LOGINBerawal dari kecelakaan yang mengakibatkan Arlan harus mengalami kebutaan sehingga dia pun kehilangan pekerjaan membuatnya depresi, tetapi dia memiliki seorang istri yang cantik dan setia menemaninya. Istrinya pun menggantikan posisinya di kantor sebagai manajer marketing sebuah perusahaan kosmetik atas desakan bosnya. Semua berjalan baik sampai suatu ketika Arlan kembali mengalami kecelakaan karena menyelamatkan seekor kucing sehingga kedua matanya bisa melihat kembali. Saat ingin memberitahukannya, ternyata Alissa berselingkuh dengan mantan bos suaminya yang ternyata adalah mantan pacar istrinya sewaktu kuliah. Merasa tersakiti, Arlan pun tidak memberitahukan kepada istrinya kalau dia sudah bisa melihat. Diam-diam Arlan sangat mengagumi dirinya yang berubah menjadi tampan. Dengan penampilan yang baru membuatnya mendapat kesempatan untuk menarik perhatian wanita lain yang lebih cantik dari istrinya. Banyak wanita yang mendambakan dirinya sendiri yang terlalu tampan dan dia pun ternyata mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh Allisa. Amarahnya membuat Arlan kehilangan kendali sehingga dia pun hampir menabrak seorang pejalan kaki tetapi orang itu diselamatkan oleh seorang gadis berkacamata. Dia pun mencari tahu siapa gadis itu dengan kembali berpakaian culun dan berkacamata. Arlan selalu mengubah penampilannya di saat berada di luar dan kembali seperti orang culun dan buta jika berada di dalam rumah. Sementara itu Alisa yang semakin terjebak di dalam perselingkuhannya ternyata hanya dimanfaatkan untuk melayani teman-teman pacarnya untuk bisa menghasilkan uang. Alisa pun menikmati pekerjaan sampingannya sebagai kupu-kupu malam atas desakan pacarnya. Akankan Arlan memilih mencari kesenangan di luar karena merasa dirinya tampan dan bisa mengubah Allisa ke jalan yang benar untuk menerimanya kembali sebagai istri atau memilih tambatan hati yang baru seorang gadis berkacamata berparas ayu itu?
View More“Congratulations, you are getting married…” a young woman muttered in front of a magnificent antique mirror. Her expression was complicated. The look in her eyes only depicted emptiness when she dwelt about her fate.
She faintly heard the sound of romantic music outside the room. But to her ears, the melodies seems more like a funeral hymn than a love song. It was terrible and suffocating at the same time.
‘How do I wake up from this nightmare,’ the girl thought with a sad expression mixed with fear. She gripped the snow-white dress that framed her petite body, feeling a number of gems pierce her palm. ‘It hurts… But this is the reality, Amanda.’ The girl's brows furrowed. ‘How did this happen?’
The girl was still unable to accept the reality before her now. She closed her eyes, trying to replay the events of this early morning when she stood stiffly in the midst of her 'foreign' family. The cold gazes of her father, mother, and stepsisters pierced her.
"Amanda," called a man with a thick and messy beard, who looked much older than his actual age. “Put on those clothes.” Baron Broke ordered coldly to his biological daughter.
‘What is this? Did they finally accept me?’ Questions kept popping up in the mind of the nineteen-year-old girl. A hope arose from the great longing for a family, based on the different treatment from her father today.
Seeing that Amanda didn't budge, the girl who had been sitting beside Baron Broke started cursing. "Huh! What an annoying sick girl!" she said while frowning, as if disgusted.
“Gisella,” Baron Broke called out to the girl, seeming to want to rebuke. However, he instead said, “What did you expect? She was indeed handicapped from birth."
Yeah, insults and insults were Amanda's daily ‘food’. After all, apart from insults, punches and kicks were also common things she received from her family. The cruel treatment of her stepmother and stepsister didn't matter to her anymore, as if the girl was used to it.
However, not with the treatment of Baron Broke—her biological father. Someone who was blood related to her, Amanda would never get used to the pain. Always getting painful and more painful from time to time.
Amanda lowered her head, letting her silver hair cover half of her face. "I don't want to be born different either..." Her purple eyes stared down at her snow-white skin. “Am I that bad?”
Gisella smirked, satisfied with Amanda's hurt face from her father's comment. "You must be wondering why we called you here," said the firm-jawed girl. “Let me help Dad tell you, you are getting married soon. Today."
Amanda immediately tilted her head. "W-what?" Her eyes were widely opened.
"You're going to marry a prince, you know? How lucky a handicapped girl like you is to be with a prince," said her stepmother, smiling sarcastically.
