Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 123 Lingkaran Baru

Share

Bab 123 Lingkaran Baru

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-02 16:19:34

"Iya, Nindy. Kandungan saya sebelas minggu," jawab Nindy sambil tersenyum canggung.

"Wah, masih awal banget. Saya Mbak Vira," ucap instruktur tersebut ramah, kemudian langsung memisahkan Nindy dari kelompok utama, membawanya ke sudut ruangan yang lebih sepi. "Kamu ikut kelompok ini aja dulu, gerakannya lebih ringan, disesuaikan sama usia kandungan kamu."

Nindy sedikit merasa diremehkan mendengar itu, dan begitu Mbak Vira berpindah ke kelompok lain, ia diam-diam mencoba mengikuti gerakan peregan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 124 Arsip Rumah Sakit

    Menjelang subuh, ponsel Malik yang tergeletak di meja nakas bergetar nyaring, memecah keheningan kamar tersebut. Malik meraihnya cepat, matanya masih setengah terpejam menahan kantuk, dan begitu melihat nama yang tertera di layar tersebut, ia langsung terduduk tegak.Eleanor.Jam empat pagi.Sesuatu yang tidak pernah sekali pun terjadi selama Nindy tinggal di rumah tersebut.Malik bangkit dari ranjang, ponsel masih menyala terang di tangannya. Nindy ikut duduk, matanya yang tadi mengantuk kini terbuka penuh begitu melihat nama yang tertera di layar tersebut."Angkat, Malik," ucap Nindy pelan, ikut bangkit dari ranjang.Malik melangkah menuju balkon, Nindy mengikutinya dari belakang sambil menyelipkan selimut tipis ke bahunya sendiri. Begitu mereka berdua sampai di sana, Malik menekan tombol jawab, lalu menyalakan mode pengeras suara atas permintaan Nindy sebelum sempat mengangkatnya."Aturan kita berlaku dua arah, Malik," bisik Nindy, mengingatkan kesepakatan yang mereka buat sejak Se

  • Dok, Please Cukup!   Bab 123 Lingkaran Baru

    "Iya, Nindy. Kandungan saya sebelas minggu," jawab Nindy sambil tersenyum canggung."Wah, masih awal banget. Saya Mbak Vira," ucap instruktur tersebut ramah, kemudian langsung memisahkan Nindy dari kelompok utama, membawanya ke sudut ruangan yang lebih sepi. "Kamu ikut kelompok ini aja dulu, gerakannya lebih ringan, disesuaikan sama usia kandungan kamu."Nindy sedikit merasa diremehkan mendengar itu, dan begitu Mbak Vira berpindah ke kelompok lain, ia diam-diam mencoba mengikuti gerakan peregangan yang lebih berat dari kelompok utama di sebelahnya.Baru dua menit, betisnya langsung kram hebat, membuatnya meringis kesakitan sampai terdengar oleh seluruh ruangan."Nindy! Sini, sini!" seru Mbak Vira cepat, menghampirinya dengan raut wajah setengah cemas setengah geli. "Kenapa kamu malah ikutan gerakan kelompok sebelah? Udah dibilangin ikutin gerakan ringan dulu!""Maaf, Mbak Vira. Saya cuma pengin nyoba," jawab Nindy sambil meringis, memijat betisnya yang masih terasa kaku."Ini bukan lo

  • Dok, Please Cukup!   Bab 122 Bayang Masa Lalu

    Nindy duduk di kursi seberangnya, memperhatikan wajah Sari yang terlihat lelah namun tetap ramah. "Nggak apa-apa, Sari. Makasih udah mau ketemuan."Sari meraih sebuah bungkusan yang tergeletak di sampingnya, meletakkannya di atas meja dengan gerakan pelan. Nindy langsung mengenali bentuk bungkusan tersebut—album foto pernikahannya dengan Fajar, yang ia kirim lewat jasa kirim hari Kamis lalu."Ini... kenapa masih tersegel, Sari?" tanya Nindy, menatap bungkusan tersebut dengan bingung, karena segelnya sama sekali belum dibuka sejak ia mengirimkannya."Fajar pegang ini selama dua jam di ruang tamu, Nindy," jawab Sari pelan. "Dia nggak buka sama sekali. Terus dia minta saya kembaliin ke kamu, tanpa ngasih alasan apa-apa."Nindy menatap bungkusan tersebut lama, mencoba mencerna informasi itu. "Dia marah, Sari? Atau tersinggung karena aku kirim itu?""Bukan, Nindy. Saya yakin dia bukan nolak," jawab Sari cepat, menggeleng tegas. "Saya rasa dia belum sanggup. Saya ke sini bukan buat ngembali

