Mag-log inWanita itu berdiri saat Peter masuk. Postur tubuhnya tegap, auranya memancarkan otoritas yang tidak bisa diabaikan."Peter Davis," kata wanita itu tanpa senyum, suaranya dingin namun profesional, "reputasi Anda membuat banyak orang di Washington tidak bisa tidur."Peter menatapnya dengan tatapan yang sangat tenang. "Saya tidak tahu reputasi saya sampai sejauh itu, Nyonya...""Evelyn Reed," jawab wanita itu sambil mengulurkan tangan, "Direktur Asosiasi Hunter Amerika Serikat. Dan percayalah, reputasi Anda sudah menyebar jauh."Peter menjabat tangannya dengan tenang. Jabatan tangan itu singkat, namun Peter bisa merasakan kekuatan yang terpendam di balik sikap profesional wanita ini. Evelyn Reed bukan orang biasa.Mereka duduk di meja konferensi. Magnus mengambil tempat di samping Peter, sementara Evelyn duduk di seberang mereka."Saya akan langsung ke intinya," kata Evelyn sambil membuka tablet di depannya, "Kami punya masalah. Masalah yang sangat besar."Ia menggeser tablet itu ke teng
Peter menatap ke arah kota untuk terakhir kalinya. Gedung-gedung mulai terlihat jelas saat matahari terbit. Jalanan mulai ramai dengan kendaraan. Kota Wada terbangun untuk hari yang baru."Penerbangan menuju Kota Teratai akan segera boarding," suara pengumuman bergema di ruang tunggu.Peter berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan menuju gate tanpa menoleh lagi.Sandra terbangun dengan napas yang terengah. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia bermimpi sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak bisa ia ingat dengan jelas, tapi meninggalkan rasa cemas yang sangat kuat di dadanya.Ia meraih ponselnya. Pukul enam pagi. Terlalu pagi untuk menelepon Peter. Tapi rasa gelisah itu tidak hilang. Malah semakin kuat.Sandra bangkit dari tempat tidur dan bergegas mandi. Firasat ini tidak normal. Ia harus ke klinik. Ia harus menemui Peter.Setengah jam kemudian, Sandra tiba di Klinik Pengobatan Tradisional Sehat Sejahtera. Pintu terkunci. Tidak ada tanda-tanda aktivitas. Ia mengetuk pintu dengan keras.
Empat bulan setelah kejatuhan jaringan Julian Thorne, Kota Wada menikmati ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Jalanan ramai dengan aktivitas normal. Toko-toko buka dengan tertib. Tidak ada lagi bisikan tentang ancaman atau intimidasi.Di Klinik Pengobatan Tradisional Sehat Sejahtera, pasien datang dan pergi dengan ritme yang sangat teratur. Pak Wong mengatur jadwal dengan efisien seperti biasa. Lani dan Budi melayani dengan senyum yang tulus. Semuanya berjalan sempurna.Terlalu sempurna.Peter duduk di ruang praktiknya, menatap buku catatan medis yang terbuka di depannya. Halaman itu kosong. Ia sudah duduk di sana selama sepuluh menit tanpa menulis apa pun.Ada sesuatu yang tidak beres. Bukan ancaman eksternal. Bukan musuh baru. Tapi sesuatu di dalam dirinya sendiri. Energi kultivasinya bergerak dengan tidak nyaman, seperti air yang dipaksa diam di kolam yang terlalu kecil.Ia menutup buku catatan dengan pelan, lalu berdiri dan berjalan ke jendela. Kota Wada terbentang
Empat bulan setelah penangkapan Julian Thorne dan jaringannya, Kota Wada mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pemulihan yang lambat, tidak dramatis, namun nyata.Toko bunga Nyonya Evelyn kembali ramai dengan pelanggan. Paman George membuka cabang kedua untuk toko rotinya. Pedagang-pedagang kecil yang sempat tertekan kini bisa bernapas lega. Tidak ada lagi ancaman penggusuran. Tidak ada lagi intimidasi berkedok legalitas.Tapi Kota Wada tidak berubah menjadi utopia. Masih ada masalah. Masih ada kesulitan. Hanya saja, kali ini masyarakat tidak hidup dalam ketakutan.Di Klinik Pengobatan Tradisional Sehat Sejahtera, pasien datang dengan jumlah yang semakin bertambah. Bukan karena sensasi atau ketenaran Peter sebagai orang yang membongkar jaringan Julian Thorne. Tapi karena kepercayaan yang dibangun dari hasil nyata.Peter duduk di ruang praktiknya, memeriksa seorang pasien wanita paruh baya yang datang dari kota sebelah. Ia mendengarkan dengan sangat teliti setiap keluhan, setiap gej
Di media sosial, komentar berdatangan dengan sangat cepat. Sebagian pedas, sebagian sinis, sebagian penuh kemarahan."Bianca Vance yang katanya 'suara generasi muda' ternyata cuma boneka untuk penipu. Lucu ya?""Julian Thorne dan modernisasinya? Ternyata modernisasi itu artinya curi uang rakyat pakai cara canggih.""Bobby Malone dulunya preman jalanan, sekarang preman berdasi. Tetap sampah.""Akhirnya influencer palsu kayak Bianca kena batunya juga. Follower banyak tapi moral nol."Di kantor polisi Kota Wada, Bobby Malone duduk di ruang interogasi dengan ekspresi yang hancur total. Wajahnya pucat, matanya merah, tangannya gemetar di atas meja. Ia sudah tidak terlihat seperti pengusaha ambisius yang penuh percaya diri. Ia terlihat seperti anak kecil yang kehilangan arah.Peter duduk di seberangnya dengan postur yang sangat tenang. Ia tidak datang untuk menginterogasi. Ia datang karena Bobby meminta untuk bertemu dengannya.Bobby menatap Peter dengan mata yang kosong. "Kau menghancurkan
Belum genap sepuluh menit setelah Peter, Sandra, dan Pak Suryo meninggalkan ballroom Hotel Grand Metropolitan, pintu utama terbuka lagi. Kali ini yang masuk bukan wartawan atau tamu undangan, melainkan sekelompok petugas polisi berseragam lengkap.Komandan regu, seorang pria paruh baya bernama Inspektur Henrik Volkov, berjalan dengan langkah yang sangat tenang namun tegas. Di tangannya ada surat perintah penangkapan. Di belakangnya, enam petugas lain mengikuti dengan formasi yang sangat rapi.Ruangan yang tadinya gaduh langsung hening. Semua kamera beralih fokus. Wartawan yang tadinya menulis dengan cepat kini menatap dengan mata terbelalak.Julian Thorne masih duduk di kursinya dengan ekspresi yang sangat pucat. Bobby Malone berdiri di sampingnya, tangannya gemetar. Bianca Vance mencoba mundur ke arah pintu samping, namun langkahnya terhenti saat melihat dua petugas sudah berdiri di sana.Inspektur Henrik berjalan mendekati meja konferensi dengan postur yang sangat profesional. Ia me