‘They must be joking, right?’ Amanda asked herself, not daring to say it. But she realized, since when her mother and step sister asked her to joke? They were not that friendly to her.
Gisella's heart was thriving with joy seeing Amanda looked shocked. “Doesn't that sound like a dream? Your future husband is a handsome prince. He’s a physically perfect man," the girl continued with her right eyebrow raised, revealing a mocking expression. “But, all of that was ruined because of the injuries he received during the war. He is a crippled prince now.” Gisella showed a face of mock sympathy only for a moment then a slight curve appeared on her lips. "But, hey, isn’t that means you two are matched, right? Both disabled!”
A shrill laugh resounded in the luxurious main room. Not only Gisella, but her mother also laughed sarcastically.
Amanda's brows furrowed as she looked desperately at her father, but the old man looked away instead. Baron Broke was silent in the corner of the room, as if he didn't care instead of defending the only biological child he had thrown away eight years ago to the old manor behind his own residence.
Gisella smiled, then walked over to Amanda. She passed the girl and stopped when she was behind his stepsister. Suddenly, Gisella grabbed Amanda's silver mane and forced the girl to look at her.
Amanda grimaced as she wondered to herself, ‘Isn’t it Gisella who always wants all her life to be a high-class noble? Why didn't she marry this prince? Is it only because of physically disabled matter?’ Amanda found this quite strange. ‘Why did they offer this marriage to me?’
"Why you and not me?" Gisella asked as if she could read Amanda's head. A smirk appeared on her firm-jawed face before continuing her words. "Because, of course, I don't want to marry a murderer."
"W-what do you mean ...?" Amanda asked while holding the top of her head, which now suddenly get dizzy.
“That man has killed his two wives. Blood is his favorite thing, especially when he's in bed." Gisella ran her finger down Amanda's neck, causing the girl to give off an expression of pain mixed with fear. “You must have heard rumors about him, right? The Black Prince."
Amanda stared intently at her step sister's face, hoping that she was just scaring her as usual. But the glint in Gisella's eyes seemed reassuring, as if there were no lies.
The Black Prince, a man who was always bathed in blood until his black armor smelled rancid. The son of the king who managed to take down all the enemies of the kingdom without batting an eye. The cruelty of that man was well-known to everyone.
“T-that man… will become my husband?!” Amanda looked back at her father pitifully. However, the man just walked out of the room, leaving Amanda with the two people she feared the most; her stepmother and stepsister.
What happened next didn't need to be said anymore. Amanda was just a toy for Gisella and her stepmother. Torture and insults were things she could never avoid when she was in the same room with the two of them.
Amanda opened her eyes, once again looking at her reflection in the mirror. Everything was real that she would be betrothed to the most dangerous man in the kingdom. She would also die at the hands of that man.
"Wedding day?" Amanda wore a helpless smile on her face. "No, this could be my last day."
Langkah cepat menuju ruangan yang dialamatkan untuk Ayumi. Untung saja rumah sakit yang didatangi olehnya kebetulan sama dengan bapaknya di rawat. “Kenapa Mbak Kayla ada di sini? Apa yang terjadi?” Ayumi masih penasaran tapi langkahnya terus dilanjutkan sampai akhirnya dia menemukan nomor kamar itu. “Mbak Kayla?”Ayumi langsung masuk ke kamar rawat itu setelah melihat dengan nyata yang terbaring di tempat tidur. Wajah wanita itu tak menyambut hangat dengan kedatangan Ayumi, malah terlihat kesal. “Akhirnya kamu datang, Yumi,” sahut wanita itu dengan ketus. Ayumi mendekat dan memperhatikan tubuh itu yang di wajahnya masih terlibat bekas luka lebam. Ayumi begitu sangat khawatir dengan saudara tirinya itu. “Apa yang terjadi dengan Mbak Kayla, kenapa mbak ada di sini? Siapa yang telah melakukan ini dengan Mbak? Dan selama ini mbak ada di mana, kenapa ....” Wanita itu menyela. “Huh, bawel ya kamu, banyak sekali pertanyaan yang ada dipikiran kamu itu. Aku berada di sini juga
