Beranda / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 64 Libur Kecil

Share

Bab 64 Libur Kecil

Penulis: NFLusica
last update Tanggal publikasi: 2026-08-07 12:09:28

Pukul delapan pagi tepat, Malik melangkah tegap memasuki ruang Rapat Komite Etik di lantai empat gedung Rumah Sakit Pusat. Laki-laki itu menarik kursi kayu berukir di ujung meja tebal, lalu mendudukkan tubuh besarnya di hadapan jajaran Direksi dan Dewan Etik Kedokteran. Atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa sangat dingin dan tegang.

Ketua Dewan Etik membetulkan posisi kacamata di hidungnya, lalu membuka tumpukan berkas laporan di atas meja. Pria paruh baya itu menatap Malik se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dok, Please Cukup!   Bab 201 Periksa Kehamilan

    Tawa Nindy pecah, dan dia menunduk ke bantal di pangkuannya supaya suaranya tidak terlalu keras. Eleanor menghabiskan piring itu sampai bersih, lalu menyeka sudut bibirnya dengan tisu dan menegakkan punggungnya lagi."Malik bilang kelas prenatal kamu tadi siang rebutan ini, terus katanya ada yang mau pesen," ucap Eleanor, menatap Nindy.Dengan pipi yang masih merah, Nindy mengangguk dan menjawab, "Baru omongan, Bu. Belum jadi apa-apa.""Di deket rumah Ibu ada dua kafe, yang punya dua-duanya kenal Ibu dari lama. Mereka lagi nyari masakan rumahan buat menu makan siang. Kalau kamu mau, Ibu kenalin minggu depan," lanjut Eleanor.Nindy memandangi piring kosong di atas meja. Kalimat itu terdengar terlalu besar untuk hari yang baru berjalan dua puluh empat jam sejak wajan pertama dia nyalakan."Makasih, Bu. Tapi aku belum siap. Jumat ini aja aku belum tahu sanggup atau nggak," jawab Nindy pelan.Eleanor mengangguk, lalu menjawab, "Nggak apa-apa. Tawarannya nggak Ibu cabut. Kapan pun kamu sia

  • Dok, Please Cukup!   Bab 200 Dijual atau Dipindah

    "Bu? Kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Nindy, menggeser badannya dari ambang pintu.Eleanor melangkah masuk dan melepas sepatunya sendiri di atas keset, lalu menjawab, "Kalau Ibu bilang dulu, Malik pasti nyuruh Ibu istirahat di rumah."Pasalnya, itu memang kalimat yang sudah setengah keluar dari mulut Malik waktu dia berdiri dari sofa. Laki-laki itu menutup mulutnya lagi dan menerima pelukan singkat ibunya tanpa protes.Selama ini, setiap kali datang ke unit ini, Eleanor selalu memilih kursi tunggal di seberang sofa, dekat pintu, seperti tamu yang siap pamit kapan saja.Malam itu dia berjalan lurus ke sofa panjang, duduk tepat di tengahnya, lalu menaruh map plastik itu di atas meja kaca, di samping amplop cokelat dari kurir Hendra. Malik dan Nindy saling pandang, lalu duduk di kiri dan kanan ibunya."Ibu simpen ini sendiri dari waktu ayah kamu meninggal," ucap Eleanor, membuka kancing map itu dengan kuku jarinya.Isinya dikeluarkan satu per satu dan dijajarkan di atas meja kaca. Ad

  • Dok, Please Cukup!   Bab 199 Empat Tahun Nunggu

    Di seberang telepon, Eleanor menghembuskan napas panjang. "Bagus. Kalau dia udah nyebut nama, artinya dia udah nganggep Nindy bagian dari urusan ini. Selama belum, dia masih ngincer Ibu.""Ibu kok tenang banget?" tanya Malik."Soalnya Ibu udah nunggu ini dateng, Malik. Cuma nggak tahu kapan," jawab Eleanor. "Kamu denger dulu. Sejak ayah kamu meninggal, Bram udah dua kali nyoba masukin orangnya sendiri jadi pengurus harian yayasan. Dua-duanya gagal. Ada beberapa hal di yayasan yang masih butuh tanda tangan Ibu, dan Ibu nggak pernah mau tanda tangan."Malik mencondongkan badan ke arah ponsel. "Ibu nggak pernah cerita soal ini.""Ibu nggak cerita ke siapa pun. Kamu lagi sibuk izin praktik, terus sibuk sama urusan kamu sendiri. Ibu pikir bisa Ibu tahan sendiri," jawab Eleanor.Mendengar itu, Malik bertanya, "Orangnya siapa aja, Bu, yang dia coba masukin?""Yang pertama bekas sopirnya sendiri, dikasih jas terus disuruh duduk di kantor yayasan. Yang kedua anak temennya, masih muda, katanya

