หน้าหลัก / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 65 Tidak Pernah Mandul 

แชร์

Bab 65 Tidak Pernah Mandul 

ผู้เขียน: NFLusica
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-07 12:10:06

Fajar mengepalkan jemari tangan kanannya di atas meja seraya mengerutkan keningnya tajam. "Berita memalukan apa lagi yang Ibu bicarakan malam-malam begini?"

Marni membersihkan tenggorokannya sejenak, lalu berbicara dengan nada suara yang penuh provokasi. "Dokter Malik itu baru saja menerima skorsing dan izin praktiknya dibekukan sementara oleh pihak rumah sakit pusat! Ini kesempatan bagus buat kamu menyewa pengacara dan melaporkan dokter itu ke polisi karena dia sudah menghancurkan rumah tangga
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dok, Please Cukup!   Bab 75 Identitas Asli Nindy

    Nindy langsung mendekat, duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan Fajar yang tidak terluka dengan hati-hati. "Mas Fajar, aku khawatir banget! Kenapa kamu bisa sampai diculik kayak gini?""Aku nggak nyangka mereka seberani itu," jawab Fajar pelan, suaranya masih terdengar lemah. "Untung ada polisi yang datang tepat waktu. Kalau nggak, entah apa yang bakal terjadi sama aku."Malik berdiri di belakang Nindy, ikut mendekat ke ranjang. "Kamu berani banget, Fajar. Padahal kamu udah tahu jadi saksi kunci itu berisiko, tapi kamu tetap maju."Fajar melirik Malik, lalu menghela napas pelan. "Aku cuma mau bantu ngungkap kebenaran, Dokter. Lagian, aku juga pengin buktiin kalau aku bukan cuma laki-laki lemah yang selalu jadi beban buat orang lain."Nindy meremas tangan Faja

  • Dok, Please Cukup!   Bab 74 Mencoba Tersenyum

    Sepuluh menit berlalu tanpa kabar. Nindy mulai memegangi perutnya sendiri, merasakan sedikit kram ringan yang muncul akibat stres berlebihan."Nindy, kamu kenapa?" tanya Malik cemas, langsung memperhatikan gestur tubuh wanita itu."Cuma agak kram dikit, Malik," jawab Nindy sambil mengelus perutnya. "Mungkin gara-gara aku terlalu stres mikirin Fajar."Malik langsung bangkit, mengambil segelas air hangat dari dapur, lalu memaksa Nindy meminumnya perlahan. "Kamu harus tenang, Sayang. Demi kandunganmu juga."Nindy mengangguk pelan, mencoba menata napasnya meski pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran akan nasib Fajar. Dua puluh menit berikutnya berlalu dengan suasana yang sama mencekamnya, sampai akhirnya ponsel Malik kembali berdering.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 73 Fajar Diculik Nindy

    Hendra menarik napas panjang di ujung telepon sebelum akhirnya menjawab dengan suara berat. "Fajar udah nggak ada di apartemennya. Menurut saksi tetangga, dia diseret paksa sama dua orang nggak dikenal sekitar satu jam yang lalu."Malik berdiri kaku di lorong apartemen, jantungnya berdegup keras hingga terasa sampai ke telinga. "Diseret paksa? Fajar diculik, Hendra?""Kemungkinan besar begitu," jawab Hendra, suaranya masih terdengar tegang. "Saksi bilang ada mobil hitam berhenti di depan apartemen Fajar, dua orang turun, terus maksa Fajar masuk ke dalam mobil. Fajar sempat teriak minta tolong, tapi nggak ada yang berani nolongin."Malik mengepalkan tangan kirinya, menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. "Ini pasti ulah orang-orangnya Bahar. Mereka mau bungkam Fajar sebelum sidang lanjutan minggu depan.""Kemungkinan besar begitu," ulang Hendra. "Saya udah lapor ke Inspektur Rudi, dia lagi ngerahin tim buat lacak nomor polisi mobil dari rekaman CCTV sekitar apartemen."Suara lan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 72 Tindakan Langsung

    Dari arah ruang tengah, suara Malik memanggil membuat keduanya sontak menghentikan percakapan. "Nindy? Kamu ngapain di situ lama banget?"Nindy buru-buru mengusap wajahnya, mencoba tampak biasa saja. "Nggak apa-apa, Malik. Cuma nganterin Bu Marni sampai depan pintu."Marni memberikan senyum tipis, lalu melangkah keluar sambil berbisik sekali lagi. "Tolong jangan bilang ke Dokter Malik dulu soal ini, Nindy. Biar Ibu yang urus lewat jalur yang aman. Kamu fokus jaga kandungan kamu aja."Pintu apartemen tertutup pelan setelah Marni benar-benar pergi. Nindy berdiri mematung sejenak di depan pintu, pikirannya berkecamuk memikirkan kabar yang baru saja ia terima."Nindy?" Malik muncul dari belakang, memegang bahu wanita itu pelan. "Kamu kelihatan pucat. Ada apa sebenarnya sama Bu Marni tadi?"Nindy menoleh, berusaha menyusun kata-kata yang tidak akan membuat Malik curiga. "Nggak ada apa-apa, Malik. Bu Marni cuma pesen-pesen soal acara minggu depan aja."Malik menatap mata Nindy lama, seolah

  • Dok, Please Cukup!   Bab 71 Fajar Diintimidasi 

    "Dari tetangga komplek. Kabar itu cepet banget nyebar," jawab Marni sambil tersenyum kecil. "Ibu awalnya nggak percaya. Tapi begitu Fajar konfirmasi langsung, Ibu jadi mikir panjang. Anak Ibu udah nggak bisa kasih cucu buat Ibu, tapi Ibu masih punya kesempatan jadi nenek lewat kamu."Malik akhirnya duduk juga, meski posisinya tetap dekat dengan Nindy, tangannya diam-diam menggenggam jemari wanita itu di bawah meja. "Maksud Ibu, mau tetap ikut campur dalam hidup Nindy meski dia udah bukan menantu Ibu lagi?"Marni menggeleng cepat, raut wajahnya berubah serius. "Bukan gitu, Dokter. Saya cuma... pengin ada di kehidupan cucu saya nanti. Bukan sebagai mertua Nindy, tapi sebagai nenek dari sisi Fajar. Saya tahu itu bukan darah daging Fajar secara biologis, tapi anak itu pernah tumbuh di rahim yang seharusnya jadi menantu saya."Ucapan itu membuat Nindy terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Ia teringat kata-kata Fajar di telepon tadi, hampir mirip persis dengan yang barusan diucapkan Marni."

  • Dok, Please Cukup!   Bab 70 Penyesalan Bu Marni

    "Aku nggak punya pilihan lain selain nerima, Nindy. Tapi bukan berarti aku nggak berharap kamu bahagia," jawab Fajar, suaranya terdengar tulus meski ada nada berat di sana. "Cuma satu yang mau aku titip. Jaga diri kamu baik-baik. Anak itu juga, meskipun bukan darah dagingku, tetep aja pernah numbuh di rahim yang sama kayak yang seharusnya jadi anakku."Nindy menutup mulutnya sejenak, menahan haru yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Iya, Mas. Makasih."Sambungan telepon itu berakhir tanpa kata perpisahan yang panjang. Nindy meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu menghela napas dalam-dalam."Kamu nggak apa-apa?" tanya Malik sambil mengusap punggung Nindy."Nggak apa-apa, Malik. Cuma... lega aja akhirnya semuanya jelas," jawab Nindy sambil tersenyum tipis. "Fajar orang baik. Aku seneng dia bisa move on."Eleanor kembali dari dapur membawa dua cangkir teh jahe hangat, meletakkannya di atas meja kaca. "Siapa yang telepon tadi?""Fajar, Bu. Ngasih tahu soal surat cerai yang udah resmi,"

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status