Mag-log inNamun, belum sempat Nindy selesai beres-beres, ketika Fajar sedang bekerja, penyakit Nindy tiba-tiba kumat. Bagian bawahnya basah dan lembab, butuh penanganan cepat sebelum badan Nindy kembali pusing dan mual.
"Mas, tolong cepat pulang! Penyakitku kumat parah banget dan aku udah nggak kuat nahan sakitnya!"
Jeritan Nindy menggema sangat keras di dalam kamar tidur utama melalui panggilan telepon seluler siang itu.
Nindy langsung melempar ponselnya ke atas kasur tepat setelah suaminya menjawab panggilan tersebut dengan nada panik, lalu ia menjatuhkan tumpukan pakaian yang sedang ia rapikan ke lantai kamar.
Tubuh Nindy langsung ambruk di atas kasur karena kedua kakinya mendadak lemas, sehingga otot kakinya tidak mampu lagi menopang berat badannya secara normal.
Kelainan medis di area bawah perut Nindy kembali kumat dengan tingkat keparahan yang sangat tinggi siang ini.
Rasa gatal yang menyiksa berpadu dengan kedutan otot yang sangat kencang, sehingga saraf di area sensitifnya secara harfiah menuntut sentuhan fisik secara langsung untuk meredakan ketegangan ekstrem tersebut.
Tubuh Nindy memproduksi keringat dingin dalam jumlah yang sangat banyak hingga cairan itu membasahi pakaian dan lehernya.
Nindy berguling ke kanan dan ke kiri di atas permukaan kasur secara terus-menerus karena ia berusaha keras mencari posisi yang nyaman untuk mengurangi rasa nyeri di panggulnya, tetapi usahanya itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Cepat pulang, Mas... rasanya sakit banget!" rintih Nindy sendirian sambil meremas bantal kepalanya dengan sangat kuat.
Tiga puluh menit kemudian, suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah secara kasar, lalu disusul oleh suara bantingan pintu depan yang ditutup secara keras.
Fajar berlari menaiki tangga rumah dengan cepat dan langsung membuka pintu kamar tidur utama dengan napas yang tersengal hebat akibat berlari.
Fajar terpaksa meminta izin kepada atasannya untuk pulang lebih awal dari kantor, tepat setelah ia menerima telepon panggilan darurat dari istrinya yang sedang menangis kesakitan di rumah.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Fajar dengan nada sangat panik saat melihat istrinya berguling kesakitan di atas kasur.
"Perut bawahku sakit dan gatal banget, Mas! Tolong lakuin sesuatu sekarang juga buat ngeredain sarafnya!"
Mendengar permintaan langsung tersebut, Fajar segera melepaskan tas kerjanya dari bahu dan melempar benda itu ke lantai kamar.
Pria itu melepaskan kemeja kantornya menggunakan gerakan tangan yang tergesa-gesa, lalu ia segera naik ke atas ranjang untuk membantu meredakan rasa sakit istrinya melalui stimulasi sentuhan manual.
Fajar memposisikan dirinya di antara kedua kaki Nindy, kemudian ia mulai memberikan sentuhan dan rangsangan menggunakan jari tangannya secara maksimal pada area bawah perut istrinya.
"Iya, Sayang! Aku bakal bantuin kamu sampai rasa sakit di perutmu itu hilang," ucap Fajar sambil terus menggerakkan tangannya.
"Sentuhanmu kurang kuat, Mas! Sarafku butuh tekanan yang lebih keras lagi!" protes Nindy dengan napas memburu.
Fajar berusaha menambah kekuatan dan tekanan pada jari-jarinya, tetapi usahanya tersebut sama sekali tidak memberikan hasil yang baik terhadap saraf Nindy yang tegang.
Kondisi fisik Fajar sedang sangat kelelahan akibat tekanan pekerjaan di kantor dan kurang tidur semalaman, sehingga gerakan tangannya terasa sangat lambat, tidak teratur, dan tidak mampu mencapai titik sensitif Nindy secara akurat.
Menyadari sentuhan suaminya tidak memberikan kelegaan nyata, Nindy segera mengulurkan tangan kanannya lalu menyentuh alat vital Fajar secara langsung.
Nindy sengaja melakukan hal itu untuk memancing gairah pria tersebut agar mereka bisa melakukan hubungan fisik secara tuntas siang ini, demi menuntaskan penyakit kelainannya secara biologis.
"Biar aku bantu stimulasi milikmu, Mas, supaya kita bisa ngelakuinnya secara normal sekarang juga," tawar Nindy sambil terus memberikan sentuhan di sana.
Namun, kegagalan disfungsi fisik pada tubuh pria itu kembali terulang secara mutlak pada siang hari ini.
Milik Fajar sama sekali gagal berdiri tegak meskipun Nindy sudah memberikan sentuhan fisik secara langsung dan berkelanjutan.
Otot di area vital pria itu tetap melemah dan tidak menunjukkan respons gairah apa pun, membuktikan secara medis bahwa tubuh Fajar benar-benar kehabisan tenaga dan ia gagal berfungsi sebagai seorang laki-laki dewasa.