  • Dok, Please Cukup!   Bab 198 Nggak Disebut

    Malik kembali ke kursinya dan duduk. Kedua tangannya bertaut di atas meja, dan dia memandangi kursi pasien itu tanpa bergerak. Jarum panjang jam dinding bergeser dari angka lima ke angka tujuh. Dari koridor terdengar suara Suster Wulan menelepon pasien satu per satu, meminta maaf dengan nada yang sama berulang-ulang.Sepuluh menit lewat. Malik akhirnya membalik ponsel yang sejak tadi telungkup di meja.Ada dua panggilan tak terjawab dari Nindy dan satu pesan dari istrinya yang cuma berbunyi, kabarin aku. Di bawahnya ada satu pesan lain, dari nomor yang tidak tersimpan, masuk empat menit lalu.Pesan itu tidak berisi kalimat apa pun. Isinya satu foto, dan waktu Malik membukanya, layar ponselnya memperlihatkan tangkapan layar dari sistem rekam berkas rumah sakit. Judul berkasnya tercetak tebal di bagian atas, berkas dewan etik atas nama dirinya sendiri, lengkap dengan tanggal sidang, nomor perkara, dan cap merah bertuliskan skorsing dua minggu.***Empat kotak sisa masakan semalam masih

  • Dok, Please Cukup!   Bab 197 Batalin Semua

    Malik menatap pamannya. Sandal jepit hijau itu benar. Bi Inah memakainya setiap hari ke unit, dan meletakkannya di keset sebelah kiri pintu."Masih, Om," jawab Malik."Hebat. Orang setia itu jarang sekarang," ucap Om Bram, mengangguk puas.Om Bram melirik gelas kertas di sudut meja, bekas kopi pagi yang belum sempat dibuang, lalu menunjuknya dengan dagu."Masih kopi item nggak pake gula?" tanya Om Bram."Masih, Om," jawab Malik."Persis ayahmu. Dulu tiap pagi dia minum dua gelas, terus Ibu kamu ngomel soal lambungnya," ucap Om Bram, tertawa kecil. "Om sendiri udah berhenti. Dokter bilang jantung Om nggak kuat. Sekarang minumnya teh tawar, rasanya kayak air cucian."Malik tersenyum tipis tanpa menjawab. Pamannya tidak butuh jawaban untuk melanjutkan."Cucu Om yang paling kecil baru bisa jalan minggu lalu. Jatohnya ke depan terus, kayak kamu dulu," lanjut Om Bram, merogoh saku batiknya, mengeluarkan ponsel, dan memperlihatkan satu foto bayi berbaju kuning yang berdiri berpegangan pada k

  • Dok, Please Cukup!   Bab 196 Sepeda Pertama

    Nindy tidak bisa membantah, jadi dia ikut tertawa."Terus, modal awalnya berapa? Aku harus beliin apa aja? Kotak? Kompor tambahan? Wajan yang gede?" tanya Malik, suaranya sudah berubah jadi nada orang yang sedang mencatat."Malik, belum juga jadi," balas Nindy."Jumat itu dua hari lagi. Kamu mau masak buat berapa orang pakai satu wajan?" tanya Malik.Nindy membuka mulut untuk menjawab, tapi dari seberang telepon terdengar ketukan di pintu, disusul suara perempuan yang samar. Tawa Malik berhenti di tengah jalan."Tunggu sebentar," ucap Malik, dan suaranya berubah datar.Bunyi gesekan terdengar, seperti ponsel ditutup dengan telapak tangan. Nindy menunggu sambil memandangi kipas angin di sudut warung. Detik-detik lewat tanpa suara dari seberang, sampai akhirnya suara Malik kembali, lebih pelan dari sebelumnya."Nindy, ada tamu di depan ruang praktik aku. Nggak bikin janji, terus nolak disuruh bikin janji dulu. Perawat poliklinik barusan nyebut namanya.""Siapa?" tanya Nindy, menegakkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status