Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 42 Gairah Tanpa Kendali

Share

Bab 42 Gairah Tanpa Kendali

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-07-28 08:28:04

Tindakan mendongak itu justru memberikan akses yang lebih luas bagi Malik untuk menjamah seluruh area lehernya.

Malik menghisap permukaan kulit leher Nindy secara bergantian, meninggalkan sensasi nikmat yang bahkan Fajar sendiri tak bisa melakukannya!

Sentuhan bibir Malik terus bergerak naik secara perlahan menuju area di belakang telinga Nindy. Lidah Malik yang basah ke

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 268 Nebaknya Ngaco

    "Belum. Tapi saya nggak lapar, Nin. Saya cuma takut kelewatan momennya,""Nggak bakal kelewatan. Kamu tetap di sini aja, pegang tangan aku," ucap Nindy sambil menggenggam tangan Rania lebih erat.Pukul empat lewat dua puluh, kontraksi berikutnya datang dan Rania menyebut angkanya dengan suara bergetar. Nindy menggenggam tangan Rania dengan kuat sampai perempuan itu meringis, dan Rania membiarkannya tanpa protes."Sakit ya, Nin?" tanya Rania."Sakit banget, Ran. Tapi jangan dilepas," jawab Nindy.Nindy memejamkan mata sambil menghitung napasnya sendiri, dan Malik mengelap keringat di dahinya dengan kain basah yang dia ambil dari baskom."Lik, kalau dia nanti nangis di awal, kamu jangan panik," ucap Nindy di sela napasnya."Aku nggak bakal panik. Aku kan udah nangkep ratusan bayi," jawab Malik."Ratusan bayi itu beda sama anak sendiri," balas Nindy, lalu dia tertawa sampai meringis karena kontraksi berikutnya datang.Bidan jaga memeriksa pembukaan dan mengangguk puas. Dokter Ratna mencu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 267 Kontraksi

    "Aku lagi nyoba nggak salah pasang, Nin," jawab Malik sambil mengunci gesper jam itu."Dokter Ratna udah bilang mau jaga malam ini?" tanya Nindy."Udah. Dia bilang kalau kita datang jam tiga pagi, dia udah nunggu di lobi," jawab Malik."Bawel banget dia. Tapi aku seneng dia yang nangani," balas Nindy sambil tersenyum.Nindy memasukkan kakinya ke sandal rumah sambil bersandar ke bahu suaminya. Di tengah gerakan itu, perutnya mengeras dan napasnya tertahan dengan suara kecil."Lik. Itu kontraksi," bisik Nindy.Malik langsung memegang pergelangan istrinya dan mulai menghitung."Satu. Tarik napas pelan-pelan, Nin. Aku ngitung sampai selesai.""Jangan keras-keras, Lik. Nanti Bu Ratih di bawah dengar," balas Nindy dengan napas tersengal."Dua, tiga. Empat. Lima. Selesai, Nin,""Kamu takut nggak, Nin?" tanya Malik sambil menggenggam tangan istrinya di depan pintu lift."Takut. Tapi aku lebih takut kalau kamu yang panik, Lik," jawab Nindy."Aku nggak panik," ucap Malik sambil menekan tombol l

  • Dok, Please Cukup!   Bab 266 Pakai Keduanya

    "Selesai," bisik Nindy sambil menatap langit-langit, dan Malik menyandarkan kepalanya ke tepi ranjang sambil menghela napas panjang.Setelah perawat keluar, Malik duduk di kursi plastik dan menunduk sampai dahinya hampir menyentuh kedua tangannya. Nindy meraih ujung kemejanya dan menariknya pelan."Kamu takut apa sih, Lik? Kamu kan udah biasa lihat orang lahiran," tanya Nindy."Iya, tapi nggak pernah sambil lihat istri sendiri pakai infus," jawab Malik tanpa mengangkat wajahnya."Kamu mau aku yang nenangin kamu sekarang?" tanya Nindy sambil tersenyum tipis."Jangan. Aku malu, tadi aku lupa tas di bagasi," balas Malik."Aku lebih takut kalau kamu lupa minum, Lik. Minum dulu, terus duduk yang bener," ucap Nindy sambil menyodorkan gelas dari meja samping.Dokter Ratna kembali menjelang jam lima dan membaca hasil pemeriksaan sekali lagi dengan teliti. Dia menutup map itu, lalu mengizinkan Nindy pulang dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar."Istirahat total. Jangan kerja, jangan naik

