ログインMalik menoleh ke istrinya, lalu menyalakan lampu dasbor karena langit di depan mereka sudah berubah abu-abu. Dia memegang setir dengan dua tangan dan menunggu jawaban dari pengeras suara."Catatan apa?" tanya Malik."Dokter sudah memberi Danu waktu kira-kira setahun, kalau dia terus menolak cuci darah teratur. Dia menulisnya sebagai permintaan terakhir, dan tulisannya masih basah di kertas itu," jawab Hendra.Rania ikut setelah semalaman menelepon Nindy dua kali untuk membatalkan dan dua kali untuk memastikan dia tetap ikut. Bapak penyapu masih menyapu trotoar yang sama, dan dia berhenti begitu melihat tiga orang turun dari mobil pagi ini.Danu sudah berdiri di ambang pintu lipat besi sebelum mereka sampai. Matanya langsung tertuju ke Rania, dan sapu tangan di tangannya jatuh ke trotoar tanpa dia sadari.Nindy berhenti di bawah papan nama Bengkel Jam Sentosa yang catnya sudah pudar. Dia menunggu, karena belum tahu apakah harus melangkah lebih dulu atau memberi ruang untuk dua orang di
Nindy tidak keluar kamar sepanjang Jumat, dan Sabtu dia hanya menghabiskan setengah porsi nasi di meja makan. Minggu subuh, sebelum Malik sempat bertanya apa pun, Nindy sudah mengguncang bahu suaminya sampai terbangun."Antar aku ke makam Bapak sama Ibu sekarang," ucap Nindy.Malik menyalakan lampu tidur dan melirik jam di ponselnya. Pukul enam kurang sepuluh, dan jalan di depan gedung masih lengang oleh motor pengantar koran."Kamu belum sarapan. Nanti pusing di sana," jawab Malik sambil mencari kaus kaki di bawah ranjang."Di mobil aku makan roti. Cepetan, aku nggak mau duduk diem di kamar lagi," balas Nindy, sudah berdiri dengan selendang abu-abu di pundak.Malik mengikat tali sepatunya di ambang pintu kamar, sedangkan Nindy sudah menunggu di lorong dengan kunci mobil di tangan. Mereka turun lewat lift tanpa bicara, dan pintu lobi terbuka di depan Om Har yang sedang menyeruput kopi di kursinya."Pagi-pagi mau ke mana?" tanya Om Har."Ke makam orang tua saya, Om. Nanti sore kami pul
Menjelang jam satu, Malik dan Nindy masuk lewat pintu kaca lobi, dan Om Har langsung menunjuk ke arah kafe dengan dagunya sebelum mereka sempat bertanya.Rania duduk di meja yang sama dengan tempat dia dulu pernah menunggu. Kakinya yang katanya terkilir dibalut perban krem di bagian pergelangan, dan dia berdiri terlalu cepat begitu melihat Nindy, sampai harus berpegangan pada sandaran kursi."Kakinya beneran sakit?" tanya Nindy, menahan siku perempuan itu."Beneran. Saya nggak bohong soal kaki," jawab Rania, dan senyum kecilnya tidak sampai ke mata.Mereka naik bertiga ke lantai sebelas tanpa banyak bicara. Di dalam lift, Rania memandangi angka lantai yang terus naik sambil meremas tali tasnya, sedangkan Malik berdiri di antara dua perempuan itu dengan tangan di punggung istrinya.Di unit, Rania memilih sofa tunggal di seberang meja kaca. Nindy menawarkan teh, dan Rania menolak dengan gelengan pelan."Cincin yang dari kotak deposit itu masih kamu simpen?" tanya Rania."Masih. Di laci
"Ayahmu emang nggak pernah bilang apa pun ke Ibu soal anak ini. Tapi ternyata dia nyari," jawab Eleanor, suaranya tertahan.Eleanor membuka tali pengikatnya pelan-pelan, dan mereka berlima berdiri berdesakan di ambang pintu unit itu sambil memandangi isinya.Hendra membaca lembar pertama dengan suara pelan, "Laporan pencarian, tiga bulan, atas permintaan klien. Kliennya ayah kamu, tanda tangannya di sini. Hasil akhir, anak ditemukan, bekerja sebagai pengasuh di Yayasan Bina Kasih.""Itu dua belas tahun lalu," ucap Malik."Dua belas tahun Ayah tahu, dan Ibu nggak," jawab Eleanor pelan, matanya tidak lepas dari tanda tangan suaminya.Lembar kedua sebuah foto berwarna, Bima berumur dua puluh dua tahun berdiri di depan pagar panti dengan kemeja yang kebesaran, menyipitkan mata ke arah matahari."Itu saya. Hari Ayah dateng. Kemejanya pinjem punya temen, makanya kebesaran," ucap Bima, suaranya pelan.Lembar ketiga adalah kertas yang sudah menguning, dengan dua lubang staples di sudut kiriny
Sejak Selasa malam itu, setiap pagi Nindy duduk diam lima menit dengan dua tangan di perut, menunggu ketukan kecil yang sama.Pagi ini dia melakukannya di kursi belakang mobil sepanjang jalan tol menuju kota lama, dan ketukan itu datang dua kali, sekali di gerbang tol dan sekali di lampu merah pertama sesudah keluar tol.Dua kali juga dia menarik tangan Eleanor yang duduk di sebelahnya dan menempelkannya ke perut, walaupun Eleanor belum bisa merasakan apa pun."Nanti kalau udah kenceng, Ibu yang pertama dikasih tahu, ya," ucap Eleanor, tangannya masih di perut menantunya."Ibu nomor dua. Nomor satu Malik, dia udah booking," jawab Nindy, dan Malik melirik dari kursi depan dengan senyum tipis.Notaris lama yang dulu menolak dengan alasan legalisasi yang dibuat-buat itu sudah diganti sejak Bram mundur dari yayasan. Penggantinya Pak Wijaya, notaris pilihan Eleanor sendiri, dan dari kantornya surat keterangan ahli waris sementara akhirnya keluar kemarin sore berdasarkan hasil tes DNA, sali
Malik ikut memandangi gambar itu, lalu tertawa. "Jangan bilang ke Ibu. Nanti Ibu beli gorden pink diem-diem sebagai hadiah.""Ibu dulu bilang, dua kali hamil, dua-duanya mulai kerasa gerak di minggu enam belas," ucap Nindy, mengusap perutnya pelan."Sekarang kamu enam belas minggu lebih dikit. Jangan terlalu ditunggu, nanti kecewa. Anak pertama biasanya telat," jawab Malik, suaranya berubah jadi suara dokter.Nindy meletakkan cetakan USG itu di nakas, bersandar ke bingkai foto. Sesudah itu dia meluncur turun dari kepala ranjang dan berbaring miring menghadap suaminya, perutnya yang sudah membulat jelas berada di antara mereka berdua."Perutku sekarang ngehalangin. Tiap mau meluk kamu dari depan, dia yang nyampe duluan," ucap Nindy, setengah mengeluh."Ngehalangin apa? Ngehalangin aku liat muka kamu?" tanya Malik, pura-pura polos."Ngehalangin kamu. Aku mau nyoba cara lain," jawab Nindy, lalu membalikkan badannya sampai punggungnya menempel ke dada suaminya.Malik diam beberapa detik.







