MasukKeesokan harinya pada pukul tujuh pagi, Nindy sudah duduk sendirian di kursi penumpang taksi yang melaju membelah jalanan kota menuju lokasi rumah sakit.
Nindy terpaksa berangkat sendirian menggunakan layanan transportasi umum tersebut karena Fajar sudah berangkat lebih dulu ke kantor sejak pukul enam pagi, akibat suaminya harus menghadiri rapat penting bersama klien besar.
Sepanjang perjalanan berlangsung, Nindy terus memandangi jalanan dari balik kaca mobil sambil meremas amplop cokelat pendaftaran medis tersebut menggunakan kedua tangannya.
Tepat setelah taksi itu berhenti di depan lobi utama rumah sakit, Nindy segera turun dan melangkah masuk untuk mencari petunjuk arah ruangan.
Nindy berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang luas hingga akhirnya ia tiba di area gedung poliklinik VIP, tepat sesuai dengan alamat ruangan yang tertulis jelas pada lembar kertas pendaftaran dari Fajar kemarin siang.
"Selamat pagi, Suster. Ini berkas pendaftaran atas nama saya untuk pemeriksaan program kehamilan hari ini," ucap Nindy secara lisan kepada perawat wanita yang berjaga di meja depan poliklinik.
Perawat itu menerima amplop cokelat dari tangan Nindy, lalu ia mulai memeriksa lembar kertas registrasi serta kartu identitas Nindy menggunakan sistem komputer di hadapannya.
"Berkas Anda sudah lengkap. Mari silakan ikuti saya menuju ruangan pemeriksaannya sekarang, Bu," ucap perawat itu setelah selesai melakukan verifikasi data.
Perawat wanita itu langsung berjalan lebih dulu untuk menuntun langkah Nindy melewati sebuah lorong panjang yang kondisinya sangat sepi dan senyap dari aktivitas pasien umum.
Mereka berdua terus berjalan lurus menuju sebuah ruangan pemeriksaan khusus yang terletak di area paling belakang gedung poliklinik VIP, sehingga suasana di sekitar tempat tersebut terasa sangat tertutup.
"Silakan masuk dan tunggu di dalam, Bu. Dokter spesialisnya akan segera datang dalam beberapa menit ke depan," ucap perawat itu sambil membukakan pintu kayu berlapis cat putih untuk Nindy.
Nindy melangkah masuk ke dalam ruangan medis yang bersuhu sangat dingin tersebut, kemudian ia mendudukkan dirinya di atas kursi pasien yang terletak berhadapan langsung dengan meja kerja dokter.
Saat duduk sendirian di dalam ruangan yang sunyi itu, Nindy merasa seluruh otot tubuhnya menegang gugup sehingga ia meremas tali tas selempangnya dengan cengkeraman yang sangat kuat.
Isi kepala Nindy mulai memikirkan bagaimana proses tahapan program kehamilan buatan ini akan berjalan nantinya.
Ia juga meragukan apakah dokter asing yang direkomendasikan Fajar ini memiliki keahlian medis yang cukup untuk menuntaskan penyakit kelainan gairahnya tanpa membahayakan rahimnya.
Nindy kemudian mengambil napas panjang secara perlahan karena ia berusaha keras menyiapkan keberanian mentalnya secara penuh pagi ini.
Nindy menyadari secara harfiah bahwa ia harus kembali membuka pakaian bawahnya dan membiarkan area pribadinya disentuh serta diperiksa oleh seorang dokter spesialis pria yang sama sekali tidak ia kenal demi mendapatkan keturunan.
Setelah sepuluh menit berlalu dalam kondisi keheningan, suara gesekan besi dari gagang pintu ruangan medis itu tiba-tiba bergerak turun secara perlahan.
Pintu kayu tersebut terbuka dari arah luar, lalu seorang pria bertubuh tinggi tegap yang mengenakan jas putih medis melangkah masuk ke dalam ruangan.
Nindy segera beranjak berdiri dari posisi duduknya untuk memberikan salam sapaan kepada dokter spesialis yang baru saja tiba tersebut.
Namun, seluruh otot tubuh Nindy mendadak menjadi sangat kaku dan kedua matanya terbuka sangat lebar saat ia melihat wajah dokter pria itu secara langsung dari jarak dekat.
Dokter spesialis kandungan yang sangat dipercaya oleh Fajar untuk membuat Nindy hamil dan menyembuhkan penyakitnya itu ternyata adalah Malik, pria dari masa lalunya sendiri yang menangani Nindy secara darurat beberapa hari lalu.
