로그인Dua anggota buser langsung menyergap tubuh Bahar secara sigap tanpa memberikan ampun. Mereka memutar kedua lengan pria paruh baya itu ke belakang punggung, lalu memasangkan borgol besi secara kuat. Bahar sama sekali tidak memberikan perlawanan fisik akibat rasa kejut dan kepanikan yang melumpuhkan seluruh saraf motoriknya.Pengacara Hendra melangkah masuk ke dalam kamar hotel tersebut secara tenang setelah polisi mengamankan situasi ruangan. Pria itu berdiri tepat di depan Bahar, lalu menatap wajah mantan rekan seprofesinya itu dengan sorot mata penuh kekecewaan. "Kamu sudah melewati batas hukum terlalu jauh kali ini, Bahar."Bahar menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya napasnya memburu cepat menahan rasa malu. Pria itu tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas pernyataan lisan dari Hendra.Inspektur Rudi berjalan mendekati tempat tidur, mengambil koper kulit milik Bahar, lalu memecahkan kode kuncinya secara paksa untuk melakukan penggeledahan barang bukti. Polisi it
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di ibu kota, Marni masih menempelkan ponselnya yang sudah mati ke telinga kirinya. Tangan wanita paruh baya itu gemetar sangat hebat, lalu ia menjatuhkan ponsel tersebut secara perlahan ke atas lantai marmer.Suasana di dalam ruang tamu rumahnya terasa sangat sunyi, dingin, dan mematikan. Tidak ada suara televisi, perbincangan hangat keluarga, atau suara Nindy yang biasanya menyiapkan makan malam di dapur. Semua rutinitas yang dulu sering Marni caci maki kini menghilang tanpa sisa, meninggalkan ruang hampa yang menyiksa dadanya.Marni memutar kepalanya pelan, lalu menatap deretan anak tangga menuju lantai dua tempat kamar Fajar berada. Kamar utama itu kini kosong melompong, sama kosongnya dengan perasaan Marni malam ini.Marni menarik lututnya mendekati dada, lalu menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya yang keriput. Air mata penyesalan mengalir deras membasahi jari-jarinya.Wanita tua itu menangis histeris sendirian di dalam kehening
Fajar mengepalkan jemari tangan kanannya di atas meja seraya mengerutkan keningnya tajam. "Berita memalukan apa lagi yang Ibu bicarakan malam-malam begini?"Marni membersihkan tenggorokannya sejenak, lalu berbicara dengan nada suara yang penuh provokasi. "Dokter Malik itu baru saja menerima skorsing dan izin praktiknya dibekukan sementara oleh pihak rumah sakit pusat! Ini kesempatan bagus buat kamu menyewa pengacara dan melaporkan dokter itu ke polisi karena dia sudah menghancurkan rumah tangga kamu!"Fajar memejamkan matanya rapat-rapat seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Laki-laki itu menahan lidahnya sejenak agar tidak langsung membentak ibunya melalui saluran telepon. "Ibu tolong berhenti mencampuri urusan kehidupan mereka lagi. Perceraian Fajar sama Nindy sudah selesai secara sah di pengadilan agama, jadi Fajar sudah tidak punya hak apa pun untuk menuntut mereka."Marni mendengkus kasar dari balik telepon seraya menunjukkan sikap keras kepalanya. "Kamu itu terlal
Pukul delapan pagi tepat, Malik melangkah tegap memasuki ruang Rapat Komite Etik di lantai empat gedung Rumah Sakit Pusat. Laki-laki itu menarik kursi kayu berukir di ujung meja tebal, lalu mendudukkan tubuh besarnya di hadapan jajaran Direksi dan Dewan Etik Kedokteran. Atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa sangat dingin dan tegang.Ketua Dewan Etik membetulkan posisi kacamata di hidungnya, lalu membuka tumpukan berkas laporan di atas meja. Pria paruh baya itu menatap Malik secara tajam seraya berbicara dengan nada suara resmi. "Dokter Malik, kami menerima laporan resmi terkait dugaan penukaran jadwal ruang praktik Dokter Sita dan penanganan pasien pribadi atas nama Nindy."Malik menegakkan posisi duduknya, menyilangkan kedua jemari tangannya di atas meja, lalu membalas tatapan Ketua Dewan Etik tanpa ragu. "Terima kasih atas kesempatan klarifikasi ini, Dokter. Saya ingin menegaskan bahwa seluruh tindakan medis yang saya lakukan pada pasien Nindy murni berdasarkan pro
Eleanor mengusap air mata di pipinya menggunakan tisu, kemudian menatap anak laki-lakinya dengan raut wajah penuh penyesalan. "Waktu Ibu bikin surat perjanjian lima miliar itu sama ayahnya Nindy tujuh tahun lalu, Bahar yang jadi pengacara pribadi keluarga kita, Malik. Dia yang pegang semua dokumen asli, kuitansi, sama salinan surat kuasa dari ayah Nindy."Malik mengepalkan tangannya di atas paha seraya mendengarkan penjelasan tersebut. "Terus kenapa dokumen itu tidak Ibu ambil waktu memecat dia tiga tahun lalu?""Ibu pikir dia udah menyerahkan semua berkas kantor waktu dipecat karena kasus penggelapan uang itu," jawab Eleanor seraya suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Ibu tidak tahu kalau ternyata dia diam-diam menyimpan salinan kuitansi itu dan terus mencari celah buat membalas dendam ke keluarga kita."Malik menarik napas panjang melalui hidung, lalu menghembuskannya secara perlahan melalui mulut. "Lalu soal jadwal Dokter Sita? Dari mana dia tahu kalau Malik sengaja tukar ruang
Ponsel Malik yang tergeletak di atas meja kaca tiba-tiba berdering sangat nyaring memecah keheningan ruangan. Malik meraih benda elektronik itu, melihat nomor tidak dikenal tertera di layar panggil, lalu menggeser tombol hijau ke atas.Malik menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo?"Suara berat seorang pria paruh baya terdengar tertawa pelan dari ujung telepon. "Selamat malam, Dokter Malik. Kamu sudah baca dokumen hadiah dari saya di meja kerjamu?"Malik berdiri kaku seraya mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada ponsel. "Tuan Bahar. Bagaimana bisa dokumen pribadi keluargaku ada di tanganmu?!""Saya memegang seluruh salinan perjanjian asli dan surat kuasa lama dari almarhum Ayah Nindy yang belum pernah dicabut secara hukum," balas Bahar dengan nada suara mengancam yang sangat dingin."Dan kalau keluarga Sastrowardoyo tidak mau skandal pemalsuan perjanjian dan manipulasi medis ini saya bongkar ke media serta dewan etik dokter esok pagi, kamu harus menyiapkan ganti rugi rekening kantor say







