Share

Bab 8 Prosedur 1

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-07-21 11:41:08

Keesokan harinya pada pukul tujuh pagi, Nindy sudah duduk sendirian di kursi penumpang taksi yang melaju membelah jalanan kota menuju lokasi rumah sakit.

Nindy terpaksa berangkat sendirian menggunakan layanan transportasi umum tersebut karena Fajar sudah berangkat lebih dulu ke kantor sejak pukul enam pagi, akibat suaminya harus menghadiri rapat penting bersama klien besar.

Sepanjang perjalanan berlangsung, Nindy terus memandangi jalanan dari balik kaca mobil sambil meremas amplop cokelat pendaftaran medis tersebut menggunakan kedua tangannya.

Tepat setelah taksi itu berhenti di depan lobi utama rumah sakit, Nindy segera turun dan melangkah masuk untuk mencari petunjuk arah ruangan.

Nindy berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang luas hingga akhirnya ia tiba di area gedung poliklinik VIP, tepat sesuai dengan alamat ruangan yang tertulis jelas pada lembar kertas pendaftaran dari Fajar kemarin siang.

"Selamat pagi, Suster. Ini berkas pendaftaran atas nama saya untuk pemeriksaan program kehamilan hari ini," ucap Nindy secara lisan kepada perawat wanita yang berjaga di meja depan poliklinik.

Perawat itu menerima amplop cokelat dari tangan Nindy, lalu ia mulai memeriksa lembar kertas registrasi serta kartu identitas Nindy menggunakan sistem komputer di hadapannya.

"Berkas Anda sudah lengkap. Mari silakan ikuti saya menuju ruangan pemeriksaannya sekarang, Bu," ucap perawat itu setelah selesai melakukan verifikasi data.

Perawat wanita itu langsung berjalan lebih dulu untuk menuntun langkah Nindy melewati sebuah lorong panjang yang kondisinya sangat sepi dan senyap dari aktivitas pasien umum.

Mereka berdua terus berjalan lurus menuju sebuah ruangan pemeriksaan khusus yang terletak di area paling belakang gedung poliklinik VIP, sehingga suasana di sekitar tempat tersebut terasa sangat tertutup.

"Silakan masuk dan tunggu di dalam, Bu. Dokter spesialisnya akan segera datang dalam beberapa menit ke depan," ucap perawat itu sambil membukakan pintu kayu berlapis cat putih untuk Nindy.

Nindy melangkah masuk ke dalam ruangan medis yang bersuhu sangat dingin tersebut, kemudian ia mendudukkan dirinya di atas kursi pasien yang terletak berhadapan langsung dengan meja kerja dokter.

Saat duduk sendirian di dalam ruangan yang sunyi itu, Nindy merasa seluruh otot tubuhnya menegang gugup sehingga ia meremas tali tas selempangnya dengan cengkeraman yang sangat kuat.

Isi kepala Nindy mulai memikirkan bagaimana proses tahapan program kehamilan buatan ini akan berjalan nantinya.

Ia juga meragukan apakah dokter asing yang direkomendasikan Fajar ini memiliki keahlian medis yang cukup untuk menuntaskan penyakit kelainan gairahnya tanpa membahayakan rahimnya.

Nindy kemudian mengambil napas panjang secara perlahan karena ia berusaha keras menyiapkan keberanian mentalnya secara penuh pagi ini.

Nindy menyadari secara harfiah bahwa ia harus kembali membuka pakaian bawahnya dan membiarkan area pribadinya disentuh serta diperiksa oleh seorang dokter spesialis pria yang sama sekali tidak ia kenal demi mendapatkan keturunan.

Setelah sepuluh menit berlalu dalam kondisi keheningan, suara gesekan besi dari gagang pintu ruangan medis itu tiba-tiba bergerak turun secara perlahan.

Pintu kayu tersebut terbuka dari arah luar, lalu seorang pria bertubuh tinggi tegap yang mengenakan jas putih medis melangkah masuk ke dalam ruangan.

Nindy segera beranjak berdiri dari posisi duduknya untuk memberikan salam sapaan kepada dokter spesialis yang baru saja tiba tersebut.

