ログインMargaret vowed to be with her husband until death parted them. However, her aspirations to win his affection crumbled when he impassively dropped a bomb one summer afternoon. He wanted a divorce. This convinced her that their marriage was futureless. She was ready to move on. With her brother's mischievous behavior and determination to put her ex-husband in place, he announced that she was single and ready to mingle. The reason for divorce? "Ex-husband was a narcissist and couldn't keep his thing in his pants."
もっと見るGerhana Bulan Merah muncul selama seratus tahun sekali. Fenomena alam yang paling ditunggu oleh Sekte Aliran Sesat Bulan Darah. Di altar tertinggi di puncak gunung Sektenya, 140 rantai halus dengan ujung yang runcing menusuk sekujur tubuh seorang pria.
Pria tidak bernama, tapi dikenal sebagai Pemburu Darah harus menerima siksaan dari seluruh bawahannya. Dia meraung kesakitan, matanya menatap 140 bawahan dengan dendam yang membara.
Namun, tidak! Dia tidak bisa menghadapi 140 lawannya saat ini, tidak ketika dia dalam keadaan sangat lemah.
“Hari ini akhirnya tiba ..,” pria yang diselimuti oleh tulang belulang muncul melayang di altar pembunuhan itu, dengan tatapan merah penuh keangkuhan. “Bulan merah membuat darah iblismu mendidih, Muridku. Hari ini, sudah waktunya bagimu untuk membalas semua kebaikan yang aku berikan.”
“Guru ..,” Pembunuh Berdarah menjerit lagi, ketika tusukan dari rantai sehalus benang itu menjadi lebih dalam, mulai menembus tulang sum-sumnya, sendi, dan tulang belakang, “Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
“Saat aku melihatmu 25 tahun yang lalu, aku sudah tahu di dalam tubuhmu mengalir darah iblis. Aku memungutmu dari tumpukan sampah, memberimu makan, mengajarimu cara bertarung, dan membuat namamu terkenal di seluruh penjuru dunia. Sekarang sudah waktunya untuk meminta imbalan itu, Murid terbaikku. Dengan darah iblismu, akhirnya aku akan menjadi dewa. Hahaha.”
Pemuda itu sungguh tidak menduga semua yang dilakukan oleh gurunya, yang tampak seperti orang tua, bijaksana, penuh perhatian, ternyata adalah topeng belaka. Itu hanyalah tipuan, agar dia setia terhadap Sekte Aliran Sesat ini.
Semua itu untuk satu tujuan, darah iblis yang dia miliki. Seharusnya darah itu sebuah berkah baginya di dunia persilatan yang kejam dan buas, tapi siapa sangka menjadi bumerang yang membunuhnya sendiri.
Hari ini, pria tidak bernama itu membuktikan bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang benar-benar tulus menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan, seorang guru sekalipun hari ini telah mengkhianati kepercayaan pemuda tersebut.
“Esensi dari darah iblismu, hari ini akan menjadi milikku, aku akan menjadi Dewa. Hahaha!” pria berselimut tulang tengkorak itu mulai membaca mantra, digabungkan dengan gerakan-gerakan alirannya, dan ritual penyerapan darah iblis akhirnya dimulai.
Pemburu Darah tidak pernah membayangkan rasa sakit yang akan dia alami saat ini, 100 kali lebih berat dari ketika dia menerima hujan anak panah saat menyelamatkan Gurunya dalam sebuah perang melawan aliran putih.
Darah Iblis yang biasanya selalu mengobati setiap luka, kini mulai mengalir merayap melewati rantai halus, dan setiap tetes darah yang keluar itu, seperti mencengkram bara api di telapak tangannya.
“Terkutuk kalian semua!” Pemburu Darah mengumpat semua anggotanya, berteriak dengan rasa sakit yang tidak tertahankan lagi, “Aku akan keluar dari neraka, dan membunuh kalian satu persatu, aku tidak akan membiarkan kalian tenang selamanya!!!”
Namun makian dan umpatan hanyalah hiburan di tengah malam di bawah sinar bulan berwarna merah. Gurunya tidak peduli apapun tentang ungkapan kekecewaan murid terbaiknya, karena baginya darah iblis dapat membuatnya menjadi dewa. Itu sudah lebih dari cukup.