"Maafin aku, Sayang! Badanku benar-benar capek dan milikku gagal merespons sentuhanmu lagi!" ucap Fajar dengan suara bergetar.
Fajar menarik tangan istrinya menjauh dari tubuhnya dengan cepat, lalu ia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena ia merasa sangat malu atas kegagalan fisiknya barusan.
"Tapi penyakitku butuh penyelesaian, Mas! Aku sama sekali belum mencapai titik kepuasan dan perutku rasanya sakit banget!"
Nindy menarik kedua kakinya lalu memeluk lututnya sendiri di atas kasur dengan tubuh yang gemetar hebat.
Tangis Nindy pecah seketika pada detik itu juga, lalu ia menangis tersedu-sedu karena tubuhnya terasa sangat tersiksa oleh gairah fisik yang menggantung dan tidak terselesaikan secara tuntas siang ini.
Rasa nyeri dan gatal di perut bawah Nindy justru terasa semakin parah akibat stimulasi sentuhan yang terhenti secara tiba-tiba di tengah jalan.
Nindy meremas seprai kasur menggunakan kedua tangannya dengan sangat kuat untuk menyalurkan rasa sakit yang menyiksa seluruh sistem sarafnya, sementara air matanya terus menetes membasahi kasur.
Melihat istrinya menangis kesakitan dengan wajah pucat pasi di depannya, Fajar merasa sangat gagal dan tidak berguna sebagai seorang suami seutuhnya.
Fajar mengusap wajahnya sendiri dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya, lalu ia beringsut mundur dari atas kasur secara perlahan.
Fajar kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang membelakangi istrinya, lalu ia mengambil kemeja kerjanya yang tergeletak di lantai dan memakainya kembali dalam kondisi sunyi.
"Sayang, tolong dengerin penjelasan aku sebentar," ucap Fajar setelah ia selesai mengancingkan seluruh pakaiannya.
Nindy sama sekali tidak membalas ucapan tersebut, dan wanita itu terus menangis sambil memejamkan matanya rapat-rapat untuk menahan kram perut yang menyiksa fisiknya.
Fajar membungkukkan badannya dan membuka ritsleting tas kerjanya di lantai, lalu mengambil sebuah amplop cokelat berukuran sedang dari dalam sana.
Fajar memutar posisinya menghadap istrinya kembali, kemudian ia mengulurkan amplop cokelat itu ke hadapan Nindy dengan kedua tangan yang bergetar secara nyata.
"Apa ini, Mas?" tanya Nindy dengan suara serak akibat menangis.
"Ini berkas jadwal pendaftaran rumah sakit buat nemuin dokter spesialis kandungan yang aku bahas tadi pagi."
"Bapak inget kasih ke siapa aja?" tanya Nindy."Sudah lupa. Tiap jam yang selesai saya benerin, saya selipkan satu kartu di kotaknya, biar orangnya ingat ke mana harus balik kalau rusak lagi. Kartu ini bisa ada di laci ratusan rumah," jawab laki-laki itu.Penjelasan itu masuk akal. Nindy memandangi wajahnya sambil menghitung dalam kepala, dan dia tidak menemukan satu bagian pun yang bisa dia bantah.Dia mencoba dari sisi lain. Kartu itu dia balik sampai sisi bertuliskan tangan menghadap ke atas, lalu dia dorong pelan ke arah laki-laki tersebut."Kalau tulisan di belakangnya ini, Bapak kenal tulisannya?" tanya Nindy.Laki-laki itu memakai kaca pembesarnya lagi untuk membaca baris pendek itu. Dia membacanya lama, lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk membaca satu kalimat sependek itu, lalu melepas kaca pembesar dan meletakkannya di sebelah gelas teh."Tulisan orang tua, Bu. Tintanya habis di tengah jalan," jawab laki-laki itu."Tulisannya bilang orangnya ada di sini tiap hari kecu
Nindy membuka tas, mengeluarkan bungkusan sapu tangan, lalu membukanya di atas meja kerja. Jam tangan bertali kulit cokelat itu tergeletak di atas kain hijau, kacanya buram, jarumnya berhenti di empat lewat dua belas."Ini jam peninggalan almarhum bapak saya. Bapak pakai jam ini dari muda, udah lama mati, saya pengin bisa jalan lagi," ucap Nindy.Laki-laki tua itu memandangi jam itu di atas meja beberapa detik, lalu baru mengulurkan tangan dan mengangkatnya dengan dua jari.Jam itu dia bolak-balik beberapa kali di bawah lampu. Bagian depannya, bagian sampingnya, lalu tutup belakangnya, dan di situ ibu jarinya berhenti di atas goresan-goresan halus bekas dibuka.Ibu jari itu diam di sana cukup lama. Nindy menghitung dalam kepala sampai tujuh sebelum jari itu bergerak lagi."Ini peninggalan bapak Ibu, ya?" tanya laki-laki itu."Iya, Pak," jawab Nindy, padahal kalimat itu baru dia ucapkan semenit lalu.Laki-laki itu mengangguk pelan. Jam tersebut dia letakkan kembali di atas kain hijau,