Malik melangkah masuk ke dalam ruangan secara utuh, lalu ia langsung membalikkan badannya untuk menekan tombol pengunci pada gagang pintu dari arah dalam.
Bunyi klik pengunci pintu itu terdengar sangat keras dan menggema di dalam ruangan tertutup tersebut.
Malik berjalan mendekati meja kerjanya tanpa melepaskan pandangan matanya dari Nindy, lalu ia menatap wajah Nindy menggunakan tatapan mata yang sangat tajam dan serius.
Laki-laki itu meletakkan berkas rekam medis Nindy di atas meja kerja dengan gerakan pelan, kemudian ia mulai berdiri tegak sebelum mengatakan fakta sebenarnya yang terjadi di balik pendaftaran medis ini.
"Fajar sendiri yang datang menemuiku secara rahasia di ruangan ini kemarin sore, Nindy," ucap Malik dengan nada suara baritonnya yang terdengar sangat dingin dan mengintimidasi.
Nindy terdiam kaku tanpa mampu menggerakkan bibirnya untuk membalas ucapan tersebut, karena informasi harfiah itu langsung membuat dadanya terasa sesak akibat rasa terkejut.
"Suamimu memberikan izin penuh secara lisan kepadaku agar aku bebas melakukan prosedur medis apa pun di dalam ruangan ini, asalkan rahimmu bisa segera hamil bulan depan!" tambah Malik secara lantang dan terang-terangan.
Malik akhirnya bicara lagi, untuk pertama kalinya sejak Bram mulai bicara. Pertanyaannya cuma satu."Amplop buat Bima tiap tahun itu, Om. Kenapa harus dikirim terus?" tanya Malik.Bram menatap keponakannya lama. Jari-jarinya meremas pinggir meja."Om takut. Kalau anak itu muncul, semua orang bakal tahu apa yang Om lakuin waktu Om umur dua puluh enam. Ibumu, kamu, Sekar, cucu-cucu Om," jawab Bram."Sekarang semua orang udah tahu, Om," ucap Malik.Bram mengangguk sekali. Dia mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri sambil berpegangan pada pinggir meja."Om ambil obat dulu. Dada Om dari tadi nggak enak," ucap Bram, berjalan pelan ke lemari kayu di belakang kursinya.Tangannya sudah memegang gagang pintu lemari ketika tubuhnya tiba-tiba kaku. Tangan kirinya mencengkeram dada di balik kemeja batik itu, wajahnya memucat dalam satu tarikan napas, dan dia jatuh ke lantai menyenggol meja rapat sampai cangkir kopinya terguling.Sekar menjerit memanggil ayahnya. Malik sudah melompat dari kur
Di ujung meja yang lain, seorang perempuan berumur tiga puluhan duduk dengan buku catatan terbuka dan pulpen di tangan. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya mirip Bram di bagian dagu."Ini Sekar, anak Om. Dia yang ngurus administrasi kantor sekarang. Biar dia yang nyatet, supaya semua tertulis," ucap Bram.Sekar mengangguk sopan ke arah Malik. Malik membalas anggukan itu, dan untuk sesaat dia sadar sepupunya sendiri adalah orang yang belum pernah dia ajak bicara lebih dari lima menit seumur hidupnya.Hendra duduk di sebelah Malik dan membuka mapnya tanpa terburu-buru. Dia mengeluarkan lembar pertama dan meletakkannya di tengah meja, menghadap Bram."Ini catatan akses sistem rekam medis rumah sakit, ditandatangani direkturnya sendiri. Akun staf bernama Yogi buka rekam pemeriksaan kandungan istri Dokter Malik, buka berkas dewan etiknya, dan buka riwayat perawatan Ibu Eleanor dua puluh tahun lalu," ucap Hendra.Bram memandangi kertas itu tanpa menyentuhnya. "Saya nggak kenal yang naman
