Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 118 Batas Kita

Share

Bab 118 Batas Kita

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-08-28 23:32:26

Nindy tidak bisa menahan air matanya mendengar kebaikan sederhana tersebut, karena hal sekecil itu justru mengingatkannya bahwa masih banyak kebaikan tulus yang tersebar di sekitarnya, di tengah semua kerumitan besar yang selama ini membebani hidupnya.

"Kamu kok malah nangis, Nindy," ucap Ratih sambil tertawa geli melihat reaksi berlebihan tersebut, namun tidak lama kemudian ia sendiri ikut menangis, entah karena terbawa suasana atau karena hormon kehamilannya sendiri yang belum sepenuhnya stab
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 121 Batalin Aja

    Eleanor mengantar mereka bertiga sampai ke teras rumah tersebut. Sebelum Nindy benar-benar melangkah menuju mobil, Eleanor memeluknya erat, sebuah pelukan yang bertahan sedikit lebih lama dari yang wajar."Hati-hati di jalan, Nindy," bisik Eleanor di telinganya, suaranya bergetar. "Makasih udah dateng hari ini.""Sama-sama, Bu," jawab Nindy, membalas pelukan itu sambil menahan diri agar tidak bertanya lebih jauh.Sepanjang perjalanan mengantar Marni pulang, wanita tersebut terus bicara tanpa henti soal betapa besar rumah keluarga Sastrowardoyo itu, dan betapa sepinya suasana di dalamnya meski ukurannya begitu megah."Rumah segede itu, tapi cuma diisi satu orang aja sehari-hari," ucap Marni sambil menggelengkan kepala dari kursi belakang. "Aneh juga ya, biasanya keluarga kaya kayak gitu anaknya banyak, rumahnya rame terus.""Iya juga, ya," jawab Malik sekenanya, matanya tetap fokus ke jalanan di depannya."Kamu nggak pernah kepikiran, Malik? Kok Ibu kamu nggak nambah anak lagi waktu it

  • Dok, Please Cukup!   Bab 120 Bingkai Foto

    Eleanor terdiam sejenak, senyumnya sedikit memudar meski masih berusaha mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya, sebelum akhirnya menjawab dengan kalimat yang terdengar terlalu singkat dan cepat dibanding jawaban-jawabannya yang lain sepanjang makan malam tersebut."Oh, itu bingkai yang jatuh, Nindy. Belum sempat Ibu ganti lagi," jawab Eleanor pendek, kemudian langsung berdiri dari kursinya, "Ibu ambil pencuci mulut dulu ya, sebentar."Ia bergegas menuju dapur tanpa menunggu respons lebih lanjut, meninggalkan Nindy yang menatap kepergian tersebut dengan sedikit rasa penasaran yang belum sepenuhnya terjawab, karena jawaban tersebut terasa terlalu terburu-buru untuk sebuah pertanyaan sesederhana itu.Marni yang duduk di sebelah Nindy langsung mengisi keheningan singkat tersebut dengan cerita lain soal masa kecil Fajar, tanpa menyadari sedikit pun kejanggalan yang baru saja terjadi, dan Nindy pun memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, mengingat ini baru kali pertama ia berkunjung ke

  • Dok, Please Cukup!   Bab 119 Jangan Di Depan

    Eleanor sudah menunggu di depan pintu utama, tersenyum lebar begitu melihat mobil mereka berhenti di halaman, dan ia langsung memeluk Nindy erat begitu wanita tersebut turun dari mobil. "Akhirnya kamu dateng ke rumah ini sebagai menantu resmi, Nindy. Ibu udah nunggu-nungguin momen ini."Mereka melangkah masuk bersama-sama, dan Nindy memperhatikan setiap sudut rumah tersebut dengan kagum, sampai langkahnya terhenti sejenak di lorong menuju ruang makan, di mana terpasang deretan bingkai foto keluarga yang tersusun rapi berdasarkan urutan tahun, menampilkan berbagai momen penting dalam sejarah keluarga Sastrowardoyo.Matanya menyusuri satu per satu bingkai tersebut, dari foto pernikahan Eleanor dan mendiang suaminya, sampai foto-foto Malik kecil yang sedang tersenyum lebar di berbagai kesempatan, namun perhatiannya tiba-tiba tertuju pada satu bagian dinding yang terasa aneh di antara susunan bingkai yang begitu rapi tersebut.Di antara dua bingkai foto, terdapat satu bekas lubang paku ke