“Ahkk ..,” Pemburu Darah yang tidak kenal ampun, pembunuh bayaran yang bahkan namanya saja membuat beberapa orang hebat mati ketakutan, kini mulai kehilangan kesadarannya.
Seluruh darahnya mulai habis, tubuhnya menjadi dingin, dan kini rasa sakitnya perlahan menghilang, bersama dengan pandangan mata yang memburam.
“Apakah aku akan mati di sini?” Pemburu Darah tertawa getir, dengan pandangan yang redup, dia menatap gurunya. Rasa penghormatan sudah berganti dengan kemarah, benci dan dendam yang membara. “Aku tidak akan mati ...”
Bruk.
Ritual penyerapan darah iblis akhirnya berhenti, bersama dengan hujan deras yang tiba-tiba melanda altar pembunuhan. Pemuda itu tergeletak di atas batu hitam di tengah altar, dengan wajah pucat dan rambut yang telah memutih.
Semua orang sudah meninggalkannya, mengembalikan tubuhnya ke keadaan semula dimana 25 tahun yang lalu, gurunya menemukan dia dalam keadaan yang serupa di tengah tumpukan sampah di ujung jalanan.
Jika kematian mendatanginya dahulu, dia mungkin tidak akan menjadi pemburu darah, yang berjuang mati-matian demi nama baik Sekte Aliran Sesatnya. Semuanya sudah berakhir, atau mungkin ini baru saja dimulai.
Setetes air mata jatuh di sudut matanya yang keriput, air mata kesedihan terakhir sebelum kesadaran sepenuhnya menghilang. Setelah 20 tahun terakhir, ini mungkin adalah air mata pertama dan terakhir yang pernah jatuh dari matanya.
Namun. Tidak, ini memang belum berakhir. Seluruh kesadarannya berada di dalam satu tetes air mata itu. Kesadaran ini memicu energi kehidupannya untuk tetap bertahan, meski hanya berbentuk satu tetes air mata saja.
Di tengah hujan badai, air mata itu hanyut terbawa arus, seperti permata suci yang tetap tenang di terjang gelombang pasang tanpa kehilangan makna dan artinya.
Kini puluhan tahun telah berlalu, lokasi altar pembunuhan yang dulunya sepi saat ini dipenuhi oleh pekerja tambang yang menggali tanah dan memecah batuan. Waktu telah mengikis tempat itu, lebih kuat dari pada air hujan.
Tes. Air mata ‘terakhir’ tiba-tiba jatuh dari ujung batu lancip dan meresap di kening seorang bocah berusia 10 tahunan -yang tertimbun di dalam batuan tambang. Esensi kesadaran dan energi kehidupan yang terisimpan rapi di dalam satu tetes air mata, kini menyebar ke seluruh tubuh bocah kecil itu.
Cahaya biru muda mulai bergerak seperti sungai yang deras mengalir di seluruh celah-celah sempit perbukitan. Energi kehidupan itu, mulai menggerakan jantung yang mati, dan mulai menyembuhkan banyak luka dalam waktu yang singkat.
Hufff.
Pembunuh Bayaran itu tiba-tiba terjaga, dia membuka matanya dengan enggan, tapi seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara sayup-sayup yang memanggil nama ‘Talang Mayan’ dan suara-suara itu semakin jelas saat ini.
“Gali-gali lebih dalam!” seru mereka.
“Aku yakin, Putraku masih hidup, aku yakin ..,” terdengar suara yang lebih jelas lagi.
Pemburu Darah tidak tahu siapa ‘Talang Mayan,’ lalu kenapa ada banyak suara orang-orang yang tampak sibuk, dan sepertinya sedang kehilangan sesuatu?
“Di sini, aku menemukannya!”
Sebongkah batu diangkat pula, di saat itu, Pemburu Darah untuk pertama kalinya melihat beberapa wajah yang tidak dia kenali sama sekali. Pria-pria tua berpakaian usang, dengan berjanggut tidak terurus memegang palu, sedang berusaha mengangkat sebongkah batu.