Malik ikut mencondongkan badan. Bingkai pintu di foto dan bingkai pintu di ujung deretan itu sama persis, lengkung kecil di atas kusennya dan dua tiang bata di kiri kanannya, meski pintunya sekarang sudah diganti pintu lipat besi dan tiang-tiangnya dicat hijau tua yang sudah pudar."Catnya udah ganti berapa kali, ya. Dari foto kan nggak keliatan warnanya," gumam Malik."Tiga kali, mungkin. Liat, di bagian yang ngelupas ada warna biru, terus di bawahnya kuning," jawab Nindy, menunjuk lewat kaca.Foto itu dia lipat lagi dan dia kembalikan ke amplop. Malik memandangi bengkel itu beberapa saat, lalu menoleh ke istrinya."Biar aku masuk duluan, sendirian. Liat dulu orangnya kayak gimana, baru kamu nyusul," ucap Malik."Kita udah sepakat semalem, Malik. Masuk berdua, nggak nyebut nama siapa pun, terus pulang begitu aku nggak nyaman," jawab Nindy, tanpa menoleh dari kaca depan.Malik mengangguk dan tidak mengulang tawarannya. Tangannya pindah dari setir ke tangan Nindy di atas tas, lalu meng
Mendengar itu, Nindy menyandarkan kepala ke jendela dan menghela napas panjang yang dibuat-buat. "Kita udah bahas ini berbulan-bulan lalu, Malik. Aku masih pengin ada Surya-nya, buat Ibu.""Surya Sastro," usul Malik."Kedengerannya kayak nama toko bangunan di pinggir jalan provinsi," jawab Nindy, dan Malik tertawa sampai harus mengencangkan pegangannya di setir.Sesudah tawa suaminya reda, Nindy melanjutkan, "Atau Prakoso, kayak nama belakang Bapak.""Prakoso Sastrowardoyo? Itu kedengerannya kayak nama jenderal yang fotonya dipajang di kantor kecamatan," ucap Malik.Mereka berdebat soal itu lebih lama dari yang perlu. Malik menyebut lima nama yang semuanya mengandung Sastro, Nindy menolak kelimanya dengan alasan yang makin lama makin mengada-ada, mulai dari terlalu panjang untuk ditulis di buku tulis anak SD sampai terlalu mirip nama pejabat kelurahan."Kita bahkan belum tahu laki-laki atau perempuan. Ngapain ribut sekarang?" ucap Nindy akhirnya."Dua minggu lagi mungkin udah keliatan
Malik mengangkat wajah, dan Nindy menunduk menciumnya. Ciuman itu pelan, hampir tanpa tekanan, dan bertahan lama sampai Malik menariknya ikut berbaring.Mereka berbaring miring berhadapan di atas seprai. Kancing baju tidur Nindy dibuka Malik satu per satu dari atas, tanpa terburu-buru, dan setiap kancing yang terlepas diikuti satu kecupan di kulit yang terbuka di bawahnya.Nindy membalasnya dengan menarik kaus Malik ke atas sampai lepas. Jantung di balik dada suaminya berdetak cepat di bawah telapak tangannya.Lampu tidur di nakas masih menyala, menerangi amplop cokelat dan sudut kartu nama di sebelahnya. Nindy meraih ke belakang tanpa menoleh, meraba sampai menemukan saklarnya, lalu mematikannya.Kamar itu tinggal diterangi garis cahaya kota dari celah tirai. Dalam gelap, Nindy merasakan tangan Malik berhenti di pinggangnya, menunggu."Kamu yakin? Kamu capek dari pagi," bisik Malik."Yakin. Aku pengin kamu di sini, deket," jawab Nindy, hampir tanpa suara."Dingin?" bisik Malik lagi.
"Ada jam tangan Bapak di dasarnya. Udah mati, aku taruh lagi gara-gara aku kira nggak penting. Kalau nunggu besok pagi, aku takut lupa lagi," jawab Nindy, membuka pintu kamar.Malik menyusul di belakangnya. Mereka menyusuri lorong pendek ke kamar tambahan, dan Malik menyalakan lampunya sementara Nindy menarik kursi plastik ke depan lemari."Turun, biar aku yang ambil," ucap Malik, memegang sandaran kursi itu sebelum Nindy sempat naik.Nindy turun lagi tanpa membantah. Malik naik, meraih kardus sepatu dari rak paling atas lemari, lalu menyerahkannya ke tangan istrinya dengan dua tangan."Yakin jamnya di sini?" tanya Malik, masih berdiri di atas kursi."Yakin. Waktu Pipit nganter, aku bongkar semuanya di lantai ini, terus jamnya aku taruh paling bawah biar nggak ketindih," jawab Nindy, sudah membuka tutup kardus."Pipit nemu ini di mana, sih, dulu?" tanya Malik, turun dari kursi."Di atas lemari kamar belakang rumah lama. Bapak sengaja naruh di tempat yang nggak bakal kejangkau tangan a







