LOGINTerlihat sosok wanita anggun itu makin mendekat. Jubahnya berkibar, sementara auranya begitu anggun dan seolah tak tersentuh dunia fana. Kulitnya halus, parasnya begitu sempurna.Meski tanpa riasan sedikit pun, kecantikannya tetap luar biasa. Lekuk tubuhnya pun begitu indah. Dia bagaikan bidadari yang turun ke dunia fana."Jadi dia penguasa Istana Samara?" Selvi mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wanita itu. Alisnya sedikit terangkat saat berkata dengan nada tidak puas, "Datangnya terlambat sekali. Masa munculnya setelah pertarungan selesai? Hah, benar-benar pandai pilih waktu.""Ketua kami datang dari ujung paling timur dunia awani. Jaraknya puluhan juta kilometer. Senior Selvi nggak perlu menyalahkan ketua kami." Yumika segera membela.Karena dia sangat paham, sejak Afifah menjadi penguasa istana, inilah pertama kalinya dia sendiri meninggalkan sekte untuk mencari muridnya.Baru saja kata-kata itu selesai diucapkan, aroma harum pun menyebar. Afifah telah tiba di hadapan mereka.
Bakrie pun tidak bersikap sungkan. Dia menerima beberapa tanaman spiritual itu, lalu langsung menelannya dalam beberapa suapan, bahkan tanpa sempat memurnikan khasiatnya.Kemudian, dia bangkit dari dasar kawah."Bawa aku temui anak itu." Meskipun suaranya terdengar lemah, nada bicaranya sama sekali tidak memberi ruang untuk dibantah."Kakek Buyut ... berniat membunuh Tirta saat dia nggak sadar?""Nggak boleh, nggak boleh! Aku nggak akan bawa Kakek Buyut ke sana!" Memikirkan kemungkinan itu, Irena buru-buru menggeleng dan menghalanginya."Kamu mikir terlalu jauh. Junior sehebat itu setidaknya sepuluh ribu kali lebih hebat daripada Tuan Muda Sekte Bulan Berdarah. Aku bahkan belum puas mengaguminya. Mana mungkin kubunuh?"Bakrie berkata sambil menahan seteguk darah yang hampir menyembur keluar dari tenggorokannya. Khasiat tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun itu terlalu kuat. Setelah menelannya sekaligus, bahkan dia sendiri hampir tidak sanggup menahannya.Namun, ketika khasiat ob
Swoosh!Tak seorang pun membuka mulut, tetapi tanpa dikomando, semuanya serempak melesat menuju pusat pertarungan untuk melihat keadaannya.Hanya saja, sebelum mereka sempat mendekat, dari balik debu yang masih memenuhi udara, dua sosok telah melayang dan terempas keluar bersama gelombang kejut yang belum sepenuhnya mereda."Yang di sebelah kiri itu Tirta." Sambil berkata demikian, Selvi mengerahkan seberkas kekuatan spiritual dan menarik Tirta ke dalam pelukannya.Terlihat darah mengalir dari sudut bibir Tirta. Tulang tangan kanannya retak, sementara telapak tangannya berlumuran darah dan koyak. Matanya terpejam rapat. Dia terlihat sangat lemah."Suamiku ... kamu nggak apa-apa, 'kan?""Tirta ....""Cepat keluarkan obat spiritual dan berikan kepada Tuan Tirta!"Ketiga gadis itu segera mengerumuninya. Untungnya setelah memeriksanya, mereka mendapati bahwa luka Tirta tidak terlalu parah. Hanya saja, energi dan darahnya terkuras cukup hebat.Semua orang menghela napas lega. Setelah itu, m
Kekuatan tempurnya terus meningkat tanpa henti. Energi dan darahnya hampir berubah menjadi wujud nyata, bagaikan pita merah darah yang melayang di sekelilingnya.Walaupun tingkat kultivasinya belum mencapai tingkat pencapaian agung, kekuatan yang mampu dia keluarkan sudah cukup untuk bertarung langsung melawan seorang kultivator tingkat pencapaian agung!"Bagus, sangat bagus!" Rambut panjang Bakrie berkibar tanpa tertiup angin. Dia merasakan kegembiraan karena akhirnya bertemu lawan yang sepadan dan jurus pedang yang setara, lalu tertawa terbahak-bahak."Nggak kusangka, dunia awani ternyata melahirkan seorang junior sehebat ini.""Benar kata pepatah, setiap generasi selalu melahirkan orang-orang berbakat yang memimpin zamannya selama ratusan tahun. Cicitku ini juga benar-benar diberkahi keberuntungan.""Bocah, terimalah satu tebasan pedang dariku!"Saat mengucapkan kalimat terakhir, segel pedang di tangannya berubah, lalu dia mengarahkannya lurus ke Tirta.Pada detik berikutnya ....Bu