Namun, seluruh otot tubuh Nindy mendadak menjadi sangat kaku dan kedua matanya terbuka sangat lebar saat ia melihat wajah dokter pria itu secara langsung dari jarak dekat.

Dokter spesialis kandungan yang sangat dipercaya oleh Fajar untuk membuat Nindy hamil dan menyembuhkan penyakitnya itu ternyata adalah Malik, pria dari masa lalunya sendiri yang menangani Nindy secara darurat beberapa hari lalu.

Malik melangkah masuk ke dalam ruangan secara utuh, lalu ia langsung membalikkan badannya untuk menekan tombol pengunci pada gagang pintu dari arah dalam.

Bunyi klik pengunci pintu itu terdengar sangat keras dan menggema di dalam ruangan tertutup tersebut.

Malik berjalan mendekati meja kerjanya tanpa melepaskan pandangan matanya dari Nindy, lalu ia menatap wajah Nindy menggunakan tatapan mata yang sangat tajam dan serius.

Laki-laki itu meletakkan berkas rekam medis Nindy di atas meja kerja dengan gerakan pelan, kemudian ia mulai berdiri tegak sebelum mengatakan fakta sebenarnya yang terjadi di balik pendaftaran medis ini.

"Fajar sendiri yang datang menemuiku secara rahasia di ruangan ini kemarin sore, Nindy," ucap Malik dengan nada suara baritonnya yang terdengar sangat dingin dan mengintimidasi.

Nindy terdiam kaku tanpa mampu menggerakkan bibirnya untuk membalas ucapan tersebut, karena informasi harfiah itu langsung membuat dadanya terasa sesak akibat rasa terkejut.

"Suamimu memberikan izin penuh secara lisan kepadaku agar aku bebas melakukan prosedur medis apa pun di dalam ruangan ini, asalkan rahimmu bisa segera hamil bulan depan!" tambah Malik secara lantang dan terang-terangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 28 Gantikan Posisi Suami

    Nindy akhirnya menuruti instruksi Malik agar ia istirahat, karena seluruh ototnya sudah benar-benar kelelahan, lalu ia berbaring dan menarik selimut hingga sebatas leher.Setelah memastikan Nindy aman di atas kasur, Malik membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju meja kerja di sudut kamar.Malik mengambil selembar kertas HVS putih dan sebuah pulpen, lalu ia menyusun sebuah draf surat perjanjian hitam di atas putih secara resmi.Surat itu berisi kesepakatan medis dan perlindungan hukum mutlak agar tindakan persetubuhan yang akan mereka lakukan kelak tidak bisa dituntut sebagai perselingkuhan oleh pihak keluarga Fajar.Setelah selesai menulis dan memberikan tanda tangannya, Malik melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemeja.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 27 Batas Akal Sehat

    Melihat tidak ada reaksi positif dari tubuh pasiennya, Malik akhirnya menarik tangannya mundur dan membiarkan Nindy mengatur napasnya terlebih dahulu.Laki-laki itu menatap wajah Nindy dengan raut yang sangat serius, lalu ia mulai menjelaskan fakta medis secara langsung mengenai penyebab kegagalan tersebut."Saraf di panggulmu udah ngebangun tingkat toleransi yang sangat tinggi terhadap sentuhan jari, Nindy," jelas Malik secara lugas.Nindy mengerutkan keningnya menahan kram otot sambil berusaha mencerna penjelasan klinis dari mulut dokter kandungan di hadapannya itu."Toleransi gimana maksudmu?! Kemarin siang aja jarimu bisa bikin penyakitku tuntas!" bantah Nindy secara langsung."Intensitas kumatmu itu terlalu sering akhir-

  • Dok, Please Cukup!   Bab 26 Sentuhan Tanpa Hasil

    Seluruh otot kaki Nindy mendadak kehilangan tenaga penopangnya, sehingga tubuh wanita itu langsung terperosok jatuh dan duduk melemas di atas lantai keramik teras.Keringat dingin membasahi area dahi dan leher Nindy dengan sangat cepat akibat menahan kram otot tersebut.Wanita itu terus menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menahan suara erangannya agar tidak terdengar oleh orang-orang yang melintas di jalanan depan komplek.Tepat saat Nindy sedang merintih kesakitan menahan gejolak fisik yang menyiksa tubuhnya, dua sorot lampu utama mobil tiba-tiba menyala sangat terang dari arah luar pagar besi.Cahaya lampu kendaraan itu menyorot lurus menembus celah pagar, menerangi area halaman depan hingga tepat mengenai posisi tubuh Nindy yang sedang duduk meringkuk di atas l

  • Dok, Please Cukup!   Bab 25 Benar-Benar Diusir!

