LOGINMelihat Luvia tidak bicara, Tirta merasa Luvia punya masalah. Dia bertanya, "Kak Luvia, kamu kenapa?"Luvia tidak menutupi masalahnya dari Tirta. Dia menyahut, "Nggak ada murid wanita di antara orang-orang itu ....""Apa maksudnya?" tanya Tirta. Bukan hanya Tirta, Elisa dan lainnya juga tidak mengerti.Luvia menghela napas, lalu menjawab dengan tatapan muram, "Aku rasa ... aku tahu alasan leluhur Sekte Kristala kabur dari dunia itu dan tinggal di dunia misterius."Althea bertanya, "Kak Luvia, apa alasannya?"Luvia tersenyum getir dan menjelaskan, "Karena mereka menjadikan murid wanita yang berkultivasi teknik ini sebagai tungku. Mereka akan menyerap energi semua murid wanita yang kultivasinya berhasil hingga mati dengan cara meniduri para murid wanita itu. Bagi mereka, wanita yang berkultivasi teknik ini cuma sumber daya."Luvia menambahkan, "Kalau aku jadi leluhurku, aku juga akan berjuang mati-matian untuk kabur setelah tahu hal keji seperti ini."Namun, masih ada yang belum dikataka
Tatapan tetua tingkat inti emas tahap kelima itu terus tertuju pada Luvia. Dia tampak serakah.Mendengar ucapan tetua itu, orang yang berbicara terlebih dahulu tadi juga memandang Luvia. Dia yang antusias berkata dengan ekspresi mesum, "Um? Kak, wanita ini memang berkultivasi teknik yang sama dengan Sekte Hima .... Kalau kita merenggut kesuciannya, kultivasi kita pasti meningkat pesat!"Tetua tingkat inti emas tahap kelima yang tahu teknik Luvia melihat Elisa dan lainnya. Dia langsung mengabaikan Tirta, bahkan air liurnya menetes.Tetua itu tertawa dan berkomentar, "Kita beruntung bisa bertemu wanita cantik yang lembut seperti ini ... salah ... bahkan jumlahnya lebih dari satu!"Mendengar perkataan mereka, Luvia tampak marah. Dia menceletuk, "Jangan-jangan ... mereka itu orang-orang yang disebutkan leluhurku?"Luvia merasakan teknik kultivasi mereka memang sama dengannya. Elisa dan Althea juga marah. Mereka hendak bertindak.Tiba-tiba, Tirta membentak, "Sialan! Beraninya kalian menginc
Bahkan Modeus juga menggaruk kepalanya. Dia yang tidak sabar bertanya, "Kak Gorgon, jangan buat kami penasaran. Kenapa aku nggak lihat ada peluang besar?"Gorgon menjawab, "Simpel sekali. Pelakunya pasti bukan berasal dari dunia awani. Kemungkinan besar dia itu kultivator tingkat pembentukan dewa asli dari tempat ini. Delapan ratus tahun yang lalu, orang itu belum muncul waktu anggota berbagai sekte datang ke tempat ini."Gorgon melanjutkan, "Delapan ratus tahun kemudian, orang itu malah mencapai tingkat pembentukan dewa di tempat yang kekurangan energi spiritual dan bahan berharga seperti ini. Dia pasti punya teknik rahasia yang mengejutkan."Modeus yang hampir melompat kegirangan berseru, "Oke, Kak Gorgon! Maksudmu, teknik itu bahkan sangat mengerikan di tempat ini. Setelah berlatih teknik itu dan pergi ke dunia awani, kita pasti makin kuat!"Gorgon menahan keserakahannya dan menanggapi, "Benar. Kalian sampaikan omonganku pada semua sekte super besar. Aku yakin mereka bukan cuma ngga
Semua orang di tempat kaget mendengar Gorgon ingin bekerja sama dengan semua sekte super besar untuk melawan kultivator tingkat pembentukan dewa. Bukannya ini sama saja dengan cari mati?Jika ingin cari mati, Gorgon bisa maju sendiri. Seharusnya dia tidak melibatkan mereka. Hanya saja, mereka tidak berani berkomentar di depan Gorgon.Wajah tiga tetua Sekte Prabu, Sekte Morta, dan Sekte Pedang Raksasa pucat pasi. Mereka sangat ketakutan. Salah satu dari mereka bertanya dengan suara bergetar, "Jadi ... menurut Tetua Gorgon, kapan kita bertindak?"Gorgon menegaskan, "Sebaiknya kita jangan tunda waktu lagi. Kita bertindak sekarang. Seharusnya kalian punya artefak dan teknik rahasia untuk menghubungi sekte super besar. Hubungi mereka secepatnya."Mendengar ucapan Gorgon, dua tetua Sekte Prabu dan Sekte Morta menunjukkan ekspresi bimbang. Mereka mengeluarkan teknik rahasia untuk menghubungi sekte super besar, tetapi tidak langsung menggunakannya. Entah apa yang mereka rencanakan.Tetua Sekte
