Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 260 Sensasi Itu Datang

Share

Bab 260 Sensasi Itu Datang

Author: NFLusica
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-29 23:05:23

"Kayla udah hafal jalan ke rumah ini. Dia pasti minta main lagi di kamar atas," ucap Ratih.

"Nggak apa-apa, Tih. Kamar atas sekarang kamar bermain," jawab Nindy.

"Kamu anak yang sopan. Om kasih satu permen buat kamu," ucap Nindy sambil menyelipkan permen ke saku Fikri.

Om Har datang membawa kado yang dibungkus sendiri dengan koran, dan dia menyerahkannya ke Malik tanpa penjelasan. Malik membuka sedikit kertasnya dan mendapati sepatu bayi kecil berwarna putih.

"Om, ini dari mana?" tanya Malik.

"
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dok, Please Cukup!   Bab 265 Ngecek Aja

    Malik menyalakan mesin dan menyetir pulang lewat jalan yang dulu mereka lalui sepulang sekolah. Di lampu merah pertama, dia mengaku sudah tujuh tahun menyimpan satu kalimat yang mau dia ucapkan di bandara, dan dia tidak ingat lagi isinya."Tujuh tahun kamu simpan kalimatnya, terus kamu lupa?" tanya Nindy sambil menahan tawa."Aku ingat kok. Cuma lagi nyari kata yang bener," jawab Malik, lalu lampu hijau menyala dan dia melanjutkan mobilnya sambil menggaruk kepala.Nindy memegangi kalung di lehernya sepanjang sisa perjalanan. Mereka naik dari basemen ke unit tanpa bicara, dan begitu pintu tertutup Nindy menarik suaminya langsung ke kamar utama.Tirai kamar utama setengah terbuka, dan cahaya siang masuk tipis ke lantai. Nindy berbaring miring dengan bantal diselipkan di bawah perutnya, karena kandungannya sudah tiga puluh tiga minggu dan dia tidak mau bergerak terlalu cepat.Malik duduk di tepi ranjang dan membuka jaketnya dengan pelan, takut suara kain itu akan mengganggu. Dia mengecup

  • Dok, Please Cukup!   Bab 264 Diterima

    "Aku bangga banget sama kamu, Dew. Dari dulu kamu yang paling hafal harga," jawab Nindy.Bubur sumsum itu dibagi ke semua orang di dapur. Bi Inah menaruh satu mangkuk untuk Dewi, satu untuk Laila, dan satu untuk dirinya sendiri, sambil bergumam bahwa Suryani dulu selalu menyisakan satu mangkuk untuk orang yang paling terlambat datang.Laila menghampiri Nindy sambil membawa mangkuk kecil berisi sambal. "Mbak, sambal Bibi aku kasih tahu rahasianya nggak boleh. Tapi aku boleh tanya resepnya?" tanyanya."Boleh, Mbak Laila. Tapi jangan kasih ke Bibi dulu, nanti aku yang kena marah," jawab Nindy sambil terkekeh.Nindy menyerahkan kunci ruko ke Bi Inah dengan gerakan pelan, lalu buku resep Suryani ke Dewi. Sebelum mereka selesai, dia meminta satu hal yang sejak tadi dia simpan."Nama di papan depan itu Ibu aku yang bikin. Jangan pernah diganti, ya, siapa pun yang punya dapur ini nanti," ucap Nindy."Nggak bakal diganti, Nin. Bibi sendiri yang bakal nyuci papannya kalau ada yang berani," jawa

  • Dok, Please Cukup!   Bab 263 Aneka Rasa

    Dokter Ratna menulis sesuatu di lembar catatannya, lalu menyebut jadwal baru. Kontrol dilakukan tiap minggu sampai melahirkan, dan tas persalinan harus sudah disiapkan mulai hari itu juga."Tas persalinan itu buat sekarang, Malik. Jangan sampai kamu sendiri yang lupa," ucap Dokter Ratna."Aku nggak bakal lupa, Dok," jawab Malik, dan Nindy menyikut lututnya lagi sampai dia tertawa.Di depan pintu, Nindy berhenti sebentar dan menoleh ke arah Dokter Ratna yang sedang menulis di mejanya. "Dok, saya boleh pulang naik taksi aja, kan? Saya capek nungguin Malik ngitung," tanyanya."Kamu pulang sama suamimu. Dia lebih butuh dihitung daripada kamu," jawab Dokter Ratna tanpa mengangkat kepala.Mereka keluar dari ruang kontrol menjelang jam sebelas. Malik sudah menggandeng tangan istrinya sampai ke lift ketika suara Dokter Ratna memanggil dari ambang pintu."Malik, sebentar," panggil Dokter Ratna.Malik berbalik dan menghampirinya, sementara Nindy berdiri di depan lift sambil memegangi pinggang.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 262 Proteinnya Naik