    Nindy menahan napasnya di tenggorokan karena ia mulai menyadari arah pembicaraan suaminya yang terdengar sangat putus asa dan penuh rasa bersalah tersebut."Kamu mau nurutin perintah ibumu buat buang aku ke jalanan malam ini, Mas?!" tanya Nindy dengan nada suara yang sangat kecewa dan tidak percaya.Fajar memukul lantai keramik menggunakan kepalan tangannya secara berulang kali untuk merutuki kelemahan fisiknya sendiri di hadapan istrinya."Karirku bakal hancur total dan aku bakal jadi gembel kalau ibuku sampai datang bikin keributan di kantor besok pagi, Sayang!" jawab Fajar sambil terus menangis meratapi nasibnya."Terus janji manismu buat terus ngelindungin aku dari keluargamu itu mana buktinya, Mas?!""Aku ini cuma laki-laki cacat yang nggak berguna, Sayang! Aku udah nggak punya tenaga dan kekuatan uang buat ngelawan kekuasaan ibuku sendiri!" ratap Fajar dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.Mendengar pengakuan jujur mengenai kelemahan suaminya tersebut, dada Nindy terasa

  • Dok, Please Cukup!   Bab 24 Ketika Suamiku Tak Mampu

    Nindy menggelengkan kepalanya dengan cepat karena ia sama sekali tidak sanggup menerima tuduhan fitnah yang sangat tidak masuk akal tersebut."Aku nggak pernah punya niat sejahat itu buat ngancurin suamiku sendiri di depan warga, Bu!" bantah Nindy dengan suara bergetar hebat menahan isak tangis."Halah, nggak usah banyak alasan kamu! Kamu sengaja bikin anakku kelihatan cacat di mata tetangga biar orang-orang nggak fokus nanya kenapa rahimmu itu selalu kosong selama tiga tahun ini!"Tuduhan tanpa dasar itu langsung memotong setiap jalur logika di kepala Nindy, membuat wanita itu hanya bisa terdiam kaku sambil menelan ludahnya dengan susah payah.Ibu Fajar memalingkan wajahnya dari arah pintu masuk, lalu ia memusatkan pandangannya kepada anak laki-lakinya yang masih berdiri mematung di sudut ruangan."Dengerin perintah Ibu baik-baik sekarang, Fajar!" ucap wanita paruh baya itu dengan nada suara yang sangat mendominasi dan mengancam.Fajar mengangkat wajahnya yang terlihat sangat pucat p

  • Dok, Please Cukup!   Bab 23 Lagi-Lagi Ibu Fajar

    Nindy langsung menarik tuas pembuka pintu dan melangkah turun dari dalam mobil sedan berwarna hitam tersebut. Ia menutup pintu penumpang itu dengan dorongan yang cukup keras, lalu ia membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju pagar besi rumahnya.Nindy mengira bahwa Malik akan langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya pulang begitu ia keluar dari kendaraan tersebut.Tetapi sebaliknya, Malik justru mematikan lampu utama mobilnya dan laki-laki itu tetap memarkirkan kendaraannya tepat di tempat yang sama.Malik menunjukkan sikap protektifnya secara nyata dengan memilih menunggu di dalam kabin mobil dalam kondisi gelap tanpa menyalakan mesin.Laki-laki itu sengaja melakukan hal tersebut untuk memastikan Nindy benar-benar aman dari potensi kekerasan fisik, murni karena ia sangat mengkhawatirkan keselamatan pasiennya itu jika terjadi pertengkaran hebat di dalam rumah.Nindy sama sekali tidak menyadari pengawasan dari Malik tersebut dari arah belakang punggungnya.Wanita itu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status