Bu Ratmi kembali dari ruangan belakang membawa sebuah buku besar bersampul kain hijau yang sudah lusuh. Buku induk panti itu dia buka di atas meja, di halaman yang sudah ditandai dengan secarik kertas."Ini catatan Bima, Bu. Masuk umur sembilan belas hari, diantar mobil hitam, nggak ada surat apa-apa kecuali satu lembar dari rumah sakit," ucap Bu Ratmi, menunjuk satu baris dengan jarinya yang keriput.Dia membalik ke halaman berikutnya dan menunjuk catatan lain. Operasi jantung di umur tiga tahun, dibayar lunas oleh donatur yang menolak namanya ditulis, dan cuma meninggalkan inisial yang tintanya sudah luntur di kolom keterangan.Malik membaca inisial itu dua kali, lalu menoleh ke ibunya. Eleanor yang ikut membaca menggeleng pelan."Ibu kenal inisial ini?" tanya Malik."Hurufnya udah nggak kebaca, cuma tinggal satu huruf S di belakang. Nama keluarga ayahmu pakai S," jawab Eleanor, mengusap huruf-huruf itu dengan ujung jari."Uangnya dateng lewat wesel, Bu, dari kota sebelah. Tiap tahu
Eleanor memakai blus biru muda, warna yang sama dengan seprai kamar di lantai atas rumah besar. Mesin mobil sudah dimatikan sopirnya, tetapi Eleanor tetap duduk di kursi belakang dengan tas tangan di pangkuan."Ibu mau turun sekarang?" tanya Malik dari kursi depan."Sebentar. Ibu mau liat dulu dari sini," jawab Eleanor.Nindy duduk di sebelah mertuanya dan memegang tangan perempuan itu tanpa bicara. Dari balik kaca, mereka bisa melihat halaman panti yang tanahnya disapu bersih, ayunan besi yang catnya mengelupas, dan jemuran panjang berisi seragam sekolah anak-anak dalam berbagai ukuran.Sepuluh menit berlalu begitu. Seorang anak laki-laki kecil berlari melintasi halaman mengejar bola plastik, lalu berhenti dan memandangi mobil hitam itu dengan mulut terbuka."Bima dulu main di halaman itu juga, ya," ucap Eleanor, nyaris ke dirinya sendiri."Kata Bima di telepon semalem, dia yang paling sering jatuh dari ayunan itu," jawab Malik pelan.Eleanor membuka pintu mobil. Nindy dan Malik turu
"Saya nggak pernah berniat ngambil apa pun dari Dokter. Itu yang pertama mau saya bilang, dari dua belas tahun lalu," ucap Bima.Malik mengangguk pelan. Kedua tangannya masih di saku jas putih, dan Nindy melihat kain di saku itu bergerak karena jari-jari di dalamnya mengepal."Kamu tahu dari kapan, aku adikmu?" tanya Malik."Dari umur dua puluh dua. Saya masih jadi pengasuh anak-anak kecil di panti waktu itu. Ada bapak tua pakai jas dateng ke kantor panti, nanya nama saya, terus duduk di depan saya dua jam tanpa ngomong apa-apa," jawab Bima."Ayah," ucap Malik pelan."Abis dua jam, dia bilang dia ayah saya. Terus dia nangis. Saya nggak pernah liat orang tua nangis sampai bahunya naik turun kayak gitu," lanjut Bima.Nindy memandangi tangan Bima yang terlipat di dada. Jari-jarinya panjang, kukunya dipotong pendek dan rata, dan ruas jari tengahnya sedikit lebih besar dari ruas yang lain, sama persis dengan tangan Malik yang setiap malam menggenggam tangannya.Tanpa sadar, Bima menyentuh
Hendra mengangkat wajah dari buku catatannya. "Kamu tahu dia nambal pakai dana abadi dari mana?""Dari laporan tahunan yang dia kirim ke saya buat diperiksa, dulu, sebelum saya dipecat. Angkanya nggak cocok sejak tahun kedua," jawab Bahar.Malik memandangi laki-laki di depannya. Tiga pertanyaan dijawab tanpa satu pun kalimat yang diputar, dan dia tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau malah lebih marah.Kipas angin di langit-langit berderit setiap kali putarannya sampai di titik yang sama. Di luar jendela berteralis, terdengar suara petugas memanggil nama-nama tahanan untuk apel siang, satu per satu.Hendra menutup bukunya dan meletakkan pulpen di atasnya. "Kerja sama kamu saya ajuin ke penyidik dengan satu syarat. Semua yang barusan kamu bilang dibikin tertulis, kamu tanda tangan, terus diserahkan ke Inspektur Rudi.""Kertasnya Bapak bawa?" tanya Bahar.Hendra mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan satu pulpen dari mapnya, lalu menyodorkannya lewat petugas. Petugas itu memerik







