Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 63 Prioritas Utama

Share

Bab 63 Prioritas Utama

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-08-07 12:08:27

Eleanor mengusap air mata di pipinya menggunakan tisu, kemudian menatap anak laki-lakinya dengan raut wajah penuh penyesalan. "Waktu Ibu bikin surat perjanjian lima miliar itu sama ayahnya Nindy tujuh tahun lalu, Bahar yang jadi pengacara pribadi keluarga kita, Malik. Dia yang pegang semua dokumen asli, kuitansi, sama salinan surat kuasa dari ayah Nindy."

Malik mengepalkan tangannya di atas paha seraya mendengarkan penjelasan tersebut. "Terus kenapa dokumen itu tidak Ibu ambil waktu memecat dia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 69 Surat Cerai

    Mobil sedan itu akhirnya berhenti di basement apartemen. Nindy masih menyandarkan kepalanya ke bahu Eleanor, napasnya belum sepenuhnya teratur."Kamu bisa jalan sendiri, Nak, atau Ibu suruh satpam bawa kursi roda?" tanya Eleanor sambil mengusap punggung Nindy pelan."Bisa, Bu. Cuma agak pusing aja," jawab Nindy sambil mencoba duduk tegak.Sopir membukakan pintu, lalu Eleanor turun lebih dulu untuk membantu Nindy melangkah keluar dari mobil. Begitu kaki Nindy menapak lantai basement, Malik yang rupanya sudah menunggu di dekat lift langsung berjalan cepat menghampiri mereka."Kenapa nggak telepon aku dulu kalau Nindy mual separah ini?" tanya Malik dengan nada agak menegur, langsung merangkul pinggang Nindy dari samping."Ibu udah kasih minyak kayu putih, kok. Nindy cuma butuh udara segar aja," jawab Eleanor sambil menyerahkan tas belanja ke tangan sopir.Malik tidak membalas ucapan ibunya. Ia justru membungkuk sedikit, mengangkat tubuh Nindy ke dalam gendongannya tanpa bertanya lagi, la

  • Dok, Please Cukup!   Bab 68 Mengandung Cucu Pertama

    Eleanor memutar tubuhnya, lalu menyunggingkan senyuman tipis sebagai bentuk kesopanan sosial biasa. "Selamat siang, Sarah. Kalian sedang mencari rancangan gaun pesta juga di sini?"Sarah melangkah mendekati Eleanor, lalu pandangan matanya beralih menatap Nindy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada, kemudian menyunggingkan senyuman merendahkan yang sangat kentara. "Aku dengar kabar dari grup arisan kalau anakmu, Malik, baru saja mendapat skorsing dari rumah sakit gara-gara berhubungan sama mantan pasiennya."Nindy refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam saat mendengar sindiran tajam tersebut. Jari-jari tangannya meremas ujung kain gaun yang ia kenakan akibat rasa malu yang seketika menghantam dadanya.Rekan sosialita Sarah di sebelahnya ikut menimpali dengan nada suara mencemooh. "Iya, Eleanor. Kenapa kamu membiarkan dokter sehebat Malik mengencani seorang janda yang baru saja bercerai? Keputusanmu itu bisa merusak reputasi keluarga Sast

  • Dok, Please Cukup!   Bab 67 Persiapan Gaun Pengantin 

    Dua anggota buser langsung menyergap tubuh Bahar secara sigap tanpa memberikan ampun. Mereka memutar kedua lengan pria paruh baya itu ke belakang punggung, lalu memasangkan borgol besi secara kuat. Bahar sama sekali tidak memberikan perlawanan fisik akibat rasa kejut dan kepanikan yang melumpuhkan seluruh saraf motoriknya.Pengacara Hendra melangkah masuk ke dalam kamar hotel tersebut secara tenang setelah polisi mengamankan situasi ruangan. Pria itu berdiri tepat di depan Bahar, lalu menatap wajah mantan rekan seprofesinya itu dengan sorot mata penuh kekecewaan. "Kamu sudah melewati batas hukum terlalu jauh kali ini, Bahar."Bahar menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya napasnya memburu cepat menahan rasa malu. Pria itu tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas pernyataan lisan dari Hendra.Inspektur Rudi berjalan mendekati tempat tidur, mengambil koper kulit milik Bahar, lalu memecahkan kode kuncinya secara paksa untuk melakukan penggeledahan barang bukti. Polisi it