    Pintu kamar diketuk tiga kali dengan pelan. Suara Eleanor terdengar dari luar dengan nada yang terlalu santai untuk dipercaya."Malik, Nindy. Kalian berdua sudah dicari dari tadi, Marni mau memotong tumpeng," ucap Eleanor dari balik pintu.Malik membuka matanya dan bangkit perlahan. Dia menatap pintu itu sebentar, lalu menoleh ke istrinya yang sudah menutup wajah dengan bantal."Dan satu lagi. Kunci kamar itu minta Ibu balikin sebelum kamu mulai kebiasaan buruk lagi seperti waktu SMA," lanjut Eleanor, suaranya turun pelan supaya tidak terdengar tamu di bawah.Tekanan darah Nindy naik lagi, dan kali ini Dokter Ratna tidak langsung tersenyum ketika membaca angkanya. Kamis pagi itu, empat minggu sesudah acara tujuh bulanan, Malik duduk di kursi sebelah istrinya dengan map hijau di pangkuan dan wajah yang sengaja dia buat tenang. Kunci kamar SMA Malik sudah dikembalikan ke Eleanor sore hari tujuh bulanan itu, dan telinga Malik masih memerah setiap kali ibunya menyebut soal kamar itu.Seja

  • Dok, Please Cukup!   Bab 261 Kambuh

    "Ibu pura-pura sibuk. Biar kita bisa keluar," bisik Nindy sambil menggandeng lengan suaminya."Dia dari tadi nungguin kita ngilang, Nin. Itu kode, dia udah hafal," jawab Malik.Lorong lantai dua rumah besar itu masih sama seperti dulu, dengan karpet merah yang sudah pudar di tengahnya. Foto-foto keluarga berjajar di dinding, dan sebagian besar wajahnya sudah tidak lagi tinggal di rumah itu."Ini rumah kamu yang paling sepi ya, Lik," ucap Nindy sambil berjalan pelan."Dulu paling ramai. Om Hadi suka main gitar di lorong ini sampai Bapak marah," jawab Malik.Kamar Malik semasa SMA ada di ujung lorong lantai dua, masih dengan poster band dan rak buku yang sama. Malik membuka pintunya dengan kunci yang sudah lama tidak dipakai, lalu menutupnya dari dalam dengan dua kali putaran."Tadi ada yang nanya soal sensasi itu ke aku. Mbak Vira ngira aku lagi kepanasan," ucap Nindy."Mbak Vira nggak tahu apa-apa soal PGAD kamu. Itu cuma kamu sama aku," jawab Malik.Nindy duduk di tepi ranjang sempit

  • Dok, Please Cukup!   Bab 260 Sensasi Itu Datang

    "Kayla udah hafal jalan ke rumah ini. Dia pasti minta main lagi di kamar atas," ucap Ratih."Nggak apa-apa, Tih. Kamar atas sekarang kamar bermain," jawab Nindy."Kamu anak yang sopan. Om kasih satu permen buat kamu," ucap Nindy sambil menyelipkan permen ke saku Fikri.Om Har datang membawa kado yang dibungkus sendiri dengan koran, dan dia menyerahkannya ke Malik tanpa penjelasan. Malik membuka sedikit kertasnya dan mendapati sepatu bayi kecil berwarna putih."Om, ini dari mana?" tanya Malik."Dari toko di depan pasar. Om tanya penjualnya, katanya yang paling kecil yang ada," jawab Om Har sambil mengangguk puas.Pipit datang bersama Andra dengan perut yang mulai kelihatan di balik blus longgarnya. Andra terus menuntunnya lewat jalan berbatu, dan Pipit berkali-kali menepis tangan suaminya sambil tertawa."Aku nggak sakit, Mas. Lepasin tanganku," ucap Pipit."Kamu baru tiga bulan, Pit. Biar aku yang pegangin," jawab Andra, dan Pipit akhirnya membiarkan tangannya digenggam sampai kursi.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status