  • Dok, Please Cukup!   Bab 121 Batalin Aja

    Eleanor mengantar mereka bertiga sampai ke teras rumah tersebut. Sebelum Nindy benar-benar melangkah menuju mobil, Eleanor memeluknya erat, sebuah pelukan yang bertahan sedikit lebih lama dari yang wajar."Hati-hati di jalan, Nindy," bisik Eleanor di telinganya, suaranya bergetar. "Makasih udah dateng hari ini.""Sama-sama, Bu," jawab Nindy, membalas pelukan itu sambil menahan diri agar tidak bertanya lebih jauh.Sepanjang perjalanan mengantar Marni pulang, wanita tersebut terus bicara tanpa henti soal betapa besar rumah keluarga Sastrowardoyo itu, dan betapa sepinya suasana di dalamnya meski ukurannya begitu megah."Rumah segede itu, tapi cuma diisi satu orang aja sehari-hari," ucap Marni sambil menggelengkan kepala dari kursi belakang. "Aneh juga ya, biasanya keluarga kaya kayak gitu anaknya banyak, rumahnya rame terus.""Iya juga, ya," jawab Malik sekenanya, matanya tetap fokus ke jalanan di depannya."Kamu nggak pernah kepikiran, Malik? Kok Ibu kamu nggak nambah anak lagi waktu it

  • Dok, Please Cukup!   Bab 120 Bingkai Foto

    Eleanor terdiam sejenak, senyumnya sedikit memudar meski masih berusaha mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya, sebelum akhirnya menjawab dengan kalimat yang terdengar terlalu singkat dan cepat dibanding jawaban-jawabannya yang lain sepanjang makan malam tersebut."Oh, itu bingkai yang jatuh, Nindy. Belum sempat Ibu ganti lagi," jawab Eleanor pendek, kemudian langsung berdiri dari kursinya, "Ibu ambil pencuci mulut dulu ya, sebentar."Ia bergegas menuju dapur tanpa menunggu respons lebih lanjut, meninggalkan Nindy yang menatap kepergian tersebut dengan sedikit rasa penasaran yang belum sepenuhnya terjawab, karena jawaban tersebut terasa terlalu terburu-buru untuk sebuah pertanyaan sesederhana itu.Marni yang duduk di sebelah Nindy langsung mengisi keheningan singkat tersebut dengan cerita lain soal masa kecil Fajar, tanpa menyadari sedikit pun kejanggalan yang baru saja terjadi, dan Nindy pun memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, mengingat ini baru kali pertama ia berkunjung ke

  • Dok, Please Cukup!   Bab 119 Jangan Di Depan

    Eleanor sudah menunggu di depan pintu utama, tersenyum lebar begitu melihat mobil mereka berhenti di halaman, dan ia langsung memeluk Nindy erat begitu wanita tersebut turun dari mobil. "Akhirnya kamu dateng ke rumah ini sebagai menantu resmi, Nindy. Ibu udah nunggu-nungguin momen ini."Mereka melangkah masuk bersama-sama, dan Nindy memperhatikan setiap sudut rumah tersebut dengan kagum, sampai langkahnya terhenti sejenak di lorong menuju ruang makan, di mana terpasang deretan bingkai foto keluarga yang tersusun rapi berdasarkan urutan tahun, menampilkan berbagai momen penting dalam sejarah keluarga Sastrowardoyo.Matanya menyusuri satu per satu bingkai tersebut, dari foto pernikahan Eleanor dan mendiang suaminya, sampai foto-foto Malik kecil yang sedang tersenyum lebar di berbagai kesempatan, namun perhatiannya tiba-tiba tertuju pada satu bagian dinding yang terasa aneh di antara susunan bingkai yang begitu rapi tersebut.Di antara dua bingkai foto, terdapat satu bekas lubang paku ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status