  • Dok, Please Cukup!   Bab 265 Ngecek Aja

    Malik menyalakan mesin dan menyetir pulang lewat jalan yang dulu mereka lalui sepulang sekolah. Di lampu merah pertama, dia mengaku sudah tujuh tahun menyimpan satu kalimat yang mau dia ucapkan di bandara, dan dia tidak ingat lagi isinya."Tujuh tahun kamu simpan kalimatnya, terus kamu lupa?" tanya Nindy sambil menahan tawa."Aku ingat kok. Cuma lagi nyari kata yang bener," jawab Malik, lalu lampu hijau menyala dan dia melanjutkan mobilnya sambil menggaruk kepala.Nindy memegangi kalung di lehernya sepanjang sisa perjalanan. Mereka naik dari basemen ke unit tanpa bicara, dan begitu pintu tertutup Nindy menarik suaminya langsung ke kamar utama.Tirai kamar utama setengah terbuka, dan cahaya siang masuk tipis ke lantai. Nindy berbaring miring dengan bantal diselipkan di bawah perutnya, karena kandungannya sudah tiga puluh tiga minggu dan dia tidak mau bergerak terlalu cepat.Malik duduk di tepi ranjang dan membuka jaketnya dengan pelan, takut suara kain itu akan mengganggu. Dia mengecup

  • Dok, Please Cukup!   Bab 264 Diterima

    "Aku bangga banget sama kamu, Dew. Dari dulu kamu yang paling hafal harga," jawab Nindy.Bubur sumsum itu dibagi ke semua orang di dapur. Bi Inah menaruh satu mangkuk untuk Dewi, satu untuk Laila, dan satu untuk dirinya sendiri, sambil bergumam bahwa Suryani dulu selalu menyisakan satu mangkuk untuk orang yang paling terlambat datang.Laila menghampiri Nindy sambil membawa mangkuk kecil berisi sambal. "Mbak, sambal Bibi aku kasih tahu rahasianya nggak boleh. Tapi aku boleh tanya resepnya?" tanyanya."Boleh, Mbak Laila. Tapi jangan kasih ke Bibi dulu, nanti aku yang kena marah," jawab Nindy sambil terkekeh.Nindy menyerahkan kunci ruko ke Bi Inah dengan gerakan pelan, lalu buku resep Suryani ke Dewi. Sebelum mereka selesai, dia meminta satu hal yang sejak tadi dia simpan."Nama di papan depan itu Ibu aku yang bikin. Jangan pernah diganti, ya, siapa pun yang punya dapur ini nanti," ucap Nindy."Nggak bakal diganti, Nin. Bibi sendiri yang bakal nyuci papannya kalau ada yang berani," jawa

  • Dok, Please Cukup!   Bab 263 Aneka Rasa

    Dokter Ratna menulis sesuatu di lembar catatannya, lalu menyebut jadwal baru. Kontrol dilakukan tiap minggu sampai melahirkan, dan tas persalinan harus sudah disiapkan mulai hari itu juga."Tas persalinan itu buat sekarang, Malik. Jangan sampai kamu sendiri yang lupa," ucap Dokter Ratna."Aku nggak bakal lupa, Dok," jawab Malik, dan Nindy menyikut lututnya lagi sampai dia tertawa.Di depan pintu, Nindy berhenti sebentar dan menoleh ke arah Dokter Ratna yang sedang menulis di mejanya. "Dok, saya boleh pulang naik taksi aja, kan? Saya capek nungguin Malik ngitung," tanyanya."Kamu pulang sama suamimu. Dia lebih butuh dihitung daripada kamu," jawab Dokter Ratna tanpa mengangkat kepala.Mereka keluar dari ruang kontrol menjelang jam sebelas. Malik sudah menggandeng tangan istrinya sampai ke lift ketika suara Dokter Ratna memanggil dari ambang pintu."Malik, sebentar," panggil Dokter Ratna.Malik berbalik dan menghampirinya, sementara Nindy berdiri di depan lift sambil memegangi pinggang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status