Langit siang yang semula cerah seketika berubah menjadi langit malam yang gelap gulita.Satu demi satu bintang raksasa menggantung rendah di langit, seolah-olah akan turun ke dunia ini kapan saja. Tekanan yang dipancarkan begitu mengerikan hingga membuat jiwa bergetar.Ini bukan ilusi, melainkan pemandangan yang nyata.Siapa pun kultivator yang datang ke sini pasti akan berseru kaget dan ingin segera menjauh dari tempat ini.Yang lebih mengerikan lagi, di bawah hamparan langit berbintang itu, Bakrie menggunakan energi dan darahnya sendiri sebagai pemicu untuk menarik kekuatan bintang-bintang di sembilan lapis langit.Perlahan-lahan, sebuah pedang pemusnah dunia pun terbentuk.Tubuh pedang itu sangat besar, bahkan sebanding dengan pilar penyangga dunia. Benar-benar memenuhi seluruh cakrawala hingga ujungnya sama sekali tak terlihat!Krak! Krak! Bahkan sebelum pedang itu benar-benar terbentuk, ruang hampa dalam radius ribuan kilometer sudah tak sanggup menahan tekanan yang mengerikan itu
Namun, bentrokan sengit antara Tirta dan Bakrie barusan langsung memicu gejolak energi spiritual di dalam tubuh Tabib Suci.Dia tidak lagi memiliki tenaga untuk terus menekan terobosan kultivasinya yang sudah di ambang batas.Setelah berseru keras, dia segera mencari tempat yang relatif tenang untuk bersiap menerobos ke tingkat pencapaian agung!"Tenang saja, kami pasti akan mempertaruhkan nyawa demi melindungi kalian."Begitu Tabib Suci berhasil menerobos, kekuatan tempur kelompok Tirta akan benar-benar berdiri di puncak dunia awani.Tiga orang suci dunia awani tentu juga menyadari hal itu. Mereka segera menunjukkan kesetiaan mereka dengan lebih sungguh-sungguh.Kini, sekalipun harus berada di bawah pimpinan Tirta, mereka benar-benar menerimanya dengan sepenuh hati."Kalian jaga Nona Lavanya. Aku akan pergi melihat keadaan suamiku."Irena dan yang lainnya, termasuk Priya, sama-sama merasa gelisah. Mereka segera terbang menuju arah medan pertempuran tadi. Semuanya khawatir sesuatu terj
Tentu saja Tirta mengenali suara Devika. Dia yang terkejut membatin, 'Obat spiritual ayahnya ... ternyata presiden yang menanam obat spiritual ini?'Mungkin hanya Tirta yang bisa mencuri obat spiritual presiden. Namun, Tirta yakin tidak mungkin ada yang melihatnya saat mencuri obat spiritual karena
"Kalau berani memberontak, itu berarti dia melanggar hukum!" tegas Devika.Devika tidak tahan lagi. Dia langsung memerintah anggota pasukan khusus yang datang bersamanya untuk menangkap Tirta. Dadanya yang berisi kembang kempis, seolah-olah hendak mencuat keluar dari bajunya."Dasar nggak tahu diri!
Setelah ditembak secara berturut-turut, muncul banyak lubang di celana Tirta. Bahkan sampai berasap. Terdengar suara yang nyaring, peluru seperti menembak baja yang tebal dan tampak percikan api.Devika yang sangat marah tertegun. Tadi dia melirik sekilas setelah bangun. Jelas-jelas Devika tidak mel
Nada bicara Genta sangat tegas. Tirta yang merasa tidak rela mengeluh, 'Ada yang datang? Siapa yang datang malam-malam begini? Aku baru mendapatkan 6 obat spiritual.'Namun, Tirta jarang mendengar Genta berbicara dengan serius seperti ini. Dia terpaksa memasukkan obat spiritual ke dalam Cincin Penyi







