Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 125 Satu Jam Aja

Share

Bab 125 Satu Jam Aja

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-05 23:42:25

Kopi di cangkir Malik sudah dingin ketika laki-laki itu masih memegang gagangnya, tidak benar-benar meminumnya sejak tadi. Tas kerjanya tergeletak di sofa ruang tengah, belum tersentuh sejak subuh, padahal biasanya jam segini dia sudah setengah jalan menuju rumah sakit.

Nindy menyendok bubur di mangkuknya pelan-pelan, memperhatikan suaminya dari seberang meja. Semalam Malik tidur nyaris tanpa suara, punggungnya membelakangi Nindy sepanjang malam, seolah kalimat yang dia ucapkan di meja makan ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 127 Datang Lagi

    Lampu ruang tengah unit Ratih sengaja dikecilkan, hanya lampu meja di sudut ruangan yang menyala terang, supaya Kayla yang baru saja tertidur di kamar sebelah tidak terbangun lagi.Nindy duduk bersila di atas karpet, buku catatan Suryani sudah terbuka di pangkuannya, sementara matanya menunggu Ratih yang masih di dalam kamar menidurkan anaknya.Ratih keluar beberapa menit kemudian, membawa nampan plastik berisi dua gelas teh hangat, meletakkannya pelan di atas karpet agar tidak menimbulkan suara berisik."Kayla susah banget tidur malam ini," bisik Ratih, duduk di seberang Nindy, mengambil salah satu gelas teh untuk dirinya sendiri.Nindy mengangguk, tidak langsung membalas, karena perhatiannya sudah tersedot penuh ke halaman yang sedang dia baca, tulisan tangan Suryani yang kecil dan rapat sampai Nindy harus memiringkan buku itu ke arah lampu meja supaya bisa terbaca jelas."Hari ini laki-laki itu dateng lagi ke pagar. Ini yang ketiga kalinya. Topinya sama persis kayak dua kali sebelu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 126 Rekaman

    Andra tersenyum melihat antusiasme istrinya. "Kayaknya ini yang bikin dia langsung mau, dari tadi malah nggak nanya-nanya soal harga."Nindy berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan Pipit yang masih sibuk membuka satu per satu pintu kabinet kosong itu, dan sesuatu di dalam dadanya bergerak pelan tanpa dia minta. Dulu, di dapur yang sama, dia pernah berdiri persis di titik itu, menyentuh permukaan meja yang sama dengan semangat serupa, membayangkan masakan apa yang akan dia buat pertama kali sebagai istri baru."Kamu suka masak?" tanya Nindy, suaranya lebih pelan dari yang dia sadari sendiri."Suka banget," jawab Pipit cepat, menoleh dengan senyum lebar. "Ini rumah pertama kami yang beneran punya dapur segini."Malik yang berdiri di dekat pintu masuk melirik Nindy sekilas, menangkap sesuatu di raut wajah istrinya yang tidak dia tanyakan langsung saat itu.Mereka berkeliling sebentar lagi, memeriksa kamar tidur dan kamar mandi, sebelum akhirnya kembali ke ruang tamu untuk membahas u

  • Dok, Please Cukup!   Bab 125 Satu Jam Aja

    Kopi di cangkir Malik sudah dingin ketika laki-laki itu masih memegang gagangnya, tidak benar-benar meminumnya sejak tadi. Tas kerjanya tergeletak di sofa ruang tengah, belum tersentuh sejak subuh, padahal biasanya jam segini dia sudah setengah jalan menuju rumah sakit.Nindy menyendok bubur di mangkuknya pelan-pelan, memperhatikan suaminya dari seberang meja. Semalam Malik tidur nyaris tanpa suara, punggungnya membelakangi Nindy sepanjang malam, seolah kalimat yang dia ucapkan di meja makan tadi malam sudah menghabiskan seluruh tenaganya untuk bicara."Kamu jadi ke bagian arsip pagi ini?" tanya Nindy akhirnya, suaranya datar, tanpa nada menuduh sedikit pun."Jadi. Aku udah janjian sama kepala arsip jam sembilan," jawab Malik, menaruh cangkirnya perlahan.Nindy mengangguk, tidak langsung membantah seperti yang mungkin diduga Malik. Dia meletakkan sendoknya di pinggir mangkuk, menatap suaminya lurus-lurus."Temenin aku ke rumah lama dulu pagi ini," ucap Nindy. "Sebentar aja, sebelum ka