“Kenapa harus bertanya?” kesal Bima kembali. “Maaf, soalnya Masnya galak. Apakah Mas baru berkelahi atau dihajar orang sih, sebentar, tunggu di sini,” ucapnya sembari pergi meninggalkan Bima sementara. Bima memperhatikan gerak gerik gadis polos itu. Seketika terukir sebuah senyuman kecil dari sudut bibirnya. Tak lama kemudian Ayumi datang dengan membawa kotak p3k yang dia pinjam dari kantin rumah sakit. Dia langsung mengobati dan membersihkan luka di wajah Bima dengan cekatan setelah meminta izin kepada Bima. Pria itu pun hanya mengangguk patuh ketika tangan lembut itu menyentuh kulitnya. “Siapa gadis ini begitu perhatian ? Enggak takut sama sekali dengan orang asing? Bisa saja kan berbuat jahat dengannya? Dan apalagi ... hemm ...” Bima kembali memperhatikan wajah lembut Ayumi yang begitu polos. Lagi-lagi pikirannya kembali jahat.“Sudah!’ Ayumi telah selesai mengobati Bima.“Terima kasih, dan ...“Maaf Mas, saya permisi dulu, sering-sering diobati lukanya, atau periksa ke dokter
Ayumi duduk di samping tempat tidur ayahnya. Menatap sendu wajah orang tua itu yang semakin tirus. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja membasahi wajahnya yang cantik. ”Seandainya ibu masih hidup pasti bapak tidak seperti ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali aku bisa berani menolak permintaan bapak untuk menduakan Ibu. Dan sekarang istri kedua bapak pun pergi dengan laki-laki lain. Entah di mana mereka sekarang aku juga tidak tahu nomor telepon mereka. Ah kenapa aku malah memikirkan mereka? Mungkin sekarang mereka bahagia dengan kehidupan barunya,” gumam Ayumi dalam hati. Tak lama kemudian, tubuh orang tua itu sedikit bereaksi. Ayumi menyadarinya dan begitu bahagia karena ayahnya sudah siuman. Mata sayu itu perlahan-lahan terbuka. Dan tentu saja yang dilihat adalah putri tersayangnya yang selalu ada untuk orang tua itu. Wajah Pak Amin masih terlihat sedikit pucat tapi dia berusaha untuk bisa tetap tersenyum.“A—ayumi?” suara serak tapi pelan masih terdengar oleh Ay
Tangannya mengepal kuat dengan hati yang masih kesal dan marah, tapi dia berusaha untuk menahannya sebelum semua terbongkar siapa dirinya yang sebenarnya. Sepanjang jalan Arlan terus menggerutu saat mengingat apa yang dikatakan oleh Allisa.“Dia pikir siapa? Berani sekali meminta lebih,” rutuknya kesal.“Kamu pikir aku akan menerima kamu, Allisa? Setelah apa yang kamu lakukan kepadaku? Setelah Bima jatuh miskin kamu ingin menempelku seperti benalu? Jangan pernah bermimpi untuk bisa kembali denganku, apalagi setelah kamu tahu siapa aku sebenarnya! Suamimu yang culun yang selalu kamu anggap rendah dan sampah bisa berubah oh bukan hanya menyembunyikan identitas saja,” lanjutnya lagi. Arlan masih terlihat marah sampai-sampai tidak melihat jalan, hingga akhirnya dia pun tak sengaja menabrak seseorang sehingga mereka saling berpapasan.“Augh ... Maaf Om saya tidak sengaja dan ...” Ucapannya menggantung dan bahkan terkejut saat melihat orang yang dia tabrak tanpa sengaja. Begitu juga deng
“Aku juga sependapat denganmu, entahlah siapa yang sudah mau mencelakakan ku.”“Sebenarnya banyak yang patut dicurigai, tetapi aku tidak ingin membahasnya dulu.”“Fokuskan dulu ke satu masalah ini, firasatku mengatakan kalau hidup Allisa dalam bahaya.”“Walaupun aku sudah mulai membencinya tetapi k
Pak Seno mulai gugup kembali, keringat dingin sudah membanjiri keningnya. Lalu mengambil sapu tangan di saku celana untuk mengelap semua keringatnya itu.“Pak Seno kenapa?”“Bapak sakit ya? Ada apa Pak Seno?”“Maaf Pak ... mak-maksudnya apa ya Pak sudah beres semua?” tanyanya sedikit gugup.“Tidak
“Sayang, apa sih yang nggak buat kamu?”“Apa pun yang kamu minta pasti aku turuti, tetapi menikah itu kan perlu modal yang banyak dan kamu tahu sendiri uangku sekarang kurang, makanya kita perlu ada orang yang mau menginvestasikan dananya untuk di perusahaanku!”“Jalan satu-satunya yang harus begi
Arlan lalu menghentikan mobilnya sebentar di pinggir jalan, memastikan keberadaan istrinya di suatu tempat.Hal itu membuatnya terkejut saat melihat keberadaan Alisa ada di sebuah hotel bintang lima.“Apa dia pergi ke hotel? Katanya meeting dengan klien tetapi kenapa mereka ke sana, ada apa ini?”“






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews