เข้าสู่ระบบFajar menaruh amplop tersebut tepat di atas pangkuan istrinya agar Nindy bisa melihat langsung nama dokter dan jadwal pertemuan medis yang sudah ia atur secara diam-diam.
"Kunjungan medis ke dokter spesialis ini harus segera kamu lakuin besok pagi tanpa ada penundaan sama sekali, Sayang," jelas Fajar dengan nada suara yang sangat serius.
Nindy membuka matanya perlahan dan menatap amplop cokelat tersebut dengan pandangan penuh penolakan, sementara rasa sakit di area bawah perutnya masih terus berkedut tanpa henti.
"Aku udah bilang kalau aku nggak mau ngelakuin inseminasi pakai benih orang lain, Mas! Kenapa kamu terus maksa aku buat ngelakuin kebohongan ini?!" tolak Nindy dengan suara tinggi.
"Program medis ini bukan sekadar buat bikin kamu hamil dalam waktu singkat biar ibuku berhenti nuntut cerai, Sayang!"
Fajar meraih sebelah telapak tangan Nindy lalu menggenggamnya dengan sangat erat untuk meyakinkan istrinya mengenai tujuan utama dari pendaftaran tersebut. "Aku daftarin kamu ke dokter ini karena aku sangat berharap, dokter itu bisa ngasih terapi penyembuhan fisik secara langsung buat penyakit gairahmu yang terus kumat ini!"
Penjelasan rasional dari suaminya barusan membuat Nindy terdiam seketika, karena Nindy menyadari secara harfiah bahwa tubuhnya memang sangat membutuhkan pengobatan medis secepatnya.
Ia tidak ingin terus-menerus tersiksa oleh rasa sakit fisik seperti siang ini, apalagi mengingat fakta bahwa suaminya sudah tidak mampu lagi memuaskannya.
"Terus kenapa kamu malah ngasih berkasnya ke aku sekarang? Kamu harus nemenin aku pergi ke rumah sakit itu besok pagi, Mas?" tuntut Nindy.
Fajar menelan ludahnya dengan susah payah, lalu ia melepaskan genggaman tangannya dari jari-jari istrinya secara perlahan. "Aku sama sekali nggak bisa nemenin kamu pergi ke rumah sakit besok pagi, Sayang."
"Kenapa nggak bisa?! Ini urusan masa depan rumah tangga kita dan kamu yang maksa aku buat daftar program ini!"
"Kantorku ngadain rapat mendadak bersama klien besar besok pagi, sehingga jadwal rapat itu sama sekali tidak bisa dibatalkan atau diwakilkan oleh pihak kantor mana pun," jelas Fajar dengan wajah penuh rasa bersalah.
Nindy menatap mata suaminya dengan ekspresi ketidakpercayaan yang sangat jelas, karena suaminya justru memilih urusan pekerjaan di saat kondisi fisik dan rumah tangga mereka sedang hancur lebur seperti ini.
"Jadi kamu beneran nyuruh aku pergi sendirian buat ngelakuin program medis yang sangat ekstrem ini, Mas?!" bantah Nindy sambil melempar amplop itu ke sampingnya.
"Aku benar-benar minta maaf, Sayang! Tolong pergilah sendirian ke rumah sakit besok pagi dan temuin dokter yang ada di berkas pendaftaran itu demi kesembuhan fisikmu sendiri!"
Fajar menundukkan kepalanya dalam-dalam karena ia tidak berani membalas tatapan kecewa dari istrinya, meskipun ia sadar penuh bahwa keputusannya ini sangat memberatkan posisi Nindy secara mental.
Melihat suaminya hanya bisa menunduk pasrah tanpa memberikan solusi alternatif lain, Nindy akhirnya menyadari kenyataan harfiah mengenai kondisi pernikahannya saat ini.
Suaminya sudah terbukti mengalami disfungsi secara fisik, lalu laki-laki itu gagal memuaskan kebutuhan biologis istrinya di atas ranjang, dan sekarang laki-laki itu juga tidak bisa meluangkan waktu untuk menemani istrinya berobat akibat terikat aturan kantor.
Nindy mengulurkan tangannya perlahan ke samping kasur dengan jemari yang bergetar. Wanita itu mengambil kembali amplop cokelat tersebut sambil terus menangis tersedu-sedu.
Nindy meremas pinggiran amplop itu karena ia menyadari sepenuhnya bahwa ia memang harus mengandalkan bantuan medis dari pihak luar besok pagi, akibat suaminya sudah tidak mampu lagi menolong rasa sakitnya.
Nindy melempar amplop cokelat pendaftaran itu ke lantai kamar, lalu ia kembali berguling memeluk lututnya sendiri di atas kasur karena penyakit kelainan gairahnya sama sekali belum terselesaikan pada siang hari itu.
Fajar yang baru saja merapikan pakaiannya langsung berbalik badan dengan ekspresi wajah yang sangat kebingungan dan panik.
Melihat istrinya kembali menangis sambil meremas seprai kasur dengan sangat kuat, rasa bersalah dan rasa sayang yang luar biasa besar langsung mendorong Fajar untuk kembali mendekat ke arah ranjang.
"Aku bakal coba kasih rangsangan manual sekali lagi pakai tanganku, Sayang," ucap Fajar secara putus asa.
Fajar mendudukkan tubuhnya di tepi kasur tanpa melepaskan kemejanya, lalu ia mengulurkan tangan kanannya menuju area bawah perut Nindy untuk kembali memberikan hand-service secara langsung.
"Tekan bagian sarafnya lebih kuat, Mas! Jangan cuma digesek pelan kayak gitu!" instruksi Nindy dengan napas yang memburu cepat.
Fajar mencoba mempercepat ritme jari-jarinya sesuai instruksi tersebut, tetapi tangannya yang kelelahan justru bergetar hebat sehingga ritmenya menjadi sangat berantakan dan tidak mengenai titik sensitif istrinya secara akurat.
Rasa gatal dan nyeri di area panggul Nindy justru terasa semakin menyiksa akibat gesekan yang tidak teratur tersebut.
"Nggak usah, Mas! Sentuhanmu benar-benar kurang kuat dan nggak ngasih pengaruh apa pun ke sarafku!"
Nindy menepis tangan suaminya secara kasar, lalu ia mulai menggerakkan jari-jarinya sendiri pada area pribadinya secara cepat dan konstan.
Fajar hanya bisa duduk mematung di pinggir kasur sambil menatap pergerakan tangan istrinya, sementara matanya mulai berkaca-kaca karena ia merasa sangat hancur melihat istrinya harus mencari kepuasan sendiri tepat di depan matanya.
Nindy terus memberikan tekanan konstan pada area pribadinya hingga napasnya tersengal hebat, namun stimulasi mandiri itu nyatanya tidak memberikan kepuasan maksimal seperti sentuhan dari orang lain.
"Coba kamu pegang milikku lagi sekarang, Sayang. Siapa tahu sekarang tubuhku bisa ngerespons sentuhanmu," tawar Fajar sambil memegang lengan istrinya dengan tangan gemetar.
Nindy melepaskan tangannya dari tubuhnya sendiri, kemudian ia menggeser posisinya mendekati Fajar dan mulai memberikan sentuhan manual pada alat vital suaminya.
Nindy mencoba mengajari Fajar secara langsung dengan cara mengarahkan tangan pria itu, lalu ia terus memberikan stimulasi kulit secara telaten agar suaminya bisa berhasrat kembali siang ini.
Akan tetapi, area vital pria itu tetap berada dalam kondisi sangat lemas tanpa menunjukkan tanda-tanda ereksi sedikit pun.
"Ini bener-bener sia-sia, Mas! Tubuhmu sama sekali kayak nggak punya hasrat biologis lagi tiap kali aku sentuh!" keluh Nindy sambil melepaskan tangannya dengan perasaan sangat kecewa.
"Maafin aku, Sayang. Tubuhku benar-benar mati rasa dan nggak bisa diajak kerja sama hari ini."
Fajar menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan lalu mulai menangis tanpa suara, karena ia harus kembali menerima kenyataan pahit mengenai disfungsi ereksinya yang semakin parah.
Nindy membalikkan badannya membelakangi Fajar karena dadanya terasa sangat sesak dan tersiksa secara harfiah.
Nindy menyadari sepenuhnya bahwa suaminya memang merupakan pria baik yang tidak pernah berselingkuh di luar rumah, tetapi fakta bahwa Fajar sama sekali tidak mampu memberikannya nafkah batin membuat batin Nindy semakin hancur dan tersiksa dari hari ke hari.
Tutup kardus dia angkat. Bau kertas lama dan kapur barus langsung naik dari dalamnya.Isinya foto-foto cetak studio yang ditumpuk rapi, ukurannya macam-macam, beberapa masih di dalam sampul plastik bening dari studionya. Foto paling atas memperlihatkan seorang anak perempuan berumur sekitar tiga tahun yang duduk di pangkuan Wisnu, sedangkan Suryani berdiri di belakang mereka dengan satu tangan di bahu suaminya. Latar belakangnya kain biru bergambar awan, dan anak perempuan itu menatap kamera sambil menggigit ujung jarinya sendiri.Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan.Malik turun dari sofa, duduk bersila di atas karpet di sebelah kaki istrinya, lalu mengambil foto kedua dari tumpukan tanpa izin. Pipit menaruh piring kuenya di meja dan ikut mencondongkan badan."Ini kamu?" tanya Malik, mengangkat foto itu ke dekat wajah Nindy. "Ponimu kok kayak dipotong pakai gergaji?"Tangan Nindy turun dari mulutnya, dan dia menepuk kepala Malik pakai foto yang lain. "Itu Ibu yang motong, pa
Malik mengisi kolom jam keluar di buku tamu dekat pintu, dan Nindy menunggu di sebelahnya sambil menyampirkan tas di bahu. Mereka sudah berbalik ke arah pintu ketika Pak Sardi berdeham."Dok, ada satu hal. Tadi saya bilang jarang ada yang nanya buku registrasi, terakhir mahasiswa skripsi. Itu yang dateng baik-baik. Sebenernya setahun lalu ada juga yang nanya, cuma saya nggak ngitung, soalnya nggak saya kasih."Malik berhenti dengan satu tangan di gagang pintu. Nindy menoleh."Siapa, Pak?" tanya Malik.Sambil membetulkan letak map merah di sudut mejanya, Pak Sardi menjawab, "Katanya dari kantor pengelola sebuah yayasan. Dia nanya buku registrasi bangsal tahun-tahun itu, persis tahun yang tadi Dokter buka. Saya tanya suratnya mana, dia bilang suratnya nyusul. Ya udah, saya bilang dateng lagi kalau suratnya udah ada."Mendengar itu, Nindy bertanya, "Terus dia dateng lagi, Pak?""Nggak pernah, Bu. Sampai hari ini," jawab Pak Sardi.Malik melepas gagang pintu. Dia mengeluarkan ponselnya la
Setelah jeda sebentar, Pak Sardi menambahkan dengan suara lebih rendah, "Kalau map resmi, lain cerita. Map resmi itu yang biasanya disesuaikan, Dok, kalau ada permintaan dari keluarga."Nindy teringat dua lubang kecil di sudut kiri lembar tunggal tadi, serat kertas yang sobek kasar di sekelilingnya. Dia melirik Malik, dan dari cara rahang suaminya bergerak, dia tahu Malik sedang mengingat lubang yang sama.Pak Sardi menatap mereka berdua bergantian, lalu berbalik tanpa berkata apa-apa. Langkahnya menuju meja panjang dekat pintu, dan dari sana terdengar bunyi laci ditarik, disusul bunyi tutup termos yang diputar.Laki-laki itu kembali membawa termos biru bergambar bunga yang catnya sudah mengelupas di bagian pegangan, dan dua gelas kaca yang bentuknya tidak sama. Gelas pertama tinggi dan ramping, ada sisa stiker harga di dasarnya, sedangkan gelas kedua pendek dan tebal, bekas wadah selai yang labelnya sudah dikerok tapi masih meninggalkan bekas lem di satu sisi."Teh manis, Dok, Bu. Bi
Kedua telapak tangan Malik menahan halaman tujuh puluh dua supaya tetap rata di atas meja, sedangkan matanya kembali ke awal baris itu dan membacanya lagi dari kolom nama. Sampai di kata pindah, dia berhenti, menarik napas lewat hidung, lalu mengulang dari kolom pertama. Ketiga kalinya, bibirnya ikut bergerak tanpa suara.Di sebelahnya, Nindy memiringkan kepala ke kanan. Di sisi paling kanan halaman, melewati kolom ket., masih ada satu kolom lagi yang lebih sempit, garisnya ditarik dengan penggaris yang agak miring dan judulnya ditulis dengan huruf kecil sekali, tuj. Isinya cuma tiga huruf kapital yang dipisah titik, disusul dua huruf kecil di belakangnya."Malik, masih ada satu kolom lagi," ucap Nindy, menunjuk ujung baris itu dengan kuku telunjuknya tanpa menyentuh tinta.Malik menggeser kedua tangannya ke kanan, menunduk sampai wajahnya hampir menempel ke kertas, lalu mengeja tiga huruf itu satu per satu dengan suara pelan. Dia mengeja sekali lagi, kemudian menegakkan punggungnya.
"Kebetulan Dokter nanya, soalnya jarang ada yang inget buku itu masih ada, apalagi orang dari luar arsip. Terakhir ada yang nanya itu belasan tahun lalu, mahasiswa skripsi."Pak Sardi membuka pintu lemari itu dengan sedikit dipaksa, engselnya berderit keras, dan menunjuk deretan buku tebal berjilid kulit yang tersusun tidak rapi di dalamnya, beberapa punggungnya sudah retak."Buku ini disimpen terpisah dari map perorangan," ucap Pak Sardi, menarik satu buku dari rak kedua sekadar contoh, debu tipis beterbangan begitu dia mengibaskannya. "Nggak pernah ikut dipindahin waktu rumah sakit ganti sistem komputer, tiga puluh tahun lalu. Sistem baru cuma masukin data dari map perorangan doang, buku-buku kayak gini ditinggal aja di sini, saya sendiri yang mindahin ke lemari ini dulu waktu masih pegawai baru.""Isinya apa, Pak?" tanya Nindy, mendekat, memperhatikan buku di tangan Pak Sardi."Catatan tangan perawat jaga, tiap pergantian sif," jawab Pak Sardi, mengembalikan buku itu ke tempatnya.
Deretan rak besi berjajar rapat, lorong di antaranya cuma cukup untuk satu orang lewat, dan label bernomor tertempel di tiap ujung rak dengan kertas yang sudah menguning, beberapa hurufnya sudah luntur sampai sulit dibaca.Seorang laki-laki tua berdiri di balik meja panjang dekat pintu masuk, memakai kemeja seragam biru pudar dengan nama Sardi disulam di dada kirinya. Rambutnya sudah putih semua, dan menurut papan jadwal kecil yang ditempel di dinding belakangnya, tinggal dua tahun lagi sebelum dia pensiun."Dokter Malik," ucap Pak Sardi, berdiri tegak begitu melihat Malik masuk, tanpa perlu diperkenalkan siapa pun. "Saya sering liat Dokter di lorong lantai tiga, biasanya pagi-pagi, jam tujuh kurang."Malik mengangguk, mengeluarkan selembar kertas dari map yang dia bawa. "Ini surat persetujuan dari Ibu saya, Pak. Buat akses rekam medis kelahiran saya sendiri."Pak Sardi menerima kertas itu, membacanya pelan-pelan lewat kacamata baca yang menggantung di lehernya, mencocokkan tanda tang