  • Dok, Please Cukup!   Bab 124 Arsip Rumah Sakit

    Menjelang subuh, ponsel Malik yang tergeletak di meja nakas bergetar nyaring, memecah keheningan kamar tersebut. Malik meraihnya cepat, matanya masih setengah terpejam menahan kantuk, dan begitu melihat nama yang tertera di layar tersebut, ia langsung terduduk tegak.Eleanor.Jam empat pagi.Sesuatu yang tidak pernah sekali pun terjadi selama Nindy tinggal di rumah tersebut.Malik bangkit dari ranjang, ponsel masih menyala terang di tangannya. Nindy ikut duduk, matanya yang tadi mengantuk kini terbuka penuh begitu melihat nama yang tertera di layar tersebut."Angkat, Malik," ucap Nindy pelan, ikut bangkit dari ranjang.Malik melangkah menuju balkon, Nindy mengikutinya dari belakang sambil menyelipkan selimut tipis ke bahunya sendiri. Begitu mereka berdua sampai di sana, Malik menekan tombol jawab, lalu menyalakan mode pengeras suara atas permintaan Nindy sebelum sempat mengangkatnya."Aturan kita berlaku dua arah, Malik," bisik Nindy, mengingatkan kesepakatan yang mereka buat sejak Se

  • Dok, Please Cukup!   Bab 123 Lingkaran Baru

    "Iya, Nindy. Kandungan saya sebelas minggu," jawab Nindy sambil tersenyum canggung."Wah, masih awal banget. Saya Mbak Vira," ucap instruktur tersebut ramah, kemudian langsung memisahkan Nindy dari kelompok utama, membawanya ke sudut ruangan yang lebih sepi. "Kamu ikut kelompok ini aja dulu, gerakannya lebih ringan, disesuaikan sama usia kandungan kamu."Nindy sedikit merasa diremehkan mendengar itu, dan begitu Mbak Vira berpindah ke kelompok lain, ia diam-diam mencoba mengikuti gerakan peregangan yang lebih berat dari kelompok utama di sebelahnya.Baru dua menit, betisnya langsung kram hebat, membuatnya meringis kesakitan sampai terdengar oleh seluruh ruangan."Nindy! Sini, sini!" seru Mbak Vira cepat, menghampirinya dengan raut wajah setengah cemas setengah geli. "Kenapa kamu malah ikutan gerakan kelompok sebelah? Udah dibilangin ikutin gerakan ringan dulu!""Maaf, Mbak Vira. Saya cuma pengin nyoba," jawab Nindy sambil meringis, memijat betisnya yang masih terasa kaku."Ini bukan lo

  • Dok, Please Cukup!   Bab 122 Bayang Masa Lalu

    Nindy duduk di kursi seberangnya, memperhatikan wajah Sari yang terlihat lelah namun tetap ramah. "Nggak apa-apa, Sari. Makasih udah mau ketemuan."Sari meraih sebuah bungkusan yang tergeletak di sampingnya, meletakkannya di atas meja dengan gerakan pelan. Nindy langsung mengenali bentuk bungkusan tersebut—album foto pernikahannya dengan Fajar, yang ia kirim lewat jasa kirim hari Kamis lalu."Ini... kenapa masih tersegel, Sari?" tanya Nindy, menatap bungkusan tersebut dengan bingung, karena segelnya sama sekali belum dibuka sejak ia mengirimkannya."Fajar pegang ini selama dua jam di ruang tamu, Nindy," jawab Sari pelan. "Dia nggak buka sama sekali. Terus dia minta saya kembaliin ke kamu, tanpa ngasih alasan apa-apa."Nindy menatap bungkusan tersebut lama, mencoba mencerna informasi itu. "Dia marah, Sari? Atau tersinggung karena aku kirim itu?""Bukan, Nindy. Saya yakin dia bukan nolak," jawab Sari cepat, menggeleng tegas. "Saya rasa dia belum sanggup. Saya ke sini bukan buat ngembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status