Meskipun dia tidak tahu apapun, Pemburu Darah berniat melawan, tapi tidak bisa. Dia tidak memiliki kekuatan sama sekali, dia merasa sangat lemah, bahkan lidahnya begitu sulit untuk digerakan. Hanya gerakan mata yang mengisyaratkan keraguan, tapi pria tua berjanggut itu semakin bersemangat untuk menolongnya.
“Nak, bertahanlah! Kami akan menyelamatkanmu!” pria tua itu mengangkat satu bongkah batu terakhir yang menutupi tubuhnya, dan akhirnya berhasil menyelamatkan pemuda tersebut.
“Right. Raven and I grew up together, while Violet is one of my good friends. Now you know two people within my circle,” I confirmed. Smiling gracefully, I held Edmund’s wrist to make him stop his awkward gesture. To my surprise, he didn’t avoid my touch. I stole another glance at Violet. She was biting her lips, her hands clenched into fists, and her eyes plastered on our hands—a clear indication of her displeasure. This made me secretly smile, knowing that I’d successfully pissed the shit out of her. “It seems like I’m going to have to get to know your friends better,” Edmund answered. He even stroked my cheek, almost making me shiver in disgust. What the freak? This wasn’t the man I knew. The Edmund Grant I married was an indifferent human being who saw me solely as a gold-digger, a desperate wife, a pretentious clown. Most importantly, he detested physical contact. Who was this clone, and where did he hide that cheating prick? Or was this one also his minion? I scoffed inw
The incident by the river convinced me to take a break from the tedious and pretentious city life. After the much-needed venting of my heartbreak and frustration, I booked the next flight back to Westingwood—the small town where Raven and I grew up—and entrusted Macy with the final stages of the renovations for my home. I was a withering rock. The pain and disappointments I was feeling that filled the crevices were trying to keep me in this fragile form. But I have learned to acknowledge and accept my own rough and imperfect edges. So, I did— Going away to experience new things and meeting new people have yielded good results on my end—both psychological and emotional. Some people may label it as cowardly to run and avoid the inevitable, but I've always believed that stepping back from a losing fight was an act of self-respect and self-preservation. Over the past six months, I've dedicated my time to securing sponsors for the Westingwood Orphanage in partnership with the charity fo
“Stop it!” I yelled at the top of my lungs. I tried to get in between the brawl but Zayn managed to pull me away from the fighting men. “They’ll stop when they’re exhausted,” Zayn stated, wincing as he watched his best friend beating my brother like a punching bag. “Edmund!! Stop it!” I shouted again. Panic rose to my throat when I caught a glimpse of Raven’s bleeding nose. He may have been an athlete and had a fair share of fistfights with his fellow players back in the day, but he was not a trained fighter. Edmund, on the other hand, was a black belt holder in both karate and taekwondo. He even boxed whenever he had the spare time. Undoubtedly, he could easily beat my brother to death if he were to get serious. “He’s drunk. Nobody can stop him,” Zayn mumbled, heaving a deep sigh. “Don’t worry, he’s not going to murder your man.” My face contorted into a deep scowl. I jerked away from Zayn and ran closer to the fighting duo. Never in my whole life had I imagined that I would ha
“I’ve worked with a lot of wealthy women in the past and most of them got an attitude, but Ms Wyatt takes the cake. Did you see her face when Mr Radcliffe firmly dismissed her?” Macy ranted in between small chuckles as she chewed on her Fiorentina steak. We were at my favorite Italian restaurant in the city, enjoying dinner while she chattered away, expressing her displeasure about the ugly encounter. And just like her, I was impressed with how Mr Radcliffe managed to drive that little whining princess away with only a few words. If the old man had not stepped in, I’m certain Lara would have continued harassing the saleslady and might even have gone physical like she had done in the past. “Lara has been spoiled all her life. The incident must have been a blow to her ego,” I answered with a silly grin playing in the corner of my lips. Macy paused. She opened and closed her mouth, but no words left them. Her eyes gradually widened as her attention was drawn to something behind me.
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビュー