bisa bertahan lebih dari satu minggu,” ucapnya kembali benar—benar membuat siapapun nggak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.

“Satu Minggu katamu? Kamu gila, Adolf? Aku membutuhkan lebih dan sudah sangat malas berganti-ganti. Rasanya benar—-benar nggak enak. Kamu saja rasakan sendiri kalau mau,” dengusnya kembali sambil menarik sudut bibirnya kecut keatas.

“Saya akan berusaha lebih baik lagi, Tuan Zack, semoga yang ini benar—benar cocok dengan selera yang anda inginkan dan cari,” ucap Adolf terdengar frustasi, dia benar-benar sudah nggak punya hal apapun selain keinginan tuannya terpenuhi dengan baik.

Nggak ada jawaban lagi dari laki-laki bertubuh berperawakan tinggi dan besar itu, dia berjalan ke kamar yang dijanjikan dengan hal itu dan melihat seorang pelayan keluar dari kamar setelah memastikan apa yang tuannya butuhkan ada di dalam kamar istimewa

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dituduh Mandul   Akhir Yang Bahagia

    Beberapa bulan telah berlalu dengan cepat. Sampai tiba saatnya hari ini, rumah sakit terlihat lebih ramai dari biasanya. Zack sudah mondar-mandir sejak satu jam lalu di depan ruang pemeriksaan kandungan.“Duduk dulu, Tuan. Anda membuat saya ikut pusing,” tegur Leticia yang sejak tadi memperhatikan tingkah atasannya.“Duduk? Yang benar saja. Mana Aku bisa tenang?” ujar Zack yang sudah kebakaran jenggot saat ditegur oleh Leticia.“Ini hanya pemeriksaan rutin.” Tegas Leti lagi.“Justru itu,” jawab Zack cepat. “Kalau ada apa-apa bagaimana?” Leticia menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan laki-laki yang sedang panik karena istrinya hamil.Di dalam ruang pemeriksaan, Aku justru terlihat santai sambil berbincang dengan dokter kandungan.“Jadi akhir-akhir ini mualnya masih sering?” tanya dokter sambil melihat hasil pemeriksaan sebelumnya. Aku mengangguk kecil.“Lumayan sering, Dok. Tapi, masih bisa ditahan.” Dokter tersenyum lalu mulai mengoleskan gel di perutku untuk pemeriksaan USG.

  • Dituduh Mandul   Kebahagiaan Baru

    Zack bangun lebih pagi, dia mengatur ulang kondisi kediamannya. Banyak perintah yang dia keluarkan hanya untuk menjaga diriku.Tentu saja seperti yang dia katakan, bukan hanya Leticia atau Jimmy yang berjaga. Dia menambahkan beberapa pengawal untuk menjagaku. Hmm, lebih tepatnya bulan menjaga, itu adalah bagian dari sikap overprotektif nya.Aku sampai nggak habis pikir, baru saja pikiranku melayang sambil menggeleng kepala melihat Zack yang memerintah kesana-kemari.Kalau dibilang, itu seperti suasana pasar tradisional yang tiba-tiba pindah di kediaman mewah Zack.“Awas pelan-pelan, Sayang! Hati-hati!” aku terkejut saat mendengar suara panik Zack seperti kebakaran jenggot.Aku baru mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin. Saking kesalnya, aku malah mendengus dan mendecakkan lidah.“Nggak usah lebay deh! Aku itu cuma ngambil minuman kaleng dari lemari pendingin, bukan angkat lemari pendinginnya!” Kakiku menghentak lagi di lantai.“Aduh-aduh, hey, pelan-pelan, hati-hati, jangan

  • Dituduh Mandul   Penyesalan Yang Terlambat

    “Kamu lucu banget Mas Yuda. Aku benar-benar nggak ngerti jalan pikiranmu!” Aku gak menggubris ucapan.Dulu hal yang aku inginkan adalah kepercayaan Mas Yuda. Mau aku menjelaskan semua tuduhan malam itu, Mas Yuda tetap saja nggak mempercayaiku. Jadi, seharusnya saat ini aku nggak dibilang sedang bersikap kejam kan? Aku hanya ingin membalas semua rasa sakitku. Aku nggak membalas mereka, tapi Tuhan memang benar-benar adil. Tanpa diminta dia akan melakukan pembalasan sesuai dengan jalannya. Dan aku, layaknya sebagai penonton, kali ini hanya bisa menatap. Aku pergi meninggalkan mereka. Tidak ingin lagi merasa terbebani oleh permintaan maaf Mas Yuda. Anggap saja semua itu memang karma mereka. Kalau aku bisa melewatinya, harusnya Mas Yuda sebagai laki-laki, bisa melewati semuanya.Aku nggak menoleh lagi, mungkin saja saat itu Mas Yuda sedang melihat punggung kepergianku bersama dengan seorang laki-laki dan tentu saja orang-orang yang disiapkan oleh Zack untuk melindungiku. Zack bisa dibi