  • Dok, Please Cukup!   Bab 66 Rahasia Terapi Medis

    Sementara itu, di sebuah rumah mewah di ibu kota, Marni masih menempelkan ponselnya yang sudah mati ke telinga kirinya. Tangan wanita paruh baya itu gemetar sangat hebat, lalu ia menjatuhkan ponsel tersebut secara perlahan ke atas lantai marmer.Suasana di dalam ruang tamu rumahnya terasa sangat sunyi, dingin, dan mematikan. Tidak ada suara televisi, perbincangan hangat keluarga, atau suara Nindy yang biasanya menyiapkan makan malam di dapur. Semua rutinitas yang dulu sering Marni caci maki kini menghilang tanpa sisa, meninggalkan ruang hampa yang menyiksa dadanya.Marni memutar kepalanya pelan, lalu menatap deretan anak tangga menuju lantai dua tempat kamar Fajar berada. Kamar utama itu kini kosong melompong, sama kosongnya dengan perasaan Marni malam ini.Marni menarik lututnya mendekati dada, lalu menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya yang keriput. Air mata penyesalan mengalir deras membasahi jari-jarinya.Wanita tua itu menangis histeris sendirian di dalam kehening

  • Dok, Please Cukup!   Bab 65 Tidak Pernah Mandul 

    Fajar mengepalkan jemari tangan kanannya di atas meja seraya mengerutkan keningnya tajam. "Berita memalukan apa lagi yang Ibu bicarakan malam-malam begini?"Marni membersihkan tenggorokannya sejenak, lalu berbicara dengan nada suara yang penuh provokasi. "Dokter Malik itu baru saja menerima skorsing dan izin praktiknya dibekukan sementara oleh pihak rumah sakit pusat! Ini kesempatan bagus buat kamu menyewa pengacara dan melaporkan dokter itu ke polisi karena dia sudah menghancurkan rumah tangga kamu!"Fajar memejamkan matanya rapat-rapat seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Laki-laki itu menahan lidahnya sejenak agar tidak langsung membentak ibunya melalui saluran telepon. "Ibu tolong berhenti mencampuri urusan kehidupan mereka lagi. Perceraian Fajar sama Nindy sudah selesai secara sah di pengadilan agama, jadi Fajar sudah tidak punya hak apa pun untuk menuntut mereka."Marni mendengkus kasar dari balik telepon seraya menunjukkan sikap keras kepalanya. "Kamu itu terlal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 64 Libur Kecil

    Pukul delapan pagi tepat, Malik melangkah tegap memasuki ruang Rapat Komite Etik di lantai empat gedung Rumah Sakit Pusat. Laki-laki itu menarik kursi kayu berukir di ujung meja tebal, lalu mendudukkan tubuh besarnya di hadapan jajaran Direksi dan Dewan Etik Kedokteran. Atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa sangat dingin dan tegang.Ketua Dewan Etik membetulkan posisi kacamata di hidungnya, lalu membuka tumpukan berkas laporan di atas meja. Pria paruh baya itu menatap Malik secara tajam seraya berbicara dengan nada suara resmi. "Dokter Malik, kami menerima laporan resmi terkait dugaan penukaran jadwal ruang praktik Dokter Sita dan penanganan pasien pribadi atas nama Nindy."Malik menegakkan posisi duduknya, menyilangkan kedua jemari tangannya di atas meja, lalu membalas tatapan Ketua Dewan Etik tanpa ragu. "Terima kasih atas kesempatan klarifikasi ini, Dokter. Saya ingin menegaskan bahwa seluruh tindakan medis yang saya lakukan pada pasien Nindy murni berdasarkan pro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status