Tatapan Modeus sangat dingin. Dia menyipitkan matanya, lalu membentak seraya memancarkan niat membunuh yang intens, "Nyalimu besar sekali! Beraninya kamu menegur seniorku! Apa kamu sudah bosan hidup? Kalau aku membunuhmu dan anggota sektemu memanggil sekte yang kalian andalkan, memangnya mereka bisa melawanku?"Ucapan Modeus membuat tetua Sekte Pedang Raksasa gemetaran. Tetua Sekte Pedang Raksasa ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya dia tidak melontarkan sepatah kata pun.Dua tetua dari Sekte Prabu dan Sekte Morta refleks mundur sesudah melihat situasi ini. Mereka takut dihabisi di tempat.Gorgon melambaikan tangannya seraya mengingatkan, "Modeus, nggak usah perhitungan dengannya."Modeus baru mundur. Tekanan yang dirasakan tetua Sekte Pedang Raksasa baru berkurang. Dia diam-diam merasa lega.Gorgon bicara lagi, "Maksudku, kemampuan pelakunya jauh lebih hebat dari kalian. Bahkan kami juga nggak mampu melawannya. Sekalipun kalian mencari sekte yang kalian andalkan, juga nggak bergu
Sekarang masalah Sekte Kebebasan dan Organisasi Publikasi sudah selesai. Tidak ada lagi orang yang dikhawatirkan Tirta di dunia misterius, jadi dia tidak perlu buru-buru.....Saat Tirta dan lainnya dalam perjalanan menuju gunung tinggi itu, sekelompok tamu tak diundang berkumpul di Organisasi Publikasi lagi.Di antara orang-orang itu, ada kultivator yang berasal dari Sekte Prabu, Sekte Morta, dan Sekte Pedang Raksasa. Vikrama, Zelia, dan Cakra juga berasal dari sekte itu.Mereka adalah tetua tingkat pembentukan jiwa yang menjadi pemimpin tim. Setidaknya kemampuan mereka sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap kedua.Murid dari berbagai sekte mengikuti di belakang mereka. Jumlah murid dari setiap sekte sekitar 30 lebih orang.Tiga tetua tingkat pembentukan jiwa berkumpul. Mereka melayang di udara sambil membahas sesuatu. Ketiga tetua tampak sedih dan juga marah.Tentu saja, ada juga tim yang memancarkan aura kegelapan. Mereka sudah mendarat di tanah dan mengamati penyebab kematia
Setelah kebohongannya terbongkar, Filda tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendekati Tirta. Karena itu, dia begitu marah hingga tak bisa menahan diri untuk memaki Farida!"Berhenti! Barusan kamu bilang siapa yang menjijikkan?" Namun, setelah mendengar ucapannya, Tirta segera melangkah ke depan, me
Bella menambahkan, "Jelas-jelas Simon sangat menyayangi Camila, tapi dia sama sekali nggak menghargainya!"Setelah mengakhiri panggilan telepon, Bella tidak selera makan lagi saat melihat sarapan enak di depannya. Tirta tidak terpengaruh sedikit pun. Dia tetap makan dan minum dengan tenang.Kemudian
"Lho ... kenapa wajah kalian semua jadi merah begini?" tanya Tirta tiba-tiba saat menyadari keanehan pada beberapa wanita itu.Tentu saja, tidak ada satu pun dari ketiga wanita itu yang bisa menjawab pertanyaan Tirta. Sementara itu, Kurnia memilih untuk menjauh terlebih dulu karena merasa canggung.
Tirta sering memandangi pemandangan gunung dari kamar Bella. Dia memutuskan untuk memancing Kurnia ke daerah pegunungan yang belum dikembangkan. Tirta akan melawannya di tempat itu.Tirta berseru, "Kurnia, aku ini orang yang kamu cari! Kalau kamu ingin tahu rahasiaku, ikut aku!"Tirta segera berpesa