  • Dituduh Mandul   Maafkan Aku

    “Kalian sudah selesai?” Zack terkejut saat dia membuka pintu, Jimmy dan Adolf sudah di hadapannya. Tak lupa Donna yang dijemput Leticia juga sudah dihadapannya.“Sedang apa kalian disini? Kalian sedang menguping!?” dengus Zack.“Seharusnya ini tidak dibilang menguping. Kau saja yang tidak tahu malu. Itu ruangan pribadiku, sekarang menjadi tercemar karena ulahmu!” Jimmy gak peduli lagi kalau Zack akan memarahinya.“Apa kau bilang?” Zack malah membulatkan matanya dengan lebar.“Sudahlah. Aku tidak bilang apapun. Anggap saja kau salah mendengar!” dengus Jimmy lagi.Aku menepuk punggungnya Zack supaya dia memberikan aku jalan, ‘Maaf sayang, ini semua karena ulahnya. Dia mengomel!” Zack seperti anak kecil yang mengadu.Adolf pura-pura nggak mendengar. Akhirnya Jimmy hanya bisa meremas rambutnya yang tidak gatal.Aku melihat Donna, “Donna!” teriakku. Mendorong pelan tubuh Zack dan memeluk Donna.Donna sedikit melirik Zack, dia juga takut kalau-kalau Zack marah dan menembaknya hanya karena a

  • Dituduh Mandul   Aku Mau Pulang

    “Kamu benar-benar tega sekali, Amel? Bahkan pada penolongmu ini?” Tentu saja Kenzo nggak puas mendengar ucapanku. “Maaf, aku nggak akan lupa untuk balas budi karena kamu sudah menolongku. Tapi, selain permintaan yang gak masuk akal, aku nggak akan menurutinya!”Aku jelas sudah merasakan dan nggak mungkin bodoh sampai nggak mengerti Kalau Kenzo memperhatikanku bukan hanya ingin berteman saja.“Mana mungkin permintaan aku nggak masuk akal! Kamu bahkan belum mendengar permintaanku,” Kenzo memberikan tekanan padaku. “Kau! Jangan main-main lagi dan pergilah. Aku tidak butuh kau di sini karena aku sudah bisa menjaga istri dan anakku dengan sangat baik. Kau tidak bodoh kan?” Satu sudut bibir Zack terangkat seolah Dia mengejek Kenzo.“Meski kau menolong dan membawanya ke rumah sakit, tapi istriku sampai bisa terluka seperti ini itu karena ulahmu. Anggap saja itu sudah impas. Bukankah begitu lebih mudah untuk menghitung balas jasa yang kamu ingin!”Zack menyerangnya lagi. Dia benar-benar ng

  • Dituduh Mandul   Dunia Yang Sama

    “Kau lihat? Apa itu masih iblis pembunuh itu?” Lexi menyikut lagi Kenzo yang melihat Zack bersikap lembut dan manis saat berkata padaku.Dia berbicara berbisik agar gak terdengar.“Diam dan tutup mulutmu!” decak Kenzo.“CK, CK, kau ini sudah seperti ini saja masih terlihat seperti laki-laki gila yang mengharapkan sesuatu hal yang tidak mungkin!” dengus Lexi, dia sebenarnya kesal, tapi gak bisa berbuat banyak pada temannya.“Kau yakin menghabiskan semuanya? Atau bagaimana kalau kau coba minum jus buah,” Zack sedang memberikan saran.Aku berpikir sejenak, “Eum … itu juga terdengar sangat enak, Zack. Atau … kita pergi sekarang saja, ya? Aku ingin membelinya sendiri!” aku yang tiba-tiba menjadi bersemangat dan ingin menurunkan kaki dari ranjang.“Tolong jangan kau lakukan itu, Kakak Ipar. Itu sama saja dengan membunuhku,” Jimmy yang panik dan mencegah bersama dengan Zack juga Kenzo yang ingin mendekat. Mereka semua ingin melarangku turun ranjang.“Kau tahu sendiri, suami gilamu itu akan

  • Dituduh Mandul   Menjaga dan Mengawasi

    Tubuhku dipeluk dari belakang, aku menggeliat dan berbalik, “Kamu sudah pulang?” memasukkan tubuhku ke dalam pelukannya.Aku jadi mulai terbiasa dengan mencium aroma tubuh Zack.Entah kenapa aku menyukai sikap Zack yang seperti ini. Tubuhnya yang dingin, sepertinya dia baru selesai mandi.“Aku mau

  • Dituduh Mandul   Cuma Senang-senang

    “Kenapa? Kau mau marah padaku? Itu sudah konsekuensinya kan! Kamu sendiri yang mau menerima hukuman!” dengus Zack kecut saat dia merapikan bajunya yang berantakan. Aku juga sedang merapikan diri dan memegangi pinggang yang hampir copot oleh perbuatannya tadi.“Aku gak bilang apa-apa kok, tapi apa b

  • Dituduh Mandul   Tidak Percaya

    Mama Erlita dan Rania membulatkan mata saat mendengar ucapan mas Yuda di telepon. Aku langsung memutuskan telepon dan menatap mereka. Lalu aku melihat ke agen perumahan yang juga terkejut dengan nominal yang disebutkan. Dia tahu, kalau jumlah nominal yang dikatakan berbeda jauh dengan yang akan dib

  • Dituduh Mandul   Dasar Wanita Mandul

    “Aku pikir, gak gitu Donna. Dia itu pengusaha sukses. Wajar saja kalau dia bersikap seperti itu. Dia pasti akan jadi sorotan dan banyak pesaing. Dia membuat seperti ini hanya untuk menghindari komentar orang-orang tentang dirinya nanti. Lagipula, aku ini cuma janda yang dituduh selingkuh juga mandu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status