  • Dok, Please Cukup!   Bab 118 Batas Kita

    Nindy tidak bisa menahan air matanya mendengar kebaikan sederhana tersebut, karena hal sekecil itu justru mengingatkannya bahwa masih banyak kebaikan tulus yang tersebar di sekitarnya, di tengah semua kerumitan besar yang selama ini membebani hidupnya."Kamu kok malah nangis, Nindy," ucap Ratih sambil tertawa geli melihat reaksi berlebihan tersebut, namun tidak lama kemudian ia sendiri ikut menangis, entah karena terbawa suasana atau karena hormon kehamilannya sendiri yang belum sepenuhnya stabil pasca melahirkan Kayla.Mereka berdua tertawa sambil menangis di dalam mobil, sebuah momen sederhana yang justru terasa jauh lebih berharga dibanding semua drama besar yang mereka lalui belakangan ini.Jumat sorenya, Malik pulang membawa hasil laboratorium rutin Nindy dari Dokter Ratna, wajahnya terlihat lebih santai dibanding beberapa hari sebelumnya karena kabar yang ia bawa kali ini adalah kabar baik yang cukup melegakan."Angkanya membaik dibanding pemeriksaan Kamis minggu lalu, Nindy," u

  • Dok, Please Cukup!   Bab 117 Tidak Apa-Apa

    Nindy tidak langsung menjawab permintaan tersebut, ia menatap Rania lama sekali, mencoba mencari jawaban di dalam dirinya sendiri sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu, karena permintaan sesederhana itu justru terasa jauh lebih berat dibanding pertanyaan-pertanyaan besar yang selama ini ia lontarkan ke Rania."Aku pikirin dulu, Rania," jawab Nindy pelan, suaranya lelah namun tidak menolak secara tegas, "bukan berarti nggak boleh, tapi aku butuh waktu buat mikirin ini juga."Rania mengangguk, menerima jawaban tersebut tanpa memaksa lebih jauh, kemudian ia berpamitan dan melangkah keluar dari apartemen tersebut dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding saat ia datang, seolah beban yang selama ini ia pikul sudah sedikit berkurang setelah akhirnya bisa mengucapkan permintaan tersebut secara langsung.Begitu pintu tertutup, Nindy merosot duduk kembali ke kursi meja makan, kelelahan fisik dan emosional akhirnya benar-benar mengambil alih tubuhnya, dan Malik yang melihat kondisi tersebu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 116 Kesepakatan

    Nindy menatap suaminya sejenak, matanya bertemu dengan mata Malik yang penuh kekhawatiran, lalu ia menoleh ke arah Hendra yang masih diam menunggu keputusan apa yang akan diambil selanjutnya.Tanpa berpikir panjang lagi ia meraih ponselnya dari atas meja, membuka daftar kontak dan menekan nomor Rania yang sudah tersimpan sejak beberapa hari lalu, karena ia tidak lagi sanggup menunggu penjelasan yang mungkin baru bisa ia dapatkan beberapa hari ke depan.Malik dan Hendra hanya bisa memperhatikan dalam diam, tidak berusaha menahan tindakanNindy menutup matanya sejenak, mencoba mencerna penjelasan tersebut yang justru semakin membuka lapisan baru dari kerumitan yang sudah cukup membebani pikirannya belakangan ini, karena sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya sendiri pernah dinyatakan tidak pernah ada oleh ibu kandungnya sendiri."Kenapa kamu bohong soal itu?" tanya Nindy akhirnya, suaranya melemah menahan tangis yang mulai menggenang di pelupuk matanya."Keluarga laki-laki i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status